Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Etika Bertakziah dan Hukum Belasungkawa kepada Non Muslim Studi Perbandingan Mazhab Hidayat, Iman Nur; Taqwa, Saiyah Umma
Ijtihad : Jurnal Hukum dan Ekonomi Islam Vol 11, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/ijtihad.v11i1.1254

Abstract

Di negara kesatuan republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika keberagaman pemeluk agama menjadi potret kehidupan keseharian. Dimana hampir di setiap sudut tempat manapun di negeri ini dipastikan warga penduduknya berlatarbelakang suku dan agama yang berbeda dan majemuk. Sehingga toleransi menjadi tabiat wajib yang harus dimiliki oleh setiap warga negara. Dalam kehidupan bersosial, ikut merasakan suasana duka kepada sanak keluarga, teman karib, atau tetangga yang ditinggal wafat orang terdekatnya menjadi hal yang biasa dilakukan sebagai ungkapan keprihatinan sesama. Kegiatan berbelasungkawa merupakan agenda wajib dalam rangka menguatkan tali silaturrahim persaudaraan dan perikemanusiaan. Tidak menjadi persoalan apabila tradisi takziah ini dilakukan di kalangan sesama pemeluk agama Islam, karena Rasulullah dan para sahabat menganjurkannya. Lalu bagaimana dengan menyampaikan belasungkawa dan doa kepada pihak yang berlainan agama? Beberapa fuqaha berselisih pendapat dalam permasalahan ini dan terbelah menjadi dua mazhab, yaitu ada yang membolehkan dan ada yang memakruhkan. Tulisan ini akan berupaya memaparkan penjelasan tentang persoalan ini agar bisa dipahami oleh khalayak kaum muslimin yang belakangan menanyakan kembali kedudukan hukumnya.
LARANGAN PERCERAIAN DALAM PERSPEKTIF HUKUM ADAT LAMPUNG Muhammad Yasir Fauzi; Agus Hermanto; Saiyah Umma Taqwa
Justicia Islamica Vol 19 No 2 (2022)
Publisher : Faculty of Sharia UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/justicia.v19i2.3920

Abstract

The people of Lampung have a paradigm that marriage is life and death, while divorce is forbidden because it will separate the two prominent families according to custom. This study aims to examine the paradigm of the Lampung indigenous people regarding the prohibition of divorce from the perspective of maqasid sharia. This qualitative field research has a socio-philosophical approach to reviewing maqasid sharia. While the primary data is by interviewing Lampung traditional leaders and communities, the secondary data is books and articles published about the prohibition of divorce in the indigenous people of Lampung. Philosophically, the people of Lampung have a life philosophy of pill pesenggiri (self-esteem) for the sake of maintaining the sacredness of the Lampung Pepadun traditional marriage, which is carried out according to religion and custom, so that divorce becomes a disgrace because it will lower family pride. However, this does not mean that it is absolute that divorce is an emergency exit, even though it is taboo by customary law. Meanwhile, historically, this customary prohibition law has been passed down by previous ancestors, which the indigenous people of Lampung preserved to protect their descendants (hifdzu nasl).