Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Perpolitikan Indonesia Pasca Pilpres dan Relevansi Teori Politik Al-Ghazali Mawar Febrianti
Konfrontasi: Jurnal Kultural, Ekonomi dan Perubahan Sosial Vol 5 No 2 (2018): Konfrontasi, July
Publisher : Budapest International Research and Critics University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.413 KB) | DOI: 10.33258/konfrontasi2.v7i2.16

Abstract

Indonesia experienced a great political upheaval after the implementation of the April 14 2019 presidential election yesterday. Such a situation is the culmination of a feeling of dissatisfaction from the part of the Indonesian people towards the government that has been going on so far and for the implementation of the 2019 presidential election which is considered incompatible with the presidential election's honesty (honest and fair). For this reason, Indonesia, in this case the government and the people, must immediately rise up, and control the condition of Indonesian politics to immediately return to conducive conditions. Al-Ghazali's political theory emphasizes the importance of choosing leaders who have good aqeedah and adab, are intelligent, master the knowledge of religion and government, are fair, understand the difficulties of the people, are close to the people. The leader must also be close and willing to listen to the advice of the scholars (religious leaders, national figures and intellectuals), not accepting bribes or bribing and not corruption. The implications of al-Ghazali's theory are very possible and quite relevant to be implemented in Indonesia, but of course it must be adapted to the system of government, culture and society in Indonesia.
Gerakan Nasionalisme Islam Sebelum Kemerdekaan RI Mawar Febrianti
SIASAT Vol. 4 No. 2 (2019): Siasat Journal, April
Publisher : Budapest International Research and Critics University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (953.021 KB) | DOI: 10.33258/siasat.v4i2.6

Abstract

Nationalism among Indonesian Muslims has grown since a number of sultans in the homeland against the Dutch. The resistance of the empire was a physical war against the Dutch. After the Dutch conquered almost all local sultanates and kingdoms, so that the Dutch controlled Indonesia completely, the form of resistance then changed. Changes in the form of struggle are marked by the birth of Islamic movements, both in the form of madrasa (schools), mass organizations, and political parties. Awareness of the spirit of nationalism was formed from the age of the empire, which then continued to grow among Islamic mass organizations, eventually becoming more crystallized within the bodies of political parties.
Ekologi Sosial Perkotaan : Krisis Resapan Air Sebagai Cerminan Ketimpangan Tata Kota Makassar, Sulawesi Selatan Revalini Eka Widiyawati; Mawar FebriAnti; Siti Nur Amaliah Antazza; Muh. Watif M
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 5: Agustus 2025
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v4i5.11169

Abstract

Krisis resapan air di Kota makassar, Sulawesi Selatan Indonesia, menunjukkkan bagaimana tata kelola perkotaan terlalu fokus pada pembangunan fisik dan ekonomi sementara mengabaikan daya dukung lingkungan. Dengan mengutamakan transormasi besar-besaran kawasan resapan air menjadi area terbangun seperti perumahan elit, bisnis, dan infrastruktur jalan raya, area ini sekarang mencapai 65,04% dari total luas kota. Penelitian ini menyelidiki dinamika ekologi sosial perkotaan. Dengan ruang terbuka hijau (RTH) minimal 10,99% yang jauh di bawahstandar nasionl 30% kapasitas infiltrasi air berkurang, limpasan permukaan meningkat dan resiko banjir dan kekeringan meningkat. Kondisi ini juga menyebabkan intrusi air laut dan penurunan muka tanah, yang dikenal sebagai land subsidence. Hal ini berdampak sosial pada ketimpangan akses air bersih, terutama di daerah padat dan miskin. Upaya penanggulangan melalui inovasi seperti lubang resapan biopori dan program pertanian kota (Lorong Taman) menunjukkan potensi untuk meningkatkan cadangan air tanah dan kualitas lingkungan, tetapi keberlanjutan, partisipasi masyarakat, dan dukungan kelembagaan masih menjadi kendala dalam pelaksanaannya. Studi ini menunjukkan bahwa krisis resapan air di Makassar bukan hanya masalah lingkungan teknis tetapi juga hasil dari ketidaksesuaian kebijakan kota dan tata ruang yang tidak mendukung kesejahteraan ekologis dan sosial. Untuk membuat kota yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan, kebijakan tata kota yang berpijak pada prinsip ekologi sosial harus diintegrasikan, peningkatan RTH, dan penguatan peran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan. Peningkatan RTH, dan penguatan peran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan.