Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Metodologi Penemuan dan Pengembangan Hukum Islam Hasibuan, Hamka Husein; Ananda, Faisar; Nasution, Muhammad Syukri Albani
AL-MIKRAJ Jurnal Studi Islam dan Humaniora (E-ISSN 2745-4584) Vol. 6 No. 1: Al-Mikraj, Jurnal Studi Islam dan Humaniora
Publisher : Pascasarjana Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/almikraj.v6i1.8993

Abstract

This article examines the methodology of discovering and developing Islamic law, starting from the premise that Islamic law has two dimensions: divine law on the one hand, and human-made law on the other. The relationship between text (nash), reason, and social reality is mapped into two paradigms, namely the structural paradigm, which places text as the dominant structure, and the functional paradigm, which emphasizes dynamic and diait dsignificanceetween the three entities. This article shows that the methodology of legal discovery in the ushul al-fiqh tradition (bayānī, ta‘līlī, and istiṣlāḥī) is generally rooted in the structural paradigm, with naṣh as the main normative (structural) source. This paradigm experienced a crisis when confronted with modern social reality. It is in this context that a model of Islamic legal reform emerged, moving within a functional paradigm. This reform is articulated in two forms. First, religious utilitarianism, which focuses on the development of lawad on maslahah thenstudy'sasid al-shariah. Second, religious liberalism, which emphasizes rationality, social context, and ethical-historical dimensions in the reading of texts. Neither of these two schools of thought negates the authority of the text, but rather presents a productive dialectic model between revelation, reason, and reality, in order to produce more responsive laws.
MAQASID, KEWARGAAN, DAN PUBLIC REASON: DEALEKTIKA SYARIAH DAN NEGARA-BANGSA PERSPEKTIF ABDULLAHI AHMED AN-NA‘IM Hasibuan, Hamka Husein; Harahap, Mhd. Yadi; Sukiati, Sukiati; Asiah, Nur
Law Jurnal Vol 6, No 2 (2026)
Publisher : Universitas Dharmawangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/lj.v6i2.8335

Abstract

Artikel ini merupakan studi terhadap dialektika relasi antara syariah dan negara-bangsa dalam perspektif Abdullahi Ahmed An-Na‘im, dengan fokus pada isu kewargaan (citizenship), maqaṣid, dan public reason. Lahirnya negara-bangsa modern (nation-state) dengan prinsip kesetaraan kewargaan dipandang problematik ketika dihadapkan dengan syariah historis yang menyisakan diferensiasi status sosial-keagamaan. Melalui penelitian normatif dengan pendekatan filosofis terhadap karya-karya utama An-Na‘im, studi ini menemukan bahwa An-Na‘im menolak baik model penyatuan agama dan negara maupun sekularisme yang menyingkirkan agama dari ruang publik. Ia mengajukan format alternatif berupa keterpisahan agama dan negara sebagai institusi formal di satu sisi, sekaligus keterhubungan agama dengan politik melalui mekanisme nalar publik (public reason) dalam bingkai konstitusionalisme dan hak asasi manusia, di sisi yang lain. Dalam kerangka tersebut, maqaṣid  diposisikan sebagai mediator normatif yang menerjemahkan nilai-nilai universal syariah: keadilan, kesetaraan, dan kemaslahatan, ke dalam kebijakan publik dan standar kewargaan secara inklusif. Studi ini juga mengkritik corak maqaṣid utilitarian yang berorientasi pada kemanfaatan terbesar, karena berpotensi melanggengkan eksklusi terhadap kelompok minoritas. Dengan menafsirkan maqaṣid dalam paradigma HAM, An-Na‘im menawarkan model relasi syariah-negara yang kompatibel dengan prinsip kewargaan ala negara-bangsa (nation-state).