Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

CREATIVE INDUSTRY DEVELOPMENT IN PESANTREN TEBUIRENG Al Hasyim, M. Musa
Shirkah: Journal of Economics and Business Vol 4, No 3 (2019)
Publisher : IAIN Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (584.349 KB) | DOI: 10.22515/shirkah.v4i3.275

Abstract

Film, short movie, and animation are one of the sub-sectors in creative industry which are importantly considered for development of Indonesia?s creative economy. Pesantren (Islamic boarding school) have opportunity to get involve it. Kopi Ireng (Komunitas Photography Tebuireng, Tebuireng Photography Community) inspired Tebuireng santri to establish production house, namely Maksi (Rumah Produksi Tebuireng, Tebuireng Production House). Kopi Ireng has won many competitions while Maksi has produced two movies both Binar and Sakinah. Both Kopi Ireng and Maksi are an effort to regenerate the progress of film industry in Indonesia, especially in pesantren. Film in pesantren is something new which is sometimes considered unusually. Some of pesantren claimed that film activity will break the old tradition of santri and pesantren in studying Islamic studies. Both Kopi Ireng and Maksi believe that film is the way to spread dakwah and origin culture of Indonesia in the era of 4.0 industrial revolution. Keyword: 4.0 era, creative industry, film, Pesantren Tebuireng 
OIC and Energy Transition in The Midst of The Complexity of The Middle East: OKI DAN TRANSISI ENERGI DI TENGAH KOMPLEKSITAS KAWASAN TIMUR TENGAH Al Hasyim, M. Musa
JISIP UNJA (Jurnal Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Jambi) Vol 9, No1 (2025): April
Publisher : Jurusan Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Fakultas Hukum Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jisipunja.v9i1.42953

Abstract

Artikel ini menjelaskan tentang tidak efektifnya Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dalam mengimplementasi percepatan transisi energi di negara-negara anggotanya karena kompleksitas politik di Timur Tengah dengan terpecahnya aliansi, aliansi Arab Saudi dengan blok Barat bersama Amerika Serikat melawan aliansi Iran bersama Blok Timur Rusia. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus dan komparasi yang berkaitan dengan perubahan iklim dan transisi energi kontemporer yang dilakukan oleh organisasi internasional. Dalam memecahkan permasalahan, penelitian ini menggunakan teori Neo Realisme dalam studi Hubungan Internasional, di mana ditemukan aturan dan program-program dalam OKI dalam upaya percepatan transisi energi tidak cukup sukses karena sistem anarki internasional sehingga hasil kesepakatan bersama belum maksimal dijalankan oleh anggotanya. Masing-masing anggota OKI tidak saling mendukung dalam menghadapi ancaman bersama bernama perubahan iklim dan justru memandang aliansi di Timur Tengah sebagai ancaman bersama yang jauh lebih penting. Hasil penelitian menunjukkan meski Timur Tengah adalah wilayah paling rentan terhadap perubahan iklim, hal tersebut tidak menjadikan Timur Tengah cukup sadar betapa pentingnya keamanan lingkungan akibat perubahan iklim yang mengancam keselamatan seluruh makhluk hidup di muka bumi.
Perbandingan Strategi Diplomasi Budaya Hallyu, Cool Japan, dan Neo-Ottomanisme di Indonesia Al Hasyim, M. Musa; Devi, Juristia Indah
Jurnal Al Azhar Indonesia Seri Ilmu Sosial Vol 6, No 3 (2025): Oktober 2025
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/jaiss.v6i3.4182

Abstract

Penelitian ini membahas dinamika soft power dengan fokus pada perbandingan antara strategi diplomasi budaya Turki melalui Neo-Ottomanisme, Korea Selatan melalui Hallyu (Korean Wave), dan Jepang melalui Cool Japan. Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dan studi perbandingan sedikit negara dengan analisis literatur yang berkaitan dengan tren budaya populer asing di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi diplomasi budaya Hallyu Korea dan Cool Japan lebih mudah diterima masyarakat Indonesia dengan dipengaruhi oleh konsistensi branding budaya yang lebih bervariasi, penetrasi media populer, kedekatan regional sebagai sesama bangsa Asia, serta aktivitas kedua budaya tersebut di masyarakat Indonesia termasuk di perguruan tinggi. Sebaliknya, Neo-Ottomanisme belum mampu membentuk citra budaya yang kuat di benak publik Indonesia dibandingkan dengan kedua strategi dari diplomasi budaya Hallyu Korea dan Cool Japan karena titik mulai diplomasi Neo-Ottomanisme masih terbilang baru meskipun adanya kedekatan historis Turki Utsmaniyah dengan Aceh dan solidaritas dengan masyarakat Indonesia sebagai sama-sama negara dengan mayoritas muslim di dalamnya.  Kata kunci: Cool Japan, diplomasi budaya, Hallyu, Neo Ottomanisme, soft power