Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

FREKUENSI PEMAKAIAN OBAT-OBATAN HERBAL SEBAGAI FAKTOR PENYEBAB KETERLAMBATAN PENGOBATAN MEDIS PADA PASIEN KANKER PAYUDARA Bahar, Yenni; Anwar, Islimsyaf
MEDISAINS Vol 13, No 3 (2015)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/medisains.v13i3.1608

Abstract

Latar belakang: Kanker payudara adalah kanker yang paling sering menyerang wanita di Indonesia (28,7%). Kejadian kanker payudara sebagian besar ditemukan telah mencapai stadium lanjut, yaitu 43% untuk stadium III dan 26% untuk stadium IV, yang memiliki ketahanan hidup yang lebih rendah. Perlu ditingkatkan program edukasi tentang SADARI (Periksa Payudara Sendiri), Tujuan:Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah Frekuensi pemakain obat-obatn herbal merupakan penyebab keterlambatan pengobatan medis pada pasien kanker payudara di Puskesmas Banyumas Kabupaten Banyumas. Metode: Penelitian ini menggunakan metode studi kasus-kontrol yang dilakukan pada pasien kanker payudara di Puskesmas Banyumas Kabupaten Banyumas. Melalui fixed disease sampling, diperoleh 50 sampel, tetapi hanya 30 sampel yang memenuhi kriteria insklusi dan ekskusi. Sampel terdiri atas 30 penderita kanker payudara yang mengalami keterlambatan pengobatan sebagai kelompok kasus dan 20 penderita kanker payudara yang tidak mengalami keterlambatan pengobatan sebagai kelompok kontrol. Data stadium dan grade kanker didapatkan dari rekam medik, sedangkan data yang lainnya didapatkan dari wawancara pasien.Penelitian ini dilakukan dengan analisis secara bivariat dengan uji chi square dan secara multivariat dengan regresi logistik. Hasil: Hasil analisis bivariat menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara keterlambatan pengobatan dengan riwayat menggunakan herbal (p = 0,002 dan OR = 3,79). Analisis pada confounding factor juga didapatkan hubungan yang bermakna pada tingkat pengetahuan (p = 0,014; OR = 3,46) dan rasa takut berobat (p = 0,013; OR = 2,98). Sedangkan dalam analisis multivariat didapatkan bahwa tingkat pengetahuan rendah (p = 0,016; OR = 3,689) merupakan faktor risiko yang paling signifikan untuk keterlambatan pengobatan pada kanker payudara yang disusul oleh riwayat penggunaan herbal (p = 0,031; OR = 2,679). Kesimpulan: Riwayat penggunaan herbal terbukti merupakan penyebab terjadinya keterlambatan melakukan pengobatan medis pada pasien kanker payudara di Puskesmas Banyumas Kabupaten Banyumas.
Pengaruh Ekstrak Etanol Daun Kersen (Muntingia calabura L.) terhadap Peningkatan Kadar Insulin Tikus Putih Model Diabetes Melitus Tipe 2 setelah Induksi STZ-NA Azhar, Religia; Romdhoni, Muhammad Fadhol; Karita, Dewi; Bahar, Yenni
Muhammadiyah Journal of Geriatric Vol 3, No 2 (2022): Muhammadiyah Journal of Geriatric
Publisher : Faculty of Medicine and Health Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/mujg.3.2.46-53

Abstract

Latar Belakang: Diabetes melitus tipe 2 adalah kelainan metabolisme yang terjadi secara kronis, ditandai dengan kenaikan gula darah akibat penurunan sekresi dan fungsi insulin oleh sel beta pankreas atau terjadinya resistensi insulin. Diabetes Melitus (DM) dapat diobati secara medis dengan obat antidiabetik oral atau suntikan insulin. Namun karena mahalnya biaya, perawatan medis terkadang sulit dilakukan sehingga pengobatan DM juga dapat diatasi menggunakan tanaman obat berkhasiat, salah satunya daun kersen yang mengandung senyawa antidiabetik. Tujuan: mengetahui pengaruh ekstrak ethanol daun kersen terhadap kadar insulin pada tikus putih galur wistar penderita DM tipe 2 yang diinduksi STZ-NA. Metode: Penelitian ini berjenis eksperimental laboratorium dengan teknik simple random sampling, post-test only control group design. Analisis data menggunakan uji statistik parametrik One Way ANOVA dilanjutkan dengan post hoc LSD. Hasil: Rata-rata kadar insulin tertinggi adalah KI (0,3 mg/gBB) yaitu 7,43925 mIU/L. Uji one-way ANOVA menunjukkan perbedaan yang signifikan (p0,05). Uji post hoc LSD menunjukkan perbedaan bermakna antara kelompok perlakuan dan kontrol negatif (p0,05). Simpulan: Terdapat pengaruh ekstrak ethanoldaun kersen terhadap peningkatan kadar insulin pada tikus putih galur wistar penderita DM Tipe 2 yang diinduksi STZ-NA dengan dosis yang paling efektif 0,3 mg/gBB. 
Preventif Diabetes Millitus Pada Remaja Melalui Edukasi, Pemeriksaan Gula Darah Dan Pegukuran Indek Masa Tubuh Etlidawati, Etlidawati; Bahar, Yenni; Linggardini, Kris
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa Vol. 3 No. 5 (2025): Juli
Publisher : Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpmba.v3i5.2696

Abstract

Diabetes mellitus (DM) dan penyakit lainnya yang tergolong sebagai non-communicable diseases semakin menonjol sebagai penyebab utama morbiditas dan mortalitas di negara-negara yang sedang berkembang. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi Diabetes mellitus di Indonesia berdasarkan diagnosis medis pada individu berusia 15 tahun mencapai 2%. Angka prevalensi diabetes berdasarkan pemeriksaan darah di kalangan penduduk berusia ≥ 15 tahun menunjukkan peningkatan dari 6,9% (2013) menjadi 8,5% (2018). Remaja sangat rentan terhadap makanan yang tidak sehat dan kurangnya aktivitas fisik, yang membuat mereka lebih berisiko mengalami diabetes mellitus. Tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk mendeteksi dini dan mencegah terjadinya Diabetes mellitus di kalangan remaja melalui pemeriksaan gula darah, indekmassa tubuh. . Metode yang digunakan dalam pelaksanaan pengabdian ini meliputi pemeriksaan kadar gula darah (KGD) , IMT ,kemudian diikuti  dengan penyuluhan melalui ceramah serta distribusi leaflet yang memuat informasi pencegahan Diabetes mellitus bagi remaja remaja putri dipanti asuhan muhammadiyah. Target kegiatan ini adalah remaja putri, dengan kehadiran 31 orang remaja. Kadar gula darah remaja putri tersebut masih berada dalam batas normal. Kegiatan berlangsung dengan lancar dan para remaja putri memahami edukasi yang disampaikan. Mereka menunjukkan pemahaman tentang cara mencegah diabetes mellitus, yang tercermin dalam perubahan gaya hidup yang lebih sehat.