Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

ANALISA KEBUTUHAN PENYUSUNAN MODUL PELATIHAN PENCEGAHAN KEKERASAN SEKSUAL PADA ANAK USIA PRA SEKOLAH (USIA 3-6 TAHUN) UNTUK GURU DAN ORANGTUA Khosianah, Fety; Murdiyani, Hetty
PSIKOSAINS (Jurnal Penelitian dan Pemikiran Psikologi) Vol 12 No 2 (2017)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.188 KB)

Abstract

Jumlah kasus kekerasan seksual pada anak akhir-akhir ini semakin meningkat sehinggameresahkan para orangtua dan guru. Salah satu kelompok usia yang rentan menjadi korbankekerasan seksual adalah anak-anak di bawah umur yaitu di usia pra sekolah. Untukmengurangi prevalensi terjadinya tindak kekerasan seksual pada anak dibutuhkan upayakonkret untuk pencegahannya. Penelitian ini berusaha menjembatani kebutuhan tersebut.Penelitian ini adalah penelitian awal dari rencana penelitian berkelanjutan tentang penyusunanstrategi pencegahan kekerasan seksual untuk anak usia pra sekolah. Tujuan jangka pendekdari penelitian ini adalah menghasilkan data berupa analisis kebutuhan yang dibutuhkansebagai bahan untuk penyusunan modul pencegahan kekerasan seksual pada anak usia prasekolah. Hasil analisis kebutuhan ini kemudian bisa dikembangkan sebagai bahan dalampenyusunan sebuah modul pelatihan pencegahan kekerasan seksual pada anak usia prasekolah (usia 3-6 tahun).
Penyuluhan Hukum: Bagi siswa SMA Muhammadiyah 7 Surabaya dalam Pencegahan Perlindungan terhadap Pelecehan dan Kekerasan Seksual pada Remaja Muridah Isnawati; Fety Khosianah
Borobudur Journal on Legal Services Vol 3 No 1 (2022): Vol 3 No 1 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (720.415 KB) | DOI: 10.31603/bjls.v3i1.7428

Abstract

Kekerasan seksual merupakan tindakan yang menyakiti secara seksual, seperti memaksa hubungan seksual atau ekstrimnya perkosaan. Kekerasan terbagi dalam beberapa bentuk, yaitu kekerasan fisik, kekerasan seksual, kekerasan psikologis kekerasan spiritual Faktor yang mempengaruhi penyebab terjadinya kekerasan karena adanya perbedaan peran gender, pengalaman mengalami kekerasan dalam keluarga, pengaruh teman sebaya dan pengaruh lingkungan sekitar. ancaman kekerasan fisik dan psikologis laki-laki terhadap perempuan telah dianalisis sebagai sumber utama ketidaksetaraan gender. Metode yang di guanakan dalam pengabdian ini adalah penyuluhan hukum bagi siswa sma dengan system ceramah, diskusi dan Tanya jawab. Sehingga peserta mampu memahami secara menyeluruh materi yang di berikan. Pengabdian ini menjelaskan empat Materi terdiri dari pertama penjelasan Kasus Kekerasan Seksual. kedua Alasan Korban tidak Melapor Ketakutan korban untuk melapor bukan tanpa alasan. Ketiga penjelasan Kekerasan Terhadap Perempuan dan keempat penjelasan aturan Tentang Tatacara Pemeriksaan Saksi &/ Korban Tindak Pidana.
HUBUNGAN ANTARA TOXIC FRIENDSHIP DENGAN KESEHATAN MENTAL PADA REMAJA DI SURABAYA Rika Amalia Kusnata; Agus Poerwanto; Fety Khosianah
Archetype : Jurnal Ilmiah Psikologi dan Terapan Vol 7 No 1 (2025): ARCHETYPE
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/arc.v7i1.27384

