AbstractThe Purpose of this study is to help resolve CO2 Liquid Tank Construction Project by PT ABC. And, Where is happening today is the delay and uncertainty of project completion time, which does not correspond with the actual schedule that requires completion of a model project. The model used is the optimization using PERT method, PERT goal is to important results. With 253 remaining day of total remaining activity the project will be completed on time with provisions must add 7 hours with the addition of Rp 2.738.490.038,- costs and increase of the number of workers as many as 42 people by adding a fee of Rp 784.896.000,- .and using efficiency measurements to measure the percentage of efficiency resulting in acceleration of time & cost, using 3 models, namely the model of addition of working hours 6, 7 & 8 working hours and the most optimal model has been determined is to use 7 additional hours of works with a percentage of time acceleration which is 37.87% and percentage on acceleration costs are 31.06% when compared to the acceleration in the model 6 the time needed to complete the project is not in accordance with the set target time, and when compared to the 8 hours model, the acceleration cost exceeds the predetermined cost limit, if the company want to complete the project as quickly as possible and with a more efficient cost, the company must accelerate using 7 working hours.AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk membantu menyelesaikan Proyek Konstruksi Tangki Cairan CO2 oleh PT ABC yang terjadi hari ini adalah penundaan dan ketidakpastian waktu penyelesaian proyek, yang tidak sesuai dengan jadwal aktual yang membutuhkan penyelesaian proyek model.Model yang digunakan adalah optimasi menggunakan metode PERT. Tujuan PERT adalah untuk hasil penting dengan 235 Hari yang tersisa dari total aktivitas yang tersisa Proyek ini akan selesai tepat waktu dengan ketentuan harus menambahkan 7 Jam kerja dengan penambahan biaya Rp 2.738.490.038 dan menambah jumlah pekerja sebanyak 42 orang dengan menambahkan biaya sebesar Rp 784.896.000,- dan menggunakan pengukuran efisiensi untuk mengukur persentase efisiensi yang dihasilkan pada percepatan waktu & biaya, menggunakan 3 model yaitu penambahan jam kerja 6, 7 & 8 jam kerja dan telah ditentukan model yang paling optimal adalah menggunakan penambahan 7 Jam kerja dengan persentase pencapain waktu yaitu 37.87% dan persentase pada biaya percepatan adalah 31.06% jika dibandingkan dengan percpatan pada model 6 jam waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek tidak sesuai dengan percepatan waktu yang ditargetkan, dan jika dibandingkan dengan model 8 Jam maka biaya percepatan melebihi batas biaya yang sudah ditentukan, jika perusahaan ingin menyelesaikan proyek dengan secepat mungkin dan dengan biaya yang lebih efisien maka perusahaan harus melakukan percepatan menggunakan 7 jam kerja