Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search
Journal : Edible : Jedb

PENGARUH WAKTU PELAYUAN DAN SUHU PENGERINGAN PADA PEMBUATAN TEH DAUN ROSELA AD, Adi Saputera; Suyatno, Suyatno; Dasir, Dasir
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 1, No 1 (2012): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v1i1.479

Abstract

Teh merupakan minuman yang sangat populer di dunia. Biasanya teh dibuat dengan mengeringkan pucuk daun teh. Nama latin rosela adalah Hibicus sabdariffa L. Hibicus termasuk tanaman tropis yang tumbuh tahunan. Daun, bunga dan biji rosela memiliki kandungan gizi yang begitu baik sehingga rosela tidak hanya berpotensi untuk bahan baku industri makanan, tetapi juga berpotensi digunakan sebagai bahan baku industri farmasi, minuman tradisional, pewarna alami dan kosmetik. Tetapi selama ini yang dimanfaatkan hanya kelopak bunganya, sedangkan daunnya dibiarkan saja. Untuk itu perlu dilakukan pemanfaatan daun rosela menjadi teh daun rosela. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui waktu pelayuan dan suhu pengeringan teh daun rosela. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan April 2011 sampai Februari 2012 di laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Palembang.Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial terdiri dari sembilan perlakuan dan diulang sebanyak tiga kali. Masing-masing perlakuan adalah waktu pelayuan (L) terdiri dari 16 jam, 20 jam, 24 jam dan suhu pengeringan (S) 50oC, 60oC, 70oC.Parameter yang diamati dalam penelitian terdiri dari analisis kimia meliputi kadar air, kadar vitamin C, sedangkan uji fisik meliputi waktu seduh, dan uji organoleptik terdiri dari warna, aroma dan rasa pada  dau teh yang sudah diseduh.Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu pelayuan dan suhu pengeringan berpengaruh sangat nyata terhadap kadar air dan kadar vitamin C tetapi interaksinya berpengaruh tidak  nyata terhadap kadar air dan kadar vitamin C.Penilaian uji fisik menunjukkan bahwa waktu pelayuan dan suhu pengeringan berpengaruh sangat nyata terhadap warna dan berpengaruh sangat nyata terhadap interaksinya .Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa interaksi perlakuan L1S1 (16 jam pelayaun dan suhu pengeringan 50oC) menghasilkan teh daun rosela terbaik dengan kadar air (9,321%), kadar vitamin C (27,926mg/100g), waktu seduh (6,39 menit), warna (3,76), aroma (3,42) dan rasa (3,96) dengan kriteria agak disukai.
PENGARUH PERBANDINGAN DAUN DAN KELOPAK BUNGA ROSELA PADA PEMBUATAN “Rosela Blended Tea” Meriyanto, Habibi; Murtado, A.D.; Dasir, Dasir
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 1, No 1 (2012): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v1i1.484

Abstract

Nama latin rosela adalah Hibicus sabdariffa L. Hibicus termasuk tanaman tropis yang tumbuh tahunan. Daun, bunga dan biji rosela memiliki kandungan gizi yang begitu baik sehingga rosela tidak hanya berpotensi untuk bahan baku industri makanan, tetapi juga berpotensi digunakan sebagai bahan baku industri farmasi, minuman tradisional, pewarna alami dan kosmetik. Salah satu pemanfaatan daun dan kelopak bunga rosela adalah pembuatan “rosela blended tea”. Rosela blended tea adalah teh rosela yang dibuat dari kelopak bunga dan daun rosela, melalui proses blanching, pelayuan, pengeringan, dan pengecilan ukuran. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perbandingan daun dan kelopak bunga rosela pada pembuatan “rosela blended tea”. Menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun secara non faktorial dengan faktor perlakuan perbandingan daun rosela dan kelopak bunga rosela yang terdiri dari enam tingkat faktor perlakuan dan diuji sebanyak empat kali. Dengan masing-masing perlakuan adalah R0 (100% Daun rosela dan 0% kelopak bunga rosela), R1( 90% Daun rosela dan 10% kelopak bunga rosela), R2 (80% Daun rosela dan 20% kelopak bunga rosela), R3 (70% Daun rosela dan 30% kelopak bunga rosela) R4 (60% Daun rosela dan 40% kelopak bunga rosela), R5 (50% Daun rosela dan 50% kelopak bunga rosela). Parameter yang diamati dalam penelitian ini untuk analisis kimia adalah kadar air, kadar abu dan vitamin C. Sedangkan untuk uji Organoleptik meliputi rasa, Warna dan aroma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbandingan daun dan kelopak bunga rosela berpengaruh sangat nyata terhadap kadar air, kadar abu, kadar vitamin C. Penilaian uji organoleptik menunjukkan bahwa perbandingan daun dan kelopak bunga rosela berpengaruh nyata terhadap rasa, aroma dan warna teh “rosela blended tea”. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa perlakuan R3 menghasilkan teh “rosela blended tea” terbaik dengan kadar air (8,610%),kadar abu (5,544), kadar vitamin C (26,062/100g), rasa (3,62), dan aroma (3,45), warna (1,63) dengan kriteria agak disukai sampai disukai oleh panelis
STUDI PERBANDINGAN TEPUNG BERAS DAN TEPUNG TAPIOKA PADA PEMBUATAN KERIPIK KULIT SINGKONG Wahyuni, Indah Fitri; Dasir, Dasir; Muchsiri, Mukhtarudin
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 2, No 1 (2013): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v2i1.489

