Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

IBM KELOMPOK NELAYAN DESA TATELI II KECAMATAN MANDOLANG KABUPATEN MINAHASA DALAM MENERAPKAN SISTEM RANTAI DINGIN GUNA MENINGKATKAN PEMASARAN DAN PENDAPATAN Manoppo, Victoria E.N; Luasunaung, Alfret
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 5, No 10 (2017): Oktober 2017
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.5.10.2017.17953

Abstract

AbstractScience and technology activities for the community aims to provide knowledge to them in finding solutions to problems. Tateli II is one of the villages in Tateli II Village, Mandolang Sub-district, Minahasa District, North Sulawesi Province. Tateli II village fishermen are often or often confused with the marketing of fishery products because of the low selling price; this is because of their low state of knowledge about postharvest handling so that income is always low. Fishermen should be taught how to handle post-harvest catch so that when sold will create a reasonable price and at least be in accordance with the results of the business. One effort to maintain the quality of fishery products of fisherman production since harvested to the hands of consumers, and fish in a fresh / wet condition is handling with cold chain system (cold chain system).Training methods are based on adult learning methods (self-taught) and classically by providing theory and practice through lectures and group discussions (FGD: Focus Group Disscution). Implementation is made by providing theory as much as 25% and practice as much as 75% for 8 months.First, approach the village government to obtain permits and discuss the timing of meetings for the implementation of the technology extension / demonstration that will be implemented in view of the importance of time-gathering arrangements in this case the fishermen group.Extension and training activities can provide a view to the fisherman about the importance of post-arrest handling that is to maintain the quality of the fish in a cold state so it is not easily damaged or rotten. Counseling is given to the fishermen either individually or in groups. Conducted in groups in order that they can use this group in developing a capture fishery business can propose funding and / or equipment aid proposals through existing groups.Based on the results of observation, counseling and training, the activities of IbM Fishermen Group of Tateli II Village of Mandolang Sub-District of Minahasa Regency: 1. Fisherman Group of Tateli II Village of Mandolang Sub-district, have conducted fishing activities and there is desire from them all to use system where fish must be kept cool or keep it at a low temperature. 2. The fishermen group of Desa Tateli II Mandolang sub-district is able to understand that by maintaining the temperature of the fish remains cool the selling price can be high and apada can eventually increase their income. 3. Individual awareness as well as group members on the importance of group roles, spontaneously they want to submit fund and equipment proposal to the Government of North Sulawesi Province. Changes in attitude towards such development can provide a guarantee of the sustainability of their business so that the future can change the state of the economy and their daily circumstances and their families in a better direction.Keywords: ekstention, Female Workers AbstrakKegiatan Iptek bagi masyarakat ini bertujuan memberikan pengetahuan kepada mereka dalam menemukan pemecahan permasalahan. Tateli II merupakan salah satu desa yang berada di Desa Tateli II Kecamatan Mandolang Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara. Nelayan desa Tateli II kerap kali atau sering bingung dengan pemasaran hasil perikanan karena harga jual yang selalu rendah; hal ini karena keadaan pengetahuan mereka yang rendah tentang penanganan pascapanen sehingga pendapatan selalu rendah. Nelayan harus diajarkan bagaimana cara menangani hasil tangkapan pascapanen supaya bila dijual akan menciptakan harga yang layak dan minimal bisa sesuai dengan hasil usaha. Salah satu usaha untuk menjaga mutu hasil perikanan produksi nelayan sejak dipanen sampai di tangan konsumen, dan ikan dalam keadaan segar/basah yaitu penanganan dengan system rantai dingin (cold chain system).Metode pelatihan dilakukan berdasarkan metode pembelajaran orang dewasa (otodidak) dan secara klasikal dengan memberikan teori dan praktek melalui ceramah dan diskusi kelompok (FGD: Focus Group Disscution). Pelaksanaannya dibuat dengan cara memberikan teori sebanyak 25% dan praktek sebanyak 75% selama 8 bulan.Pertama, melakukan pendekatan kepada pemerintah desa untuk mendapatkan ijin serta mendiskusikan tentang waktu pertemuan untuk pelaksanaan penyuluhan/demonstrasi teknologi yang akan diterapkan mengingat pentingnya pengaturan waktu mengumpulkan masa sekalipun dalam hal ini kelompok nelayan.Kegiatan penyuluhan dan pelatihan dapat memberikan pandangan kepada nelayan akan pentingnya penanganan pasca penangkapan yaitu harus mempertahankan mutu ikan dalam keadaan dingin sehingga tidak mudah rusak atau busuk. Penyuluhan diberikan kepada nelayan baik secara individyu ataupun secara berkelompok. Dilakukan secara berkelompok agar disuatu saat mereka bisa menggunakan kelompok ini dalam mengembangkan usaha perikanan tangkap  dapat mengusulkan proposal bantuan dana dan atau peralatan melalui kelompok yang ada.Berdasarkan hasil pengamatan, penyuluhan dan pelatihan, maka kegiatan IbM Kelompok Nelayan Desa Tateli II Kecamatan Mandolang Kabupaten Minahasa : 1. Kelompok nelayan Desa Tateli II Kecamatan Mandolang, sudah melaksanakan kegiatan penangkapan ikan dan ada keinginan dari mereka semua untuk menggunakan sistem dimana ikan harus tetap dingin atau tetap pada suhu rendah. 2. Kelompok nelayan Desa Tateli II Kecamatan Mandolang mampu memahami bahwa dengan mempertahankan suhu ikan tetap dingin maka harga jual bisa tinggi dan apada akhirnya bisa meningkatkan pendapatan mereka. 3. Kesadaran secara individual dan juga anggota kelompok akan pentingnya peranan kelompok, secara spontanitas mereka  ingin mengajukan proposal dana dan peralatan ke Pemerintah Provinsi Sulut. Perubahan sikap ke arah pengembangan demikian dapat memberikan jaminan keberlanjutan usaha mereka sehingga kedepannya bisa merubah keadaan perekonomian dan keadaan  sehari-hari mereka dan keluarganya ke arah yang lebih baik.Kata Kunci : extensions, training, cold chain
KAJIAN NILAI TUKAR PEMBUDIDAYA USAHA BUDIDAYA RUMPUT LAUT MENGHADAPI ERA NEW NORMAL DI DESA PELING SEASA KECAMATAN BULAGI KABUPATEN BANGGAI KEPULAUAN PROVINSI SULAWESI TENGAH Dawaso, Agri; Jusuf, Nurdin; Manoppo, Victoria E.N; Sondakh, Srie J.; Tambani, Grace O.; Ngangi, Edwin L.A.
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 9, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.9.1.2021.34059

