Tuntutan bagi petugas kepolisian untuk menampilkan emosi yang selaras dengan standar organisasi merupakan hal yang krusial. Hal ini melibatkan tugas-tugas seperti tetap bersikap ramah saat menerima kekerasan verbal dari masyarakat atau menjaga ketenangan di tempat kejadian perkara yang mengerikan—sebuah fenomena yang dikenal sebagai Emotional Labor (Kerja Emosional). Namun, tidak semua petugas mengalami dampak negatif yang sama dari beban emosional ini. Variabel kunci yang membedakan pengalaman tersebut adalah Public Service Motivation (PSM), yang didefinisikan sebagai dorongan internal individu untuk berbuat kebaikan bagi masyarakat dan negara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh motivasi pelayanan publik terhadap emotional labor yang dilakukan oleh petugas kepolisian di Kota Batu. Instrumen penelitian yang digunakan adalah Emotional Labor Scale (ELS) dari Brotheridge & Lee (2003) dan skala Public Service Motivation dari White (2019). Subjek penelitian terdiri dari 48 petugas polisi yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi pelayanan publik memiliki pengaruh yang signifikan terhadap emotional labor, yang ditunjukkan dengan nilai R sebesar 0,687 dan nilai koefisien sebesar 0,460. Pengaruh ini memiliki arah positif, yang berarti semakin tinggi motivasi pelayanan publik, semakin tinggi pula skor emotional labor. Lebih lanjut, nilai koefisien determinasi ( sebesar 0,472 mengindikasikan bahwa variabilitas motivasi pelayanan publik mampu menjelaskan 47,2% perubahan dalam strategi emotional labor petugas kepolisian.