Abstract

This research aims to study the ratio of rice flour and tapioca flour in the manufacture of leather cassava chips produced. This research has been conducted in the laboratory of the Faculty of the University of Muhammadiyah Palembang Pertanin in January to March 2012. This research used Randomized Block Design (RBD) are arranged in a non-factorial combinations of five treatment and repeated five times, with each factor treatment T1 (90% rice flour and tapioca flour 10%), T2 (rice flour 80 % and 20% starch), T3 (70% rice flour and tapioca flour 30%), T4 (60% rice flour and tapioca flour 40%) and treatment T5 (50% rice flour and tapioca flour 50%). Parameters observed in this study, to include the chemical analysis of water content and carbohydrate content. organoleptic tests include flavor and color to the test level of preference and level of crispness to the test ranking. While the physical analysis of volume shrinkage. The results showed that the highest water content contained in the treatment T5 (50% rice flour and tapioca flour 50%) with an average value of 3.438% and the lowest water content at T1 treatment (90% rice flour and tapioca flour 10%) with a mean value average 2.160%. Comparison of the type of flour used can affect carbohydrate content of cassava chips on the skin. Treatment T1 (90% rice flour and tapioca flour 10%) had the highest carbohydrate content than other treatments. Treatment T2 has the highest level of preference for flavor chips cassava peel treatment than T3, T1, T4 and T5. T2 treatment is treatment with an optimal ratio of flour. Treatment T2 (80% rice flour and tapioca flour 20%) had the highest level of preference for color chips cassava peel treatment than T3, T1, T4 and T5. Because rice flour has a higher protein content than starch. Treatment T2 (80% rice flour and tapioca flour 20%) had the highest level of crispness in the skin of cassava chips than treatment T3, T1, T4 and T5. Rice flour is used can affect the crispness of the skin cassava chips. Comparison of the type of flour used can affect the volume shrinkage in the skin of cassava chips. Treatment T1 (90% rice flour and tapioca flour 10%) had the lowest shrinkage volume compared to other treatments.
STUDI BERBAGAI JENIS BAHAN PENGEMBANG TERHADAP REABSORPSI TEKWAN KERING IKAN GABUS H.K, Rio Danar; Dasir, Dasir
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 6, No 1 (2017): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v6i1.630

