Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Analisis Pesan Dakwah Dalam Film Pantaskah Aku Berhijab Arista, Rika Putri; Harahap, Asrul
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 1 (2026): Februari - April
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i1.6380

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis isi pesan dakwah pada film Pantaskah Aku Berhijab. Penelitian ini menggunakan teori pesan dakwah dalam dari Endang Syifuddin Ansari dimana mencakup masalah akidah, syariah dan akhlak. Metode penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan analisis isi yang mana melibatkan proses pengumpulan data yang terdapat dalam film Pantaskah Aku Berhijab. Metode pengumpulan data adalah observasi dan dokumentasi. Analisis isi digunakan dalam menggambarkan isi pesan dakwah dalam film Pantaskah Aku Berhijab. Hasil penelitian ini menunjukkan pesan dakwah yang ada dalam film Pantaskah Aku Berhijab yaitu pesan dakwah akidah (belajar dan membaca Al-Qur’an, berdoa kepada Allah, anjuran untuk berdzikir, berserah diri kepada Allah, sedangkan pesan dakwah syariat (larangan membunuh janin, kewajiban menutup aurat, hukum mengadzani bayi, anjuran untuk berkerja, dan larangan berzina. Serta pesan akhlak meliputi bersyukur, bersabar, mengucapkan salam, berbakti kepada orang tua, menasehati, dan larangan berbohong, Hasil dari penelitian ini yaitu peneliti menemukan beberapa pesan dakwah dalam film Pantaskah Aku Berhijab yang terdapat pada tiga kategori diantaranya kategori akidah, syariah dan akhlak. Terdapat 4 adegan yang mengandung pesan akidah yaitu anjuran untuk belajar dan membaca Al-Qur’an, anjuran untuk berdoa, anjuran untuk berdzikir, dan anjuran untuk senantiasa bertawakal atau berserah diri kepada Allah, dan 4 adegan mengandung pesan syariah yaitu larangan membunuh janin, kewajiban menutup aurat, hukum mengadzani bayi yang baru lahir, dan anjuran untuk bekerja. Serta  5 adegan yang mengandung pesan akhlak yaitu : bersyukur, bersabar, mengucapkan salam, berbakti kepada orang tua dan memberi maaf.
Strategi Komunikasi Persuasif Tokoh Masyarakat Dalam Menangani Keberadaan Kafe Remang-Remang Di Desa Cengar Kabupaten Kuantan Singingi Rusanti, Elvina; Harahap, Asrul
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 1 (2026): Februari - April
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i1.7837

