Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

ARTIKEL REVIEW: BENTUK KOLABORASI INTERPROFESIONAL APOTEKER DALAM MENINGKATKAN LUARAN TERAPI PASIEN ARNANDA, QUINZHEILLA PUTRI; BARLIANA, MELISA INTAN
Farmaka Vol 19, No 3 (2021): Farmaka (November)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v19i3.32319

Abstract

ABSTRAKKeterlibatan apoteker dalam kolaborasi interprofesional multidisiplin merupakan suatu upaya dari pengembangan paradigma pelayanan kefarmasian yang bergeser menjadi pelayanan komprehensif kepada pasien. Kolaborasi antar tenaga kesehatan untuk melakukan pelayanan kesehatan kepada pasien bertujuan untuk meningkatkan luaran terapi terkait pengobatan pasien serta dapat berdampak juga dalam menurunkan kejadian kesalahan pengobatan dan menurunkan biaya perawatan yang harus dikeluarkan pasien. Apoteker sebagai profesi kesehatan yang memiliki pengetahuan terkait pengobatan harus turut terlibat aktif bekerja sama dengan tenaga kesehatan. Artikel review ini bertujuan untuk memberikan gambaran dari kegiatan kolaborasi interprofesional yang dilakukan apoteker dengan tenaga kesehatan dalam melakukan pelayanan kepada pasien sebagai bentuk pengembangan dari praktik asuhan Pharmaceutical Care. Diharapkan dengan artikel review ini, apoteker dapat semakin terlibat aktif dalam kolaborasi interprofesional dengan menumbuhkan rasa percaya diri dan memiliki kemampuan komunikasi interpersonal yang efektif dalam melakukan kerja sama dengan tenaga kesehatan.Kata kunci: apoteker, kolaborasi interprofesional, luaran terapi, pelayanan kesehatanABSTRACTThe involvement of pharmacists in an interprofessional collaboration is an effort of developing a paradigm of pharmaceutical services that shifts into comprehensive care for patients. Collaboration between health workers in healthcare aims to increase the patient's outcome therapy related to treatment. It can also have an impact on reducing the incidence of medication errors and the cost of care that must be incurred by patients. Pharmacists as health professionals who have knowledge related to treatment must be actively involved in collaborating with health workers. This review article aims to provide an overview of the interprofessional collaboration activities carried out by pharmacists and health workers in providing services to patients as a form of development of Pharmaceutical Care practices.  This review article is expected pharmacists to be more actively involved in interprofessional collaboration by improving self-confidence and having more effective interpersonal communication skills in collaborating with health workers.Keywords: health care, interprofessional collaboration, pharmacist, therapeutic outcome
UJI TOKSISITAS EKSTRAK AIR SAGA POHON (Adenanthera pavonina L.) DENGAN METODE BRINE SHRIMP LETHALITY BIOASSAY (BSLB) Arnanda, Quinzheilla Putri; Lestari, Shinta; Ramadhan, Saqila Alifa; Fatimah, Diah Siti; Widiyastuti, Shella; Oktaviani, Dede Jihan; Megantara, Sandra
JURNAL FARMASI GALENIKA Vol 7 No 2 (2020): Jurnal Farmasi Galenika Volume 7 No. 2
Publisher : Universitas Bhakti Kencana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70410/jfg.v7i2.168

Abstract

Ekstrak air saga pohon (Adenanthera pavonina L.) banyak digunakan dalam pengobatan antiinflamasi dan analgesik, namun masih belum diketahui toksisitasnya. Kandungan kimia dari daun saga pohon adalah alkaloid, triterpen, sterol, asam lemak, flavonoid, dan pavonin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui toksisitas ekstrak air saga pohon menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Bioassay (BSLB) dengan konsentrasi ekstrak 15.625; 31.25; 62.5; 125; 250; 500 dan 1000 g/ml yang dilakukan terhadap larva udang (Artemia salina Leach) menggunakan teknik microwell. Diperoleh hasil yaitu tidak ditemukan kematian larva udang di berbagai konsentrasi, sehingga dapat dikatakan ekstrak air saga pohon tidak bersifat toksik dan aman digunakan untuk pengobatan reumatik dan asam urat. Kata kunci: Adenanthera pavonina L., BSLB, LC50, toksisitas.
PEMODELAN FARMAKOFOR, SKRINING VIRTUAL, DAN PENAMBATAN MOLEKUL SENYAWA METABOLIT DALAM EKSTRAK DAUN SALAM (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) SEBAGAI SENYAWA ANTIHIPERTENSI Fatimah, Diah Siti; Oktaviani, Dede Jihan; Widiyastuti, Shella; Arnanda, Quinzheilla Putri; Lestari, Shinta; Ramadhan, Saqila Alifa; Megantara, Sandra
JURNAL FARMASI GALENIKA Vol 7 No 2 (2020): Jurnal Farmasi Galenika Volume 7 No. 2
Publisher : Universitas Bhakti Kencana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70410/jfg.v7i2.169

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang banyak diderita masyarakat dunia dengan adanya peran dari angiotensin converting enzyme (ACE). Daun salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) merupakan tumbuhan yang banyak mengandung golongan metabolit sekunder yang memiliki aktivitas sebagai antihipertensi. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui senyawa aktif pada daun salam yang memiliki aktivitas sebagai antihipertensi. Metode yang dilakukan adalah teknik in silico yang terdiri dari pemodelan farmakofor, skrining virtual, dan penambatan molekular terhadap metabolit sekunder dalam daun salam. Parameter yang digunakan dalam penelitian berupa pharmacophore fit score, % hit rate, % yield, nilai Area Under Curve (AUC), nilai Lipinski’s Rule of Five, energi Gibbs, dan nilai Root Mean Square Deviation (RMSD). Hasil validasi model farmakofor menunjukkan nilai pharmacophore fit score sebesar 48,49; hit rate sebesar 88,80% ; AUC100% sebesar 0,82; dan nilai EF1% sebesar 1,1. Hasil pemodelan farmakofor dari gugus aktif menunjukkan bahwa terdapat tiga gugus akseptor hidrogen. Hasil skrining virtual dengan asam galat menunjukkan hit rate 100%, nilai pharmacophore fit score sebesar 48,03%, dan memenuhi semua kriteria Lipinski’s Rule of Five. Hasil penambatan molekul ligan asam galat dengan reseptor ACE diperoleh afinitas terbaik pada ?G = -6,1 kkal/mol dan RMSD 0,00. Hal ini menunjukkan bahwa asam galat memiliki afinitas yang kurang baik terhadap reseptor ACE dibandingkan dengan enalaprilat dengan ?G = -9,1 kkal/mol.