Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PENGARUH PEMBERIAN AKUPRESUR TERHADAP PENURUNAN EFEK SAMPING MUAL DAN MUNTAH PADA PASIEN TB PARU DENGAN PENGOBATAN OAT Pratiwi, Chaterina Janes; Hariyono, Rudi; Wahyuni, Lutfi; Pujiwati, Ely
Coping: Community of Publishing in Nursing Vol 12 No 1 (2024): Februari 2024
Publisher : Program Studi Sarjana Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2024.v12.i01.p06

Abstract

Pasien dengan infeksi TB Paru yang menjalani terapi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) umumnya mengalami efek samping mual muntah sehingga dapat meningkatkan tingginya angka drop out pada awal pengobatan. Pemberian akupresur pada titik P6 dan ST36 dipercaya mengurangi kejadian mual dan muntah akibat pemberian OAT. Desain penelitian eksperimental dengan pre-post test design. Teknik sampling yang dipakai dalam penelittian ini adalah purposive sampling. Terdapat 65 responden terlibat dalam penelitian ini. Responden merupakan pasien TB di Poliklinik TB Paru RSUD Bangil Kabupaten Pasuruan Jawa Timur. Pemberian terapi akupresur dilakukan oleh tenaga profesional bersertifikasi. Pengukuran mual muntah menggunakan Rhodes Index Nausea Vomiting and Retching (RINVR). Tingkat mual muntah sebelum diberikan terapi akupresur yaitu 31% responden mual berat, 42% responden mual sedang, dan 26% responden mual ringan. Sedangkan, tingkat mual muntah setelah terapi akupresur, yaitu 12% responden mual sedang, 80% responden mual ringan, dan 8% responden tidak mual. Hasil uji Wilcoxon Rank Test dengan nilai p = 0,000 yang berarti secara statistic dengan derajat kepercayaan 95% diyakini ada pengaruh pemberian akupresur terhadap penurunan efek samping mual muntah pada pasien TB Paru dengan pengobatan OAT. Semakin sering diberikan intervensi akupresur, maka keluhan mual muntah semakin berkurang.
The Relationship of Screen Tme with sleep Patterns in Toddler Children at Posyandu Mlaten Village Peni, Tri; Laili, Siti Indatul; Pratiwi, Chaterina Janes; Kamelia, Arina
Journal of Scientific Research, Education, and Technology (JSRET) Vol. 4 No. 3 (2025): Vol. 4 No. 3 2025
Publisher : Kirana Publisher (KNPub)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/jsret.v4i3.835

Abstract

Screen time in front of an electronic screen for a long time causes disturbances in children's sleep patterns, so that children will have difficulty concentrating, become irritable and appear tired. The aim of the research was to determine the relationship between screen time and sleep patterns in toddler children at the Posyandu in Mlaten Village. The research design used cross sectional. The population in this study were all mothers who had children aged 12-36 months at the Mlaten Village Posyandu, totaling 61 respondents. The sampling technique uses purposive Sampling. The research instrument uses sleep disturbance scale for children (SDSC). Data analysis using spearman rho. The research results showed that the majority of respondents who had high screen time activities (>120) per day experienced disturbed sleep patterns (95%). Spearman Rho test results show p value of 0.000. There is a relationship between screen time and sleep patterns in children. Excessive exposure to electronic screens with screen lighting that is too bright suppresses the secretion of melatonin, which regulates the sleep-wake cycle by influencing sleep phase delays. This causes disturbances in the quantity and quality of children's sleep.
Instrumen State-Trait Anxiety Inventory–Trait (STAI-T) Mengukur Kecemasan Pada Pasien Kemoterapi Pratiwi, Chaterina Janes; Ningsih, Arum Dwi
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 2, No 4 (2022): Volume 2 Nomor 4 (2022)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.002 KB) | DOI: 10.33024/mahesa.v2i4.7641

