Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perlindungan Hukum Terhadap Dokter Pada Perubahan Prosedur Operasi Laparoskopi Ke Laparotomi Di Rumah Sakit Dalam Perspektif Hukum Kesehatan Di Indonesia Efrila, Efrila; Suswantoro, Tri Agus; Adrian, Ronny
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 5 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i5.15730

Abstract

Laparoskopi menggunakan beberapa sayatan kecil untuk memasukkan kamera dan instrumen bedah, sehingga memungkinkan ahli bedah untuk melakukan operasi dengan kerusakan jaringan yang minimal. Sebaliknya, laparotomi memerlukan sayatan yang lebih besar untuk memberikan akses langsung ke organ-organ dalam perut. Meskipun laparoskopi telah menjadi pilihan utama untuk banyak prosedur bedah, namun terdapat beberapa situasi klinis di mana operasi harus diubah menjadi laparotomi. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari penelitian ini antara lain: Apa konsekuensi hukum bagi dokter bedah yang memilih untuk menggunakan laparotomi daripada bedah laparoskopi? Terakhir, saya ingin mengetahui perlindungan apa yang tersedia bagi ahli bedah yang memilih untuk melakukan laparotomi daripada prosedur laparoskopi. Metode penelitian hukum normatif digunakan dalam penelitian ini. Berdasarkan Pasal 193 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023, temuan penelitian menunjukkan bahwa rumah sakit bertanggung jawab penuh terhadap dokter yang memutuskan untuk melakukan laparotomi daripada bedah laparoskopi terhadap pasiennya. Tujuan dari UU No. 17 Tahun 2023 adalah untuk memberikan kepercayaan diri kepada dokter untuk merawat pasien sesuai dengan persyaratan hukum yang telah ditetapkan dengan jelas
G2P1A0 Hamil 34 Minggu Belum Inpartu dengan BSC 1x + KPD 6 Jam, JTH Presentasi Kepala Oktarika, Rizqi Fathiani Siti; Adrian, Ronny
Medula Vol 16 No 1 (2026): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v16i1.1727

Abstract

Preterm premature rupture of membranes (PPROM) remains a clinical challenge due to its association with increased maternal infection, neonatal complications, and the need for carefully timed delivery decisions. This case report describes a 34-week pregnant woman (G2P1A0) who presented with clear vaginal fluid leakage for six hours prior to hospital admission, without uterine contractions. Speculum examination revealed pooling of amniotic fluid with a positive nitrazine test, while ultrasonography demonstrated a live singleton fetus in cephalic presentation with adequate amniotic fluid volume. Laboratory evaluation showed a leukocyte count of 9,900/µL, which is within the physiological range for the third trimester but warrants close monitoring due to the increased risk of ascending infection in PPROM. In the absence of clinical signs of intrauterine infection, short-term expectant management was undertaken, accompanied by antibiotic therapy, tocolytics, and antenatal corticosteroids to maintain maternal–fetal stability and reduce prematurity-related risks. Considering the unripe cervix and a history of one previous cesarean section, elective cesarean delivery was chosen as the safest mode of pregnancy termination. The neonate was delivered in good condition with satisfactory APGAR scores, and the mother experienced an uneventful postoperative recovery. This case highlights that individualized, guideline-based management of PPROM at 34 weeks’ gestation can optimize maternal and neonatal outcomes.