Herry Herman
Department Of Orthopaedic And Traumatology, Faculty Of Medicine, Universitad Padjadjaran, Bandung

Published : 35 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

PERAN IMUNOGLOBULIN A (SIgA) DALAM MENGHAMBAT PEMBENTUKAN BIOFILM STREPTOKOKUS MUTANS PADA PERMUKAAN GIGI : ROLE OF IMMUNOGLOBULIN A (SIgA) IN INHIBITING BIOFILM FORMATION OF STREPTOCOCCUS MUTANS ON THE TOOTH SURFACES Maulida Hayati; Herry Herman; Andri Rezano
Dentika: Dental Journal Vol. 18 No. 2 (2014): Dentika Dental Journal
Publisher : TALENTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.548 KB) | DOI: 10.32734/dentika.v18i2.2031

Abstract

Sekretori IgA (SIgA) adalah salah satu kelas andibodi yang terdapat dalam saliva, yang dihasilkan dalam bentuk dimerikIgA oleh sel plasma lokal (PCs) pada stroma glandula saliva dan kemudian ditransportasi melalui epitel sekretori olehpolimer Ig reseptor (pIgR), yang disebut juga dengan membran komponen sekretori (SC). Pada permukaan mukosaSIgA bersama dengan mukus akan mengekslusi antigen-antigen. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk menjelaskanperan SIgA dalam meningkatkan pertahanan mukosa mulut terhadap bakteri patogen Streptokokus mutans. Bakteri inimerupakan penyebab utama terjadinya karies gigi, karena kemampuannya untuk melekat pada permukaan gigi, yangmemungkinkan terbentuknya kolonisasi pada permukaan gigi melalui pembentukan biofilm. Perlekatan Streptokokusmutans ini akan dihambat oleh SIgA dengan mengintervensi protein perlekatan bakteri yang disebut Ag I/II. Hal inimemungkinkan SIgA untuk mencegah perlekatan bakteri pada permukaan, sehingga dapat mencegah inisiasi terjadinyakaries gigi. Sebagai kesimpulan, sekresi SIgA saliva terhadap Ag I/II Streptokokus mutanstelah terbukti dapat mencegahkolonisasi bakteritersebut dirongga mulut manusia
Uji Validasi Kadar Interleukin-4 (IL-4) Sebagai Alternatif Uji Diagnosis Infeksi Kecacingan Hermawati, Ike; Herman, Herry; Agoes, Ridad
Majalah Kedokteran Bandung Vol 48, No 4 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15395/mkb.v48n4.912

Abstract

Infeksi kecacingan yang disebabkan oleh soil transmitted helminth (STH) dapat mengakibatkan gangguan gizi dan menurunkan kualitas sumber daya manusia. Imunitas terhadap infeksi cacing mengaktifkan respons Th2 yang ditandai oleh peningkatan kadar interleukin-4. Penelitian ini bertujuan mengetahui kadar IL-4 pada anak kecacingan dan yang tidak kecacingan serta menganalisis validitas pemeriksaan IL-4 sebagai indikator infeksi kecacingan. Sebanyak 74 sampel plasma EDTA diambil dari anak-anak kelas 1–3 SD di Kecamatan Jatinangor kemudian dilakukan pemeriksaan kadar IL-4 dengan metode ELISA. Hasil penelitian didapatkan kadar IL-4 pada subjek yang terinfeksi kecacingan lebih tinggi secara bermakna dibanding dengan subjek yang tidak terinfeksi (3,001 pg/mL berbanding 1,406 pg/mL ; p<0,001). Pada cut-off point 1,585 pg/mL, kadar IL-4 memiliki sensitivitas 66,7%, spesifisitas 65,9%, dan akurasi 66,2%. validitas instrumen pemeriksaan telur cacing berdasarkan pemeriksaan kadar Interleukin-4 termasuk kategori cukup dengan koefisien Κ (Kappa) sebesar 0,635. Kadar IL-4 pada subjek yang terinfeksi kecacingan meningkat 1,6 kali lebih tinggi dibanding dengan subjek yang tidak terinfeksi kecacingan. Simpulan, IL-4 merupakan pemeriksaan yang valid digunakan sebagai diagnostik infeksi kecacingan. [MKB. 2016;48(4):211–5]Kata kunci: Infeksi kecacingan, interleukin-4, uji validasiInterleukin-4 (IL-4) Level Validation Testing as A Helminthiasis Infection Diagnostic Testing AlternativeHelminth infection caused by soil transmitted helminths (STH) could be one of the reasons for malnutrition, impaired growth, and intelligence which will reduce the quality of human resources. Helminth infections are potent inducers of Th2 type responses as well as increased secretion of interleukin-4. The purpose of this study was to determine the interleukin-4 concentration in subjects with helminth infection and without helminth infection and to assess the validity of the plasma Interleukin-4 concentration assessment in helminth infection patients. This study examined 74 plasma samples from 1st-3rd grade elementary students in Jatinangor district using ELISA method. The results indicated that IL-4 concentration of helminth infection subjects was significantly higher compared to that of non-infected subjects (3.001 pg/mL vs 1.406 pg/mL, p<0.001). A cut-off point of 1.585 pg/mL for IL-4 concentration means 66.7% sensitivity, 65.9% specificity, and 66.2% accuracy . The validity of the helminth ova assessment instrument based on Interleukin-4 level testing is fair with a K (Kappa) coefficient of 0.635. The IL-4 level in helminth infection patient increased 1.6 times compared to non-infected subjects. In conclusion, IL-4 is a valid marker for diagnosing helminthiasis. [MKB. 2016;48(4):211–5]Key words: Helminth infection, Interleukin-4, validity test
POLA FRAKTUR METATARSAL PADA DEFORMITAS METATARSUS ADDUKTUS PADA KASUS CIDERA KENDARAAN BERMOTOR Siahaan, Denny Maulana; Ismiarto, Yoyos Dias; Herman, Herry
Syifa'Medika Vol 11, No 1 (2020): Syifa' MEDIKA: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/sm.v11i1.2195

Abstract

Metatarsus aduktus adalah salah satu kelainan bentuk kaki yang paling umum dengan insidensi sekitar 3%. Pola cedera pada kelainan ini belum dijelaskan sebelumnya. Penelitian ini akan mengamati pola fraktur pada kaki dengan metatarsus aduktus. Metatarsus aduktus ditentukan secara radiologis menggunakan sudut metatarsus aduktus pada kelompok trauma kaki yang disebabkan kecelakaan sepeda motor di UGD rumah sakit Hasan Sadikin Januari 2014 - Desember 2018. Dari 135 kasus trauma kaki, metatarsus aduktus ditemukan pada 14 pasien (10,7%). Dominan terjadi pada pria (70,1%). Fraktur soliter terjadi pada 8 pasien, fraktur multipel pada 6 pasien, dengan sebagian besar tulang yang terlibat adalah metatarsal keempat (n = 9). Fraktur berhubungan dengan peningkatan konsentrasi beban pada suatu tempat. Metatarsus aduktus menyebabkan beban yang lebih tinggi di lateral metatarsal yang meningkatkan risiko terjadinya fraktur. Perubahan anatomis pada metatarsus aduktus berhubungan dengan perubahan biomekanik kaki, menunjukan kesesuaian pola fraktur di area lateral metatarsal pada kasus trauma kaki. 
Survey Penyebab Kematian Berdasarkan Prosedur Advance Trauma Life Support (ATLS) pada Pasien Multiple Trauma di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Bedah Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung Periode Januari – Juli 2014 Ramadiputra, Gamal; Ismiarto, Yoyos Dias; Herman, Herry
Syifa'Medika Vol 9, No 1 (2018): Syifa' MEDIKA: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/sm.v9i1.1339

Abstract

Trauma adalah penyebab kematian utama pada usia di bawah 44 tahun di Amerika Serikat (AS). Di Indonesia, trauma menjadi penyebab kematian utama pada kelompok umur 15 – 24 tahun, dan nomor 2 pada kelompok usia 25 – 34 tahun. Penyebab umumnya ialah kecelakaan lalulintas, diikuti jatuh dari ketinggian, luka bakar dan karena kesengajaan (usaha pembunuhan atau kekerasan lain dan bunuh diri). Salah satu perintis pelayanan kedaruratan medik termasuk kasus trauma adalah Dr. Adams R. Cowley, dari beliau muncul konsep “The golden hour”. Pelatihan Advanced Trauma Life Support(ATLS) dimulai pada tahun 1980 di Alabama, AS, dan atas prakarsa Dr. Aryono D. Pusponegoro, Ketua Komisi Trauma IKABI pusat, mulai 1995 kursus ATLS terselenggara di Indonesia. Penelitian ini dilakukan secara retrospektif dalam kurun waktu Januari sampai Juli 2014 dengan jumlah pasien meninggal di instalasi gawat darurat bedah Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung sebanyak 58 pasien. Melalui penelitian ini akan ditelusuri penyebab kematian dilihat dari segi pertolongan pertama ketika pasien datang ke instalasi gawat darurat, dengan mengacu kepada prosedur Advanced Trauma Life Support (ATLS) yang biasa diterapkan. Hasilnya, pasien meninggal di instalasi gawat darurat bedah Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung dari Januari sampai Juli 2014 sebanyak 58 pasien, sebanyak 6 pasien (10,34%) meninggal pada satu jam pertama, 12 pasien (20,68%) meninggal pada satu sampai enam jam pertama. Dinilai dari segi prosedur Advanced Trauma Life Support (ATLS), mayoritas mengalami kegagalan pada tahap disability (D), yaitu sebanyak 41 pasien meninggal (70,06%), pada tahap circulation (C) sebanyak 10 pasien (17,24%), pada tahap breathing (B) sebanyak 6 pasien (10,34%) dan tahap airway (A) sebanyak 1 pasien (1,72%).
ROLE OF RESISTANCE EXERCISE IN CONTROLLING INSULIN-LIKE GROWTH FACTOR 1 (IGF-1) AND IT’S ASSOCIATION WITH METABOLIC DISEASE PREVENTION Fitri Fadhilah; Abdul Hadi Hassan; Hanna Goenawan; Herry Herman; Aziiz Mardanarian Rosdianto; Ronny Lesmana
JURNAL ILMU FAAL OLAHRAGA INDONESIA Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : PAIFORI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (542.127 KB) | DOI: 10.51671/jifo.v2i1.106

Abstract

Based on data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) in 2007, the number of people who had no or low physical activity reached 48.2 %. This condition contributes to the increasing number of metabolic disease cases such as hypertension, heart disease, stroke, and diabetes mellitus. Optimizing training approaches especially the aerobic type helps to counter metabolic diseases. Unfortunately, the benefits of resistance training (RT) are less understood. RT improves muscle strength, induces muscle hypertrophy, improvement of local muscular performance, and also helps to strengthen body balance and coordination. There is an interplay between training and hormone in muscle adaptation during resistance training. The hormone plays an important role in the regeneration of muscle after resistance training. The changes in hormone level cause hypertrophy. Regeneration and muscle hypertrophy are mediated by activation, proliferation, and differentiation of satellite cells. It is regulated by mitotic and myogenic activity, namely insulin-like growth factor-1 (IGF-1), which serves as a paracrine or autocrine. A better understanding of homeostasis hormone during training in skeletal muscle and its ultimate purpose to counter metabolic disease will lead us to a better treatment approach for the patient.
Concomitant Distal Radioulnar Joint Disruption in Distal End Radius Fracture Cases Admitted to Emergency Ward Hasan Sadikin Hospital January 2013 – December 2015 Tody Pinandita; Herry Herman; Yoyos Dias Ismiarto
Berkala Kedokteran Vol 15, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.081 KB) | DOI: 10.20527/jbk.v15i1.6090

