Khasanah, Irma Khasanah
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Budaya Sebagai Perekat Hubungan Antara Umat Beragama di Suku Tenger Huda, M Thoriqul; Khasanah, Irma Khasanah
SANGKéP: Jurnal Kajian Sosial Keagamaan Vol. 2 No. 2 (2019): Radikalisme, Kritik Teori Sosiologi dan Wacana Politik di Indonesia
Publisher : UIN Mataram dan Asosiasi Sosiologi Agama Indonesia (ASAGI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/sangkep.v2i2.801

Abstract

Indonesia is a country that has diversity in ethnicity, ethnicity, race, language, religion, and culture. However, this diversity is capable of causing conflicts both internally and externally. As with many cases that occur in Indonesia. Religion itself is a foothold, belief, and life guide, even as a scapegoat for conflicts in society. But other than the tengger tribe located in Lumajang Regency, Malang Regency, Pasuruan Regency and Probolinggo Regency, there are three religions that coexist in one village namely Islam, Hinduism and Buddhism. In the midst of pluralism, different societies of understanding and belief turned out to be able tohave an attitude of tolerance and mutual respect between each other. Religious diversity is not a problem for the agrosari community to interact in carrying out daily activities. Regarding tolerance among religious people has recently become a very sticky issue among academics and the public. Local wisdom and culture are solutions to overcome this problem. Local wisdom in the Tengger tribe community is inseparable from the values of Javanese culture, as well as the cultural heritage of Majapahit which is still developing with mutual respect, tolerance, and respect for ancestral spirits and there are no striking differences in ethnicity other than differences in religious beliefs. Togetherness is manifested in the form of traditional rituals such as theUnan-Unan ceremony, Bari'an (Selamatan). Each religion has its own demands for tolerance in the Tengger tribe is ingrained, the Tengger tribe community also upholds equality and democracy in community life and respects religious leaders and dukun (sepiritual teachers) rather than administrative leaders. Because all are brothers, all families, still peaceful and harmonious, which is the mandate and ancestral heritage.
Gizi Seimbang Wujud Mencapai Generasi Emas Berkarakter dan Berbudaya Winarni, Dyah Setyaningrum; Nugraheni, Diah; Khasanah, Khasanah; Slamet, Slamet
Manggali Vol 3 No 1 (2023): Manggali
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Ivet

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31331/manggali.v3i1.2511

Abstract

Pandemi Covid 19 memberikan dampak yang signifikan bagi masyarakat Indonesia secara menyeluruh. Dampak yang signifikan yang muncul adalah banyaknya anak yang mengalami gizi buruk. Dengan era baru ini perlu adanya upaya untuk memperbaiki gizi anak salah satunya dengan sosialisasi gizi kepada orang tua, serta alternatif pangan sebagai upaya untuk mencukupi gizi anak. Gizi yang terpenuhi atau seimbang berdampak pada meningkatnya kemampuan kognitif dan aktivitas yang dilakukan anak. Tujuan pengabdian ini memberikan informasi tentang alternatif pangan untuk memenuhi gizi dan pola pembelajaran anak untuk membentuk anak berkarakter dan berbudaya. Metode yang dilakukan adalah dengan sosialisasi secara simultan selama 6 bulan dalam kegiatan posyandu. Hasil pengabdian orang tua lebih spesifik berkonsultasi mengenai perkembangan anaknya terutama berkaitan dengan alternatif pangan untuk mencukupi gizi anak. Gizi anak yang terpenuhi mampu meningkatkan kemampuan kognitif dan membantu mempermudah proses adaptasi dalam membentuk karakter anak sehingga lebih berkarakter dan berbudaya sesuai dengan budaya yang ada di lingkungannya.