Abstract

Abstract The purpose of the study below was to determine the correlation between toxic relationships in friendship and the mental health of adolescents in Surabaya. Using a quantitative correlational design, data were collected through a psychological scale given via Google Forms to 100 adolescents in Surabaya. The research data collection technique used in this study was the incidental sampling. Data collection in the study used a Likert scale arranged based on aspects of both variables. The results showed a significant negative correlation (r = -0). 309, p = 0.002) between mental health and toxic relationships, indicating that lower mental health increases the likelihood of involvement in toxic relationships. The results of this test suggested that when associated together, mental health and toxic relationships have a significant relationship (Sig.). The contribution of the mental health variable to toxic relationships is 0.309, which indicates that mental health has an influence of 30.9% on toxic relationships, while 69.1% is influenced by other factors. Therefore, the hypothesis in this study is accepted, which states that there is a significant correlation between mental health and toxic relationships in adolescents in Surabaya. Keywords: toxic relationship, mental health, teenagers
STUDI DESKRIPTIF GAMBARAN KUALITAS HIDUP WANITA DEWASA AWAL PASCA PERCERAIAN YANG BERSTATUS SINGLE PARENT PADA MASYARAKAT DI DESA SAWARAN KULON KABUPATEN LUMAJANG Heru Kuswanto; Siti Atiyyatul Fahiroh; Fety Khosianah
Archetype : Jurnal Ilmiah Psikologi dan Terapan Vol 7 No 2 (2025): ARCHETYPE
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/arc.v7i2.28384

Abstract

This study aims to describe the quality of life of post-divorce single-parent early adult women in Sawaran Kulon Village, Lumajang Regency. The approach used was qualitative with phenomenological methods. The study subjects consisted of three early adult women who had experienced divorce and were navigating the role of single parents. Data collection techniques were in-depth interviews, non-participatory observation, and documentation. The results indicated that post-divorce, the subjects experienced significant changes in physical, emotional, social, and spiritual aspects. They faced challenges related to economy, childcare, social stigma, feelings of loneliness and emotional exhaustion. However, the subjects also demonstrated adaptive efforts in rebuilding their lives, such as participating in training, strengthening relationships with their children, and increasing independence. Support from their immediate family and friends was a crucial factor in the recovery process. This study emphasizes the important role of the social environment, emotional support, and internal strengths in shaping a better quality of life for post-divorce single-parent women.
CORRELATION BETWEEN SENIORITY AND VERBAL ABUSE AMONG TEENAGE GAMERS Suryani Madaniyah; Hetty Murdiyani; Fety Khosianah
Proceeding International Symposium on Global Educatiorg Psychology, and Cultural Synergy Vol 1 No 1 (2024): PROCEEDING INSPIRE 2024: INTERNATIONAL SYMPOSIUM ON GLOBAL EDUCATION, PSYCHOLOGY,
Publisher : P3I UMSurabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/psychoseries.v1i1.25218

Abstract

This study investigates the relationship between seniority and verbal abuse among teenage gamers who play in group settings. Using a quantitative correlational approach, data were collected from 61 respondents through purposive sampling. A Likert-scale questionnaire was employed to measure both seniority and verbal abuse. The results of Pearson’s correlation analysis indicated a significance level of 0.772 (p > 0.05) with a correlation coefficient of -0.038, suggesting no significant relationship between seniority and verbal abuse among the participants. This research provides insights into the dynamics of hierarchy and communication patterns within gaming communities.
HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN INTENSITAS BERMAIN GAME ONLINE PADA REMAJA DI KOTA SURABAYA Salsa Bhenany Sugianto Putri; Fety Khosianah; Iffah Rosyiana
Archetype : Jurnal Ilmiah Psikologi dan Terapan Vol 8 No 1 (2026): ARCHETYPE
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/archetype.v8i1.28905