Abstract

This study aims to determine the use of various types of developer materials to snakehead fish dry tekwan reabsorption. This study was conducted in the laboratory of the Agriculture Faculty, University of Muhammadiyah and Industrial Research and Standards, Palembang in June 2016 to August 2016. Research on the topic "The Study of Various Types of Developer Materials to Snakehead Fish Dry Tekwan Reabsorption", using a randomized block design (RAK) which were arranged in a nonfactorial with 5 (five) levels of treatment factor which repeated 4 (four) times. The parameters were observed in this study, chemical analysis includes water content and protein content on a dry tekwan, physical tests include development volume and the level of elasticity using texture analyzer. While the organoleptic tests include aroma, taste and color with preference level test which conducted on dry tekwan which already reabsorbed and already cooked. The highest water content is in T2 treatment (CaCl2 addition of 1.0% by weight of snakehead fish and tapioca flour) has an average value of 5.73%. The highest protein content was found in treatment T2 (CaCl2 addition of 1.0% by weight of snakehead fish and tapioca flour) has an average value of 17.76%. The highest development volume percentage is in T1 treatment (NaHCO3 addition of 1.0% by weight of snakehead fish and tapioca flour) has an average value of 63.77. The highest level of elasticity was found in the T0 (without the addition of developer materials/control) have an average value of 576.73 newton. The value of the highest pleasure levels of snakehead fish tekwan aroma was found in the T4 treatment (addition of instant yeast 1.0% by weight of snakehead fish and tapioca flour) with an average value of 4.25 (preferred criteria). The value of the highest pleasure levels of snakehead fish tekwan taste was found in the T4 treatment (addition of instant yeast 1.0% by weight of snakehead fish and tapioca flour) with an average value of 4.15 (preferred criteria). The value of the highest pleasure levels of snakehead fish tekwan taste was found in the T2 treatment (CaCl2 addition of 1.0% of weight of snakehead fish and tapioca flour) with an average value of 4.20 (preferred criteria).
MEMPELAJARI PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG BUNGA KECOMBRANG (Nicolaia spesiosa Horan) SEBAGAI PENGAWET ALAMI TERHADAP DAYA SIMPAN BAKSO IKAN GABUS Yusuf, M.Handhi; Dasir, Dasir
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 3, No 1 (2014): EDIBLE
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v3i1.144

Abstract

This research aims to study the effect of adding flour to the shelf life of flowers kecombrang cork fish balls. This study was conducted in laboratory of the Faculty of Agriculture, University of Muhammadiyah Palembang in April 2014 through the month of December 2014. This study used a randomized block design (RAK) are arranged in a non fakorial with 5 (five) factors that repeated treatment as much as 5 (five) times. The level of treatment factor adding interest kecombrang flour used in this study are: T0 (Addition kecombrang flour 0,00%), T1 (addition of flour kecombrang 1.00%), T2 (addition of flour kecombrang 2.00%), T3 (The addition of flour kecombrang 3.00%) and, T4 (addition of flour kecombrang4.00%). Based on the results of measurements of water content and protein content meatballs before and after 5 days of storage showed that the concentration of flour kecombrang interest as a natural preservative very significant effect on the moisture content and protein content meatballs before and after 5 days of storage. The highest water levels before 5 days of storage are in treatment T4 (adding flour kecombrang interest 4.00%) with an average value of 68.054% and the lowest on the T0 (adding flour kecombrang interest 0,00%) with an average value of 66 , 269%. The highest water levels after 5 days of storage are on the T0 (adding flour kecombrang interest 0,00%) with an average value of 73.219% and the lowest in treatment T4 (adding flour kecombrang interest 4.00%) with an average value of 72.539 %. The highest protein content before 5 days of storage are in treatment T4 (adding flour kecombrang interest 4.00%) with an average value of 12.32% and the lowest on the T0 (adding interest flour kecombrang 0.00%) with a mean value average 12.02%. The highest protein content after 5 days of storage are in treatment T4 (adding flour kecombrang interest 4.00%) with an average value of 11.62% and the lowest on the T0 (adding interest flour kecombrang 0.00%) with a mean value average 9.19%. Organoleptic taste, flavor, color and elasticity retributions cork fish balls before and after storage on average preferably at T4 treatment (adding flour kecombrang interest 4.00%).
APLIKASI BUAH MAHKOTA DEWA (Phaleria macrocarpa) SEBAGAI PENGAWET CUKO PEMPEK Dasir, Dasir; Yani, Ade Vera; Isnaim, M
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 10, No 1 (2021): Edible : Jurnal Penelitian Ilmu dan Teknologi Pangan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v10i1.3642