Abstract

Keberadaan kafe remang-remang di Desa Cengar, Kabupaten Kuantan Singingi menimbulkan berbagai persoalan sosial yang berdampak pada ketertiban umum serta nilai moral, adat, dan agama masyarakat. Aktivitas yang berlangsung di dalam kafe tersebut dipersepsikan sebagai bentuk penyimpangan sosial yang berpotensi merusak keharmonisan kehidupan masyarakat serta melemahkan kontrol sosial, khususnya di kalangan generasi muda. Kondisi ini menempatkan tokoh masyarakat sebagai aktor sosial yang memiliki peran strategis dalam melakukan pengendalian sosial melalui komunikasi persuasif yang bersifat non-koersif dan berbasis nilai lokal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi komunikasi persuasif yang digunakan oleh tokoh masyarakat serta mengidentifikasi hambatan yang dihadapi dalam menangani keberadaan kafe remang-remang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat, serta dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh masyarakat menerapkan strategi komunikasi persuasif melalui tiga pendekatan utama, yaitu pendekatan psikodinamika, sosiokultural, dan konstruksi makna. Pendekatan tersebut dilakukan melalui pemberian nasihat, dialog, serta penguatan nilai adat dan agama yang bertujuan membangun kesadaran kolektif masyarakat. Namun, implementasi strategi tersebut belum berjalan optimal karena adanya hambatan berupa faktor ekonomi yang dominan, lemahnya penegakan aturan, kurangnya koordinasi antarunsur masyarakat, serta keterbatasan pengawasan terhadap lokasi kafe. Dengan demikian, diperlukan sinergi yang lebih kuat antara tokoh masyarakat, pemerintah, dan aparat penegak hukum agar upaya pengendalian sosial melalui komunikasi persuasif dapat berjalan secara efektif dan berkelanjutan.
STRATEGI KOMUNIKASI PENGASUH DALAM PEMBENTUKAN AKHLAK SANTRI DI PONDOK PESANTREN DARUL TAUHID NAGARI SELAYO KABUPATEN SOLOK Vickri Adrian Verlis; Asrul Harahap
Jurnal Komunikasi Vol. 2 No. 1 (2024): Jurnal Komunikasi
Publisher : ADISAM PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The research carried out was field research using descriptive qualitative methods. Data collection techniques are carried out using techniques such as observation, interviews and documentation. Data analysis techniques use techniques in the form of data redaction (data reduction), data presentation (data display), and drawing conclusions and verification (conclusions/verification). Based on the results of the research conducted, there are various forms of communication strategies between caregivers and students in forming morals, including direct teaching, congregational Koran reading, ta'lim assemblies and group discussions. Through direct teaching, the ustadz/ustadzah provide material to their students. Congregational Koran activities such as reading the Koran guided by the teacher correct the recitation and explain its meaning. The ta'lim assembly provides in- depth lectures on religion and becomes a forum for discussion. Group discussions allow students to interact in small groups. In developing the morals of santri there are several factors, supporting factors include the existence of a budget and facilities such as buildings, prayer rooms, the Koran, and books about morals that support the activities of forming the morals of santri. Inhibiting factors include the family's minimal educational background, especially in the field of religion. Many students come from remote or remote areas who have poor basic religious knowledge, so religious formation must start from the basics
STRATEGI KOMUNIKASI WALI NAGARI DALAM MENGATASI KENAKALAN REMAJA DI NAGARI LUBUAK GADANG KECAMATAN MAPAT TUNGGUL KABUPATEN PASAMAN Reynaldy Rifanda; Asrul Harahap
Jurnal Komunikasi Vol. 2 No. 10 (2025): Jurnal Komunikasi
Publisher : ADISAM PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Planning and managing towards a goal is the definition of strategy. However, to achieve this goal, the methodology does not serve as a guide that will determine the direction of the business, but can indicate a functional strategy. a strategy designed with the aim of influencing a wider range of human behavior by incorporating new ideas. There is also a correspondence system which is the best combination of all correspondence components starting from the communicator, message, beneficiary channel, and impact intended to achieve the purpose of the correspondence. Adolescent misconduct is an act that does not heed norms, decisions or regulations that apply in public, which is committed during adolescence or the transition period from adolescence to adulthood. Teenage misbehavior includes all behavior that deviates from legal or strict standards carried out by teenagers, this behavior can harm themselves or others. The exploration carried out was field research using subjective elucidation techniques. Information gathering procedures are carried out using methods such as perception, meetings and documentation. The information checking procedure uses strategies such as editing information (reducing information), displaying information (information show), and carrying out determination and checking (ending/confirmation). Judging from the impact caused by the exploration, there are several types of correspondence techniques for nagari guards in dealing with juvenile delinquency, especially correspondence procedures that are successful in dealing with juvenile delinquency. Direct correspondence between the Wali Nagari and the local area, as well as using firm messages and priorities, providing advice, direction and guidance to the younger generation. Activities such as positive activities, exposure to regional culture, welcoming the younger generation to tourist destination cities, and arranging Tahfiz huts are one way to develop rigorous learning and rigorous quality
Analisis Semiotika Pesan Dakwah dalam Vidio Klip Lagu O Allah Karya Harris J Ihsanullah, Usamah; Harahap, Asrul
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i1.37852

Abstract

Di era perkembangan teknologi yang pesat saat ini, banyak media yang dapat dimanfaatkan sebagai saluran dakwah, salah satunya adalah video klip musik. Harris J adalah seorang penyanyi muda yang menyampaikan dakwah melalui video klip musik. Video klip "O Allah" tidak hanya menampilkan gambar semata, tetapi juga menyajikan narasi visual yang kuat, sehingga pesan dakwah yang terkandung di dalamnya mampu menyentuh hati pendengar, membuat mereka menangis, serta menyadarkan mereka dari dosa-dosa yang telah diperbuat dan kembali mengingat Allah SWT. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pesan dakwah dalam video klip lagu "O Allah" yang dipopulerkan oleh Harris J, menggunakan pendekatan analisis semiotika menurut Charles Sanders Peirce. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa video klip "O Allah" menyampaikan pesan dakwah yang mencakup tiga aspek utama: aqidah, syari'ah, dan akhlak. Pesan aqidah terlihat dalam lirik lagu yang mencerminkan makna keimanan dan keyakinan. Pesan syari'ah tergambar ketika Harris J melaksanakan shalat, yang menekankan pentingnya menjaga shalat dalam keadaan apapun. Pesan akhlak terlihat ketika Harris J mendapat dukungan dari temannya yang memberinya semangat untuk tidak ragu dalam mengambil langkah yang benar.
Pesan Dakwah dalam Kegiatan Mangupa-Upa Adat Batak Angkola Di Dusun Payagoti Ani Siregar; Asrul Harahap
JURNAL ILMIAH RESEARCH AND DEVELOPMENT STUDENT Vol. 4 No. 1 (2026): Februari : Jurnal Ilmiah Research and Development Student
Publisher : CV. ALIM'SPUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59024/jis.v4i1.1694

