Pendidikan inklusi di lingkungan madrasah saat ini menghadapi tantangan besar dalam menyelaraskan pencapaian akademik dengan pembentukan karakter yang humanis, di mana kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) konvensional seringkali dianggap kurang adaptif terhadap kebutuhan peserta didik yang beragam. Penelitian ini bertujuan untuk mendalami strategi internalisasi nilai-nilai "Panca Cinta" dalam Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di MI Tahfidz Ash Sholihah, serta mengidentifikasi berbagai tantangan yang muncul dalam implementasinya di setting madrasah inklusi. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif desain studi fenomenologi, data dikumpulkan melalui teknik triangulasi yang meliputi wawancara semi-terstruktur, observasi non-partisipatif, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa internalisasi nilai Panca Cinta—yang mencakup Cinta Allah dan Rasul, Cinta Ilmu, Cinta Lingkungan, Cinta Diri dan Sesama, serta Cinta Tanah Air—dilakukan melalui dua jalur utama, yakni kegiatan intrakurikuler melalui pengembangan modul ajar berdiferensiasi dan pendekatan multisensori, serta kegiatan kokurikuler melalui pembiasaan ibadah harian dan proyek P5RA. Meskipun pendekatan ini berhasil menciptakan ekosistem pendidikan yang inklusif dan empatik, prosesnya masih menghadapi hambatan berupa keterbatasan kompetensi pedagogik khusus guru dalam menangani dinamika perilaku anak berkebutuhan khusus serta adanya ketidaksinkronan nilai antara lingkungan madrasah dengan pola asuh di rumah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa internalisasi nilai Panca Cinta sangat potensial dalam membentuk karakter murid yang utuh, namun keberhasilannya memerlukan kolaborasi sinergis antara penguatan kapasitas guru dan dukungan ekosistem masyarakat yang lebih luas.