Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

IDENTIFIKASI TATANAN RUMAH TRADISIONAL MADURA DI PESISIR PANTAI KOTA SURABAYA (STUDI KASUS: KELURAHAN TAMBAK WEDI KECAMATAN KENJERAN KOTA SURABAYA) Munir, Arham
Rekayasa Vol 3, No 2: Oktober 2010
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.223 KB) | DOI: 10.21107/rekayasa.v3i2.2299

Abstract

Kelurahan Tambak Wedi merupakan kelurahan yang terletak di pesisir Timur Kota Surabaya, yang secara hirarki kewilayahan sangat berdekatan dengan Pulau Madura. Kedekatan wilayah dan karakter masyarakat pada wilayah tersebut potensial untuk diteliti. Kajian-kajian nilai-nilai arsitektur lokal, sebagai nilai-nilai tradisi yang perlu dilestarikan, dalam rangka pengkayaan arsitektur nusantara, kekayaan nilai yang terkandung dan perlu digali, untuk mendukung perkembangan arsitektur lokal. Konsep tanean lanjang yang merupakan pola tradisional permukiman madura menjadi acuan utama dalam penelitian ini. Dengan metode penelitian kualitatif dengan metode survei langsung berupa: pengukuran langsung dilokasi, baik pengukuran rumah dan jarak rumah, infrastruktur maupun kondisi sosial budaya dan ekonomi melalui daftar pertanyaan (questionary), diharapkan dapat mengungkapkan fakta untuk melihat sejauh mana penyebaran masyarakat Madura dan sejauh mana masyarakat tersebut dapat mempertahankan sosial budaya serta tatanan permukiman yang sudah berbeda dengan tempat dengan daerah asalnya dan telah mendapat pengaruh budaya lain di sekitarnya. Eksistensi masyarakat Madura dan sejauh mana mereka bisa tetap eksis mempertahankan pola tradisi, sosial, budaya dan tatanan permukimannya diharapkan dapat menjadi output dari penelitian ini dan diharapkan akan lebih memperluas wahana arsitektur khususnya Arsitektur tradisional. Kata kunci: arsitektur tradisional Madura, tatanan rumah, pola Permukiman, eksistensi AbstractTambak Wedi Villages which lies east coast city of Surabaya, which is adjacent to the territorial hierarchy of Madura Island. Proximity of the territory and character of the community in the area of potential for research. studies of local architectural values, as values that need to be preserved tradition, the enrichment of architecture in the framework of the country, property values and needs to be contained in the dig, to support the development of local architecture. Concept which is the bare tanean traditional pattern of settlement madurese become the main reference in this study. With qualitative research methods with direct form of survei methods: a direct measurement of location, both home and distance measurements homes, infrastructure and socio-cultural and economic conditions through the list of questions (questionary), is expected to disclose the facts to see how far the public dissemination of Madura and the extent to which community can memperahankan sociocultural and settlement arrangements have differed by region of origin and the place has got other cultural influences surrounding. Madurese community's existence and how far they can remain eksist mempertahannkan traditional patterns, social, cultural and settlement arrangements are expected to be output from this research and are expected to further broaden the vehicle architecture, especially the traditional architecture. Keywords: Madura traditional architecture, arrangement of the houses, settlement patterns, the existence
Studi Identifikasi Sebaran Permukiman Etnik Di Ternate Asriany, Sherly; Raffel, Anthonius F.; Munir, Arham; Harbelubun, Muh.Muzni; Ridwan
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 9 No. 3 (2020): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.v9e3.110

Abstract

Indonesia termasuk salah satu negara yang mempunyai keragaman etnis terbesar di dunia, dengan 931 suku, 600 bahasa daerah, dan jenis kekayaan budaya lainnya. Permukiman sebagai salah satu hasil fisik kebudayaan masyarakat Indonesia. Peran nilai-nilai solidaritas yang ada pada masyarakat menunjukkan bahwa permukiman etnik tidak terlepas dari pengaruh sosial budaya. Elaborasi bentuk sosial dan budaya ke dalam lingkungan tercermin dari identitas bentuk fisik ruang. Ada saling keterkaitan antara fisik, sosial, dan budaya dalam membentuk morfologi permukiman. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sebaran permukiman etnik yang ada di Ternate, Maluku Utara. Penelitian ini berada dalam paradigma naturalistik. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini penelitian kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan antara lain melalui: survei, observasi, wawancara, fotografi dan skeksa, serta kuisioner. Teknik analisis data yang digunakan adalah triangulasi (triangulation analysis). Adapun temuan dari penelitian ini adalah sebaran permukiman etnik di Ternate. Sedangkan benteng Fort Oranje, Masjid Sultan, dan Kadaton Sultan sebagai pengikat diantara permukiman etnik yang ada di Ternate.
Domestic Architectural Transformation and Cultural Continuity: The Case of Fala Kanci in Ternate City Sherly Asriyani; Ibrahim, Maulana; Munir, Arham
Jurnal Ilmiah Teknik Vol. 5 No. 1 (2026): Januari: Jurnal Ilmiah Teknik
Publisher : Asosiasi Dosen Muda Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56127/juit.v5i1.2431

Abstract

Rapid urbanization in Ternate City has intensified pressure on domestic housing and accelerated changes in traditional dwellings such as Fala Kanci, raising challenges for adaptation without losing cultural identity. Objective: This study investigates how urbanization pressures, socio-economic conditions, and cultural values interact in shaping the spatial, material, and functional transformation of Fala Kanci domestic architecture across different urban contexts in Ternate City. Method: A qualitative approach was applied through field observations, in-depth interviews, questionnaires, and visual documentation of 36 Fala Kanci houses located in interior, peripheral, and urban core zones. Data were examined using thematic and comparative analysis to identify transformation patterns and cross-zone variations. Findings: Transformations occur unevenly. Urban core areas show the most intensive spatial expansion, increased material substitution from organic to industrial components, and broader functional diversification. Peripheral areas display mixed adaptation patterns, while interior areas exhibit stronger intergenerational continuity and greater preservation of traditional forms. Despite extensive physical modification, key cultural values communal interaction, family orientation, and symbolic identity remain embedded in spatial organization and selected architectural elements. Implications: The findings support context-sensitive strategies for architects, planners, and heritage practitioners to balance housing adaptation with cultural continuity in rapidly urbanizing island cities. Originality: This research contributes an integrative household-level account linking urbanization dynamics, socio-economic strategies, and cultural persistence an aspect often underexplored in vernacular architecture and urban studies.