Atmodiwirjo, Ediasri Toto
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

HUBUNGAN ANTARA HARAPAN DAN STRES ORANG TUA YANG MEMILIKI ANAK DENGAN AUTISME Kurniadi, Grace; Atmodiwirjo, Ediasri Toto; Soetikno, Naomi
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i2.3860

Abstract

Autisme merupakan gangguan perkembangan yang ditandai dengan gangguan sosial perilaku dan minat yang terbatas. Setiap orang tua yang mempunyai anak, memiliki harapan yang indah dan baik untuk anaknya. Diagnosis autisme akan kondisi anak menyebabkan stres pada orang tua. Stres ini menyebabkan harapan orang tua berubah. Penelitian ini bertujuan untuk mencari korelasi antara harapan dan stres orang tua yang memiliki anak dengan autisme. Karakteristik partisipan ini adalah orang tua yang memiliki anak berusia 3-16 tahun. Anak sudah didiagnosa autisme oleh dokter atau psikolog ataupun psikiater. Partisipan yang mengisi alat ukur penelitian ini sebanyak 69 orang. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur harapan adalah adult dispotitional hope scale (ADHS), sementara alat ukur yang digunakan untuk mengukur stres orang tua adalah parental stress scale (PSS). Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif korelasional dengan teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling. Analisis data menggunakan uji korelasi dengan perangkat lunak SPSS versi ke 23. Uji korelasi yang dilakukan menunjukkan korelasi negatif yang lemah antara harapan dan stres orang tua (r = -.244, n = 69, p = .043). Hal ini menunjukkan jika stres orang tua tinggi, maka harapan itu rendah. Sebaliknya jika harapan tinggi, stres orang tua rendah. Orang tua diharapkan untuk membuat harapan yang realistis serta mengelola stres yang dapat memengaruhi kondisi psikologisnya. Autism is a developmental disorder characterized by impaired social behavior and limited interests. Every parent with children, hopes for the best for their children. If their children are diagnosed with autism, this will cause stress in parents. This stress causes the hope of parents to change. This study aims to find a correlation between hope and stress of parents who have children with autism. The characteristics of the participants are parents who have children aged 3-16 years. The child has been diagnosed with autism by a doctor, or psychologist, or psychiatrist. Participants who filled out the measurement tools of this study were 69 people. The measuring instrument used to measure expectations is the adult dispotitional hope scale (ADHS), while the measuring instrument used to measure parental stress is the parental stress scale (PSS). The research method used is quantitative correlational research method with purposive sampling technique. Data analysis was a correlation test using SPSS software version 23. The correlation test conducted showed a weak negative correlation between expectations and stress of parents (r = -.244, n = 69, p = .043). This shows that if parental stress is high, then hope is low. Conversely, if hope is high, parental stress is low. Parents are expected to have realistic hope and manage stress that can affect their psychological condition.
PERBEDAAN KEPUASAN HIDUP PADA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN DENGAN HIV/AIDS Gani, Edward Septianto; Atmodiwirjo, Ediasri Toto; Sutikno, Naomi
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v4i1.3546.2020

