Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Studi Awal Pengukuran Daisy Chaining Detektor Ionisasi pada Berkas Foton 6 MV Flattening Filter Free Lapangan Kecil Firmansyah, Assef Firnando; Firmansyah, Okky Agassy; Rajagukguk, Nurman; Ryangga, Dea
Jurnal Ilmu Fisika Vol 12, No 1 (2020): Published in March 2020
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.672 KB) | DOI: 10.25077/jif.12.1.16-25.2020

Abstract

Salah satu alternatif untuk melakukan kalibrasi detektor ionisasi kecil pada lapangan radiasi kecil adalah dengan melakukan pengukuran daisy chaining. Makalah ini menguraikan pengukuran daisy chaining detektor ionisasi kecil pada berkas foton 6 MV flattening filter free lapangan radiasi kecil. Langkah pertama pengukuran daisy chaining adalah melakukan kalibrasi detektor ionisasi medium 0,13 cm3 terhadap detektor ionisasi standar 0,6 cm3 pada lapangan radiasi 10 cm × 10 cm. Setelah mendapatkan faktor kalibrasi dosis serap air (ND,W) dari detektor ionisasi medium, langkah berikutnya adalah menggunakan ND,W tersebut untuk mengalibrasi silang detektor ionisasi mikro 0,016 cm3 pada lapangan 5 cm × 5 cm. ND,W hasil kalibrasi tersebut dapat digunakan untuk pengukuran di lapangan radiasi kurang dari 5 cm × 5 cm. Penentuan laju dosis serap air dilakukan di lapangan 3 cm × 3 cm dan 2 cm × 2 cm. Verifikasi dilakukan dengan membandingkan hasil penentuan laju dosis serap air menggunakan ND,W hasil pengukuran daisy chaining, pengukuran langsung menggunakan ND,W detektor ionisasi tanpa pengukuran daisy chaining dan hasil perhitungan dari treatment planning system (TPS). Hasil yang diperoleh menunjukkan adanya perbedaan antara pengukuran daisy chaining, pengukuran langsung, dan hasil perhitungan TPS. Perbedaan masih dalam rentang kurang dari 3%.
Studi Awal Pengukuran Daisy Chaining Detektor Ionisasi pada Berkas Foton 6 MV Flattening Filter Free Lapangan Kecil Assef Firnando Firmansyah; Okky Agassy Firmansyah; Nurman Rajagukguk; Dea Ryangga
Jurnal Ilmu Fisika Vol 12 No 1 (2020): March 2020
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jif.12.1.16-25.2020

Abstract

Salah satu alternatif untuk melakukan kalibrasi detektor ionisasi kecil pada lapangan radiasi kecil adalah dengan melakukan pengukuran daisy chaining. Makalah ini menguraikan pengukuran daisy chaining detektor ionisasi kecil pada berkas foton 6 MV flattening filter free lapangan radiasi kecil. Langkah pertama pengukuran daisy chaining adalah melakukan kalibrasi detektor ionisasi medium 0,13 cm3 terhadap detektor ionisasi standar 0,6 cm3 pada lapangan radiasi 10 cm × 10 cm. Setelah mendapatkan faktor kalibrasi dosis serap air (ND,W) dari detektor ionisasi medium, langkah berikutnya adalah menggunakan ND,W tersebut untuk mengalibrasi silang detektor ionisasi mikro 0,016 cm3 pada lapangan 5 cm × 5 cm. ND,W hasil kalibrasi tersebut dapat digunakan untuk pengukuran di lapangan radiasi kurang dari 5 cm × 5 cm. Penentuan laju dosis serap air dilakukan di lapangan 3 cm × 3 cm dan 2 cm × 2 cm. Verifikasi dilakukan dengan membandingkan hasil penentuan laju dosis serap air menggunakan ND,W hasil pengukuran daisy chaining, pengukuran langsung menggunakan ND,W detektor ionisasi tanpa pengukuran daisy chaining dan hasil perhitungan dari treatment planning system (TPS). Hasil yang diperoleh menunjukkan adanya perbedaan antara pengukuran daisy chaining, pengukuran langsung, dan hasil perhitungan TPS. Perbedaan masih dalam rentang kurang dari 3%.
Tatalaksana Penyinaran Radioterapi 3DCRT Field in Field (FIF) dengan Imobilisasi Thorax Abdomen pada Pasien Kanker Payudara di Unit Radioterapi Rumah Sakit Lavalette Malang Ni Luh Putu Ema Ardiantari; I Putu Eka Juliantara; Dea Ryangga
DIAGNOSA: Jurnal Ilmu Kesehatan dan Keperawatan Vol. 1 No. 4 (2023): November : Jurnal Ilmu Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Katolik Widya Karya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59581/diagnosa-widyakarya.v1i4.1428

Abstract

The 3DCRT field in field (FIF) technique used in Post MRM breast cancer patients at the Radiotherapy Unit at Lavalette Hospital Malang uses 4 copy fields including supraclavicular (AP), axilla (PA), tangential (ML/LM). However, in the Radiotherapy Unit at Lavalette Hospital, Malang, the immobilization device does not use a breast board but uses an abdominal thorax or AIO Breast And Lung Board. The aim of this study is to describe the management or procedures for administering 3DCRT field in field (FIF) radiotherapy with abdominal thorax immobilization in Post MRM breast cancer patients at the Radiotherapy Unit at Lavalette Hospital, Malang. Treatment of 3DCRT field in field (FIF) radiotherapy with abdominal thorax immobilization in Post MRM breast cancer patients at the Radiotherapy Unit at Lavalette Hospital Malang consists of an examination and consultation with a radiation oncology specialist, CT Simulator, then treatment planning system (TPS), verification carried out before the first fraction and participation stage. The advantage of using the 3DCRT field in field (FIF) technique with abdominal thorax immobilization in Post MRM breast cancer patients at the Radiotherapy Unit at Lavalette Hospital, Malang, is that the copying area is simple, the copying comfort is better, it can reduce hotspots, and it can reduce the dose received by the organs in the area. risk (OAR). The disadvantage is that it requires more precision, especially RTT as an operator for the use of additional immobilization devices other than the 5 degree abdominal thorax.
Tatalaksana Penyinaran Radioterapi 3DCRT Field in Field (FIF) dengan Imobilisasi Thorax Abdomen pada Pasien Kanker Payudara di Unit Radioterapi Rumah Sakit Lavalette Malang Ni Luh Putu Ema Ardiantari; I Putu Eka Juliantara; Dea Ryangga
DIAGNOSA: Jurnal Ilmu Kesehatan dan Keperawatan Vol. 1 No. 4 (2023): November : Jurnal Ilmu Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59581/diagnosa-widyakarya.v1i4.1428

Abstract

The 3DCRT field in field (FIF) technique used in Post MRM breast cancer patients at the Radiotherapy Unit at Lavalette Hospital Malang uses 4 copy fields including supraclavicular (AP), axilla (PA), tangential (ML/LM). However, in the Radiotherapy Unit at Lavalette Hospital, Malang, the immobilization device does not use a breast board but uses an abdominal thorax or AIO Breast And Lung Board. The aim of this study is to describe the management or procedures for administering 3DCRT field in field (FIF) radiotherapy with abdominal thorax immobilization in Post MRM breast cancer patients at the Radiotherapy Unit at Lavalette Hospital, Malang. Treatment of 3DCRT field in field (FIF) radiotherapy with abdominal thorax immobilization in Post MRM breast cancer patients at the Radiotherapy Unit at Lavalette Hospital Malang consists of an examination and consultation with a radiation oncology specialist, CT Simulator, then treatment planning system (TPS), verification carried out before the first fraction and participation stage. The advantage of using the 3DCRT field in field (FIF) technique with abdominal thorax immobilization in Post MRM breast cancer patients at the Radiotherapy Unit at Lavalette Hospital, Malang, is that the copying area is simple, the copying comfort is better, it can reduce hotspots, and it can reduce the dose received by the organs in the area. risk (OAR). The disadvantage is that it requires more precision, especially RTT as an operator for the use of additional immobilization devices other than the 5 degree abdominal thorax.
english english Ulya, Syarifatul; Ryangga, Dea; Wibowo, Wahyu Edy; Nasution, Nuruddin; Pawiro, Supriyanto Ardjo
Jurnal Profesi Medika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 17 No 1 (2023): Jurnal Profesi Medika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta Kerja Sama KNPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33533/jpm.v17i1.5848

