Mirza, Fajar Iqbal
Institut Komunikasi Dan Bisnis LSPR Jl. K.H. Mas Mansyur Kav. 35, Jakarta 10220 – Indonesia

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

DINAMIKA ALIANSI AMERIKA SERIKAT– FILIPINA: PENURUNAN KERJASAMA MILITER AMERIKA SERIKAT SEBAGAI TINDAKAN RASIONAL (2016-2018) Fajar Iqbal Mirza
Jurnal Studi Diplomasi dan Keamanan Vol 11, No 2 (2019): Jurnal Studi Diplomasi dan Keamanan
Publisher : Jurusan Ilmu Hubungan Internasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jsdk.v11i2.3133

Abstract

Strategi Komunikasi Publik Kementerian Perindustrian tentang Isu Industri pada Presidensi G20 Indonesia Grace Heidy Jane Amanda Wattimena; Gustav Aulia; Deddy Irwandy; Fajar Iqbal Mirza
Jurnal Pewarta Indonesia Vol 5 No 1 (2023): Jurnal Pewarta Indonesia
Publisher : Persatuan Wartawan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/jpi.v5i1.121

Abstract

Indonesia menjadi perdana menjadi penyelenggaran forum kerja sama utama dunia Group of 20 (G20). Dalam Presidensi G20, Indonesia mengusulkan penambahan isu industri, sehingga menjadi Trade, Investment, and Industry Working Group (TIIWG). Usulan ini membuat pemerintah perlu untuk mengkomunikasikan isu industri kepada masing-masing publik di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk membahas tentang implementasi strategi komunikasi publik Kementerian Perindustrian (Kemenperin) untuk mengangkat isu industri dalam Presidensi G20. Melalui pendekatan kualitatif, strategi komunikasi publik menguraikan keterlibatan masing-masing komponen dalam model Quadruple Helix, yaitu pemerintah, pengusaha, akademisi, dan masyarakat, dalam penyampaian isu industri oleh Kemenperin. Hasil dari penerapan strategi komunikasi publik yang dilakukan Kemenperin terlaksana pada segi teknis. Upaya mengusung isu industri dikomunikasikan melalui pesan utama yang mengacu pada Strategi Komunikasi (Strakom) Nasional, dan tersegmentasi sesuai dengan kepentingan masing-masing publik. Dengan demikian, publik dapat mengetahui adanya isu industri dalam Presidensi G20.
Communication and Collaboration Model of Indonesian Delegation in Myanmar Earthquake Humanitarian Assistance Hidayat, Muhamad; Mirza, Fajar Iqbal; Riyanto, Budi; Riyadi, Kezia Nariswari
Nyimak: Journal of Communication Vol 9, No 2 (2025): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v9i2.14063

