Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Rancang Bangun Bilik Penyemprotan Covid 19 Menggunakan Sensor MLX90614 Berbasis Arduino Amrulloh, Muhammad; Wicaksono, Darma Arif
Jurnal Teknik Elektro dan Komputasi (ELKOM) Vol 3, No 1 (2021): ELKOM
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/elkom.v3i1.4225

Abstract

Seiring berkembangnya virus Covid-19 yang terjadi di Wuhan dan berkembang diseluruh dunia, Pencegahan penyebaran virus Covid-19 dilakukan dengan Protocol 3M, mencuci tangan, menggunakan masker, menggunakan sanitaizer. Salah satu langkah menanggulangi hal ini adalah dengan membuat bilik penyemprotan covid-19 otomatis. Penyebaran virus Covid-19, tidak di pungkiri mencakup lingkungan kampus. Karna akan di mulainya lagi kegiatan pembelajaran  dengan sistem online dan praktikum offline maka di perlukannya pengawasan serta pencegahan penyebaran virus Covid-19, Pembuatan bilik disinfektan yang sudah terintegrasi dengan kartu identitas mahasiswa dan mengotomasi pengecekan suhu, penyemprotan disifektan dan penyimpanan data yang betujuan untuk mengetahui setiap mahasiswa yang terindikasi oleh virus covid-19. Hasil dari penelitian ini diketahui hasil pembacaan sensor MLX90614 saat dilakukan perbandingan dengan 2 alat ukur thermometer clinical dan thermogun konvensional diketahui hasil seslisih 0.17 derajat celcius dengan setiap hasil rata2 pengukuran alat ukur suhu yaitu MLX90614 35,75 derajat celcius, thermometer clinical 35,92 derajat celcius, thermogun konvensional 36,48 derajat celcius, maka dapat disimpulkan bahwa sensor suhu sudah bagus . Dari hasil 50 kali percobaan pada masing masing id card diketahui 2% error.Dari hasil uji alat diketahui bahwa suhu merupakan parameter kesehatan pada manusia, hasil pengujian sensor suhu dengan akurasi 99,4% maka dapat dikatakan bekerja dengan baik, tetapi besaran suhu belum tentu mendeskripsikan terindikasi atau tidak oleh virus maka alat ini tidak cukup untuk pencegahan covid-19 pada lingkungan kampus. 
Etika Rendah Hati Dalam Al-Qur’an (Studi Penafsiran Ayat-Ayat Tawadhu’ Dalam Tafsir Al-Qur’anul Majid An-Nur) Rahil, Farid Basya; Amrulloh, Muhammad; Saputra, Akhmadiyah
El-Wasathy: Journal of Islamic Studies Vol 2 No 1 (2024): El-Wasathy: Journal of Islamic Studies
Publisher : Lembaga Swadaya Masyarakat Asosiasi Masyarakat Madani Indonesia (AMMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61693/elwasathy.vol21.2024.1-17

Abstract

Etika merupakan hal penting dalam kehidupan sosial masyarakat. Sering kali sebuah permasalahan dinilai benar di hadapan hukum, namun dianggap tidak patut oleh masyarakat luas karena melanggar nilai-nilai etika. Salah satu nilai etika yang utama dalam diri seseorang, terutama seorang muslim adalah etika rendah hati atau tawadhu’. Penelitian ini membahas tentang penafsiran ayat-ayat tawadhu’ serta bentuk-bentuk implementasinya dalam kehidupan saat ini dengan merujuk pada penafsiran Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy dalam Tafsir Al-Qur’anul Majid An-Nur. Penelitian ini merupakan library research dengan metode deskriptif analitis. Pendekatan kajian dilakukan dengan metode tematik atau maudhu’i. Hasil penelitian didapatkan bahwa etika rendah hati atau tawadhu’ dalam penafsiran TM. Hasbi Ash-Shiddieqy ditafsirkan sebagai suatu akhlaq terpuji yang tidak terbatas pada perilaku harian saja, tetapi meliputi sikap seorang hamba kepada Rabb-nya dan muamalah kepada sesama manusia secara umum, serta kepada saudara seiman secara khusus dengan selalu mengedepankan sikap rendah hati atau tidak sombong. Adapun bentuk-bentuk implementasi etika rendah hati tercermin dalam beberapa sikap; menganggap sesama mukmin itu saudara, menerima kebenaran dari siapa saja, menyadari keagungan Allah Ta’ala, tidak sombong atas karunia yang Allah Ta’ala telah berikan, rendah hati dan mudah bergaul dengan siapa saja tanpa membedakan, bersabar dan mendo’akan dengan kebaikan atas ejekan orang lain, berjalan dengan penuh kerendah hatian atau tidak berjalan dengan rasa angkuh, tidak memalingkan wajah ketika bertemu orang lain, tidak membanggakaniri sendiri, bersikap lemah lembut dan saling menyayangi terhadap sesama mukmin.
Konsep Syafa’at dalam Tafsir Fī Ẓilāl Al-Qur’ān rohmanul, fatkhur; Amrulloh, Muhammad; saputra, akhmadiyah
El-Wasathy: Journal of Islamic Studies Vol 2 No 1 (2024): El-Wasathy: Journal of Islamic Studies
Publisher : Lembaga Swadaya Masyarakat Asosiasi Masyarakat Madani Indonesia (AMMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61693/elwasathy.vol21.2024.146-161