Abstract

ABSTRACT Nursing diagnosis for psychosocial problems that is often complained by chemotherapy patients is anxiety. Anxiety in cancer patients is often not identified in oncology nursing care, especially at the beginning of patients undergoing chemotherapy. The aim to know the effectiveness of State-Trait Anxiety Inventory-Trait (STAI-T) instrument in measuring the anxiety level of patients undergoing chemotherapy. A total of 33 chemotherapy patients were involved in this study. Based on the assessment with open-ended questions, it was found that 14 patients had no complaints of anxiety, 17 patients had mild anxiety, and 2 patients had moderate anxiety. However, with STAI-T instrument, different results were obtained from open-ended questions, 11 patients had mild anxiety, 15 patients had moderate anxiety and 6 patients had severe anxiety. Conclusion : STAI-T instrument that can measure the anxiety levels with better sensitivity than open-ended questions for patients undergoing chemotherapy. Keywords: Anxiety, STAI-T, Chemotherapy ABSTRAK Masalah keperawatan psikososial yang sering dikeluhkan pasien kemoterapi adalah cemas. Cemas pada pasien kanker sering tidak teridentifikasi dalam pelayanan keperawatan onkologi terutama diawal pasien menjalani kemoterapi. Tujuan mengimplementasikan instrumen State-Trait Anxiety Inventory–Trait (STAI-T) dalam mengukur tingkat cemas pasien kemoterapi. Sebanyak  33 pasien kemoterapi terlibat dalam penelitian ini. Berdasarkan pengkajian dengan pertanyaan terbuka didapatkan hasil 14 pasien tidak ada keluhan cemas, 17 pasien cemas ringan, dan 2 pasien cemas sedang. Namun dengan STAI-T didapatkan hasil yang berbeda dengan pertanyaan terbuka yaitu 11 pasien cemas ringan, 15 pasien cemas sedang dan 6 pasien cemas berat. Kesimpulan STAI-T merupakan instrumen yang dapat mengukur tingkat cemas pasien kemoterapi dibandingkan pertanyaan terbuka. Kata kunci: Cemas, STAI-T, Kemoterapi
Mengurangi Kelelahan Caregiver Kanker dengan Kegiatan Terapi Seni Bersama Perawat & Kader Kesehatan Pratiwi, Chaterina Janes
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 4 (2026): Volume 9 Nomor 4 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i4.13303

Abstract

ABSTRAK Caregiver kanker memiliki stressor yang tinggi karena harus berperan dan bertanggungjawab dalam perawatan pasienkanker. Perawatan yang diberikan berupa perawatan fisik, emosional, sosial dan finansial. Peran dan tanggung jawab yang dijalani caregiver dalam merawat anggota keluarga dengan penyakit kanker berdampak pada kesehatan fisik danmental caregiver, salah satu gejala yang paling sering dirasakan caregiver adalah kelelahan. Kelelahan yangbekepanjangan pada caregiver akan menyebabkan emosi yang tidak stabil, kemarahan, cemas, depresi, frustasi danketakutan serta menurunkan kualitas hidup. Kelelahan juga akan berdampak pada aktivitas sehari-hari caregiver sepertigangguan tidur, penurunan konsentrasi. Kelelahan caregiver harus ditanggapi secara tepat agar caregiver dapatmemberikan perawatan secara terus-menerus kepada keluarga yang terdiagnosa kanker. Salah satu intervensi non-farmakologis yang dapat mengurangi kelelahan adalah terapi seni. Terapi seni dianggap sebagai perawatan yang berpusat pada individu atau kelompok yang dapat meningkatkan Kesehatan dan keterlibatan sosial bagi caregiver.Terapi seni memberi kesempatan pada diri sendiri (caregiver) kanker untuk saling berinteraksi dengan orang lain, memberi pengaruh positif seperti adanya peningkatan harga diri, meningkatkan realisasi diri dan membentuk hubungan sosial dengan sekitar menjadi lebih baik. Terapi seni terbukti dapat mengurangi kelelahan sehingga dapat diterapkan lebih lanjut pada caregiver kanker yang ada dilingkungan sekitar. Kata Kunci: Caregiver Kanker, Kelelahan, Terapi Seni.  ABSTRACT Cancer caregivers have high stressors because they have responsibility for cancer patients. The care provided includes physical, emotional, social and financial care. The roles and responsibilities that caregivers undertake in caring for family members with cancer have an impact on the caregiver's physical and mental health, one of the symptoms that caregivers most often experience is fatigue. Prolonged complaints to caregivers will cause unstable emotions, anger, anxiety, depression, frustration and fear and reduce the quality of life. Complaints will also have an impact on caregivers' daily activities such as sleep disturbances, cognitive dysfunction, decreased concentration. Caregiver fatigue must be addressed appropriately so that caregivers can provide continuous care for their family. Non-pharmacological intervention that can reduce fatigue is art therapy. Art therapy is considered an individual or group-centered treatment that can improve health, self-esteem, achievement, and social engagement for caregivers. Art therapy gives cancer caregivers the opportunity to interact with other people, providing positive influences such as increasing self-esteem, increasing self-realization and forming better social relationships with those around them. Art therapy can reduce fatigue so that it can be further applied to cancer caregivers in the surrounding environment. Keywords: Cancer Caregiver, Fatigue, Art Therapy.