Azizah, Farah Nurul
Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Published : 11 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Kepenarian Aerli sebagai Pewaris Dalang Topeng Pekandangan Indramayu Farah Nurul Azizah; Pramutomo Pramutomo
Pelataran Seni Vol 2, No 1
Publisher : Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan FKIP ULM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (14991.456 KB) | DOI: 10.20527/jps.v2i1.5201

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk dapat memahami proses pembentukan kepenarian Aerli sebagai pewaris Dalang Topeng di Pekandangan Indramayu. Penelitian ini menggunakan metode etnografi dengan pendekatan etnokoreologi yang didukung teori pewarisan dan teori perilaku estetik Desmond Morris. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses pewarisan tradisi Tari Topeng Gaya Indramayu di Pekandangan pada Aerli berlangsung melalui sistem vertical transmission (pewarisan tegak), yakni dengan mekanisme genetik secara tradisional. Kepenarian Aerli melalui pewarisan berlangsung dengan cara guru panggung, bebarang, meuseuh diri dan ditanggap. Prosesi ritual yang dilakukan Aerli untuk dinobatkan sebagai Dalang Topeng adalah ritual ngunjung buyut dan bebarang. Konsep perilaku manusia dalam proses pembelajaran Aerli menjadi penari topeng masuk dalam kategori inborn action, trained actions dan absorbed actions pada proses guru panggung. Dalam proses bebarang dan meuseuh diri termasuk dalam kategori perilaku discovered actions. Metode pembentukan kepenarian Aerli melalui proses pewarisan ini dapat dikategorikan sebagai mixed actions.Kata Kunci: kepenarian aerli, pewarisan, dalang topeng, tari topeng indramayu
PELATIHAN TARI PENYAMBUTAN TAMU DI KAMPUNG BUDAYA JALAWASTU KAB.BREBES Farah Nurul Azizah; Hera Harfianti; Rani Tiara FL; Ikhwan Kamaluddin Kamal; Riquelme Pasha Mauri
Sureq: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berbasis Seni dan Desain Vol 1, No 2 (2022): Juli-Desember
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (503.099 KB) | DOI: 10.26858/srq.v1i2.37225

Abstract

Kampung Budaya Jalawastu di Brebes, merupakan satu-satunya kampung budaya di Jawa Tengah yang menggunakan Bahasa sunda dalam kehidupan kesehariannya. Letak geografisnya berada pada dataran tinggi di bawah kaki Gunung Kumbang, sehingga masyarakatnya mayoritas bertani dan berkebun. Masyarakat Kampung Budaya Jalawastu bersama pemerintah Brebes bekerja sama untuk melestarikan budaya, tradisi dan adat istiadat yang mereka percayai secara turun temurun. Salah satu tradisi yang masih dilestarikan dan dipertahankan hingga sekarang adalah upacara Ngasa. Upacara ini menjadi salah satu ikon tradisi dari Kampung Budaya Jalawastu yang patut diapresiasi. Upacara Ngasa biasa dilaksanakan selama satu tahun sekali, yaitu pada bulan ketiga tepatnya pada bulan maret selasa kliwon. Dalam upacara ini biasanya ditampilkan serangkaian pertunjukan seni khas Jalawastu, seperti ritual ciprat suci, Tari Perang Centong, Tari-tarian yang dibawakan oleh Laskar Wanoja, dan tari-tarian yang dibawakan oleh Laskar Jagabaya. Pada kenyataannya, kesenian Kampung Budaya Jalawastu jika dilihat dari aspek estetika terutama pada Tari Penyambutan Tamu masih perlu diadakannya revitalisasi agar menjadi sebuah tarian penyambutan yang menjadi ciri khas dari kampung budaya Jalawastu. Oleh karena itu, pengabdian ini bertujuan untuk memberikan pelatihan tari, bagi para pemudi Jalawastu yang biasanya menjadi penari untuk penyambutan tamu. Pelatihan tari yang tim lakukan adalah dengan menggunakan metode pelaksanaan secara langsung, pelatihan ini dapat menjadi sebuah kreativitas agar menjadikan Kampung Budaya Jalawastu memiliki ciri khasnya tersendiri. Tidak hanya itu, garapan musik iringan tari penyambutan tamu pun disusun bersama antara tim riset dengan masyarakat Jalawastu, dengan menyesuaikan karakteristik kesenian yang ada di daerah Brebes khususnya Jalawastu.  Kata Kunci: Kampung Budaya, Pelatihan, Tari, Jalawastu
Kajian Struktur Tari Perang Centong dalam Ritual Ngasa Kampung Budaya Jalawastu Brebes Turyati Turyati; Farah Nurul Azizah
PANGGUNG Vol 32, No 4 (2022): Keragaman Budaya, Kajian Seni, dan Media
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (943.145 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v32i4.2302

Abstract

Artikel ini berusaha menelusuri studi tentang struktur tari dalam sebuah ritual, yaitu Tari Perang Centong. Tari tersebut rutin dilakukan dalam ritual Ngasa di Kampung Budaya Jalawastu Brebes. Bahasan ini bertujuan untuk mengkaji struktur Tari Perang Centong, mulai dari latar belakang ritual, bentuk dan isi tarian, yang dieksplorasi melalui pendekatan etnokoreologi. Metode yang digunakan kualitatif yaitu dengan melakukan pendalaman materi melalui wawancara, observasi dan studi dokumentasi untuk melakukan pencatatan koreografinya. Hasilnya ditemukan bahwa, struktur Tari Perang Centong diidentifikasi berdasarkan bentuk tarinya yang meliputi bentuk penyajian, koreografi, rias-busana, serta propertinya. Sementara isi tariannya meliputi latar belakang cerita, tema, nama tarian, karakter dan unsur filosofi di dalamnya. Bentuk penyajian data koreografi dilengkapi dengan menggunakan notasi laban. Melalui artikel ini diharapkan tercapai sebuah kepentingan yakni menumbuhkan pemahaman nilai tradisi dan kepedulian untuk melestarikan budaya melalui ritual Ngasa di Kampung Budaya Jalawastu Brebes. Kata kunci: Struktur, Tari Perang Centong, Ritual, Ngasa, dan tradisi.
Kajian Estetika Tari Setra Sari karya Gugum Gumbira Herly Merliana; Farah Nurul Azizah
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/jpks.v9i1.24651

Abstract

Setra Sari Dance is a Jaipongan dance repertoire by a maestro named Gugum Gumbira Tirasonjaya in 1981 as an industrial necessity at that time, namely one of the promotions of Jaipongan's cassette song entitled Serat Salira. This dance is unique and different from other Jaipongan dance works, especially in the smooth character of the movements and colors of the clothes. Therefore, the author is interested in exploring the aesthetic elements of dance, so qualitative research and Djelantik’s intrumental aesthetic theory are used with a descriptive analysis method approach that goes through stages of data mining such as literature study, observation, and data analysis. Based on the results of the analysis, it was concluded that the Setra Sari dance was formed by three main elements, namely; form, consisting of form and structure. The structure includes; choreographic structure, dance accompaniment, and make-up. Weight or content, including; atmosphere, ideas, and messages. Appearance or presentation, including; talents, skills, and means or media. These three elements are dance aesthetics that are the identity of the Setra Sari dance. Keywords: Dance Aesthetics, Setra Sari Dance, Gugum Gumbira
FENOMENA PENARI CROSSGENDER DALAM GRUP REOG SARDULO NARESHWARI Azizah, Farah Nurul
Jurnal Seni Makalangan Vol 9, No 2 (2022): "Dimensi Kreativitas Ketubuhan Penari Sunda"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v9i2.2389

