Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

KESIAPAN MASYARAKAT MENGHADAPI BENCANA GEMPA DAN TSUNAMI DI KELURAHAN PURUS KOTA PADANG TAHUN 2019 Rikayoni Rikayoni; Sari Setiarini
Jurnal Kesehatan Saintika Meditory Vol 2, No 2 (2020): Mei 2020
Publisher : Stikes Syedza Saintika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jsm.v2i2.1197

Abstract

Bencana adalah setiap kejadian yang menimbulkan kerusakan, gangguan ekologis, hilangnya nyawa manusia, atau memburuknya derajat kesehatan atau pelayanan kesehatan pada skala tertentu yang memerlukan respon  dari luar masyaraka tatau wilayah yang terkena. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan gambaran kesiapanmasyarakat terhadap gempa dan tsunami di kelurahan Purus Padang Barat Kota Padang tahun 2019.Desain penelitian bersifat deskriptif, penelitan dilakukan di Kelurahan Purus Kota Padang. Populasi penelitian ini adalah Populasi pada penelitian ini adalah seluruh kepala keluarga yang berada di Kelurahan Purus RW 01 dan RW 02Padang Barat sebanyak 231 kepala keluarga dengan jumlah sampel sebanyak 70 orang responden. Tekhnik pengambilan sampel penelitian ini, Probability sampling dan metode pengambilan sampel secara cluster random sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara dan menggunakan kuesioner pada tanggal  9 Mei – 9 Juni tahun 2019, kemudian data di olah dengan SPSS 16.Hasil penelitian didapatkan bahwa dari 70 responden, 39 Responden (55.7%) kesiapsiagaan masyarakat baik dalam menghadapi bencana gempa dan tsunami, sedangkan 31 responden (44.3%) kesiapsiagaan masyarakat tidak baik dalam menghadapi bencana gempa dan tsunami.Kata Kunci : Kesiapan Masyarakat, Bencana Gempa Dan Tsunami
EFEKTIFITAS KONSELING PREHOSPITAL CARE MANAJEMAN PADA MASALAH GAWAT DARURAT PADA MASYARAKAT DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KURANJI TAHUN 2021 Sari Setiarini; Dalina Gusti; Nicen Suherlin
Menara Ilmu Vol 16, No 1 (2022): VOL. XVI NO. 1 JULI 2022
Publisher : LPPM Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/mi.v16i1.3424

Abstract

Indonesia menjadi negara ketiga di Asia di bawah Tiongkok dan India dengan 38.297 total kematian akibat kecelakaan lalu lintas di tahun 2015 ( Nasional.Republika. 2 Mei 2017). Data WHO (2013) menyebutkan dalam dua tahun terakhir kecelakaan lalu lintas di Indonesia menjadi pembunuh ke tiga setelah penyakit jantung koroner dan tuberculosis. Jumlah korban meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas selama 2017 tercatat 538 jiwa (60%). Prehospital care sebagai bentuk pelayanan Emergency Medical Service (EMS). Karena peranan prehospital care sebagai bagian dari EMS ini sangat penting dalam mengurangi angka morbiditas dan mortalitas korban kecelakaan lalu lintas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas konseling prehospital care manajement kegawat daruratan di wilayah kerja Puskesmas Kuranji Tahun 2021. Penelitian yang dilakukan Penelitian ini menggunakan rancangan Quasy Experiment dengan pendekatan Two Group Pretes and Posttes design. Penelitian ini dilakukan kepada masyarakat yang tinggal di di wilayah kerja Puskesmas Kuranji Tahun 2021 dengan jumlah 20 responden. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji non parametric (uji Wilcoxon) Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada pengaruh konseling terhadap peningkatan pengetahuan responden sebelum dan sesudah di lakukan konseling tentang pre-hospital care manajemen di wilayah kerja Puskesmas Kuranji. Dari hasil uji Wilcoxon didapatkan bahwa mean rank pengetahuan respon tentang prehospital care manajemen sebelum dan sesudah di lakukan konseling yaitu 5.00. Berdasarkan hasil uji statistic di dapatkan nilai P value=0,020 (P < 0,05 ) Kata kunci : Konseling, Prehospital care manajemen, kegawatdaruratan
Pengaruh Psikoedukasi Masalah LGBT Pada Remaja Di Smk Karya Padang Panjang Tahun 2022 Sari Setiarini; Nurhamidah Rahman
Menara Ilmu : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmiah Vol 17, No 1 (2023): Vol 17 No. 01 JANUARI 2023
Publisher : LPPM Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/mi.v17i1.4061

