Ardiyasa, I Putu
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Struktur Dramatik Pertunjukan Wayang Parwa Lakon Erawan Rabi Oleh Dalang I Dewa Made Rai Mesi Ardiyasa, I Putu; Wicaksandita, I Dewa Ketut; Santika, Sang Nyoman Gede Adhi
JURNAL DAMAR PEDALANGAN Vol. 2 No. 2 (2022): Oktober
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/dmr.v2i2.1867

Abstract

Penelitian ini adalah sebuah kajian Lakon Irawan Rabi dalam Wayang Kulit Parwa, yang disajikan oleh dalang Rai Mesi. Permasalahan penelitian yang dibahas yaitu mengenai struktur dramatik lakon Irawan Rabi dalam Wayang Kulit Parwa, oleh dalang Rai Mesi. Untuk membedah masalah, peneliti memakai Metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan kualitatif. Berkenaan dengan objek penelitian berupa rekaman kaset tape recorder, maka data-data diperoleh melalui observasi, wawancara, studi dokumentasi, dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukan bahwa Lakon Irawanmemilikistruktur dramatik yang menarik, terdiridari (1) babak I: eksposisi, konflik; (2) babak II: komplikasi; eksposisi (3) babak III: komplikasi, klimaks; (4) babak IV: resolusi dan konklusi. Tensi dramatik ini tersusun dalam alur yang terbuka, maju, dan tunggal, karena lakon Irawan Rabi terdapat satu alur cerita tanpa ada selipan cerita lain.
Struktur Dramatik Pertunjukan Wayang Parwa Lakon Erawan Rabi Oleh Dalang I Dewa Made Rai Mesi Ardiyasa, I Putu; Wicaksandita, I Dewa Ketut; Santika, Sang Nyoman Gede Adhi
JURNAL DAMAR PEDALANGAN Vol 2 No 2 (2022): Oktober
Publisher : Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/dmr.v2i2.1867

Abstract

Penelitian ini adalah sebuah kajian Lakon Irawan Rabi dalam Wayang Kulit Parwa, yang disajikan oleh dalang Rai Mesi. Permasalahan penelitian yang dibahas yaitu mengenai struktur dramatik lakon Irawan Rabi dalam Wayang Kulit Parwa, oleh dalang Rai Mesi. Untuk membedah masalah, peneliti memakai Metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan kualitatif. Berkenaan dengan objek penelitian berupa rekaman kaset tape recorder, maka data-data diperoleh melalui observasi, wawancara, studi dokumentasi, dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukan bahwa Lakon Irawanmemilikistruktur dramatik yang menarik, terdiridari (1) babak I: eksposisi, konflik; (2) babak II: komplikasi; eksposisi (3) babak III: komplikasi, klimaks; (4) babak IV: resolusi dan konklusi. Tensi dramatik ini tersusun dalam alur yang terbuka, maju, dan tunggal, karena lakon Irawan Rabi terdapat satu alur cerita tanpa ada selipan cerita lain.
PENDIDIKAN DALANG BALI UTARA: STUDI KONSEPTUAL BISA DAN DADI DALAM PRAKTEK BELAJAR WAYANG BERBASIS LONTAR DHARMA PAWAYANGAN Suprapta, Erman Risky Dewa; Reland Udayana Tangkas, Made; Ardiyasa, I Putu
JURNAL DAMAR PEDALANGAN Vol 6 No 1 (2026): Mei
Publisher : Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/dmr.v6i1.6864

Abstract

This research investigates the growing dissonance in North Balinese puppetry education, specifically the gap between technical proficiency ('bisa') and spiritual-ethical legitimacy ('dadi'). The dalang, traditionally a sacred figure guided by the Lontar Dharma Pawayangan, faces a pedagogical crisis as the holistic 'aguron-guron' (master-apprentice) system is supplanted by formal institutions prioritizing technical skills. This qualitative study, employing ethnographic methods and textual analysis, reveals that this shift leads to a perceived decline in 'taksu' (spiritual charisma) and a suboptimal implementation of the Dharma Pawayangan theo-aesthetic principles among younger puppeteers. To address this fragmentation, the study proposes a 'Tri-Pola Integrative Model' for puppeteer education. This model aims to synthesize the strengths of the three existing pillars to produce a complete puppeteer. This model synthesizes the strengths of three pillars: the Academic (formal institutions) as a theoretical foundation, a center for critical research, documentation, and analysis; the Community (sanggar) as a practical laboratory, an incubator for creativity, and a space for social interaction; and the Spiritual (Mpu/masters) as a vehicle for transmitting intangible elements such as taksu, ethics, and spiritual practices. By integrating John Dewey's philosophy of experiential learning and Talcott Parsons' AGIL framework for systemic sustainability, this model aims to produce a 'dalang paripurna' (a perfected puppeteer) who holistically embodies both 'bisa' and 'dadi', ensuring the vitality and sanctity of the tradition.