Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Adaptasi Alat Ukur Literasi Gizi untuk Mahasiswa Tahun Pertama Universitas Halu Oleo Andriani, Wa Ode Sri; Anshari, Dien; Fitirani, Yessy; Sopamena, Yoslien; Pontambing, Yulita Sirinti
Window of Health : Jurnal Kesehatan Vol. 04 No.01 (Januari, 2021)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/woh.v0i0.446

Abstract

Literasi gizi adalah tingkatan dimana seseorang memiliki kapasitas untuk memperoleh, mengolah, dan memahami informasi dasar dan layanan gizi guna membuat keputusan gizi yang tepat. Penelitian mengenai literasi gizi masih belum banyak dilakukan di Indonesia karena belum banyak instrumen yang layak untuk mengukur literasi gizi. Penelitian ini bertujuan untuk mengadaptasi instrumen The Newest Vital Sign (NVS) untuk digunakan pada mahasiswa program sarjana Universitas Halu Oleo di Sulawesi Tenggara. Tahap pertama peneliti mengadaptasi NVS melalui wawancara kognitif pada mahasiswa S1 reguler tahun pertama Universitas Halu Oleo untuk mengevaluasi kemudahan dan pemahaman akan pertanyaan dan pilihan jawabannya. Instrumen yang telah diadaptasi kemudian digunakan melalui survey daring untuk mengumpulkan data dari 379 sampel mahasiswa tahun pertama Universitas Halu Oleo. Data dianalisis untuk reliabilitas antar-item, validitas konstruk, serta statistik deskriptif. Hasil adaptasi NVS memperoleh nilai reliabilitas antar-item yang cukup (Cronbach’s Alpha=0,60), dan memiliki asosiasi positif dengan domain fungsional dari Health Literacy Scale (HLS-EU-Q16) seperti yang diharapkan (r=0.167, p<0,01). Skor rata-rata dari 6 pertanyaan NVS adalah 2.48 (SD=1,40). NVS versi adaptasi ini dapat digunakan sebagai instrumen untuk mengukur literasi gizi pada mahasiswa program sarjana Universitas Halu Oleo.
Potensial opini masyarakat dalam konten sosial media menimbulkan hesitency terhadap vaksin COVID 19 : A Literature Review Yessy Fitriani; Yoslien Soepamena
VISIKES: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 20, No 2 (2022): VISIKES (SUPLEMEN)
Publisher : Dian Nuswantoro Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33633/visikes.v20i2Supp.5748

Abstract

ABSTRACT Background and objective: Vaccine hesitency is a sign that the public is late in accepting or refusing the COVID 19 vaccine. Misinformation or hoax news on social media can reduce public trust in the COVID 19 vaccine. The study aims to collect, analyze and summarize relevant findings in the literature scientifically, it is possible to be able to  provide an assessment of what has been revealed by research so far about how social media (its content or its consumer use) can affect people’s knowledge and beliefs about the COVID-19 vaccine. Methods: Systematic review using Pubmed, ProQuest, Google Scholar and Science Direct. Result: 10 articles related to COVID 19 vaccine doubts on social media. Conclusion: Misinformation on the COVID 19 vaccine can endanger public opinion that is not anti-vaccine. For example, there are hoax news about the side effects of the COVID 19 vaccine that are not based on existing facts. In addition, the comments of people who are anti vaccine can influence public opinion, giving rise to doubts. Responding to the issue of COVID 19 vaccine hesitancy on social media such as Facebook, Twitter, and other social media. There has been a lot of misinformation related to the COVID-19 vaccine. Whereas social media platforms have the opportunity to provide information that can increase the use of the COVID-19 vaccine. Keywords: potential opinion, social media, hesitency, COVID 19
ADAPTASI ALAT UKUR LITERASI KESEHATAN PADA MAHASISWA ANGKATAN PERTAMA UNIVERSITAS ANDALAS PADANG TAHUN 2019 Yessy Fitriani; Wa Ode Arin Sri Andriani; Yoslien Sopamena; Yulita Sirinti; Dien Anshari
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh) Vol 6, No 1 (2020): Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh (JUKEMA)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/jukema.v6i1.802

