Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Rethinking Financial Inclusion in the Digital Age: Determinants of Fintech Adoption in Indonesian Households Setyanti, Axellina Muara; Khoiruddin, M. Afif; Finuliyah, Firdaus
Neo Journal of economy and social humanities Vol 4 No 2 (2025): Neo Journal of Economy and Social Humanities
Publisher : International Publisher (YAPENBI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56403/nejesh.v4i2.261

Abstract

This study examines the determinants of fintech adoption among Indonesian households using nationally representative microdata from SUSENAS 2022 and binary logistic regression analysis. The findings reveal that fintech adoption remains limited, with only 5.48% of households reporting the use of digital financial services such as mobile banking. Among the determinants, savings ownership emerges as the strongest predictor, associated with a 12% higher probability of adopting fintech, underscoring the importance of prior financial engagement. Other significant factors include educational attainment, ICT experience, and formal employment. The analysis also highlights notable geographic variation. Education increases the probability of fintech use by 1.37% in urban areas but only 0.27% in rural areas. Similarly, ICT experience is associated with a 4.72% increase in adoption probability in urban areas, compared to 1.28% in rural settings, reflecting unequal returns to human capital across region. Formal employment and land ownership play a more influential role in rural areas. In contrast, participation in government assistance programs such as PKH and BPNT is negatively associated with fintech use across both settings, indicating that digital transfers alone are insufficient to foster sustained financial inclusion. These results highlight the urgency of designing context-sensitive fintech policies that address digital literacy, institutional trust, and inclusive program integration.
IDENTIFIKASI MODAL SOSIAL DALAM KEBERLANJUTAN PENGELOLAAN AIR MINUM PERDESAAN BERBASIS MASYARAKAT (Studi pada HIPPAM Sumber Maron, Desa Karangsuko, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang) Khoiruddin, M. Afif
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FEB Vol. 5 No. 1
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Semakin bertambahnya populasi penduduk yang memanfaatkan air   membuat ketersediaannya semakin langka. Inilah yang kemudian membuat pengelolaan air harus berkelanjutan. Artinya  pengelolaan air harus  dapat  memenuhi kebutuhan konsumsi di  masa sekarang dan juga di masa yang akan datang. Untuk melihat keberlanjutan pengelolaan air minum berbasis masyarakat dapat dilihat dari lima aspek: kelembagaan, keuangan, teknis, lingkungan, dan sosial. Di sisi lain modal sosial belum banyak mendapat perhatian untuk turut merumuskan kontribusinya terhadap keberlanjutan pengelolaan air minum perdesaan berbasis masyarakat. Oleh karenanya, penelitian ini mencoba melihat bentuk-bentuk modal sosial yang terdapat pada Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (HIPPAM) Sumber Maron, Desa Karangsuko, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang dan juga bagaimana implikasi modal sosial yang ada terhadap pengelolaan HIPPAM Sumber Maron yang berkelanjutan. Dalam hal ini HIPPAM Sumber Maron merupakan salah satu pengelola air minum perdesaan berbasis masyarakat yang berkelanjutan.Untuk mencapai tujuan penelitian, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Adapun bentuk-bentuk modal sosial yang menjadi temuan dalam penelitian ini dapat dibedakan menjadi tiga: kepercayaan, jaringan informasi, dan nilai   dan norma. Kepercayaan berwujud dalam: (a) kemauan gotong royong dan bekerja sama pada proses awal  pembangunan  sistem penyediaan  air  minum;  (b)  kerelaan  masyarakat  menyumbang bantuan-bantuan, baik materiil maupun non-materiil; (c) kerelaan membayar iuaran rekening air bulanan; dan (d) kehadiran masyarakat dalam musyawarah juga merupakan cermin dari kepercayaan yang ada. Sedangkan jaringan dapat diklasifikasikan menjadi dua: di luar dan di dalam HIPPAM Sumber Maron. Jaringan informasi di luar bermanfaat dalam mengakses sumber daya-sumber daya  aktual seperti  bantuan-bantuan dan  informasi  terkait  aspek-aspek  teknis. Sementara, jaringan informasi di dalam HIPPAM Sumber Maron bermanfaat untuk merawat infrastruktur yang ada melalui keluhan dan partisipasi masyarakat. Adapun modal sosial berupa nilai dan norma yang terdapat dalam HIPPAM Sumber Maron adalah musyawarah, gotong royong, bantuan sosial. Selain itu, juga diperoleh kesimpulan bahwa kepercayaan berimplikasi terhadap   keberlanjutan   aspek-aspek   internal   organisasi,   seperti   keuangan,   teknis,  dan kelembagan. Jaringan informasi yang ada berimplikasi terhadap keberlanjutan aspek lingkungan, melalui bantuan bibit pohon untuk konservasi lingkungan. Modal sosial nilai dan norma yang berupa gotong royong, musyawarah, dan bantuan sosial berimplikasi terhadap aspek teknis, keuangan, kelembagaan, dan sosial.Kata Kunci: Modal Sosial, Keberlanjutan Pengelolaan Air Minum, Pengelolaan Air Minum Perdesaan Berbasis Masyarakat.