Abstract

Kerusakan bahan pangan dapat dicegah atau dihambat dengan  bahan pengawet baik, bahan pengawet alami maupun pengawet buatan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok  non faktorial, dengan faktor  penambahan ekstrak buah mahkota dewa (D) terdiri 6 tingkatan (0, 5, 10, 15 dan 20 ml) per 500 ml dan empat kali ulangan. Pengamatan terhadap pH dan total asam dilakukan sebelum dan sesudah penyimpanan selama 25 hari. Analisis mikrobiologis dengan uji TPC (Total Plate Count) setelah penyimpanan 25 hari. Sedangkan uji organoleptik meliputi aroma dan rasa menggunakan metode uji segi tiga (triangle test) terhadap cuko pempek dilakukan setelah penyimpanan 25 hari. Hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan ekstrak tepung buah mahkota dewa berpengaruh tidak nyata terhadap nilai pH dan total asam cuko pempek sebelum disimpan, tetapi berpengaruh sangat nyata terhadap pH, total asam dan total mikroba (TPC) cuko pempek setelah dismpan 25 hari.  pH tertinggi 4,53 dan total asam terendah 0,753 % terdapat pada D5.Total mikroba terendah pada perlakuan D5 dengan nilai rata-rata 0,83 x 102 sel/g. Penambahan ekstrak tepung buah mahkota dewa berbeda tidak nyata dengan cuko pempek pembanding yaitu tanpa penambahan bahan pengawet alami.
MEMPELAJARI KARAKTERISTIK MUTU DODOL RUMPUT LAUT ( Eucheuma cottoni ) Wibowo, Niki Agung; Dasir, Dasir; Yani, Ade Vera
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 4, No 1 (2015): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v4i1.475

Abstract

Pengolahan rumput laut untuk meningkatkan daya gunanya yaitu dengan diversifikasi produk dengan mengolahnya menjadi dodol rumput laut. Rumput laut (Eucheuma cottoni) dalam pengolahan dodol berfungsi untuk meningkatkan daya simpan dodol dan tekstur dodol menjadi lebih lunak dan kaya akan serat terutama serat larut air. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh perbandingan antara tepung beras dan rumput laut terhadap mutu dodol rumput laut (Eucheuma cottoni). Penelitian ini Alhamdulillah telah dilaksanakan di laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Palembang dan di laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya pada bulan Mei 2015 sampai dengan bulan Agustus 2015. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun secara non Faktorial dengan faktor perbandingan tepung beras dan rumput laut (Eucheuma cottoni) yang terdiri dari empat tingkat faktor perlakuan yaitu F1 (40% tepung beras : 60% rumput laut), F2 (50% tepung beras : 50% rumput laut), F3 (60% tepung beras : 40% rumput laut), F4 (70% tepung beras : 30% rumput laut) serta diulang sebanyak empat kali. Adapun parameter yang diamati dalam penelitian ini yaitu, untuk analisis kimia meliputi kadar gula total, uji fisik meliputi kekenyalan, sedangkan untuk uji inderawi meliputi rasa menggunakan uji pembanding jamak.
PENGARUH BLANSIR DAN LAMA PENGERINGAN TERHADAP TEPUNG TEMPE YANG DIHASILKAN Rahmatullah, Dian Agung; Dasir, Dasir; Murtado, A.D.
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 1, No 1 (2012): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v1i1.480

Abstract

Tempe merupakan produk fermentasi yang tidak dapat bertahan lama. Tempe difermentasikan oleh kapang Rhizophus sp. Setelah terjadi proses fermentasi, nilai gizi protein tempe meningkat karena terjadinya pembebasan asam amino oleh aktifitas enzim proteolitik dari tempe. Permasalahannya dalam pemanfaatan tempe sebaga bahan pangan adalah sifatnya yang mudah rusak dan hanya bertahan sampai 2 hari penyimpanan. Untuk itu perlu dilakukan diversifikasi tempe menjadi produk yang tahan lama dan mudah disubtitusi ke bahan makanan lainnya untuk meningkatkan proteinnya dengan cara merubah tempe menjadi tepung tempe. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Blansir dan Lama Pengeringan terhadap Tepung Tempe yang dihasilkan. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial terdiri dari sembilan perlakuan dan diulang sebanyak tiga kali. Masing-masing perlakuan adalah Blansir selama 3 menit, 5 menit, 7 menit dan lama pengeringan 6 jam, 8 jam dan 10 jam. Parameter yang diamati dalam penelitian terdiri dari analisis kimia meliputi kadar protein, kadar air dan kadar abu, sedangkan organoleptik terdiri dari warna dan aroma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa blansir berpengaruh sangat nyata terhadap kadar protein dan kadar air tepung tempe, tetapi berpengaruh tidak nyata terhadap kadar abu. Lama pengeringan berpengaruh sangat nyata terhadap kadar protein, kadar air dan kadar abu tepung tempe. Interaksi blansir dan lama pengeringan berpengaruh sangat nyata terhadap kadar protein dan berpengaruh nyata terhadap kadar abu, tetapi berpengaruh tidak nyata terhadap kadar abu tepung tempe.Penilaian organoleptik menunjukkan bahwa blansir dan lama pengeringan berpengaruh nyata terhadap warna dan aroma tepung tempe. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa interaksi perlakuan B1L3 (7 menit dan lama pengeringan 10 jam) menghasilkan tepung tempe terbaik dengan kadar protein (37,918g/100g), kadar air (11,750%), kadar abu (2,318%), warna (3,49) dan aroma (3,33) dengan kriteria disukai.
STUDI PERBANDINGAN JUMLAH IKAN LELE DAN KULIT PISANG PADA PEMBUATAN KERUPUK “LEKUPI” Herawati, Yeni; Dasir, Dasir
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 2, No 1 (2013): Edible
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v2i1.490