Abstract

Abstract: The distal end radius and ulna is an integral part of the wrist joint and preservation of its normal anatomy is essential for the mobility of the wrist. The most common cause of residual wrist disability after distal end radius fractures is the disruption of distal radioulnar joint (DRUJ). Early recognition and management in the acute stage aim at the anatomic reconstruction of the DRUJ in an effort to reduce incidence of chronic pain and loss of wrist motion. The purpose of this study is to identify the prevalence of accompanying DRUJ in distal end radius fracture cases, highlighting its significance in occurance. This was a retrospective study with an analytic descriptive method and data from January 2013-December 2015 taken from medical records of Dr. Hasan Sadikin Hospital. From research, we found 74 cases of distal end radius fracture. The most common injured wrist were dominant hand as 46 cases (62,2%), and non-dominant hand as 28 cases (37,8%). From all data, DRUJ disruption were marked as 37 cases (50%). Extraarticular fracture with concomitant DRUJ disruption were marked in 3 cases (8,1%) and in intraarticular involvement were 34 cases (91,9 %). From this study, we can conclude that half of the distal end radius fracture cases, especially intraarticular, were accompanied by DRUJ  disruption. This should be an issue to be concerned by the physician when evaluating distal end radius fracture cases and to perform proper treatment.
Hasil Fungsional Pasca Operasi Berbagai Jenis Pembedahan Pada Giant Cell Tumor Campanacci Grade 3 Ekstremitas Bawah Di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung Preodita Agradi; Muhammad Naseh Setiawan; Darmadji Ismono; Herry Herman
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 5, No 1 (2019): Volume 5 Nomor 1 September 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.486 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v5i1.23918

Abstract

Giant cell tumor (GCT) adalah lesi tumor tulang matur dengan asal belum diketahui. Sekitar 5% dari semua tumor tulang merupakan GCT. Distal femur, proksimal tibia, proksimal humerus, dan distal radius merupakan lokasi predileksi GCT. Pertumbuhan tumor ini agresif dan dapat bertransformasi menjadi tumor ganas. Tatalaksana yang ideal adalah yang mampu mencegah rekurensi sambil mempertahankan fungsi ekstremitas sebanyak-banyaknya.Studi retrospektif dilakukan dengan menganalisis hasil fungsional pasca operasi pada 25 pasien  dengan GCT Campanacci grade 3 pada ekstremitas bawah yang dilakukan dengan metode pembedahan yang berbeda. Terdapat 3 kelompok metode pembedahan, yaitu kelompok A, reseksi luas lalu rekonstruksi dengan graft/spacer, arthrodesis, atau megaprosthesis, kelompok B, kuretase tumor lalu diisi dengan bone graft/cement, dan internal fiksasi dan kelompok C, amputasi. Penelitian ini terdiri dari 25 pasien dengan pembagian kelompok A 7 orang, kelompok B 14 orang, dan kelompok C 4 orang. Kelompok B memiliki tingkat rekurensi paling tinggi. Rerata skor MSTS tergolong baik (22.2). Skor MSTS rerata pada setiap kelompok adalah: 23.57 untuk kelompok A, 22.85 untuk kelompok B, dan 16.75 untuk kelompok C. Tatalaksana berupa amputasi dapat mencegah rekurensi namun memiliki dampak besar terhadap hasil fungsional pasien. Tatalaksana dengan pemberian bone cement memiliki dampak fungsional yang paling kecil bagi pasien namun memiliki tingkat rekurensi yang paling tinggi.Kata Kunci : Giant cell tumor, metode pembedahan, skor MSTS
Multiple Organ Dysfunction Syndrome akibat dari Ischaemic Reperfusion Injury pada Kasus Fraktur Tertutup Distal Femur Disertai Ruptur Arteri Poplitea Taufan Herwindo Dewangga; Abdurrahman Abdurrahman; Herry Herman
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 5, No 2 (2019): Volume 5 Nomor 2 Desember 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsk.v5i2.25666