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola asuh orang tua dengan intensitas bermain game online pada remaja di Kota Surabaya. Pola asuh orang tua dalam penelitian ini meliputi lima aspek, yaitu kontrol dan pemantauan, dukungan dan keterlibatan, komunikasi, kedekatan, serta pendisiplinan. Intensitas bermain game online diukur melalui tiga aspek, yakni frekuensi, durasi, dan perhatian terhadap permainan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan metode accidental sampling. Responden penelitian berjumlah 217 remaja berusia 15–18 tahun yang berdomisili di Surabaya dan aktif bermain game online. Instrumen penelitian berupa skala pola asuh orang tua dan skala intensitas bermain game online yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara pola asuh orang tua dengan intensitas bermain game online (r = 0,244; p = 0,000). Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi kualitas pola asuh orang tua, semakin terkontrol pula intensitas bermain game online remaja. Namun, karena kekuatan korelasi tergolong rendah, disimpulkan bahwa pola asuh orang tua bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi perilaku bermain game online pada remaja.
PENDEKATAN PSIKOSOSIAL-EKONOMI MELALUI DUKUNGAN PSIKOLOGIS AWAL DAN DIGITAL ENTREPRENEURSHIP PADA ANAK PANTI Dewi Ilma Antawati Raditya; Fety Khosianah; Bambang Raditya Purnomo
Jurnal Terapan Abdimas Vol. 11 No. 1 (2026)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/jta.v11i1.23466

Abstract

Abstract. This community service program was conducted at Muhammadiyah Orphanage Gersikan Surabaya with a unique integrative approach that combines psychosocial and economic empowerment. The main problems faced by the partner included the lack of caregivers’ capacity in providing Psychological First Aid (PFA), low awareness of sexual violence prevention among students, and limited digital entrepreneurship skills needed for independent living after leaving the orphanage. The aim of this community service activity is to increase the capacity of caregivers to provide initial psychological support and increase the independence and economic readiness of orphaned children through digital entrepreneurship training and education on preventing sexual violence.  The program consisted of three training activities: (1) PFA for caregivers, (2) sexual violence prevention training for students from elementary to university level, and (3) digital entrepreneurship training for students from junior high to university level. The results showed significant improvements: caregivers were able to apply basic PFA skills, students improved their awareness of self-protection and reporting mechanisms, and adolescents successfully produced digital marketing content and used online marketplaces for product sales simulations. The integration of psychological support with digital entrepreneurship training represents a novel approach to orphanage empowerment, fostering not only psychological resilience but also economic independence.   Abstrak. Program pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Panti Asuhan Muhammadiyah Gersikan Surabaya dengan pendekatan unik berupa integrasi aspek psikososial dan ekonomi. Permasalahan utama mitra meliputi rendahnya kapasitas pengasuh dalam memberikan dukungan psikologis awal, rendahnya kesadaran santri terhadap pencegahan kekerasan seksual, serta terbatasnya keterampilan kewirausahaan digital yang relevan dengan kebutuhan kemandirian pasca-panti. Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah meningkatkan kapasitas pengasuh dalam memberikan dukungan psikologis awal serta meningkatkan kemandirian dan kesiapan ekonomi anak panti melalui pelatihan kewirausahaan digital dan edukasi pencegahan kekerasan seksual. Program ini merealisasikan tiga bentuk pelatihan, yaitu: (1) Dukungan Psikologis Awal (DPA) untuk pengasuh, (2) pencegahan kekerasan seksual untuk santri mulai SD hingga perguruan tinggi, dan (3) kewirausahaan digital untuk santri SMP hingga perguruan tinggi. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan: pengasuh mampu menerapkan keterampilan dasar DPA, santri memahami perlindungan diri dan strategi pelaporan kasus kekerasan seksual, serta santri remaja mampu menghasilkan konten promosi digital dan memanfaatkan marketplace untuk simulasi penjualan produk. Integrasi dukungan psikologis dengan pelatihan digital entrepreneurship ini menjadi pendekatan baru dalam pemberdayaan anak panti yang tidak hanya menumbuhkan resiliensi psikologis tetapi juga meningkatkan kemandirian ekonomi.