Abstract

Latar Belakang: Literasi kesehatan adalah kemampuan seseorang untuk mendapatkan, memproses dan memahami informasi serta pelayanan kesehatan dasar yang diperlukan untuk mengambil keputusan yang tepat mengenai kesehatan. Penelitian mengenai bagaimana literasi kesehatan berkaitan dengan status kesehatan seseorang masih belum banyak dilakukan di Indonesia, terutama karena belum adanya instrumen yang layak untuk mengukur tingkat literasi kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengadaptasi versi singkat dari instrumen Health Literacy Scale yang dikembangkan di Uni Eropa (HLS-EU-Q16) agar dapat digunakan untuk kelompok usia remaja akhir dan dewasa muda di Sumatera Barat. Metode: Penelitian kualitatif ini mengambil data melalui wawancara kognitif dengan 10 mahasiswa tingkat pertama di Universitas Andalas, Sumatera Barat yang direkrut secara purposif pada Juni 2019. Panduan wawancara dikembangkan dari 16 pertanyaan dalam instrumen HLS-EU-Q16 yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Hasil: Secara umum informan banyak yang kurang paham dengan penggunaan frasa yang baku (seperti “mengambil keputusan”, “membutuhkan pemeriksaan kesehatan” dan “menilai mana perilaku sehari-hari” serta informan mengakui kesulitan memahami kosa kata “dokter lain atau second opinion”). Kesimpulan: Instrumen HLSE-EU-Q16 dapat digunakan untuk kalangan usia remaja akhir dan dewasa muda dengan penyesuaian pada pilihan frasa yang lebih mudah dipahami.
National Health Insurance Scheme: Internal and External Barriers in the Use of Reproductive Health Services among Women Martha, Evi; Lestari, Herna; Zulfa, Resvi Siti; Sopamena, Yoslien
Kesmas Vol. 16, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lack of familiarity among the community, medical workers, and administrative staff regarding reproductive health services covered by Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) or the National Health Insurance (NHI) in Indonesia remained a problem. Therefore, this resulted in sub-optimal use of the medical services, as shown by surveys from the Women's Health Foundation for three consecutive years (2015-2017). This qualitative study was conducted with a Rapid Assessment Procedure design in three cities within Indonesia: Padang Pariaman, Manado, and Kupang. Data were collected through IDIs (n = 47informants) and 6 FGDs (7 persons/group). Participants also consisted of NHI RHS users (mothers and young women), administrative officers at health facilities, medical services providers, and officials related to the NHI assistance. Data were managed using NVivo version 2.0 software, accompanied by thematic analysis. The internal barriers in NHI use included inadequate knowledge of RHS covered by NHI, and a culture of shame in informants. External barriers included additional costs for medicines not covered by NHI, the dissatisfaction of health services provided by medical workers, busy work and household activities, and lack of women's role in decision-making within families, which related to reproductive wellness.
DETERMINAN SOSIAL YANG BERKAITAN DENGAN LITERASI GIZI PADA MAHASISWA PROGRAM SARJANA REGULER UNIVERSITAS PATTIMURA ANGKATAN 2018 (ANALISIS DATA SEKUNDER: STUDI LITERASI KESEHATAN 2019) Sopamena, Yoslien; Anshari, Dien
Molucca Medica Vol 16 No 2 (2023): VOLUME 16, NOMOR 2, OKTOBER 2023
Publisher : Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/10.30598/molmed.2023.v16.i2.148

Abstract

Literasi gizi merupakan salah satu prediktor penyakit tidak menular, namun belum banyak penelitian yang menilai kemampuan literasi gizi masyarakat, termasuk pada kelompok masyarakat berpendidikan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara determinan sosial dan literasi gizi pada mahasiswa program sarjana di Universitas Pattimura angkatan 2018 dengan menggunakan data sekunder Studi Literasi Kesehatan 2019. Enam determinan yang diukur yaitu jenis kelamin, uang saku mingguan, status tempat tinggal, suku, partisipasi sosial dan program pendidikan. Tingkat literasi gizi diukur menggunakan kuesioner The Newest Vital Signs. Analisa deskriptif terdiri dari frekuensi untuk variabel kategorik dan mean, median, varian untuk variabel numerik. Uji non-parametrik Mann-Whitney dilakukan untuk mencari hubungan antar variabel dan regresi liner multivariabel untuk mencari variabel yang paling berpengaruh. Dari 382 partisipan, lebih banyak yang memiliki tingkat literasi yang tidak adekuat dibanding yang adekuat (54,7% vs 45,3%). Adapun rerata skor literasi gizi seluruh partisipan adalah 2,31 (SD=1,30) dari skala 6. Untuk determinan sosialnya, hanya keragaman suku yang diketahui memiliki hubungan yang signifikan dengan skor literasi gizi. Penelitian lanjutan disarankan untuk mengeksplorasi determinan lain yang berkaitan dengan literasi gizi. Nutrition literacy is one of the predictors of non-comunicable diseases; however, research around nutrition literacy assessment is lacking in Indonesia, including among its well-educated population. This study aimed to examine the determinants of nutrition literacy among first year undergraduate students of the University of Pattimura, Maluku. Using data derived from the Health Literacy Study 2019, six determinants of nutrition literacy (i.e., sex, weekly expenditure, living place status, perceived ethnic diversity, social participation and education programs) were analyzed. Nutrition literacy was measured using the adapted 6-item Newest Vital Signs. Descriptive statistic of frequency, mean and median was used to describe each of the main variables. The non-parametric Mann-Whitney was performed to examine the association between independent and dependent variables. Linear regression linear was used to analyze association between independent variables and nutriton literacy. Of the 382 participants, the average score of nutrition literacy was 2,31 (SD=1,30), with more than half of them have inadequate nutrition literacy (54,7%) compared to those who have adequate nutrition literacy (45,3%). Perceived ethnic diversity was the only social determinant that significantly associates with nutrition literacy. Future research exploring association of other social determinants to nutrition literacy is recommended.