Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search
Journal : Bandung Conference Series : Medical Science

Scoping Review: Pengaruh Paparan Asap Rokok terhadap Struktur dan Fungsi Pulau Langerhans Ihza Farhan; Annisa Rahmah Furqaani; Eva Rianti Indrasari
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.912

Abstract

Abstract. Smoking is a risk factor for numerous diseases. Inhaled cigarette smoke can spread and have negative effects to bodily tissues, including the endocrine parts of the pancreas. The purpose of this study was to analyze the effects of cigarette smoke exposure to the structure and function of the Islet of Langerhans. This study uses Scoping Review method, systematic searches was carried out through databases PubMed, Proquest, and Google Scholar that meet the eligibility criteria. The search results found 9,421 articles that matched the keywords, with 127 articles that met the inclusion criteria and 2 articles that met the PICOS criteria. After critical reviews, two articles were declared eligible for analyzed. The results of the two articles stated that there were changes in pancreatic beta cells in the group with exposure to cigarette smoke. Histopathological changes the group exposed to cigarette smoke in form of vacuole formation, cell atrophy, and apoptotic processes in the. The group also showed an increase in serum glucose and a decrease in serum insulin when compared to the control group. Cigarette smoke has many toxic compounds that can affect the condition of the pancreas. Nicotine and cadmium are examples of some tobacco compounds that can induce oxidative stress and damage the cellular components of beta cells, causing these cells to malfunction and undergo cell death. Abstrak. Merokok merupakan salah satu faktor risiko dari berbagai penyakit. Asap rokok yang terhirup dapat menyebar dan memberi efek negatif di seluruh jaringan tubuh termasuk jaringan endokrin pankreas. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis efek paparan asap rokok terhadap struktur dan fungsi pulau Langerhans. Penelitian ini menggunakan metode Scoping Review, pencarian sistematis dilakukan melalui database PubMed, Proquest, dan Google Scholar yang memenuhi kriteria kelayakan. Hasil pencarian mendapati 9.421 artikel yang sesuai dengan kata kunci, dengan 127 artikel yang sesuai kriteria inklusi serta 2 artikel yang memenuhi kriteria PICOS. Setelah dilakukan tinjauan kritis, dua artikel dinyatakan memenuhi syarat untuk dilakukan analisis. Hasil dari kedua artikel menyatakan terdapat perubahan sel beta pankreas pada kelompok dengan pajanan asap rokok. Perubahan histopatologis berupa pembentukan vakuola, atrofi sel, dan proses apoptosis pada kelompok paparan asap rokok. Kelompok tersebut juga menunjukkan peningkatan glukosa serum dan terjadi penurunan insulin serum bila dibandingkan dengan kelompok kontrol. Asap rokok memiliki banyak senyawa toksik yang dapat mempengaruhi kondisi pankreas. Nikotin dan kadmium adalah contoh sebagian senyawa rokok yang dapat menginduksi stress oksidatif dan merusak komponen selular sel beta sehingga membuat sel tersebut disfungsi dan mengalami kematian sel.
Computer Vision Syndrome pada Dosen Tahap Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung selama Pandemi COVID-19 Farah Talitha Nawiryasa; Eva Rianti Indrasari; Herry Garna
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.1828

Abstract

Abstract. Computer vision syndrome (CVS) is a group of eye and vision-related symptoms that arise due touse of computers or gadgets prolonged. Risk factors for CVS include individual, environmental, and computer factors. The use of gadgets is increasing during the COVID-19 pandemic because the government urges the public including teachers such as lecturers to work from home. This study aims to determine the incidence of CVS in lecturer at the academic stage of FK Unisba during the COVID-19 pandemic starting from February–December 2021. This type of research is quantitative with analytic observational method and cross sectional design. The instrument used is a questionnaire. In this study, data were obtained as many as 60 lecturers of the academic stage of FK Unisba with total sampling technique. The data analysis used was univariate and chi square test for bivariate analysis. The results showed that the most complained symptoms were tired eyes from asthenopia symptoms (44%), watery eyes and itchy eyes from ocular surface symptoms respectively 31%, difficulty focusing vision and increased sensitivity to light from visual symptoms respectively 24%, and shoulder pain from extraocular symptoms (40%). In conclusion, most of the lecturers at the academic stage of FK Unisba experienced CVS. The results of the analysis did not show a relationship between risk factors and the incidence of CVS (p>0.05). It is recommended that there be preventive prevention against CVS complaints. Abstrak. Computer vision syndrome (CVS) merupakan sekumpulan gejala terkait mata dan penglihatan yang muncul akibat penggunaan komputer atau gadget dalam waktu lama. Faktor risiko CVS di antaranya faktor individu, lingkungan, dan komputer. Penggunaan gadget semakin meningkat di masa pandemi COVID-19 karena pemerintah menghimbau masyarakat termasuk pengajar seperti dosen melakukan work from home. Penelitian ini bertujuan menganalisis kejadian CVS pada dosen tahap akademik FK Unisba selama pandemi COVID-19 dimulai dari Februari–Desember 2021. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan metode observasional analitik dan desain cross sectional. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner. Pada penelitian ini didapatkan data sebanyak 60 dosen tahap akademik FK Unisba dengan teknik total sampling. Analisis data yang digunakan adalah univariat dan uji chi square untuk analisis bivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gejala yang paling banyak dikeluhkan adalah mata lelah dari gejala astenopia (44%), mata berair dan mata gatal dari gejala permukaan okular masing-masing 31%, sulit memfokuskan penglihatan dan merasa silau saat melihat cahaya terang dari gejala visual masing-masing 24%, dan nyeri bahu dari gejala ekstraokular (40%). Simpulan, sebagian besar dosen tahap akademik FK Unisba mengalami CVS. Hasil analisis menunjukkan tidak ada hubungan antara faktor risiko dan kejadian CVS (p>0,05). Disarankan pencegahan preventif terhadap keluhan CVS.
Hubungan Aktivitas Fisik dengan Indeks Massa Tubuh dan Lingkar Pinggang pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung Angkatan 2019 Faizal Riza Nugraha; Eva Rianti Indrasari; Uci Ary Lantika
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6185

