Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Gerakan Dakwah Majelis Dzikir Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah di Pedesaan Sirajudin
Ulul Albab: Journal Da`wah and Social Religiosity Vol. 1 No. 2 (2023): Ulul Albab: Journal Da`wah and Social Religiosity
Publisher : P3M STID Mustafa Ibrahim Al-Ishlahuddiny Kediri Lombok Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69943/t87znq74

Abstract

Dakwah merupakan bagian dari proses kegiatan dan persuasi yang mengarah pada penyampaian pesan-pesan ajaran Islam, perubahan dan pengembangan dan keteladanan yang tersusun dalm sebuah sistem dakwah. Sedangkan tarekat sebagai media dakwah ialah suatu metode, jalan, atau cara untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, agar tercapai tujuan dakwah di tengah masyarakat dengan metode pendekatan bil hikmah, wal mauidzatil hasanah wa jaadilhum billati hiya ahsan. Sufisme tidak bisa dilepaskan dalam kehidupan masyarakat muslim di pedesaan. Tradisi sufi yang berkembang dan eksisnya tradisi sufi di kalangan masyarakat pedesaan merupakan media dakwah yang efektif dalam membentuk karakter dan identitas masyarakat yang religius dengan binaan dan  terorganisir yang disebut dalam majelis dzikir tarekat.
Kesetaraan Gender dalam Interpretasi Perempuan Sasak-Lombok Sirajudin; Lina Ulfa Fitriani
Ulul Albab: Journal Da`wah and Social Religiosity Vol. 3 No. 1 (2025): Ulul Albab: Journal Da`wah and Social Religiosity
Publisher : P3M STID Mustafa Ibrahim Al-Ishlahuddiny Kediri Lombok Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69943/2pzawj33

Abstract

Kedatangan Islam membawa angin segar bagi kaum perempuan karena Islam membawa doktrinnya penuh kesantunan, kesetaraan, pembebasan, keadilan, persamaan, progressivitas dan kedamaian di muka bumi. Hadirnya Islam menjadikan perempuan tidak lagi termarjinalkan, harkat dan martabatnya diangkat. Perempuan tidak lagi sebagai obyek akan tetapi sekarang telah menjadi subyek, baik dalam konteks ekonomi, politik, sosial budaya serta memiliki peran dan kesempatan yang sama dengan laki-laki, sehingga perempuan dapat menikmati hak-haknya. Pada intinya Islam memanusiakan perempuan yang sebelumnya terkekang dan pemasungan terhadap hak asasinya sebagai manusia. Kini perempuan telah mendapatkan penilaian dan apresiasi yang sama di tengah-tengah masyarakat. Perempuan Sasak-Lombok memiliki pandangan dan pemikiran yang beragam dalam menginterpretasi kesetaraan gender yang saat ini menjadi isu krusial di tengah masyarakat. Gender dimaknai sebagai persamaan hak antara laki-laki dan perempuan, juga gender merupakan hak asasi yang melekat pada diri seseorang, sehingga kesetaraan gender harus perlu dilakukan karena pada prinsipnya antara kaum laki-laki dan perempuan memiliki potensi dan kemampuan yang sama. Sikap diskriminatif dan ketidakadilan terhadap perempuan tidak boleh lagi terjadi karena akan menghilangkan hak-hak perempuan.           
Al-Adah Al-Muhakamah Sirajudin
Kasta: Jurnal Ilmu Sosial, Agama, Budaya dan Terapan Vol. 1 No. 1 (2021): DESEMBER
Publisher : Bale Literasi: Lembaga Riset, Pelatihan & Edukasi, Sosial, dan Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.508 KB) | DOI: 10.58218/kasta.v1i1.101

Abstract

Sebagai argumen atau alasan ‘adat dapat dijadikan hukum adalah dengan dengan merujuk kepada sabda Rasulullah SAW yang artinya “Apa yang dipandang oleh umat Islam baik. Maka bagi Allah pun juga termasuk bagi.” Yang perlu diketahui adalah bahwa ‘adat dapat dijadikan hukum tidak terlepas dari syarat-syarat yang salah satunya adalah tidak ada perbedaan pendapat dalam mengamalkan, atau yang dilakukan oleh manusia, dalam sebuah kaidah disebutkan “Sesuatu dianggap tradisi, apabila sudah berlaku atau seringkali dilakukan orang”. Dengan demikian, ‘adat yang berlaku di tengah-tengah umat Islam yang dapat dijadikan hukum adalah ‘adat yang baik dan tidak bertentangan dengan ketentuan nash dan tidak mendatangkan kemudaratan serta seirama, sejalan dengan jiwa, akal yang sejahtera.
Revealing Trader's Sustainability in The Lok Baintan’s Floating Market Sirajudin; Triyuwono, Iwan; Subekti, Imam
The International Journal of Accounting and Business Society Vol. 30 No. 3 (2022): The International Journal of Accounting and Business Society
Publisher : Accounting Department,

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ijabs.2022.30.3.667

Abstract

Purpose — This paper revealed the trader’s sustainability in Lok Baintan’s floating market using an interpretive paradigm and the religionist phenomenological approach. Design/methodology/approach—A religionist phenomenology approach (which developed Husserl’s transcendental with a religionist paradigm) was used to conduct in-depth interviews and site observation. Some relevant literature was also used to sharpen the maps of findings.  Findings—The result states that Lok Baintan’s floating market is sustainable and supported by religious values. These values became a basic value for traders to survive in. Those traders believe that everything has its own fortune and has been arranged by God. This belief made them keep enlivening and trading along the river in Lok Baintan’s floating market. Practical implications — The belief that God has arranged all beings' fortunes has led traders to give up on the conditions of nature’s environment where they lived. This made them survive and enliven the Lok Baintan’s Floating Market. Originality/value — This paper argues that religious values and beliefs have influenced Banjarese (local people) to keep their simple lives lasting until now.  This is the key to sustainability in the Lok Baintan Floating Market.