Anderson, Lindin
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

KITAB KISAH PARA RASUL: Landasan Doktrin Penanaman Gereja Mapule, Ashar; Anderson, Lindin
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 5, No 1 (2024): MEI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v5i1.111

Abstract

The Book of Acts plays an essential role in the doctrine of church planting. This can be seen from the numerous studies that use the Book of Acts as their theoretical foundation, but they fail to explain the primary reason for using this book as their main foundation. Therefore, it is necessary to conduct a study that can help provide an explanation that the doctrine of church planting built on the principles found in the Book of Acts is a biblical doctrine. This research uses a qualitative research method with a library research approach. The research results show that the Book of Acts provides a complete and systematic picture of the early history of the development of the early church and contains many biblical principles for the success of the church planting doctrine movement. Abstrak:Ada banyak penelitian yang dilakukan tentang penanaman gereja dan menjadikan Kitab Kisah Para Rasul sebagai landasan teologisnya. Pada umumnya penelitian-penelitian tersebut langsung membahas metode, pola dan prinsip penanaman gereja berdasarkan Kitab Para Rasul tapi tidak menjelaskan secara detil dan sistematis mengapa kitab itu yang menjadi landasan atau rujukan utamanya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (Library Research). Hasil penelitian menunjukan Pertama, Kitab Kisah Para Rasul memberikan gambaran yang lengkap mengenai sejarah awal perkembangan gereja mula-mula. Kedua, Kitab Kisah Para Rasul mengandung prinsip-prinsip alkitabiah yang sangat berharga dan relevan sebagai pedoman bagi gerakan penanaman gereja di setiap zaman. Prinsip-prinsip tersebut antara lain: peran Roh kudus, bertekun dalam doa, giat dalam penginjilan dan pemuridan. Kata Kunci: Kisah Para Rasul, Landasan Alkitabiah, Penanaman Gereja
Kepenuhan hidup didalam Kristus Menurut kolose 2:6-15 Anderson, Lindin; Aprianti, Bernadeta Beka Fitri
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 3, No 1 (2021): Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v3i1.71

Abstract

Kepenuhan hidup di dalam Kristus merupakan suata keadaan yang yang menunjukan hubungan Kritus dengan orang-orang percaya yang diawali oleh iman setiap orang percaya di dalam Kristus dan kepenuhan itu dapat terjadi jika orang percaya melakukan perintah yang disertai dengan ketaatan  kepada Yesus sebagai kepala yang terbangun dengan relasi melalui hubungan antara Allah dan gereja (orang percaya). Dipenuhi didalam Kritus dalam tulisan ini dibuat dengan tujuan supaya orang percaya terfokus dalam menjalani hidup dengan tetap mengalami kepenuhan didalam Kristus ditengah tantangan dan penderitaan yang dialaminya seperti tantangan yang dihadapi oleh jemaat Tuhan yang ada di Kolose. Kepenuhan hidup didalam Kristus dapat diwujudkan oleh orang percaya dengan hidup didalam Kristus, Berakar dan dibangun di Dalam Kristus, Berhati-hati terhadap Ajaran Sesat, Meninggalkan Kehidupan Lama, Dibaptis dan dibangkitkan di Dalam Kristus, Kristus mengampuni Setiap Pelanggaran. Kata Kunci: Kepenuhan Hidup di Dalam Kristus, Kolose 2:6-15 
Perkawinan Ulang Pemimpin Gereja:: Analisis Sosio Teologis atas Pendeta Pasca Ditinggal Pasangan Simon, Simon; Anderson, Lindin
Jurnal Salvation Vol. 6 No. 1 (2025): Juli 2025
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v6i1.61

Abstract

Abstract: The focus of this article is the phenomenon of remarriage among church leaders, particularly male and female pastors who have lost their spouses. Although the experience has a significant impact on the personal lives and individual ministries of the pastors, this research is based on the lack of comprehensive studies regarding the socio-theological aspects of that experience. The main research question of this article is, how does the socio-theological context of marriage influence church leadership? This article is written using a qualitative methodology with a multiple-case study. The findings of this article reveal that the remarriage of church leaders often elicits a range of responses from the congregation, from acceptance to rejection. This also affects the social relations and leadership authority of the pastor in the church. Additionally, church leaders face spiritual and emotional pressure when deciding to remarry. Therefore, the church must create more empathetic and inclusive pastoral guidelines to support leaders in the remarriage process while they are in a state of mourning. Furthermore, the church should provide opportunities for theological discussions on this issue. Abstrak: Fokus artikel ini adalah fenomena pernikahan ulang di kalangan pemimpin gereja, khususnya pendeta pria dan wanita yang kehilangan pasangannya. Meskipun pengalaman tersebut memiliki dampak yang signifikan pada kehidupan pribadi dan pelayanan individu kepada para pendeta, penelitian ini didasarkan pada kurangnya studi komprehensif mengenai aspek sosio-teologis dari pengalaman tersebut. Rumusan pertanyaan utama artikel ini adalah, bagaimana konteks sosio-teologis perkawinan dalam kepemimpinan gereja? Artikel ini ditulis menggunakan metodologi kualitatif dengan studi kasus. Temuan artikel ini mengungkapkan bahwa perkawinan ulang pemimpin gereja sering menimbulkan respons yang beragam dari jemaat, mulai dari menerima hingga menolak. Ini juga memengaruhi relasi sosial dan otoritas kepemimpinan pendeta di gereja. Selain itu, pemimpin gereja menghadapi tekanan spiritual dan emosional saat memutuskan untuk menikah kembali. Oleh sebab itu, gereja harus membuat pedoman pastoral yang lebih empatik dan inklusif untuk mendukung para pemimpin dalam proses perkawinan ulang saat mereka dalam keadaan duka. Selain itu, gereja harus memberikan kesempatan untuk adanya diskusi teologis tentang masalah ini