Abstract

Human Immunodeficiency Virus (HIV) is an autoimmune disease that has not yet to be cured. HIV affects many aspects of the lives of sufferers, including psychological aspects. The population of people with HIV has a significant increase every year. People with HIV will experience physical and psychological problems that will affect their life satisfaction. Life satisfaction is one way that can be used to see whether someone is satisfied with aspects that are considered important in his life. There are differences in research results regarding life satisfaction in terms of gender. This study aims to look further, whether there are differences in life satisfaction in men and women with HIV-Aids. Participants in this study numbered 66 people in one of the HIV communities in Jakarta. Be found 30 male participants and 36 female participants. This research uses quantitative research methods. Data collection uses a life satisfaction questionnaire that has been adapted in Indonesian language.  Data was analyzed by independent sample t-test. The results of this study indicate that there is no significant difference in life satisfaction between male and female. These results indicated that there are other factors such as support systems that increase the satisfaction of PLHIV, but not gender. Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah penyakit autoimun yang sampai saat ini belum dapat disembuhkan. HIV berdampak pada banyak aspek kehidupan penderitanya, termasuk aspek psikologis. Populasi orang dengan HIV (odha) setiap tahun mengalami peningkatan yang signifikan. Individu dengan HIV akan mengalami permasalahan-pemasalahan secara fisik dan psikologis yang akan memengaruhi penilaian terhadap kepuasan hidupnya. Kepuasan hidup merupakan salah satu tolak ukur yang bisa digunakan untuk melihat apakah seseorang merasa puas dengan aspek-aspek yang dinilai penting dalam hidupnya. Terdapat perbedaan hasil penelitian mengenai kepuasan hidup ditinjau dari jenis kelamin. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lebih lanjut, apakah terdapat perbedaan kepuasan hidup pada laki-laki dan perempuan dengan HIV-Aids.  Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 66 orang pada salah satu komunitas HIV di Jakarta. Dengan jumlah partisipan odha laki-laki sebanyak 30 orang dan odha perempuan sebanyak 36 orang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif. Pengumpulan data menggunakan kuesioner kepuasan hidup yang telah diadaptasi dalam bahasa Indonesia. Analisis data yang digunakan pada penelitian ini dengan menggunakan independent sample t-test. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan kepuasan hidup antara odha laki-laki dengan odha perempuan. Hasil ini dapat menunjukkan adanya faktor lain seperti support system yang mempengaruhi kepuasan hidup odha, bukan sekedar faktor jenis kelamin.
PENGUJIAN STRUKTUR FAKTOR PADA KONSTRUK BECK SCALE FOR SUICIDE IDEATION DENGAN INDIVIDU DEWASA AWAL Kesuma, Verisca Marciana; Atmodiwirjo, Ediasri Toto; Idulfilastri, Rita Markus
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v5i2.11310.2021

Abstract

WHO called suicide become a global phenomenon. There are at least 800,000 people who commit suicide each year or at least one death every 40 seconds. In fact, 79% of suicide occur in low and middle income countries from ages 15-29. Suicides have also increased in Indonesia at least in January to September 2019 by 302 cases. According to Beck et al. individuals who want to commit suicide are preceded by the suicide ideation so its appropriate to assess suicide in predicting suicide risk later in life. According to Beck et. al. it’s appropriate to assess suicide ideation to predicting suicide risk in the future. Scale For Suicide Ideation (BSS) is one of the measuring tools to assess someone’s suicide ideation by Beck et al. Some researchers in Indonesia use or refer to indicators in BSS. There are 4 studies that use BSS. 2 of them, use three indicators, 1 of them use five indicators, and other only use BSS without mentioning the indicator. Based on this, researchers want to test the factor structure of the construct in BSS. Participants in this study were 158. The results obtained from testing the factor structure are that there are 3 indicators with the model classified as fit. The first indicator has 10 significant items, the second indicator has 6 significant items, while the third indicator has 3 significant items. WHO menyebutkan bunuh diri menjadi suatu fenomena yang global. Terdapat setidaknya lebih dari 800 ribu orang yang melakukan bunuh diri tiap tahunnya atau setidaknya 1 kematian setiap 40 detik. Faktanya 79% bunuh diri terjadi pada negara-negara dengan pendapatan rendah dan menengah dari usia 15-29 tahun. Kasus bunuh diri juga bertambah di Indonesia setidaknya pada Januari sampai September 2019 sebanyak 302 kasus. Menurut Beck et al. individu yang ingin bunuh diri didahului oleh ide untuk bunuh diri sehingga tepat untuk menilai bunuh diri dalam memprediksi risiko bunuh diri di kemudian hari.  Scale for Suicide Ideation (BSS) merupakan salah satu alat ukur untuk menilai ide bunuh diri seseorang yang disusun oleh Beck et al. Beberapa peneliti di Indonesia menggunakan atau mengacu pada indikator dalam BSS. Terdapat 4 penelitian yang menggunakan BSS, 2 diantaranya menggunakan tiga indikator, 1 peneliti menggunakan lima indikator dan yang lainnya hanya menggunakan alat ukur BSS tanpa menyebutkan indikator yang digunakan. Berdasarkan hal ini, peneliti ingin menguji struktur faktor pada konstruk BSS. Partisipan dalam penelitian ini sebanyak 158 partisipan. Hasil yang didapatkan dari pengujian struktur faktor adalah terdapat 3 indikator dengan model yang tergolong fit. Indikator pertama memiliki 10 butir yang signifikan, indikator ke 2 memiliki 6 butir yang signifikan, sedangkan indikator ke 3 memiliki 3 butir yang signifikan.