Saragih, Izzah Dienillah
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PREVALENCE OF SKIN DISEASES IN THE COASTAL AREA OF TELUK NIBUNG NORTH SUMATRA Saragih, Izzah Dienillah; Utami, Tri Niswati; Gurning, Fitriani Pramita
Proceedings of the International Conference on Applied Science and Health No 4 (2019)
Publisher : Yayasan Aliansi Cendekiawan Indonesia Thailand (Indonesian Scholars' Alliance)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.1 KB)

Abstract

Background:In an observational study of The Global Burden Disease stated skin diseases contributed to 1.79% of lost productive days worldwide due to itching, scratching, or secondary infections which accompanying. Skin diseases are among the three biggest diseases in Tanjung Balai City with 7.230 cases in 2017. Tanjung Balai is a coastal region on the East Coast of North Sumatra with Teluk Nibung as the largest Subdistrict which had characteristics of tropical climates, high density, the lack of basic sanitation and personal hygiene and it caused the population susceptible to skin diseases.The study is to find out the prevalence of skin diseases in Teluk Nibung2018.Methods:This was an observational study using data sourced from surveillance of infectious diseases in Teluk Nibung Health Center regarding the 10 biggest diseases in the one Primary Health Care (Puskesmas) in 2018. The study was conducted in April 2019. Data were analyzeddescriptivelyusing univariate analysis with table and graphs of skin diseases frequency and distributionResults: Skin disease wasthe third largest disease in Teluk Nibung Subdistrict with 2.208 casesin 2018. Disease trends increased throughout 2018 with significantly increased in May. The proportion of skin diseases wasbigger among the female group, which is 56%. The environmental conditions in Teluk Nibung reflected coastal areas with high-density population, unhealthy settlement conditions, and the lack of basic sanitation and personal hygiene.Conclusions:Skin Disease is still a major health problem in Teluk Nibung due to the climate, weather, and the lack of environmental health factor. It needsfor researchers conducted research on skin diseases related to basic sanitation, personal hygiene among society in the coastal area and stakeholders need to create policy improved health environment.
Faktor Risiko Malaria Masyarakat Pesisir di Kecamatan Pantai Cermin Kabupaten Serdang Bedagai Siregar, Putra Apriadi; Saragih, Izzah Dienillah
TROPHICO: Tropical Public Health J. Vol. 1 No. 2 (2021): TROPHICO: Tropical Public Health Journal
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.303 KB) | DOI: 10.32734/trophico.v1i2.7261

Abstract

Malaria merupakan penyakit umum terjadi di daerah pesisir. Studi ini bertujuan mengetahui faktor yang memengaruhi kejadian penyakit malaria di Kecamatan Pantai Cermin Kabupaten Serdang Bedagai. Penelitian ini menggunakan desain case control yang dilaksanakan di Kecamatan Pantai Cermin Kabupaten Serdang Bedagai pada bulan Januari-Agustus 2019. Kelompok kasus dalam penelitian ini merupakan penderita malaria di Puskesmas Pantai Cermin sebanyak 36 orang dan kelompok kontrol merupakan yang bukan penderita malaria sebanyak 36 orang. Data dikumpulkan dengan melakukan wawancara melalui instrumen kuesioner terstruktur, selanjutnya melakukan analisis bivariat menggunakan uji chi square dan analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel kawat kasa ventilasi (p=0,083, OR= 0,087), jenis dinding rumah (p=0,035, OR=1,157), aktivitas individu untuk keluar rumah pada malam hari (p=0,009, OR=1,273), penggunaan kelambu berinsektisida saat tidur (p<0,001, OR=4,007). Risiko terkena penyakit malaria 12,98 kali lebih besar  pada masyarakat yang tidak memasang kelambu berinsektisida saat tidur dibandingkan masyarakat yang memasang kelambu berinsektisida saat tidur. Dinas Kesehatan Kabupaten Serdang Bedagai dan tokoh masyarakat di Kecamatan Pantai Cermin diharapkan lebih intens untuk mensosialisasikan penggunaan kelambu berinsektisida saat tidur sebagai salah satu upaya untuk mencegah kejadian penyakit malaria di Kecamatan Pantai Cermin.
Pembentukan Bocah Arif Perubahan Iklim (Apik) sebagai Upaya Penanggulangan Perubahan Iklim di Kecamatan Deli Tua Tumanggor, Winni R.E.; Chahaya, Indra; Marsella, Emma; Saragih, Izzah Dienillah
Publikasi Pendidikan Vol 14, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/publikan.v14i2.59927

Abstract

Kecamatan Deli Tua merupakan salah satu daerah di Kabupaten Deli Serdang yang memiliki masalah serius mengenai pengelolaan sampah. Peningkatan pengetahuan mengenai pengelolaan sampah menggunakan metode yang sesuai perlu dilakukan. Tujuan kegiatan ini adalah menumbuhkan kesadaran dan meningkatkan pengetahuan dalam upaya pembentukan Bocah Arif Perubahan Iklim (Apik). Kegiatan pengabdian dilaksanakan di Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini Anggrek, Desa Kedai Durian, Kecamatan Deli Tua, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara dengan sasaran anak kelas 4-6 SD. Pelaksanaan kegiatan meliputi 3 tahap diantaranya adalah jalan sehat sambil mengutip sampah, bermain Atteropoly serta kegiatan pojok literasi mengenai upaya pencegahan dan penanggulangan dampak perubahan iklim. Berdasarkan hasil pelaksanaan pengabdian, rata-rata skor pre-test adalah 53,48 dan  rata- rata skor post-test responden adalah 66,09. Perbedaan rata-rata skor responden sebelum dan sesudah pemberian edukasi dan literasi adalah 12,61 artinya rata-rata skor mengalami peningkatan sebesar 23,57%. Hasil ini menginterpretasikan bahwa pembentukan Bocah Apik dapat meningkatkan pengetahuan mengenai pengelolaan sampah sebagai upaya penanggulangan perubahan iklim pada anak-anak usia sekolah dasar di Desa Kedai Durian. Pengabdian masyarakat ini diharapkan dapat menjadi sarana efektif dalam mendidik masyarakat, terutama anak-anak sekolah dasar menjadi Bocah Apik sebagai upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim.