Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

EDUKASI BERBASIS BUKU SAKU BAGI PASIEN PROLANIS Hendrayana, Tomi; Yuniar, Cindra Tri; Arif, Auliya Rusyda Hisyam
E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 3 (2024): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2024.V13.i03.P05

Abstract

Penyakit hipertensi dan diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit kronis dengan prevalensi kematian tinggi di Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah membuat sistem layanan terintegrasi pada tingkat Puskesmas untuk memaksimalkan upaya serta sumber daya kesehatan secara efisien dan efektif, yakni melalui program pengelolaan penyakit kronis (PROLANIS). Program ini mendukung pasien penyakit kronis dalam mencapai keberhasilan terapi dan pencegahan komplikasi, namun seringkali kepatuhan yang rendah membuat tujuan tersebut tidak tercapai. Oleh karena itu, pada penelitian ini dirancang edukasi melalui pembuatan buku saku tentang penyakit dan terapinya untuk hipertensi serta diabetes melitus tipe 2 sebagai upaya meningkatkan kepatuhan pasien terhadap regimen terapi serta mengukur tingkat kepuasan pasien terhadap media edukasi. Studi ini dilakukan secara observasional potong-lintang yang dilakukan bulan Januari-Mei 2023, merekrut 88 pasien di dua Puskesmas di Bandung untuk dianalisis kepatuhannya terhadap regimen terapi menggunakan kuesioner MMAS-8 dan dibandingkan hasilnya sebelum dan sesudah pemberian buku saku. Dilakukan juga evaluasi kepuasan pasien terhadap media edukasi menggunakan kuesioner tervalidasi berbasis SERVQUAL. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan level kepatuhan pasien terhadap regimen terapi di kedua Puskesmas yaitu 5,48 ± 1,96 (sebelum diberikan edukasi) menjadi 6,94 ± 1,70 (pasca pemberian edukasi) yang berbeda bermakna secara statistik (p<0,001). Nilai indeks kepuasan responden terhadap buku saku sebesar 88,38% yang menunjukkan bahwa responden sangat puas. Usulan perbaikan buku saku terletak pada informasi yang diuraikan sebaiknya menggunakan bahwa yang mudah dimengerti masyarakat awam serta memperbesar ukuran huruf. Penelitian ini mendukung bukti buku saku sebagai alat peningkat kepatuhan.
Uji Aktivitas Antidiare Ekstrak Etanol Batang Dan Daun Kelakai (Stenochlaena palustris (Burm.F) Bedd) Pada Mencit Jantan Galur Swiss Webster Fauzia, Husna; Yuniar, Cindra Tri; Nuari, Doni Anshar
Sains Medisina Vol 2 No 2 (2023): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v2i2.312

Abstract

Diare adalah buang air besar encer dengan atau tanpa darah atau lendir, dapat pula disertai frekuensi defekasi yang meningkat dan merupakan gejala dari penyakit-penyakit tertentu atau gangguan lainnya. Penelitian Khair (2012) dan Yosika (2014) menyebutkan Kelakai (Stenochlaena palustris (Burm.F.) Bedd) dapat digunakan sebagai obat tradisional karena mengandung golongan senyawa flavonoid dan tanin yang di antaranya berfungsi mengobati diare. Penelitian ini melakukan pengujian aktivitas antidiare ekstrak etanol batang dan daun kelakai dengan metode proteksi terhadap oleum ricini dan metode transit intestinal pada mencit jantan galur Swiss Webster. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa ekstrak etanol batang dan daun kelakai dosis 400 mg/kgBB, 200 mg/kgBB, dan 100 mg/kgBB memiliki aktivitas antidiare dengan menurunkan bobot feses, menurunkan frekuensi defekasi meningkatkan konsistensi feses, mengurangi lamanya diare, serta menekan waktu muncul diare berbeda bermakna terhadap kontrol (p ≤ 0,05) dengan disertai kecenderungan penekanan gerakan peristaltik usus.
Healthcare Professionals’ Attitudes towards Adverse Drug Reactions Reporting in Primary Healthcare Settings: A Cross-sectional Survey Yuniar, Cindra Tri; Fadhilah, Rizka Zu; Anggadiredja, Kusnandar; Amalia, Lia
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 14, No 1
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.87108

