Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

The Use of Indigenous Institutions In Developing Potential Equity of Coastal Community (Desa Lampanairi Kecamatan Batauga Kabupaten Buton Selatan) Wa Ode Arsyiah; Kuflia Muak Hara
Iapa Proceedings Conference 2018: Proceedings IAPA Annual Conference
Publisher : Indonesian Association for Public Administration (IAPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30589/proceedings.2018.207

Abstract

Abundant ecotourism potential can be developed through customary institutions capable of empowering the community and as government partners in developing ecotourism potential in the village of Lampuoranri, Bautauga District, South Buton Regency. This study aims to describe indigenous institutions in developing the ecotourism potential of the coastal community of Lampanairi village and obtain information about the factors that influence ecotourism potential in the community in Lamporanri village, Batauga sub-district, South Buton district, such as Pilumuno We'e (Mountain Water Festival), Beach tourism, mountain tourism and many more will be explored for potential tourism objects. This study uses qualitative descriptive analysis, the first stage is based on the mechanism in connecting the facts, data, and information that is available, in the form of words or verbal, from people and behaviors that are meant by the researcher. The second stage detects according to the object under study. The third stage interprets data generated through interviews, records, reports, documentation, etc. to be used for validity of research data. The results showed that utilization of customary institutions in developing ecotourism potential in the coastal communities of Lampanairi village Batauga subdistrict of South Buton district has been done with the maximum although the customary institution in this village has not existed since the bloom from the village of Bola. But the villagers still uphold the local wisdom values that exist in the village, especially concerning the customary rituals of mountain water festivities at Wandoke Springs (Pilumuno We'e). The ritual of Pilumuno We'e is still done until now but unfortunately there has been no government involvement in supporting the ritual activity because the government has not yet known about this ritual and the village and society have not considered that this ritual can be made one of the interesting attractions in the village Lampanairi. It requires openness between the government and the village community so that local wisdom is maintained and become one of the tourism destinations that attract and can bring in foreign exchange if the management is done well. Awareness of Lampanairi villagers to the importance of preserving the forests by running the Pilumuno We'e cultural ritual followed by eating together, it shows that the community, village apparatus, traditional leaders, religious figures, community leaders still maintain the existing cultural values with
Pengaruh Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) Pada Masyarakat di Kelurahan Lowulowu Kecamatan Lealea Kota Baubau Kuflia Muak Hara
Sang Pencerah: Jurnal Ilmiah Universitas Muhammadiyah Buton Vol 5 No 2 (2019): Sang Pencerah: Jurnal Ilmiah Universitas Muhammadiyah Buton
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Muhammadiyah Buton

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.036 KB) | DOI: 10.35326/pencerah.v5i2.541

Abstract

The house renovation program is one of the programs of the government in an effort to provide protection to poor families in order to improve the level of welfare of poor families. This program is carried out in the form of providing building materials along with builders and technicians to build or renovate homes that are not livable and do not meet the health requirements of being livable. This study aims to address the research problem of the socio-economic and environmental impacts of a government program called Self-Help Housing Stimulant Assistance (BSPS) for low-income people in the City of Baubau especially in Sub-Lowulowu. The BSPS program provides a fairly good change and impact. The BSPS program improves the quality of residents' homes and increases welfare.
Peran Perempuan Pengrajin Kain Tenun Dalam Ketahanan Ekonomi Keluarga Pada Masa Covid-19 Di Desa Wasuemba, Wabula, Kabupaten Buton Muak Hara, Kuflia; Wanti, April Lidya
Jurnal Sosiologi Miabhari Volume 1, Number 1, July 2023
Publisher : LeRIn - Universitas Dayanu Ikhsanuddin - Prodi. Sosiologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55340/jsm.v1i1.1217

Abstract

ABSTRAK Tujuan dalam penelitian ini mendeskripsikan peran perempuan pengrajin kain tenun dalam ketahanan ekonomi keluarga di masa pandemi covid-19 di Desa Wasuemba Kecamatan Wabula Kabupaten Buton. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan sumber data primer dan sekunder. Lokasi penelitian ini di Desa Wasuemba Kecamatan Wabula Kabupaten Buton. Informan yang di ambil 4 orang dan data diperoleh dari hasil observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Peran Perempuan Pengrajin Kain Tenun Dalam Ketahanan Ekonomi Keluarga Pada Masa Pandemi Covid-19 di Desa Wasuemba Kecamatan Wabula Kabupaten Buton yaitu lebih ke arah jenis - jenis aktifitas sektor ekonomi rill, atau sektor yang melibatkan penjualan barang atau jasa langsung kepada konsumen akhir dan berfokus pada kebutuhan individu atau rumah tangga. Dibandingkan dengan produksi tenun yang lebih ke industri rumahan dan kebutuhan tersier, sektor rill lebih relevan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di masa pembatasan besar – besaran mobilitas ekonomi.
Stratifikasi Sosial Pada Masyarakat Suku Cia Cia Burangasi Di Kabupaten Buton Selatan Nasrul, Nasrul; Kuflia Muak Hara
Jurnal Sosiologi Miabhari Volume 1, Number 2, January 2024
Publisher : LeRIn - Universitas Dayanu Ikhsanuddin - Prodi. Sosiologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55340/jsm.v1i2.1398