Abstract

This study is motivated by the existence of the mangupa-upa tradition among the Batak Angkola people, which serves not only as a traditional ritual but also as a medium for conveying Islamic missionary values rich in spiritual and moral significance. Amidst the tide of modernization, there is a tendency for a shift in the meaning and practice of this tradition, thus requiring an in-depth study to understand the da’wah values contained within it. The objective of this study is to analyze the messages of Islamic da’wah found in the mangupa-upa tradition as well as the symbolic meanings that accompany them in community life. The method used is field research with an anthropological approach and a descriptive qualitative research design. Data were collected through observation and in-depth interviews with informants selected through purposive sampling, then analyzed using the Miles and Huberman interactive analysis model, which includes data reduction, data presentation, and drawing conclusions. Research findings indicate that the Mangupa-upa tradition contains religious messages encompassing aspects of worship and moral conduct. In the context of worship, this tradition emphasizes the importance of sincere devotion to God, prayer, maintaining regular prayer, and cultivating a sense of gratitude in daily life. Meanwhile, from the perspective of moral values, Mangupa-upa teaches the importance of politeness, respect for elders, loyalty within the family, social responsibility, and the encouragement to always be humble and help one another. Furthermore, the Mangupa-upa tradition within the Batak Angkola customs, particularly in the village of Payagoti, is rich with symbols that carry profound philosophical meanings and align with Islamic values. These symbols include the buffalo head, symbolizing strength and sacrifice; the chicken, representing vigilance and courage; salt, as the bond of life; the egg, a symbol of fertility; the fish, representing sustenance and harmony; and the shrimp, a symbol of humility. Additionally, there is colored rice as a symbol of diversity, the banana tree as resilience, the siri leaf as honor, the ulos as compassion, the banana leaf as protection, water as purity, and the gambir leaf as steadfastness in life.
Analisis Semiotika dalam Tradisi Mangalap Tondi di Kecamatan Batang Toru Kabupaten Tapanuli Selatan Sumayya Sumayya; Asrul Harahap
ARZUSIN Vol 6 No 2 (2026): APRIL
Publisher : Lembaga Yasin AlSys

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58578/arzusin.v6i2.9499

Abstract

Although the mangalap tondi tradition as part of cultural communication has received attention in a number of studies, studies that specifically examine the symbolic meaning of this tradition through Roland Barthes’s semiotic approach remain limited. This study aims to explore and analyze the symbolic meaning in the mangalap tondi tradition among the Batak Angkola community in Batang Toru Subdistrict, South Tapanuli Regency. This study employed a qualitative approach with a descriptive design, involving informants selected purposively. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation, and then analyzed using the Miles and Huberman data analysis technique, which includes data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings show that the symbolic meaning in the mangalap tondi tradition is divided into three main categories, namely object symbols, speech symbols, and action symbols. These three categories contain denotative, connotative, and mythological meanings that represent the community’s belief system regarding the existence of tondi. These findings contribute to the development of semiotic theory in the context of cultural communication while also broadening understanding of the local cultural practices of the Batak Angkola community. This study concludes that symbolic meaning plays an important role in maintaining the sustainability of cultural traditions and underscores the need for efforts to preserve cultural values through deeper understanding. The implications of this study include theoretical contributions to cultural communication studies and practical contributions to local cultural preservation, as well as opening space for further research on the dynamics of changes in cultural meaning in the modern era.
Problematika Dakwah di Jorong Rura Patontang Kecamatan Koto Balingkakabupaten Pasaman Barat Afwanil Yusna; Asrul Harahap
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i2.38707

Abstract

Problematika dakwah merupakan permasalahan yang muncul dalam menyeru, memanggil, mengajak dan menjamu dengan proses yang ditangani oleh para pengembang dakwah. Problematika dakwah di Jorong Rura Patontang disebabkan oleh permasalahan internal dan eksternal baik pada dai maupun mad’u. Masalah internal adalah masalah yang berasal dari dalam diri dai, maupun mad’u sendiri, sedangkan masalah eksternal ialah masalah yang berasal dari luar diri dai maupun mad’u sebagai bagian dari kegiatan dakwah. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teori Amin S.M. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, mendeskripsikan dan menganalisi bagaimana problematika dakwah yang terjadi di Jorong Rura Patontang Kecamatan Koto Balingka Kabupaten Pasaman Barat. Peneliti menggunakan teori Amin S.M dengan jenis penelitian lapangan dengan metode penelitian deskriptif pendekatan kualitatif. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi yang dilakukan pada dai dan mad’u di Jorong Rura Patontang. Hasil penelitian menunjukkan adanya masalah internal yang terjadi pada dai dan mad’u. permasalahan internal dai terjadi pada saat menyampaikan dakwah di Jorong Rura Patontang yakni kurangnya pemahaman dai dan lemahnya kompetensi dai, sedangkan masalah internal mad’u yakni kurangnya antusias mad’u dalam mengikuti kegiatan dakwah. Disamping itu juga menunjukkan adanya masalah eksternal pada dai dan mad’u diantaranya aspek pendidikan, aspek geografis, serta aspek ekonomi pada mad’u. Tentu hal ini menjadi masalah dalam proses dakwah di Jorong Rura Patontang Kecamatan Koto Balingka Kabupaten Pasaman Barat.