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengeksplanasikan sebuah fenomena cross gender yang tidak asing dalam perkembangan dunia seni tari, yakni merupakan istilah silang peran atau karakter yang berseberangan atau berkebalikan dengan peran dan karakter sebenarnya. Fenomena cross gender ini muncul dalam kesenian Reog Ponorogo yang notabene para pelaku seninya adalah laki-laki, tetapi ada salah satu grup yang para pelaku seninya adalah perempuan semua yaitu Grup Reog Putri Sardulo Nareshwari. Cross gender dijadikan siasat yang menjadi daya tarik tersendiri, untuk bersaing dengan grup-grup reog lainnya. Pada penelitian ini, fenomena dilihat dari sudut pandang dan pengalaman para penari dalam menjalani peran sebagai penari cross gender, sehingga perspektifnya menggunakan cara pandang para penari memaknai cross gender itu sendiri. Profesionalitas mereka dan citra diri para penari, baik di atas panggung maupun di luar panggung menjadi titik focus pembahasan utama. Kata Kunci: Fenomena, Cross Gender, Reog, Sardulo Nareshwari. ABSTRACT: The Phenomena Of The Crossgender Dancers In The Reog Sardulo Narehswari Group. December 2022. This article aims to explain a cross-gender phenomenon that is not foreign to the development of the world of dance, which is a cross-term of roles or characters that are opposite or opposite to their actual roles and characters. This cross-gender phenomenon appears in the Reog Ponorogo art, where in fact the performers are male, but there is one group whose performers are all women, namely the Reog Putri Sardulo Nareshwari Group. Cross gender is used as a strategy that is the main attraction, to compete with other reog groups. In this study, the phenomenon is seen from the point of view and experience of the dancers in carrying out the role of cross-gender dancers, so that the perspective uses the perspective of the dancers to interpret cross-gender itself. Their professionalism and the dancers' self-image, both on stage and off stage, became the main focus of discussion. Kata Kunci: Fenomena, Cross Gender, Reog, Sardulo Nareshwari.
Kajian Struktur Tari Perang Centong dalam Ritual Ngasa Kampung Budaya Jalawastu Brebes Turyati Turyati; Farah Nurul Azizah
PANGGUNG Vol 32 No 4 (2022): Keragaman Budaya, Kajian Seni, dan Media
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v32i4.2302

Abstract

Artikel ini berusaha menelusuri studi tentang struktur tari dalam sebuah ritual, yaitu Tari Perang Centong. Tari tersebut rutin dilakukan dalam ritual Ngasa di Kampung Budaya Jalawastu Brebes. Bahasan ini bertujuan untuk mengkaji struktur Tari Perang Centong, mulai dari latar belakang ritual, bentuk dan isi tarian, yang dieksplorasi melalui pendekatan etnokoreologi. Metode yang digunakan kualitatif yaitu dengan melakukan pendalaman materi melalui wawancara, observasi dan studi dokumentasi untuk melakukan pencatatan koreografinya. Hasilnya ditemukan bahwa, struktur Tari Perang Centong diidentifikasi berdasarkan bentuk tarinya yang meliputi bentuk penyajian, koreografi, rias-busana, serta propertinya. Sementara isi tariannya meliputi latar belakang cerita, tema, nama tarian, karakter dan unsur filosofi di dalamnya. Bentuk penyajian data koreografi dilengkapi dengan menggunakan notasi laban. Melalui artikel ini diharapkan tercapai sebuah kepentingan yakni menumbuhkan pemahaman nilai tradisi dan kepedulian untuk melestarikan budaya melalui ritual Ngasa di Kampung Budaya Jalawastu Brebes. Kata kunci: Struktur, Tari Perang Centong, Ritual, Ngasa, dan tradisi.
Tari Kele: Sebuah Gagasan Kreatif Neng Peking Az-zahra Khairunnisa; Lilis Sumiati; Farah Nurul Azizah
PANGGUNG Vol 34 No 3 (2024): Kreativitas, Seni Kontemporer, dan Pariwisata Berkelanjutan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v34i3.3561

Abstract

ABSTRAK Tari Kele merupakan karya tari kreasi baru dari Kabupaten Ciamis yang diciptakan oleh Neng Peking pada tahun 2006 di Studio Titik Dua. Tarian ini merupakan tarian baru yang memuat nilai-nilai tentang fenomena budaya dari Upacara Adat Nyangku. Keunikan dari Tari ini yaitu menggunakan properti kele yang disimpan di atas kepala (disuhun) dan koreografinya dilakukan sambil menjinjit dengan memegang daun hanjuang. Hal tersebut menjadi daya tarik untuk diteliti lebih dalam dengan tujuan untuk mengetahui kreativitas Neng Peking dalam menciptakan Tari Kele. Penelitian ini menggunakan pendekatan teori Rhodes mengenai 4P yaitu (person, process, press, product) dengan menggunakan metode kualitatif dalam prosedur pengumpulan datanya dilakukan melalui tiga tahapan yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini adalah Neng Peking sebagai pribadi kreatif (person) dengan adanya pendorong internal dan eksternal (press) untuk melakukan sebuah proses kreatif (process) yang cukup panjang dapat menghasilkan produk kreatif (product) yaitu Tari Kele yang berkualitas. Kata Kunci: Tari Kele, Kreasi Baru, Kreativitas, Neng Peking
Bajidoran: Bentuk Pertunjukan Kemasan Seni Wisata di Angkringan Teh Ita Kota Bandung Azizah, Farah Nurul; Nuriawati, Risa
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/jpks.v9i2.28635