Abstract

This study aimed to study the ratio of a banana skin and catfish on making crackers "lekupi". This research has been held in Laboratory Faculty of Agriculture, University of Muhammadiyah Palembang in October 2012 to February 2013. This research used Randomized Block Design (RBD), which compiled non-factorial consisting of four combinations of treatment and repeated five times, with each treatment factor P1 (50% banana skin: catfish, 10%: 40% starch), P2 treatment (40% banana skin: catfish, 20%: 40% starch), treatment P3 (20% banana skin: catfish, 40%: 40% starch), and P4 treatment (10% banana skin: catfish 50%: 40% starch). Parameters observed for chemical analysis covering the water content and protein content. While organoleptic include flavor and color to the hedonic test and the level of crispness to the rank test and physical test includes volume expansion. The results showed that the ratio of the number of catfish and banana peels are very real effect on the moisture content, protein content and volume expansion. Assessment of organoleptic test showed that the ratio of the number of catfish and banana peels significantly affect the flavor, color and crispness Crackers "Lekupi". The results showed that treatment of P4 has the lowest water content (10.617%), the highest protein content (14.74%), and highest volume expansion (6.253 x 100%). While in treatment P1 has the highest water content (12.405%), the lowest protein content (5.04%) and the lowest volume expansion (3.212%). In organoleptic treatment P2 has color, and flavor with the highest level of preference with the average value of 3.75 (criterion rather liked), 3.66 (criterion rather liked). Meanwhile, highest level of crispness found in P4 treatment with an average value of 1.42 (the criteria are very crisp at all).
PERUBAHAN KARAKTERISTIK SENSORIS DAN KIMIA SURIMI IKAN PATIN (Pangasius hypophthalamus) PADA PENYIMPANAN DINGIN dasir, Dasir; idealistuti, idealistuti; suyatno, Suyatno
Edible: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Teknologi Pangan Vol 10, No 2 (2021): Edible: Jurnal Penelitian Ilmu dan Teknologi Pangan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jedb.v10i2.4152

Abstract

Karakteristik daging ikan patin (Pangasius hypophthalamus) mengandung lemak menyebabkan daging berwarna kuning, perubahan odor dan perubahan flavor jika kontak dengan oksigen. Untuk mengatasi hal tersebut perlu adanya upaya pengolahan yang dapat mempertahankan daya simpan dan  nilai gizi menjadi produk antara (intermediet) yaitu surimi. Penelitian ini menggunakan rancangan petak terbagi (RPB) dengan perlakuan jenis pendinginan P1 dengan freezer dan P2 dengan es batu dan lama penyimpanan dingin W1 (0 hari), W2 (3 hari), W3 (6 hari) dan W4 (9 hari) dengan 3 ulangan. Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah uji sensoris terhadap warna, aroma dan tekstur surimi. Uji fisik dilakukan terhadap pH dan EMC (expressible moisture content). Hasil penelitian menunjukan  uji sensoris tingkat kesukaan panelis tertinggi terhadap warna dan aroma  pada perlakuan P1W4 (penyimpanan dengan es selama 9 hari) dengan nilai rata-rata  warna sebesar 3.00 (kriteria  disukai) dan  aroma 3.05 (kriteria  disukai). Tingkat kesukaan terhadap tekstur terdapat pada perlakuan P2W4  (penyimpanan dengan freezer selama 9 hari) sebesar dengan nilai rata-rata tertinggi 0.33 (nilai setelah ditransformasi). pH dan EMC tertinggi pada interaksi P1W4 (penyimpanan dingin dengan es batu dengan penyimpanan 9 hari) sebesar 7.18 dan 32.06 %.