Abstract

Studi ini menginvestigasi pemahaman Al-Qur’an tentang konsep Syafa’at, menegaskan bahwa bagi pelaku dosa, tidak ada kesempatan untuk larut dalam perilaku tersebut. Syafa’at dianggap sebagai proses yang tidak pasti, memerlukan persetujuan Ilahi, dan harus dilewati oleh setiap individu yang berharap akannya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian studi Pustaka dengan Tafsir Fī Ẓilāl Al-Qur’ān karya Sayyid Quthb sebagai sumber utama menurut Sayyid Quthb. Syafa’at adalah permohonan bantuan atau keberkahan dari orang lain dengan harapan doa-doa mereka akan diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Namun, keyakinan pada keesaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala tetap menjadi prasyarat utama dalam memahami konsep Syafa’at, sehingga segala bentuk praktik kesyirikan harus ditolak. Syafa’at adalah hak eksklusif Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan hanya dapat diberikan dengan izin-Nya. Para pemberi Syafa’at termasuk para nabi, malaikat, dan orang-orang mukmin yang saleh. Tetapi syafa’at hanya berlaku bagi mereka yang diridhai Allah Subhanahu Wa Ta’ala, beriman, dan beramal saleh. Syafa’at tidak diberikan kepada mereka yang melakukan kesyirikan atau kemaksiatan, menekankan pentingnya keimanan, amal saleh, dan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Makna Kebahagiaan dalam Lafadz al-Farah menurut Tafsir al-Maraghi Zulfassholihah, Farhana; Amrulloh, Muhammad; Faridah, Faridah
Hamalatul Qur'an : Jurnal Ilmu Ilmu Alqur'an Vol. 5 No. 2 (2024): December 2024
Publisher : Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an Jogoroto Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/hq.v5i2.208

Abstract

Happiness is a theme that people always talk about. What is its essence and what paths should be taken to get it. But not every human being can find an easy and correct path to achieve his or her goals of happiness. The word that means happiness in the Qur'an is mentioned using several words, faroha or al-farah as one of the words that means happiness is found in 22 verses with various derivations. To facilitate understanding of the lafadz, this research will focus on the meaning of happiness on the lafadz al-farah according to the interpretation of al-Maraghi. This study uses the method of literature or library research with descriptive analytical approach or thematic studies. The results of research and discussion obtained are that the meaning of happiness in lafadz al-farah is generally divided into two; happiness that is positive and happiness that is negative. Positive happiness, such as happiness that comes from the grace of Allah, is happiness that brings gratitude and joy. While negative happiness such as worldly happiness and happiness that makes us arrogant and proud of ourselves is happiness that is ephemeral, temporary and not infrequently also becomes a sin. Some of the meanings of happiness that the author gets from the verses with the word al-farah are; Happiness for disobeying Allah's commands, happiness in disobedience, happiness that causes pride and pride, happiness over the blessings of the world, happiness for the grace of Allah, and happiness over the suffering of others.