Abstract

AbstractBased on the results and discussion of this research, it can be concluded: (a) The exchange rate of seaweed farming income is calculated based on the ratio between the total income and the total expenditure of the business. Based on the results of the NTP calculation for the seaweed cultivation business, the seaweed cultivation income is 438,881. The result of this NTP value is greater than 100, where the seaweed cultivator business can cover the costs incurred from the business; (b) The exchange rate of seaweed cultivators to total income can be calculated based on the ratio between the total income of seaweed cultivators, both from fishery and non-fishery businesses, and expenditures for seaweed cultivators from both cultivation and family consumption. Based on the results of the NTP calculation for the seaweed cultivator business, the total income was 147.41. This NTP value is greater than 100, which indicates that the income from the seaweed cultivator business can cover the subsistence needs (basic needs) of the seaweed cultivator family.     AbstrakBerdasarkan hasil dan pembahasan penelitian ini, dapat disimpulkan: (a) Nilai tukar pendapatan usaha budidaya rumput laut dihitung berdasarkan perbandingan antara jumlah pendapatan dan jumlah pengeluaran dari usaha tersebut. Berdasarkan hasil perhitungan NTP untuk usaha budidaya rumput laut pada pendapatan budidaya rumput laut sebesar 438,881. Nilai NTP ini hasilnya lebih besar dari 100, dimana usaha pembudidaya rumput laut dapat menutupi biaya yang ditimbulkan dari usaha tersebut; (b) Nilai tukar pembudidaya rumput laut pada total pendapatan dapat dihitung berdasarkan perbandingan antara jumlah total pendapatan pembudidaya usaha rumput rumput laut, baik dari usaha perikanan dan non perikanan berbanding dengan pengeluaran usaha pembudidaya rumput laut baik dari usaha budidaya dan konsumsi keluarga. Berdasarkan hasil perhitungan NTP untuk usaha pembudidaya rumput laut pada total pendapatan sebesar 147,41. Nilai NTP ini hasilnya lebih besar dari 100, hal mana mengindikasikan bahwa pendapatan dari usaha pembudidaya rumput laut dapat menutupi kebutuhan subsisten (kebutuhan dasar) keluarga pembudidaya rumput laut.