Abstract

Bajidoran, one of the folk arts in West Java, is now not only present on village celebration stages. The latest phenomenon, Bajidoran is now being packaged into a show at a tourist spot, namely Angkringan Teh Ita. Bajidoran grows and develops in the midst of urban society with the concept of tourism art packaging, which of course has a different form of performance from that in its original habitus. This article wants to explain the form of the Bajidoran performance with the concept of tourist art packaging, using qualitative research methods. The data collection techniques used were field observation, in-depth interviews, literature study and documentation study. An explanation of the Bajidoran performance, using the concepts of tourism art packaging, including: 1) making an imitation of the original, 2) Short or concise, or a mini form of the original, 3) full of variations, 4) abandoning sacred and magical values , as well as its symbols, and 5) it is cheap. Bajidoran's presence at Angkringan Teh Ita is also supported by several factors, including people, performance venues and promotions.
NATYA GANDES: INOVASI REPERTOAR JAIPONGAN KEMASAN SENI WISATA: Indonesia Nuriawati, Risa; Azizah, Farah Nurul
Greget: Jurnal Kreativitas dan Studi Tari Vol. 24 No. 1 (2025): PRESENTASI INOVASI ESTETIS, FUNGSI, DAN PEMBELAJARAN TARI
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/grt.v25i1.7272

Abstract

The Natya Gandes dance is an innovative Jaipongan repertoire specifically created to cater to the demands of tourism-oriented performances in West Java. Developed through a practice-based research approach, this work preserves the essential structural components of traditional Jaipongan—bukaan, pencugan, nibakeun, and mincid. To appeal to a broader and more contemporary audience, Natya Gandes incorporates modern elements, including Zumba-inspired movements and digitally arranged traditional music. The title Natya Gandes symbolizes a graceful, energetic, and skilled female figure, reflecting the choreography’s expressive, interactive, and dynamic character. This article focuses on examining the conceptual framework underlying the choreography of Natya Gandes, offering a detailed analysis of its key components: movement vocabulary, spatial design, musical accompaniment, title and theme, genre and stylistic nature, performance method, number and gender of dancers, as well as makeup, costuming, and lighting. Ultimately, this choreographic innovation aims to enrich the traditional performing arts repertoire while simultaneously enhancing the appeal of West Javanese cultural heritage within the tourism sector.
Kajian Struktur Tari Perang Centong dalam Ritual Ngasa Kampung Budaya Jalawastu Brebes Turyati, Turyati; Azizah, Farah Nurul
PANGGUNG Vol 32 No 4 (2022): Keragaman Budaya, Kajian Seni, dan Media
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v32i4.2302

Abstract

Artikel ini berusaha menelusuri studi tentang struktur tari dalam sebuah ritual, yaitu Tari Perang Centong. Tari tersebut rutin dilakukan dalam ritual Ngasa di Kampung Budaya Jalawastu Brebes. Bahasan ini bertujuan untuk mengkaji struktur Tari Perang Centong, mulai dari latar belakang ritual, bentuk dan isi tarian, yang dieksplorasi melalui pendekatan etnokoreologi. Metode yang digunakan kualitatif yaitu dengan melakukan pendalaman materi melalui wawancara, observasi dan studi dokumentasi untuk melakukan pencatatan koreografinya. Hasilnya ditemukan bahwa, struktur Tari Perang Centong diidentifikasi berdasarkan bentuk tarinya yang meliputi bentuk penyajian, koreografi, rias-busana, serta propertinya. Sementara isi tariannya meliputi latar belakang cerita, tema, nama tarian, karakter dan unsur filosofi di dalamnya. Bentuk penyajian data koreografi dilengkapi dengan menggunakan notasi laban. Melalui artikel ini diharapkan tercapai sebuah kepentingan yakni menumbuhkan pemahaman nilai tradisi dan kepedulian untuk melestarikan budaya melalui ritual Ngasa di Kampung Budaya Jalawastu Brebes. Kata kunci: Struktur, Tari Perang Centong, Ritual, Ngasa, dan tradisi.