Abstract

Fenomena yang meningkat saat ini mengenai Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Terjadinya peningkatan angka kejadian ini memerlukan pembekalan pada pengetahuan remaja guna menekan fenomena ini dimana salah satunya dengan metode psikoedukasi. Psikoedukasi adalah salah satu intervensi untuk meningatkan pengetahuan dan keterampilan individu agar dapat menjalani aneka transisi kehidupan secara efektif. Psikoedukasi dalam penelitian ini bersifat langsung yakni dengan melibatkan subjek remaja dalam bentuk penyuluhan dan konseling.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh psikoedukasi LGBT untuk meningkatkan pengetahuan tentang LGBT pada remaja. Subjek dalam penelitian ini adalah remaja. Pemilihan subjek dilakukan dengan purposive sampling. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang menggunakan pretest-post test group design.Hasil dari penelitian ini adalah terdapat peningkatan pengetahuan setelah di berikan psikoedukasi pada remaja. Berdasarkan hasil uji statistic di dapatkan nilai P value=0,020 (P <  0,05 ) dengan arti kata  ada pengaruh psikoedukasi   terhadap peningkatan pengetahuan responden sebelum dan sesudah di lakukan psikoedukasi tentang  masalah LGBT di SMK Karya Padang Panjang.Dengan meningkatnya pengetahuan remaja tentang LGBT maka diharapkan remaja dapat terhindar dari perilku LBGT yang akhir-akhir ini semakin marakKata Kunci: Psikoedukasi, LGBT dan remaja.   
Analisis Penerapan Manajemen Bundle Care Hais Surgical Site Infection Di Rumah Sakit Islam Siti Rahmah Kota Padang Tahun 2021 Nicen Suherlin; Sari Setiarini; Ikhsan Amran
Menara Ilmu : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmiah Vol 17, No 2 (2023): Vol 17 No. 02 APRIL 2023
Publisher : LPPM Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/mi.v17i2.4278

Abstract

Hospital Acquired Infections (HAIs) merupakan infeksi yang didapatkan pasien selama menjalani prosedur perawatan dan tindakan medis di fasilitas pelayanan kesehatan dalam rentang waktu ≥ 48 jam sampai dengan ≤30 hari dan infeksi diamati setelah pasien keluar dari fasilitas pelayanan kesehatan. Salah satu HAIs yang sering terjadi adalah Surgical Site Infection (SSI) sehingga diperlukan adanya surveilans.(Putri, 2016). Kejadian SSI sangat berkaitan dengan pasien, tipe prosedur operasi, dan lingkungan ruang operasi: diabetes, obesitas, merokok, kolonisasi mikroorganisme, lama inap sebelum operasi, mandi aseptik sebelum operasi, pencukuran pra operasi, durasi operasi, pemberian profilaksis, teknik pembedahan, dan kontaminasi dari tim medis yang berasal dari pakaian atau sarung tangan operasi. SSI menjadi masalah yang cukup rumit bagi para ahli bedah. Hal ini dikarenakan walaupun ada kemajuan antibiotik pofilaksis, anastesi yang baik, peralatan yang canggih dan perbaikan teknik kewaspadaan pasca operasi akan tetapi SSI masih saja sering terjadi. Selain itu pada tahap lebih lanjut SSI berdampak pada morbiditas, mortalitas, dan peningkatan biaya perawatan di rumah sakit (CDC, 2016). Pencegahan terhadap tingginya angka infeksi daerah operasi (SSI) dapat dilakukan pencegahan melalui manajemen bundle care SSI. Berdasarkan laporan dari IPCN bahwa angka IDO dibulan Desember 2020 0,46%, masih dibawah target yaitu 2%. Penelitian ini bertujuan untuk melihat penerapan manajemen bundle care di RSI Siti Rahmah melalui form Surveilans SSI pada pasien operasi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain studi cross sectional dengan total sampling pada semua pasien operasi diRSI Siti Rahmah yang diambil secara total sampling pada Bulan April- Juli 2021. Pengumpulan data primer menggunakan teknik wawancara, sedangkan data sekunder menggunakan studi dokumen hasil rekapitulasi komite Program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi dan bundle prevention SSI. Analisis data dilakukan secara analisis deskriptif dan disajikan dalam bentuk grafik disertai narasi. Luaran yang direncanakan adalah Pubikasi di jurnal nasional terakreditasi. TKT dalam penelitian ini adalah 3 dengan pembuktian penerapan pelaksanaan majemen bundle care SSI dan menganalisa kelengkapan surveilans dengan angka kejadian Infeksi Daerah Operasi (SSI). Kata Kunci: 1; Bundle Care HAIs 2.Surgical Site Infections 3; Surveilans
PROMOSI KESEHATAN MASALAH STUNTING PADA IBU YANG MEMPUNYAI BALITA DI KANAGARIAN PAMATANG PANJANG KABUPATEN SIJUNJUNG Nurhamidah Rahman; Sari Setiarini
Jurnal Abdimas Saintika Vol 5, No 1 (2023): Jurnal Abdimas Saintika
Publisher : Stikes Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jas.v5i1.1854

Abstract

Stunting dapat terjadi sebagai akibat kekurangan gizi terutamapada saat 1000 Hari PertamaKehidupan (HPK). Salah satu cara mencegah stunting adalah pemenuhan gizi dan pelayanankesehatan kepada ibu hamil. Upaya ini sangat diperlukan, mengingat stunting akanberpengaruh terhadap tingkatkecerdasan anak dan status kesehatan pada saat dewasa. Akibatkekurangan gizi pada 1000 HPK bersifat permanen dan sulit diperbaiki. Kegiatanpengabdian promosi kesehatan tentang stunting pada ibu-ibu yang mempunyai balita diKanagarian Pamatang Panjang Kabupaten Sinjunjung diikuti sebanyak 25 orang ibu-ibuyang dikumpulkan di Aula Kantor Wali nagari Kanagarian Sijunjung. Promosi Kesehatandengan metode penyuluhan stunting ini bertujuan untuk menyadarkan masyarakat akanpentingnya kesehatan dengan melakukan pencegahan akan terjadinya stunting khususnya diKabupaten Sijunjung. Kegiatan ini sangat diterima serta didukung secara positif oleh ibu-ibubalita, pemerintah Kabupaten Sijunjung terlihat dari perwakilan wali nagari kanagarianPamatang Panjang, serta kader yang memfasilitasi kegiatan dengan menyediakan tempat danmengumpulkan ibu-ibu guna mengikuti penyuluhan tentang stunting untuk menyadari akanpentingnya tumbuh kembang anak dan edukasi pencegahan stuntingKata Kunci : Promosi Kesehatan, Stunting
Pengaruh Psikoedukasi Masalah Stunting Pada Ibu Yang Mempunyai Balita Di Kabupaten Sijunjung Tahun 2022 Sari Setiarini; Nurhamidah Rahman
Menara Ilmu : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmiah Vol 17, No 2 (2023): Vol 17 No. 02 JULI 2023
Publisher : LPPM Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/mi.v17i2.4187

Abstract

Stunting menimbulkan dampak yang yang cukup serius, diantaranya mengakibatkan kesakitan dan kematian, perkembangan kognitif, motorik dan verbal anak tidak optimal, peningkatan biaya kesehatan, meningkatnya resiko obesitas dan penyakit tidak menular lain, performa belajar kurang optimal pada masa sekolah, dan produktivitas kerja tidak optimal. Secara global, pada 2017 terdapat 22.2% balita mengalami stunting dan setengahnya berada di Asia. Di Indonesia, prevalensi balita stunting berada di urutan ketiga tertinggi untuk regional Asia Tenggara, dengan nilai rata-rata 36.4% pada kurun 2005-2017. Prevalensi balita pendek dan sangat pendek di Indonesia cenderung statis, Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas secara berurutan dari tahun 2007, 2013, dan 2018 adalah 36.8%, 37.2% dan turun menjadi 30.8%. Psikoedukasi adalah salah satu intervensi untuk meningatkan pengetahuan dan keterampilan individu agar dapat menjalani aneka transisi kehidupan secara efektif. Psikoedukasi dalam penelitian ini bersifat langsung yakni dengan melibatkan subjek ibu yang mempunyai balita dalam bentuk penyuluhan dan konseling. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh psikoedukasi masalah stunting untuk meningkatkan pengetahuan tentang Stunting pada ibu balita. Subjek dalam penelitian ini adalah ibu yang mempunyai balita. Pemilihan subjek dilakukan dengan purposive sampling. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang menggunakan pretest-post test group design. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada pengaruh psikoedukasi masalah stunting pada balita. Saran kepada ibu yang mempunyai balita agar mengetahui pencegahan stunting pada balita agar angka kejadian stunting dapat di tekan. Kata kunci : Psikoedukasi, stunting, balita.
PSIKOEDUKASI MASALAH LGBT DI SEKOLAH MENENGAH NEGERI 04 PADANG PANJANG Rahman, Nurhamidah; Setiarini, Sari
Jurnal Abdimas Saintika Vol 4, No 2 (2022): November Jurnal Abdimas Saintika
Publisher : Stikes Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jas.v4i2.1599