Abstract

Kejadian fraktur atau dislokasi pada area lutut dapat menyebabkan cedera pembuluh darah terutama arteri poplitea yang sulit untuk dievaluasi secara klinis. Proses diagnosis dan tatalaksana agresif dapat memberikan hasil yang baik jika dilakukan sedini mungkin. Kasus cedera arteri popliteal masih jarang, namun penegakan diagnosis dan tatalaksana yang terlambat dapat meningkatkan morbiditas bahkan mortalitas pada pasien. Tujuan dari laporan kasus ini adalah untuk memberikan wawasan kepada petugas medis di unit gawat darurat mengenai cedera arteri popliteal pada fraktur tertutup di femur distal yang dapat menyebabkan syok dan berakibat pada kematian pasien.Metode: Kami melaporkan satu kasus fraktur tertutup femur distal dengan syok perdarahan derajat IV disebabkan oleh ruptur arteri poplitea di Rumah Sakit Hasan Sadikin pada tanggal 11 November 2018. Pada pasien ini dilakukan tindakan perbaikan ruptur arteri popliteal dan reduksi terbuka fiksasi eksternal 11 jam setelah kecelakaan.Hasil: Keadaan iskemia pada ekstremitas terjadi cukup lama sehingga pasien mengalami multiple organ dysfunction syndrome (MODS), kemudian pasien mengalami perburukan dan meninggal setelah 7 hari pascaoperasi.Kesimpulan: Kematian dapat terjadi pada pasien dengan keadaan fraktur tertutup distal femur disertai ruptur arteri popliteal, perbaikan perfusi pada jaringan yang sudah iskemik memberikan dampak buruk pada pasien yaitu keadaan MODS.Kata kunci: arteri poplitea, fraktur femur, iskemik-reperfusi
Chondrosarcoma pada Pelvis: Terapi Pembedahan dengan Preservasi Anggota Tubuh Gregorius Batara Sutardi; Darmadji Ismono; Muhammad Naseh Irawan; Herry Herman
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 4, No 2 (2018): Volume 4 Nomor 2 Desember 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.778 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v4i2.20682

Abstract

Insidensi Chondrosarcoma 3,5-9% dari tumor tulang primer dan 30% dari keganasan tulang primer. Chondrosarcoma sering terjadi  pada dekade  ke- 4 sampai  ke-7, sedikit lebih sering pada pria. Lokasi yang paling sering adalah pelvis, tulang rusuk, femur proksimal dan humerus proksimal. Lokasi Chondrosarcoma pada pelvis memiliki kekhasan  dan tingkat kesulitan spesifik dalam pembedahan karena lokasi yang dekat dengan struktur vital. Tujuan penelitian  ini adalah untuk menilai functional outcome jangka pendek pada pembedahan preservasi Chondrosarcoma pada pelvis.Penelitian ini merupakan penelitian retrospektif yang mempelajari kasus pelvis Chondrosarcoma yang dikelola di RSHS Bandung periode september 2016 hingga september 2018 yang diikuti selama 2 tahun.Hasil penelitian didapatkan 5 pasien dengan Chondrosarcoma pada pelvis, 3 pria dan 2 wanita dengan usia rerata 48,5 tahun. Kelima pasien menjalankan operasi preservasi dan dilakukan pengukuran functional outcome menggunakan MSTS score, didapatkan hasil 2 pasien masuk kategori Excelent  (skor: 26 dan 28) dan  3 pasien dengan kategori Good (skor: 19, 19 dan 20). Kesimpulan operasi preservasi pada pasien Chondrosarcoma pelvis di RSHS memberikan functional outcome yang baik, namun hal ini juga tergantung pada lokasi, kedekatan dengan struktur vital dan keterampilan ahli bedah.Kata kunci: Chondrosarcoma besar, pelvis, operasi preservasi
Luaran Fungsional Pascaneurektomi Pada Pasien Giant Morton’s Neuroma Diki Julkarnain; Darmadji Ismono; Muhammad Naseh Budi; Herry Herman
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 4, No 4 (2019): Volume 4 Nomor 4 Juni 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.948 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v4i4.22982