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami stratifikasi sosial dalam masyarakat suku Cia-Cia Burangasi di Kabupaten Buton Selatan, Kecamatan Lapandewa. Stratifikasi sosial mengacu pada pembagian masyarakat ke dalam lapisan-lapisan berdasarkan status sosial, kekayaan, pendidikan, dan kekuasaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain deskriptif untuk menggali pemahaman mendalam tentang dinamika stratifikasi sosial di desa Burangasi. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa stratifikasi sosial memengaruhi pembagian kepemimpinan, struktur adat, dan peran sosial dalam masyarakat suku Cia-Cia Burangasi. Kelompok Kamancuana, termasuk Kolaki, Parabela, dan Moji, menduduki posisi paling atas dalam hierarki masyarakat berdasarkan kekuasaan dan jabatan adat. Stratifikasi sosial juga tercermin dalam peran dan tanggung jawab yang berbeda antar-kelompok, seperti Kaomu, Walaka, dan Papara, yang memainkan peran penting dalam struktur kepemimpinan adat. Pendidikan menjadi faktor determinan dalam stratifikasi sosial, di mana tingkat pendidikan tinggi memberikan prestise dan penghargaan dalam masyarakat. Perubahan dalam persepsi masyarakat terhadap pendidikan telah mengubah pola sejarah, di mana sekarang banyak anak muda suku Cia-Cia Burangasi mengejar pendidikan tinggi untuk meningkatkan status sosial mereka. Dalam masyarakat suku Cia-Cia Burangasi, stratifikasi sosial tidak hanya menciptakan hierarki, tetapi juga mencerminkan kekayaan budaya dan adat istiadat. Penelitian ini memberikan wawasan mendalam tentang hubungan antara stratifikasi sosial, kepemimpinan adat, dan perubahan sosial dalam konteks kehidupan masyarakat suku Cia-Cia Burangasi di Kabupaten Buton Selatan.
Dampak Penyeberangan Feri Labuan-Amolengo Terhadap Sosial Ekonomi Masyarakat Di Desa Labuan Bajo Kecamatan Wakorumba Utara Mawardi, Halik; Muak Hara, Kuflia; Amin, Hartini
Jurnal Sosiologi Miabhari Volume 2, Number 2, January 2025
Publisher : LeRIn - Universitas Dayanu Ikhsanuddin - Prodi. Sosiologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55340/jsm.v2i2.1767

Abstract

Penelitian ini menganalisis dampak keberadaan Pelabuhan Penyeberangan Feri Labuan-Amolengo terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat Desa Labuan Bajo, Kecamatan Wakorumba Utara, Kabupaten Buton Utara. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini mengungkap bahwa pelabuhan telah membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat, seperti pekerjaan sebagai buruh pelabuhan, pedagang, serta pemilik usaha kecil. Peningkatan mobilitas masyarakat juga mempermudah akses terhadap layanan pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan pokok. Selain itu, keberadaan pelabuhan turut meningkatkan pendapatan masyarakat dan mengurangi ketergantungan pada sektor perikanan serta pertanian rumput laut. Namun, dampak negatif juga muncul, seperti berkurangnya lahan bagi nelayan dan petani rumput laut serta potensi pencemaran lingkungan akibat aktivitas pelabuhan. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang seimbang untuk memastikan manfaat pelabuhan dapat dinikmati secara berkelanjutan. Kesimpulannya, meskipun pelabuhan memberikan dampak positif terhadap perkembangan ekonomi dan sosial masyarakat, dukungan pemerintah dan partisipasi masyarakat sangat diperlukan dalam mengatasi tantangan yang ada guna menciptakan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
Kaombo: Prosesi Upacara Pingitan Dan Gejala Perubahannya Dalam Kehidupan Masyarakat Desa Lasori Kabupaten Buton Tengah Ayu, Lilis; Abdullah, Asran; Muak Hara, Kuflia
Jurnal Sosiologi Miabhari Volume 3, Nomor 1, July 2025
Publisher : LeRIn - Universitas Dayanu Ikhsanuddin - Prodi. Sosiologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55340/jsm.v3i1.1913

Abstract

This study aims to explore the stages of the Kaombo ritual (female seclusion rite) as practiced by its participants, as well as to examine the emerging patterns of change in the performance of the Kaombo ceremony within the social life of the Lasori Village community in Central Buton Regency. Employing a qualitative approach with a descriptive-analytical method, the study collected data through interviews, observation, and documentation. The informants included traditional leaders or religious figures, bhisa (ritual guides), ritual actors, and participants of Kaombo. The findings indicate that the Kaombo ritual in Lasori Village consists of three major stages: the preparatory phase, the execution phase, and the concluding phase. Moreover, the study identified significant changes in the conduct of the Kaombo ritual, which include alterations in the timing of the ceremony, modifications in traditional clothing, and the incorporation of modern elements into certain aspects of the ritual process. These transformations have led to a gradual shift in both the symbolic meaning and the structural form of the Kaombo ritual, reflecting broader sociocultural changes within the community.