Abstract

Regarding the increasing use of small-field photons in clinical treatment, in this study, we investigate the use of small-field electron beams in clinical treatment. This study aimed to evaluate small-field electron beam dosimetry of the nasopharyngeal, thyroid, and ethmoid sinus carcinoma cases. Dose measurement was done using EBT3 film. In nasopharyngeal cases with a homogenous area and irregular surface, the dose discrepancies for 6 MeV energy were unpredictable except for the 5×5 cm2 field size. For all energies in 5×5 cm2 field size, the dose discrepancies were less than 3%. In these cases, we found that a smaller electron beam field will increase the percentage of the dose discrepancy. This is caused by the effect of the lateral scatter disequilibrium in a small field electron beam. For ethmoid sinus cases, dose discrepancy depends on the field size and inhomogeneity of bone and tissue organ. Based on the evaluation of doses on the spinal cord, chiasm, and larynx (OAR), it can be seen that these organs received a very small dose. From this result, a small field electron beam is recommended for cases with a homogeneous target. However, in cases with a heterogenous target, further investigation is needed.
Pengaruh Aturan 10 kVp Terhadap Nilai Exposure Index pada Pemeriksaan Thorax dengan Modalitas Computed Radiography: The Effect of the 10 kVp Rule on Exposure Index Values in Thorax Examinations Using Computed Radiography Modality Pertiwi, Komang Rai Indah; Ryangga, Dea
Jurnal Surya Medika (JSM) Vol. 11 No. 2 (2025): Jurnal Surya Medika (JSM)
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/jsm.v11i2.7656

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh signifikan pada penerapan aturan 10 kVp terhadap nilai exposure index pemeriksaan thorax. Penelitian dilakukan dengan tiga variasi faktor eksposi yaitu dengan acuan 65 kV, 200 mA dan 10 s, kenaikan 10 kVp (75 Kv, 200 mA, 5 s) dan penurunan 10 kVp (55 kV, 200 mA, 20 s). Masing-masing faktor eksposi dilakukan sepuluh eksposi sehingga diperoleh 30 data. Hasil citra tersebut selanjutnya melihat nilai exposure index pada komputer CR. Untuk mengetahui normal atau tidaknya data serta pengaruh aturan 10 kVp terhadap nilai exposure index akan dilakukan pengolahan data dengan menggunakan uji regresi linear dari program SPSS versi 27. Hasil dan pembahasan penelitian ini menunjukan data exposure index berdistribusi normal sehingga dilanjutkan dengan uji regresi linear.Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh signifikan pada aturan 10 kVp terhadap nilai exposure index. Hal ini dapat dilihat dari hasil uji regresi linear yang menyebutkan nilai sig.(2-tailed) Exposure Index = 0,001 (sig < 0,05) yang artinya H0 ditolak dan Ha diterima. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa menerapkan penurunan 10 kVp pada pemeriksaan thorax dapat menekan nilai index esposure dan sekaligus dosis yang diterima pasien juga lebih rendah.
Uji Tegangan Tabung Sinar-X pada Pesawat Sinar-X Merk Toshiba dengan Insert Model BLR-1000A di Rumah Sakit Balimed Karangsem Bali: X-Ray Tube Tension Test on Toshiba Brand X-Ray Aircraft with Insert Model BLR-1000A Balimed Hospital Karangsem Bali Ryangga, Dea; Sandyartha, Arya; Astina, Yuda
Jurnal Surya Medika (JSM) Vol. 11 No. 2 (2025): Jurnal Surya Medika (JSM)
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/jsm.v11i2.7705