Abstract

This research analyzes the communication and collaboration model of the Indonesian delegation during the humanitarian assistance mission following the 2025 Myanmar earthquake. While natural disasters in Southeast Asia are frequent and require coordinated international responses, the effectiveness of such missions is heavily dependent on communication and collaboration dynamics, especially within politically sensitive environments. This study addresses a specific scholarly gap by empirically examining how a multi-agency delegation's operational model functions in a context of domestic conflict and political instability. The analysis is guided by a synthesized theoretical framework that integrates crisis communication, disaster diplomacy, and collaborative governance theory. Using a qualitative case study approach, data was collected through in-depth interviews with delegation members, document analysis, and participant observation. The findings reveal that the delegation's model, initiated through formal coordination with the Myanmar government and the ASEAN Coordinating Centre for Humanitarian Assistance (AHA Centre), was characterized by an active, adaptive, and highly structured information exchange. The mission's success was enabled by a robust institutional design that included the formation of an agile advance team, and by facilitative leadership that guided the mission's humanitarian and diplomatic objectives. The study contributes to the academic literature by providing a novel application of the Ansell & Gash collaborative governance model to a humanitarian, cross-border context and by offering an empirical example of how disaster diplomacy is operationalized. Practical implications for developing training and guidelines for future international disaster responses are also discussed.Keywords: Communication, collaboration, humanitarian aid, Indonesian delegation, Myanmar earthquake ABSTRAKPenelitian ini menganalisis model komunikasi dan kolaborasi delegasi Indonesia selama misi bantuan kemanusiaan pascagempa bumi Myanmar 2025. Meskipun bencana alam di Asia Tenggara sering terjadi dan membutuhkan respons internasional yang terkoordinasi, efektivitas misi tersebut sangat bergantung pada dinamika komunikasi dan kolaborasi, terutama dalam lingkungan yang sensitif secara politik. Studi ini membahas kesenjangan ilmiah yang spesifik dengan mengkaji secara empiris bagaimana model operasional delegasi multi-lembaga berfungsi dalam konteks konflik domestik dan ketidakstabilan politik. Analisis ini dipandu oleh kerangka teori terpadu yang mengintegrasikan komunikasi krisis, diplomasi bencana, dan teori tata kelola kolaboratif. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan anggota delegasi, analisis dokumen, dan observasi partisipan. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa model delegasi, yang diinisiasi melalui koordinasi formal dengan pemerintah Myanmar dan Pusat Koordinasi ASEAN untuk Bantuan Kemanusiaan (AHA Centre), dicirikan oleh pertukaran informasi yang aktif, adaptif, dan sangat terstruktur. Keberhasilan misi ini dimungkinkan oleh desain kelembagaan yang kokoh, yang mencakup pembentukan tim tanggap tanggap, dan kepemimpinan fasilitatif yang memandu tujuan kemanusiaan dan diplomatik misi. Studi ini berkontribusi pada literatur akademis dengan menyediakan aplikasi baru model tata kelola kolaboratif Ansell & Gash dalam konteks kemanusiaan lintas batas, serta dengan menawarkan contoh empiris tentang bagaimana diplomasi bencana dioperasionalkan. Implikasi praktis untuk pengembangan pelatihan dan pedoman bagi respons bencana internasional di masa mendatang juga dibahas.Kata Kunci: Komunikasi, kolaborasi, bantuan kemanusiaan, delegasi Indonesia, gempa bumi Myanmar
Digital Risk Communication in Hydrometeorological Disaster Mitigation in Gili Trawangan Mirza, Fajar Iqbal; Muhammad Hidayat; Lucky Mochamad Kharisma; Kadya Aulia Rizki
Communicatus: Jurnal Ilmu komunikasi Vol. 9 No. 2. December (2025): Communicatus: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/cjik.v9i2.49944

Abstract

Gili Trawangan, a small island tourism destination in North Lombok, Indonesia, faces high vulnerability to hydrometeorological hazards, such as tidal flooding, coastal erosion, and storm surges. In this context, risk communication is critical in disaster mitigation, particularly with the increasing use of digital communication channels. This study examines how hydrometeorological disaster risk communication is implemented across three stages: anticipatory, crisis, and learning, using the Crisis and Emergency Risk Communication (CERC) framework. This research adopts a qualitative descriptive approach. Data was collected through in-depth interviews with key stakeholders, including local government officials (BPBD), civil society organizations, tourism business actors, community leaders, residents, and tourists. Empirical findings were analyzed using the six core principles of CERC (be first, be right, be credible, express empathy, promote action, and show respect) to assess the effectiveness of digital risk communication. The findings indicated that risk communication in Gili Trawangan remains fragmented and uneven across stages. Digital channels support rapid information dissemination during the anticipatory and crisis stages, but they remain limited in inclusivity and multilingual accessibility, particularly for tourists and temporary populations. In the learning stage, the absence of institutionalized digital evaluation mechanisms constrains continuous improvement. This study suggested integrated and inclusive digital risk communication to enhance disaster resilience and support sustainable tourism in small island destinations.