Pendahuluan: Prevalensi sindrom metabolik di Indonesia masih tinggi mencapai 23%. Sindrom ini masih menjadi faktor risiko terbesar terjadinya penyakit pada pembuluh darah. Pencegahan sindrom ini sangat penting diakukan untuk menekan angka kejadiannya. Skrining faktor risiko sindrom metabolik pada lansia yang menjadi kelompok rentan sangat diperlukan.Metode:.Pengabdian ini dilaksanakan kepada lansia pada hari Minggu, tanggal 7 Mei di Balai Desa Karang, Kecamatan. Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Dilakukan pemeriksaan tekanan darah, gula darah sewaktu dan pemeriksaan antropometri berupa tinggi badan dan berat badan untuk menentukan indeks massa tubuh. Pengabdi memberikan intervensi terapi farmakologi dan edukasi pada lansia yang teridentifikasi memiliki faktor risiko terjadi sindrom metabolik.Hasil dan pembahasan: Skrining didahului dengan pelaksanaan senam bersama lansia. Dari 48 peserta posyandu lansia, didapatkan angka kejadian hipertensi sebesar 38 peserta lansia (79,17%) yang terbagi menjadi hipertensi tingkat 1 dan 2. Hasil pengukuran gula darah sewaktu menunjukkan 20,83% peserta lansia memiliki kadar gula darah sewaktu ≥200 mg yang bisa didiagnosis sebagai penderita diabetes mellitus. Indeks massa tubuh dari lansia didapatkan 72,92% lansia mengalami kegemukan (gemuk ringan dan gemuk berat).Kesimpulan: Skrining sindrom metabolik pada lansia menemukan >70% lansia menderita hipertensi dan mengalami kegemukan serta 20.83% mengalami diabetes mellitus. Pengabdi melakukan edukasi dan memberikan pengobatan yang dibutuhkan sesuai tanda dan gejala yang dialami oleh lansia yeng mengalami sindrom metabolikKata Kunci: sindrom metabolik; hipertensi; diabetes mellitus; obesitas; lansia