Abstract

Lokasi Morton’s neuroma yang paling sering adalah pada sela jari kaki dua dan tiga. Giant Morton’s neuroma adalah kasus tumor jaringan lunak yang jarang terjadi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai luaran fungsional jangka pendek pada pasien giant Morton’s neuroma yang sudah dilakukan neurektomi. Penelitian ini merupakan penelitian prospektif yang mempelajari kasus giant Morton’s neuroma yang dikelola di RSHS Bandung yang di follow up selama 6 bulan. Hasil penelitian didapatkan 1 pasien dengan giant Morton’s neuroma, jenis kelamin wanita, usia 14 tahun. Pasien tersebut menjalani operasi neurektomi dan dilakukan pengukuran luaran fungsional menggunakan skor evaluasi klinis neuroma Giannini dan skor AOFAS pada tiga bulan dan enam bulan pascaneurektomi. Dari follow up 3 bulan, didapatkan kategori cukup dengan skor neuroma Giannini 50 poin dan skor AOFAS 57 poin. Sedangkan pada follow up 6 bulan masuk kategori baik dengan skor neuroma Giannini 60 poin dan skor AOFAS 75 poin. Terdapat peningkatan luaran fungsional pada follow up enam bulan pascaneurektomi. Defisit sensorik dan gangguan pada kaki dan engkel sering terjadi, namun tidak mempengaruhi kepuasan pasien.Kata kunci: giant Morton’s neuroma, luaran fungsional, neurektomi
Co-Authors Abdul Hadi Hassan Abdurrahman Abdurrahman Achadiyani Ade Zayu Cempaka Sari Adhi Pribadi Agnes Dwi H Agoes, Ridad Agus Hadian Rahim Ahmad Ramdan Ahmad Rizal Ahmad Rizal Ambrosius Purba Andri Rezano Anita Deborah Anwar Ashifa, Ade Nurul Aziiz Mardanarian Rosdianto Basuki Hidayat Benny Hasan Purwara Bethy Suryawathy Hernowo Dany Hilmanto Darmadji Ismono Deni K. Sunjaya Dewi Marhaeni Diah Herawati Dida Akhmad Gurnida Diki Julkarnain Eddy Fadlyana Endah Indriani Wahyono Endang Sutedja Erliana Ulfah Farid Husin Firman Fuad Wirakusumah Fitri Fadhilah Fitriani Fitriani Giyawati Yulilania Okinarum Gregorius Batara Sutardi Hadi Susiarno Hadyana Sukandar Hadyana Sukandar Hadyana Sukandar Hanna Goenawan Hartinah Hartinah Hendy Rachmat Primana Hermawati, Ike Herry Garna Husen, Ike R. Husin, Farid Ida Ayu Putu Sri Widnyani Ieva Baniasih Akbar Imtihanul Munjiah Intan Rina Susilawati Irvan Afriandi Ita Susanti Jessica Ubercaprita Johanes C Mose Johanes C. Mose Johanes Cornelius Mose Juliando Juliando Kartasasmita, Arief Sjamsulaksana Kusnandi Rusmil Linda Rofiasari MARINGAN DIAPARI LUMBAN TOBING Mas Adi Sunardi Maulida Hayati Meita Dhamayanti Melsa Sagita Imaniar Muhammad Naseh Budi Muhammad Naseh Irawan Muhammad Naseh Setiawan Nanan Sekarwana Niken Bayu Argaheni Nurihsan, Achmad Juntika Nurrasyidah Nurrasyidah Preodita Agradi Ramadiputra, Gamal Rizki Diposarosa Ronny Lesmana Ruswana Anwar Sakinah Innama Samuel Jason Rolando Tua Shelly Novianti Ismanda Siahaan, Denny Maulana Sri Endah Rahayuningsih Sukandar Hadyana Susiarno, Hadi Taufan Herwindo Dewangga Taufan Herwindo Dewangga Tita Husnitawati Madjid Tita Husnitawati Madjid Tita Husnitawati Madjid Tody Pinandita Tono Djuwantono Tono Djuwantono Tryando Bhatara Uni Gamayani Uni Gamayani Venansius Herry Perdana Suryanta Vita Muniarti Tarawan Yetti Purnama Yoyos Dias Ismiarto Yudi Mulyana Hidayat Yunia Sribudiani Yunisa Pamela Yuwansyah, Yeti