Nego, Obet
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

SPIRITUALITAS CALVIN SEBAGAI SPIRITUAL FORMATION MAHASISWA TEOLOGI Nego, Obet
Manna Rafflesia Vol. 6 No. 1 (2019): Oktober
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.995 KB) | DOI: 10.38091/man_raf.v6i1.108

Abstract

Students in theology schools must have a clear and determined calling. Often this commitment fades because the knowledge of God only happens in the mind, not in the heart. Therefore we need teaching that can invite them back to deepen their commitment to God. Therefore, in addition to intellectual abilities, mature spirituality, is considered an absolute requirement for theology students to become servants of God who are ready to serve. Success in ministry that demands a complete spiritual figure, requires a servant of God to set an example in his Bible, moral, and spiritual knowledge. Since it was in the formation on campus, it was hoped that theology students would have to realize the importance of a Bible-based spirituality, God's word. Therefore, this paper aims to discuss Calvin's Spirituality as a Theological Formation of Spiritual Students.
Moderasi Beragama dalam Bingkai Teologis: Respon Terhadap Konflik Politik Berbasis Agama di Indonesia Nego, Obet; Pasang, Agustina
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 5, No 1 (2023): Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v5i1.213

Abstract

Political activities in Indonesia are often marred by feuds and horizontal conflicts. This is caused by the misuse of religious identity for the benefit of various groups and political parties. This paper aims to reveal the importance of religious moderation in the frame of Christian theology applied in the context of politics in Indonesia, as well as identify political conflicts with religious backgrounds that are considered very dangerous and threaten the integrity of the nation. This research uses a qualitative method, namely library research with a Christian theology approach as its main reference, of course, literacy is relevant to the research problem. The results show various challenges of religious moderation in politics in Indonesia, the theological basis of religious moderation, and theological values in religious moderation.  In conclusion, applying religious moderation in a theological frame can avoid political conflicts with a religious background.Kegiatan berpolitik di Indonesia kerap kali dicederai oleh perseteruan dan konflik horizontal. Hal tersebut diakibatkan oleh penyalahgunaan identitas agama demi berbagai kepentingan kelompok maupun partai politik. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkapkan pentingnya moderasi beragama dalam bingkai teologi Kristen yang diterapkan di dalam konteks berpolitik di Indonesia, serta mengidentifikasi konflik politik yang berlatar belakang agama yang dinilai sangat berbahaya dan mengancam keutuhan bangsa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yaitu library research dengan pendekatan systematic theology sebagai rujukan utamanya, tentunya literasi-literasi tersebut relevan dengan permasalahan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan berbagai tantangan moderasi beragama dalam politik di Indonesia, Dasar teologis moderasi beragama, dan Nilai-nilai teologis dalam moderasi beragama. Kesimpulannya, dengan menerapkan moderasi beragama dalam bingkai teologis dapat menghindari konflik-konflik politik yang berlatar agama.
Komunikasi Digital yang Beretika di Tengah Polarisasi Politik di Indonesia: Kajian Etika Kristen Nego, Obet
Jurnal Teologi Injili Vol. 5 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi ATI Anjungan Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55626/jti.v5i2.246

Abstract

Polarisasi politik di Indonesia semakin menguat seiring dengan peran media sosial sebagai ruang utama ekspresi politik dan pertukaran wacana publik. Fenomena ini memperlihatkan dominasi retorika emosional, provokatif, dan konfrontatif yang diperkuat oleh algoritma digital, sehingga mengikis kepercayaan publik, menghambat dialog konstruktif, dan melemahkan kohesi sosial. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis penerapan prinsip-prinsip etika Kristen kasih, kejujuran, keadilan, dan integritas dalam komunikasi digital di tengah polarisasi politik Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan, melalui analisis tematik yang meliputi identifikasi konsep polarisasi politik digital, interpretasi teologis atas prinsip etika Kristen, dan sintesis kritis antara kajian komunikasi politik, algoritma media sosial, serta teologi praktis. Hasil kajian menunjukkan bahwa minimnya penerapan etika Kristen dalam wacana digital mengakibatkan krisis kesaksian iman dan memperparah retorika konflik. Artikel ini menegaskan urgensi panduan etis berbasis nilai Kristiani yang tidak hanya membatasi ujaran kebencian dan hoaks, tetapi juga membentuk habitus kebajikan komunikatif seperti kejujuran, kerendahan hati, dan belas kasih. Kontribusi penelitian ini terletak pada upaya membangun kerangka etika komunikasi digital yang kontekstual bagi komunitas Kristen Indonesia dalam menghadapi tantangan polarisasi politik.
Kristologi Kenosis sebagai Paradigma Etika Kebangsaan: Kritik Teologis terhadap Oligarki dan Korupsi Politik di Indonesia Nego, Obet; Manaransyah, Samuel; Polin, Thimothy Alva Fiderio
Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Vol 5 No 2 (2025): DPJTMG: November
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54170/441x3356

Abstract

Artikel ini mengkaji relevansi Kristologi Kenosis sebagai dasar etika kebangsaan dalam menghadapi oligarki dan korupsi politik di Indonesia. Dominasi oligarki, kleptokrasi, dan politik dinasti telah melemahkan legitimasi moral demokrasi dan menandakan krisis etika kepemimpinan. Berdasarkan Filipi 2:5-11, Kenosis menawarkan paradigma etis yang menekankan kerendahan hati, pengosongan diri, dan pelayanan sebagai dasar kepemimpinan publik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan studi pustaka, berfokus pada penafsiran teologis terhadap Filipi 2:5-11 serta karya teolog seperti Moltmann dan Kitamori melalui hermeneutika teologis dan analisis konseptual-filosofis. Hasil kajian menunjukkan tiga nilai kenotik utama, yaitu anti-keserakahan sebagai kritik korupsi, pelayanan berkorban sebagai alternatif melawan oligarki, dan solidaritas kebangsaan sebagai koreksi ketimpangan sosial. Dengan demikian, Kenosis menjadi antitesis etis terhadap penyalahgunaan kuasa sekaligus kerangka moral bagi reformasi politik yang adil dan berintegritas.