Abstract

LGBT adalah akronim dari lesbian, gay, biseksual, dan transgender. Istilah ini digunakansemenjak tahun 1990-an. Pergerakan gay dan lesbian di Indonesia adalah salah satu yangterbesar dan tertua di AsiaTenggara. Aktivisme hak-hak gay di Indonesia dimulai sejak 1982ketika kelompok kepentingan hak-hak gay didirikan di Indonesia. "Lambda Indonesia" danorganisasi serupa lainnya muncul di akhir 1980-an dan 1990-an. Saat ini, ada beberapakelompok utama LGBTdi negara ini termasuk "Gaya Nusantara" dan "Arus Pelangi".Melalui kegiatan psikoedukasi LGBT ini diharapkan dapatmeningkatkan pengetahuan siswadan siswi mengenai LGBT serta siswa mampu melindungi diri dan orang lain di sekitarnyadari perilaku seks LGBT. Kegiatan pengabdian psikoedukasi tentang LGBT di berikan padasiswa dan siswi kelas VII SMPN 04 Kota Padang Panjang sebanyak 25 orang yangdikumpulkan dalam satu lokal. Hasil dari kegiatan psikoedukasi ini dilihat dari nilai meanpengetahuan responden sebelum dilakukan psikoedukasi tentang LGBT sebesar 12.4 dannilai mean pengetahuan responden sesudah dilakukan psikoedukasi sebesar 14.6. Dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan pengetahuan responden sesudah dilakukan psikoedusitentang LGBTKata Kunci : Psikoedukasi, LGBT
EFEKTIVITAS SIMULASI MITIGASI BENCANA GEMPA BUMI MELALUI MODUL BENCANA di SDIT CEDEKIA ANDALAS PADANG Setiarini, Sari; Rahman, Nurhamidah
Jurnal Abdimas Saintika Vol 5, No 2 (2023): November Jurnal Abdimas Saintika
Publisher : Stikes Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jas.v5i2.2133

Abstract

Secara Geografi kota Padang berada pada lokasi rawan gempa. Pada tahun 2009 terjadi gempa bumi yangterjadi di Sumatera Barat, tepatnya pada tanggal 30 September 2009yang mengakibatkan besarnyakerugian yang di timbulkan akibat bencana tersebut. SDIT Cendekia Andalas dengan memiliki gedungbertingkat dengan populasi siswa yang berjumlah 350 serta jumlah guru 35 orang dan petugas lainnya yangjuga melakukan aktifitas sehari hari dengan durasi yang cukup lama mulai dari jam 7 pagi sampai jam 4sore. Sehingga hal ini memerlukan suatu langkah untuk kesiapan simulasi mitigasi bencana gempa. Hasilpengabdian masyarakat ini dapat di ikuti oleh seluruh siswa yang berkegiatan di lantai 2 gedung sekolahdan selama proses simulasi, semua dapat berjalan dengan baik. Anak anak memahami dan antusias untukmengikuti semua arahan mulai dari awal proses sosialisasi modul dan berakhir dengan simulasi mitigasibencana yang berakhir di titik kumpul. Dari hasil kegiatan simulasi mitigasi ini dapat di tarik kesimpulanbahwa penting sekali untuk di lakukan simulasi mitigasi berbasis modul sebagai yang bisa di terapkansecara berkala, mengingat banyak nya jumlah personal yang berkegiatan di gedung Sd tersebut dengandurasi yang cukup lama. Hal ini tentu saja berdampak baik bagi seluruh populasi yang ada untuk lebih siapdalam menghadapi bencana, sehingga korban bisa di minimalisir. Saran yang tepat bagi pihak SDIT adalahbahwa penting sekali untuk terus melakukan latihan mitigasi bencana secara berkala dengan panduan modulyang sudah di bekali sebelumnya.Kata Kunci: Simulasi mitigasi, Gempa, Modul bencana
Sosialisasi kesehatan mental tentang perundungan kekerasan seksual dan perilaku intoleransi pada remaja Elsi, Mariza; Setiarini, Sari; Gusti, Dalina
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i9.1715

Abstract

Background: Violence in schools, including sexual violence, bullying, and intolerance, remains a serious problem that threatens the well-being of students. This is particularly concerning because it contrasts with the general perception that schools are safe environments free from crime because they are filled with educated individuals. Data from the Indonesian Child Protection Commission (KPAI) and the Federation of Indonesian Teachers' Unions (FSGI) in 2023 showed that the most common forms of violence experienced by students were physical violence (55.5%), verbal violence (29.3%), and psychological violence (15.2%). Purpose: To increase junior high school students' knowledge and awareness of the dangers of bullying, sexual violence, and intolerance in an effort to build positive character within the school environment. Method: This activity was held at SMP 16 Padang City in October 2025. The counseling session was attended by 67 seventh-grade students. The activity consisted of an interactive presentation using visual media that directly involved students. The questionnaire consisted of 15 questions, divided into two sections: 10 knowledge questions to measure students' understanding of the definition of violence, its types, and how to prevent and handle it. These questions were in multiple-choice and short-answer format. 5 behavioral questions aimed to measure changes in students' attitudes and behaviors after receiving the counseling, such as whether they felt more confident reporting violence they experienced or witnessed. These behavioral questions used a Likert scale (agree/disagree). Results: The average knowledge score before the counseling session was 59.6, with a range of 32-87. After receiving counseling on bullying, sexual violence, and intolerance, the average knowledge score increased to 86.0, with a range of 72-100. Conclusion: Through interactive outreach activities, participants more easily understand that bullying, sexual violence, and intolerance are behaviors that negatively impact mental health, for both victims and perpetrators. Students also become more able to assertively reject violence, respect differences, and report to authorities if actions threaten their own safety or the safety of others. Suggestion: It is hoped that sustainable programs related to violence prevention can be developed, involving an anti-violence task force team from all parties, including teachers, students, and school counselors. It is also hoped that regular activities in the form of anti-violence outreach or campaigns will be held, at least once a semester, so that the messages conveyed remain ingrained in students. Keywords: Bullying; Mental health; Prevention; School environment; Student behavior Pendahuluan: Kekerasan di lingkungan sekolah diantaranya kekerasan seksual, perundungan (bullying) dan intoleransi masih menjadi permasalahan serius yang mengancam kesejahteraan siswa di lingkungan sekolah. Hal ini di rasa miris karena kontras dengan pandangan umum bahwa sekolah merupakan lingkungan aman dari tindak kejahatan karena dipenuhi orang-orang terdidik. Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) tahun 2023 menunjukkan bahwa bentuk kekerasan yang paling sering dialami siswa adalah kekerasan fisik (55.5%), verbal (29.3%), dan psikologis (15.2%). Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa SMP mengenai bahaya perundungan, kekerasan seksual, dan intoleransi dalam upaya membangun karakter positif di lingkungan sekolah. Metode: Kegiatan ini dilaksanakan di SMP 16 Kota Padang pada bulan Oktober 2025. Jumlah peserta penyuluhan sebanyak 67 peserta terdiri dari siswa kelas VII. Kegiatan berupa presentasi interaktif menggunakan media visual yang melibatkan siswa secara langsung. Instrumen berupa kuesioner terdiri dari 15 pertanyaan, yang terbagi menjadi dua bagian, yaitu pertanyaan pengetahuan (10 pertanyaan) untuk mengukur pemahaman siswa mengenai pengertian kekerasan, jenis-jenis kekerasan, serta cara pencegahan dan penanganannya. Pertanyaan-pertanyaan ini berbentuk pilihan ganda dan isian singkat. Kemudian pertanyaan perilaku (5 pertanyaan), bertujuan untuk mengukur perubahan sikap dan perilaku siswa setelah mendapatkan penyuluhan, seperti apakah mereka merasa lebih percaya diri untuk melaporkan kekerasan yang mereka alami atau saksikan. Pertanyaan perilaku ini menggunakan skala Likert (setuju/tidak setuju). Hasil: Menunjukkan bahwa nilai rata-rata pengetahuan sebelum diberikan penyuluhan yaitu sebesar 59.6 dengan rentang nilai 32-87. Setelah diberikan penyuluhan perundungan kekerasan seksual dan Intoleransi nilai rata-rata pengetahuan responden meningkat menjadi sebesar 86.0 dengan rentang nilai 72-100. Simpulan: Melalui kegiatan penyuluhan yang interaktif, peserta lebih mudah memahami bahwa perundungan, kekerasan seksual, dan intoleransi merupakan perilaku yang berdampak negatif terhadap kesehatan mental, baik bagi korban maupun pelaku. Siswa juga menjadi lebih mampu untuk bersikap tegas menolak kekerasan, menghargai perbedaan, dan melapor kepada pihak berwenang apabila terjadi tindakan yang mengancam keselamatan diri atau orang lain. Saran: Diharapkan dapat mengembangkan program berkelanjutan terkait pencegahan kekerasan, dengan melibatkan tim satuan tugas anti-kekerasan dari semua pihak antara guru, siswa, dan konselor sekolah. Diharapkan juga, adanya kegiatan rutin berupa penyuluhan atau kampanye anti-kekerasan, minimal setiap semester, agar pesan yang disampaikan tetap tertanam dalam diri siswa.