Abstract

Background: Spontaneous Adverse Drug Reactions (ADRs) reporting is a key to improving the post-marketing safety of medicines. The important factor of under-reporting is lack of awareness for the purpose of ADRs monitoring and reporting. Spontaneous reporting is performed by the patients or consumer to the healthcare professionals and/or industry, then the healthcare facilities and industry should report the suspected ADRs to the National Agency of Drugs and Food Control (NADFC). To date, there is a lack information and study about attitudes on ADRs reporting by healthcare professionals (HCPs), especially in primary healthcare settings.Objectives: The aim of this study was to identify the attitudes towards ADRs reporting by healthcare professionals (HCP).Methods: This research was survey study with cross-sectional design, from November 2022-March 2023. The questionnaire, that have been validated and reliable, was distributed to 3 primary healthcare facilities. demographic data questions (6 items), experiences (3 items), knowledge (4 items), and motives for reporting (1 item).Results: Total 39 HCPs completed the survey, including 14 nurses, 9 midwifes, 3 general physicians, 3 pharmacists, and 10 other professions. Most of respondents were women (84.6%), and mostly the HCPs have been working for ≥5 years (74.3%). Among 39 respondents, only 1 pharmacist have a good attitude about ADRs reporting. The other HCPs had a lack of knowledge and safety awareness. The dominant motives for reporting the ADRs was serious or severe ADRs (39.4%) and the assurance of causality assessment by suspected drugs (15.4%).Conclusion: In conclusion, the HCPs in primary healthcare settings had poor attitudes towards ADRs reporting.
Hubungan Edukasi Gizi berbasis Presentasi Oral dengan Peningkatan Pengetahuan Kader di Kecamatan Arjasa, Pulau Kangean: Association Between Oral Presentation-Based Nutrition Education and Knowledge Escalation among Cadres in Arjasa Subdistrict, Kangean Island Martina Puspa Wangi; Trias Mahmudiono; Soediantoro, Ira Suarilah; Mamun , Abdullah Al; Sahila, Nur; Yuniar, Cindra Tri; Nurramadhani, Wadi'ah Hasna; Suwandiman, Farah Mumtaz; Rakhmad, Amanda Fharadita Olivia; Yusryana, Eka Anisah; Ramadhan, Sasha Anggita
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 6 No. 11 (2023): November 2023
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v6i11.3984

Abstract

Latar belakang: Pemeriksaan antropometri merupakan pemeriksaan non-invasif kuantitatif yang menyediakan pengkajian mengenai status gizi pada anak-anak dan orang dewasa. Pemeriksaan antropometeri yang tidak tepat dan teliti, dapat menghasilkan data yang tidak valid untuk dijadikan dasar penegakan interpretasi status gizi. Kesalahan interpretasi status gizi, akan berdampak pada tidak tepatnya terapi gizi yang diberikan pada sasaran terkait. Salah satu status gizi yang dinilai berdasarkan penilaian antropometri adalah kondisi stunting. Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh yang terjadi dikarenakan kekurangan gizi berkepanjangan, terutama pada 1000 Hari Pertama Kehidupan. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengejar ketertinggalan pertumbuhan, antara lain adalah dengan memberikan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang disesuaikan dengan usia sasaran. Pulau Kangean, sebagai salah satu pulau terluar di Madura, memerlukan pemberdayaan kader sebagai pihak yang menyampaikan informasi esensial berkaitan dengan kesehatan dan gizi pada sasaran. Pulau Kangean memiliki bahan makanan lokal berupa anggur laut yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar dari pembuatan PMT. Pemberian materi mengenai pengukuran antropometri dan PMT dalam bentuk presentasi oral, merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan pengetahuan audiens melalui pemaparan materi satu arah yang dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab. Tujuan: Meningkatkan kapasitas kader dalam melakukan pengukuran antropometri, terutama pengukuran tinggi badan dan panjang badan sebagai upaya skrining stunting dengan validitas yang baik. Memberikan pandangan mengenai jenis makanan tambahan yang bisa dijadikan alternatif menu makanan tumbuh kejar yang bersumber dari bahan makanan lokal yang terjangkau. Peningkatan pengetahuan kader diharapkan terjadi dengan indikasi peningkatan skor prettest dan posttest sebelum dan sesudah intervensi presentasi oral dilakukan. Metode: Intervensi diberikan secara oral dengan menggunakan Power Point dengan durasi pemberian materi selama 45 menit secara sinkronus dan 15 menit secara asinkronus. Pengukuran tingkat pengetahuan pada kader diukur dengan menggunakan pretest dan posttest yang berjumlah 15 pertanyaan, dengan 10 pertanyaan mengenai skrining antropometri tinggi badan dan panjang badan serta 5 pertanyaan mengenai PMT. Hasil: Terjadi peningkatan pengetahuan kader ditandai dengan skor posttest dan pretest yang mengalami peningkatan sebesar 11 dari 100 poin yang diberikan. Sebanyak 70% kader mengalami peningkatan pengetahuan dan 30% dari kader tidak mengalami peningkatan pengetahuan. Seluruh kader yang terlibat dalam penelitian ini tidak berhasil melampaui batas nilai minimal untuk dikatakan lulus, yaitu sebesat 70 poin dari total 100 poin yang setara dengan 6-7 soal yang terjawab benar. Rata-rata soal yang berhasil terjawab benar pada pretest adalah 3-4 soal benar. Terjadi peningkatan jumlah soal benar, yaitu sebesar 5-6 soal pada posttest yang menjadi indikasi peningkatan pengetahuan mengenai skrining antropometri dan pemberian makanan tambahan pada kader. Kesimpulan: Presentasi oral yang dilakukan dengan memaparkan materi berkaitan dengan skrining stunting dan PMT tidak dapat meningkatkan pengetahuan kader secara signifikan. Salah satu penyebab inoptimalisasi paparan presentasi yang diberikan adalah durasi paparan materi yang terlalu lama dan diskusi interaktif yang tidak berjalan dengan baik. Diperlukan pengembangan metode edukasi gizi yang lebih aplikatif dan interaktif dengan melibatkan audiens, salah satunya adalah dengan menggunakan metode emo demo dan demo secara langsung yang melibatkan partisipasi aktif dari sasaran.