Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PENGEMBANGAN INOVASI PEMBELAJARAN PADA MATA KULIAH ILMU ALAMIAH DASAR DENGAN METODE DISKUSI KELOMPOK Isnaini, Isnaini; Humaira, Humaira; Saoki, Muhamad; Saddam, Saddam
IJTIMAIYA: Journal of Social Science and Teaching Vol 4, No 1 (2020): IJTIMAIYA : Journal of Social Science and Teaching
Publisher : Program Studi Tadris IPS Fakultas tarbiyah IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/ji.v4i1.7205

Abstract

Salah satu yang perlu dibenahi agar proses pembelajaran dapat terlaksana dengan baik adalah perbaikan kualitas tenaga pengajarnya. Penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan pengembangan inovasi pembelajaran dengan menggunakan metode diskusi kelompok agar dapat mengetahui dan menganalisis adanya peningkatan kemampuan mahasiswa dalam memahami dan menganalisis materi yang didiskusikan. Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa semester 1 mata kuliah Ilmu Alamiah Dasar di Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Muhammadiyah Mataram dengan jumlah 23 orang. Teknik pengumpulan data dengan cara observasi, tes dan dokumentasi melalui tahap perencanaan pembelajaran (plan), tahap pelaksanaan pembelajaran (do), dan tahap refleksi (See). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan yang sangat signifikan dalam pengembangan inovasi pembelajaran  yang dapat dilihat dari open lesson 1, 2, dan 3. Adanya peningkatan kemampuan serta keaktifan pembelajaran mahasiswa dipengaruhi oleh ketersediaan perangkat pembelajaran yang maksimal, media pembelajaran yang bisa mengasah pola pikir mahasiswa seperti mengamati, mengidentifikasi, menganalisis, menemukan hal yang baru, mengkomunikasi, dan dapat menyimpulkan materi perkuliahan.Kata Kunci : Inovasi, Metode Diskusi kelompok One that needs to be addressed so that the learning process can be done well is to improve the quality of the teachers. This research was conducted to improve the development of learning innovations by using group discussion methods to find out and analyze an increase in students' ability to understand and analyze the material being discussed. This research was conducted in the first semester students of Basic Natural Sciences in the Pancasila and Civic Education Study Program at the Muhammadiyah University of Mataram with a total number of 23 people. Data collection techniques was gained by observation, tests and documentation through the stages of learning planning (plan), the stage of implementing learning (do), and the reflection phase (See). The results of this study indicate that there is a very significant improvement in the learning innovations that can be seen from open lessons 1, 2, and 3. The improvement in the ability and activeness of student learning is influenced by the availability of maximum learning tools, learning media that can storm the mindset of students such as observing, identifying, analyzing, discovering new things, communicating, and being able to conclude lecture material.Keyword : Innovation, Method Group discussion
Pengaruh Model Pembelajaran Daring dan Kemampuan Teknologi Digital terhadap Keterampilan Proyek Digital Siswa Sekolah Menengah Saoki, Muhamad
REFORM : Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Budaya Vol. 8 No. 03 (2025): Vol. 8 No. 03 (2025): REFORM : Jurnal Pendidikan, Sosial, & Budaya
Publisher : YAYASAN HAMJAH DIHA bekerjasama dengan PENA INSTITUTE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70004/reform.v8i03.268

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh model pembelajaran daring dan kemampuan teknologi digital terhadap keterampilan proyek digital siswa sekolah menengah. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen. Subjek penelitian adalah siswa sekolah menengah yang dibagi ke dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Data dikumpulkan melalui tes keterampilan proyek digital, angket kemampuan teknologi digital, dan lembar observasi pembelajaran daring. Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif dan inferensial melalui uji regresi dan uji simultan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata keterampilan proyek digital siswa pada kelompok eksperimen meningkat dari 62,45 pada pretest menjadi 82,70 pada posttest, sedangkan kelompok kontrol hanya meningkat dari 61,90 menjadi 69,85. Hasil uji regresi menunjukkan bahwa model pembelajaran daring berpengaruh signifikan terhadap keterampilan proyek digital siswa (β = 0,48; p < 0,05), dan kemampuan teknologi digital juga berpengaruh signifikan (β = 0,41; p < 0,05). Secara simultan, kedua variabel bebas memberikan kontribusi sebesar 53,5% terhadap keterampilan proyek digital siswa. Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi pembelajaran daring berbasis proyek dengan penguatan kemampuan teknologi digital siswa efektif dalam meningkatkan keterampilan proyek digital. Penelitian ini merekomendasikan penerapan pembelajaran daring yang berorientasi proyek serta penguatan kompetensi teknologi digital sebagai strategi pembelajaran di sekolah menengah
Perubahan Aktivitas Siswa dan Skor Efektivitas Implementasi Peer Group Learning dalam PPKn Saoki, Muhamad
Multi Discere Journal Vol. 5 No. 1 (2026): May
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/mj.v5i1.6141

Abstract

Pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) di SMAN 2 Wera umumnya berlangsung melalui penjelasan yang berpusat pada guru, sementara perhatian, respons, dan partisipasi siswa masih terbatas. Penelitian ini menganalisis perubahan aktivitas siswa dan skor efektivitas implementasi setelah penerapan Peer Group Learning. Skripsi dan tabel master arsip diaudit karena narasinya tidak konsisten dalam menjelaskan desain, sampel, dan uji statistik. Data yang dapat digunakan berasal dari satu kelas XI yang terdiri atas 25 siswa dan diukur sebelum serta sesudah intervensi. Peer Group Learning dilaksanakan melalui kelompok kecil heterogen, penjelasan antarteman, pertanyaan terbuka, latihan kolaboratif, dan klarifikasi akhir oleh guru. Dua instrumen yang masing-masing terdiri atas enam butir digunakan untuk menilai aktivitas siswa dan efektivitas implementasi. Skor tingkat butir dijadikan sumber utama karena 23 dari 25 total pretest efektivitas implementasi tidak sesuai dengan jumlah butirnya; total kemudian dihitung ulang, dan satu nilai yang melebihi rentang skala dibatasi pada skor maksimum. Aktivitas siswa meningkat dari M = 18,48 (SD = 4,97) menjadi M = 22,04 (SD = 2,01), t(24) = 3,15, p = 0,004, dz = 0,63. Skor efektivitas implementasi meningkat dari M = 19,84 (SD = 2,70) menjadi M = 22,28 (SD = 1,72), t(24) = 4,45, p < 0,001, dz = 0,89. Uji Wilcoxon mendukung kedua temuan tersebut. Peer Group Learning berkaitan dengan aktivitas siswa yang lebih tinggi dan penilaian implementasi yang lebih kuat, tetapi klaim kausal tetap dibatasi oleh desain satu kelompok, dokumentasi intervensi yang singkat, dan bukti pengukuran yang masih awal. Pancasila and Civic Education (PPKn) instruction at SMAN 2 Wera typically relies on teacher-centered explanations, with limited student attention, responsiveness, and participation. This study analyzes changes in student activity and implementation effectiveness scores following the implementation of Peer Group Learning. The thesis and archival master tables were audited due to narrative inconsistencies regarding the study design, sample, and statistical tests. Usable data were derived from a single Grade XI class of 25 students, with measurements taken before and after the intervention. Peer Group Learning was conducted using heterogeneous small groups, peer explanations, open-ended questions, collaborative exercises, and final clarification by the teacher. Two instruments, each comprising six items, were used to assess student activity and implementation effectiveness. Item-level scores served as the primary data source because 23 of the 25 total pre-test scores for implementation effectiveness did not align with the number of items; totals were subsequently recalculated, and any value exceeding the scale range was capped at the maximum score. Student activity increased from M = 18.48 (SD = 4.97) to M = 22.04 (SD = 2.01), t(24) = 3.15, p = 0.004, dz = 0.63. Implementation effectiveness scores increased from M = 19.84 (SD = 2.70) to M = 22.28 (SD = 1.72), t(24) = 4.45, p < 0.001, dz = 0.89. Wilcoxon tests supported both findings. Peer Group Learning is associated with higher student activity and stronger implementation ratings; however, causal claims remain limited by the single-group design, brief intervention documentation, and preliminary measurement evidence.
Nurturing Social Trust through Students' Digital Communication Ethics: Sustainable Strengthening Based on Digital Culture Saddam, Saddam; Winata, Aliahardi; Saoki, Muhamad; Putri, Fina Elisa
IJTIMAIYA: Journal of Social Science and Teaching Vol 10, No 1 (2026): IJTIMAIYA: Journal of Social Science and Teaching
Publisher : Program Studi Tadris IPS Fakultas tarbiyah IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/ji.v10i1.37307

Abstract

Digital transformation in higher education expands students' academic communication while also presenting challenges to digital ethics. This study aims to analyze the strengthening of digital communication ethics based on digital culture and its contribution to the formation of social trust. Using a qualitative approach and constructivist grounded theory design, data were obtained through interviews, digital observations, and document analysis. The results show the separation of personal and academic spaces, ethics through reprimands and role models, negotiation of norms across various platforms, and the formation of social trust through consistent communication. The novelty of this study lies in the "corrective habituation based on digital culture" model, which explains the internalization of communication through correction, reflection, habituation, and role models until it becomes a sustainable campus culture. These findings expand the study of digital ethics from a knowledge perspective to a continuous socio-cultural process.