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui nilai penyimpangan keluaran tegangan tabung menggunakan alat ukur yang disebut kVp Meter pada pesawat sinar-X merk Toshiba dengan insert model BLR-1000A di Rumah sakit Balimed Karangasem Bali masih dalam batas yang diizinkan oleh ketetapan menurut Papp (2018) dan Perka BAPETEN No. 2 tahun 2018. Uji tegangan tabung wajib dilakukan pada pesawat sinar-X untuk mengetahui keluaran ataupun output pada control panel dan diukur menggunakan kVp Meter. Penelitian ini dilakukan pada bulan April 2024 dengan menggunakan metode kuantitatif pendekatan eksperimen. Populasi penelitian ini adalah seluruh kV yang digunakan mulai dari kV minimum sampai dengan maksimum. Sampel pada penelitian ini adalah 5 macam variasi nilai kV yang meliputi 40 kV, 50 kV, 60 kV, 70 kV, dan 80 kV. Penelitian uji tegangan tabung ini dilakukan dengan menggunakan faktor eksposi yaitu variasi nilai kV dari 40 kV – 80 kV, kuat arus tabung yaitu 100 mA dan waktu yaitu 0,1 second yang dilakukan eksposi sebanyak 15 kali dengan interval waktu 1 menit. Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa adanya peyimpangan pada 40 kV sebesar 0,6 %, 50 kV sebesar 0,3 %, 60 kV sebesar 0,4 %, 70 kV sebesar 0,2 %, dan 80 kV sebesar 0,9 %. Persentase penyimpangan keluaran tegangan yang dihasilkan oleh pesawat sinar-X tersebut pada persentase erorr maksimal dari 40 kV – 80 kV masih dalam batas toleransi yang diizinkan yaitu menurut Papp tahun 2018 sebesar 0,9% < 5 % atau pada Perka BAPETEN No. 2 tahun 2018 0,9% <10%.
Evaluasi dosis CT Simulator pada Radioterapi Head and Neck dan Pelvis Nurkamal, Aris; Sari, Ni Larasati Kartika; Ryangga, Dea; Mubarok, Sayid
Jurnal Ilmiah Giga Vol. 27 No. 1 (2024): Volume 27 Edisi 1 Tahun 2024
Publisher : Universitas Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47313/jig.v27i1.3755

Abstract

CT Simulator merupakan modalitas pencitraan dalam Radioterapi yang digunakan untuk delineasi dan kalkulasi dosis pada perencanaan terapi. AAPM TG.204 menyediakan faktor konversi yang lebih spesifik berdasarkan ukuran tubuh pasien untuk koreksi CTDIVol, karena CTDIVol bukanlah dosis radiasi yang diterima langsung oleh pasien. Meskipun memberikan manfaat, perhatian terhadap strategi penghematan dosis pada CT masih kurang. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi persentase peningkatan dosis radiasi menggunakan Size Specific Dose Estimate (SSDE) sesuai referensi AAPM TG.204. Jumlah pasien CT HNC dan CT Pelvis masing-masing adalah 10. Nilai CTDIVol pada konsol diverifikasi menggunakan dosimeter chamber pada fantom CTDI Body. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata nilai verifikasi CT HNC sebesar 2,78% dan CT Pelvis sebesar 2,02% (sesuai standar ACR, Bapeten ≤ 20%). Nilai rata-rata SSDE untuk CT HNC adalah 83,02 mGy dan untuk CT Pelvis 39,08 mGy. Rata-rata persentase peningkatan dosis terhadap dosis preskripsi terapi untuk CT HNC adalah 1,6% dan untuk CT Pelvis 0,43% (di bawah ICRU Report 50). Dosis CT HNC lebih besar karena arus tabung (mA) yang lebih tinggi sehingga intensitas sinar-X meningkat, ditambah Rotation Time (s) yang lebih lambat menyebabkan waktu paparan radiasi lebih lama, yang berpengaruh pada peningkatan dosis radiasi. Nilai dosis CT Pelvis melebihi nilai referensi I-DRL yaitu 17 mGy, dengan nilai rata-rata sebesar 27,31 mGy. Optimalisasi parameter pemindaian sangat penting, serta penggunaan modalitas pencitraan non-radiasi pengion seperti MRI yang memiliki berbagai keunggulan.