Abstract

Abstract. Sedentary lifestyle is an important cause of excess body weight and has implications for body mass index and waist circumference which can lead to an increase in the incidence of non-communicable diseases. This study aims to determine the relationship between physical activity and body mass index and waist circumference. This study used a cross-sectional method, data were obtained from self administered questionnaire of the Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ) and Google Form of anthropometric measurements in the form of body mass index and waist circumference From Bandung Islamic University Medical Faculty students population. Participants were obtained based on consecutive sampling method, and the data were processed using the Kolmogorov Smirnov test. Participants of the study was students from year 1 to year 3? Consist of 130 respondents. The results showed there was a significant relationship between physical activity and body mass index (p-value <0.05), and the relationship between physical activity and waist circumference (p-value <0.01). Physical activity can affect changes in body mass index and waist circumference so that an increase in physical activity makes it possible to prevent an increase in body mass index and waist circumference thereby reducing the risk factors for non-communicable diseases such as diabetes mellitus, stroke, chronic kidney disease and cardiovascular disease so that it is recommended for students to increase physical activity. Keywords: Physical Activity, Body Mass Index, Waist Circumference. Abstrak. Perilaku hidup sedentary merupakan penyebab penting terjadinya berat badan berlebih dan berimplikasi terhadap indeks massa tubuh dan lingkar pinggang yang dapat mengakibatkan peningkatan angka kejadian penyakit tidak menular. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan aktivitas fisik dengan indeks massa tubuh dan lingkar pinggang. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional, data diperoleh dari pengisian Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ) dan pengukuran antropometri berupa indeks massa tubuh dan lingkar pinggang pada populasi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung Angkatan 2019 yang diperoleh berdasarkan consecutive sampling, data diolah menggunakan uji Kolmogorov smirnov. Hasil penelitian menunjukan bahwa dari seluruh responden (130 orang) terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan indeks massa tubuh (p-value <0,05), dan hubungan aktivitas fisik dengan lingkar pinggang (p-value <0,01). Aktivitas fisik dapat mempengaruhi perubahan indeks massa tubuh dan lingkar pinggang sehingga peningkatan aktivitas fisik memungkinkan untuk mencegah peningkatan dari indeks massa tubuh dan lingkar pinggang sehingga menurunkan faktor risiko terjadinya penyakit tidak menular seperti diabetes militus, stroke, penyakit ginjal kronis, dan penyakit kadiovaskular sehingga disarankan mahasiswa untuk meningkatkan aktivitas fisik. Kata Kunci: Aktivitas Fisik, Indeks Massa Tubuh, Lingkar Pinggang.
Hubungan Aktivitas Fisik dengan Kualitas Tidur Penderita DM Tipe 2 di Wilayah Kerja Puskesmas Cijulang Delia Oktaviani Solihat; Herry Garna; Eva Rianti Indrasari
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.5941

Abstract

Abstract: High physical activity affects sleep quality clinically, while sleep quality is also affected by sleep disturbances at night caused by diabetes mellitus (DM) which is generally experienced by the elderly with less physical activity. The purpose of this study was to analyze the relationship between physical activity and sleep quality in patients with type 2 DM in the working area of ​​the Cijulang Health Center for the period of July 2022. The study used a quantitative sampling method of observation analysis using a questionnaire instrument with a cross sectional approach design. There were 58 type 2 DM sufferers who participated in the study with an average age of 60 years having high activity as much as 34 (59%) type 2 DM sufferers based on the results of the Global Physical Activity Questionnaire and 30 (52%) type 2 DM sufferers had good sleep quality according to the results of calculating the Pittsburgh Sleep Quality Index. Based on the results of the Pearson Correlation analysis, it shows correlation coefficients with a value of strong closeness (r=0.726) and significance (p=0.000). In conclusion, there is a relationship between physical activity and sleep quality in patients with type 2 DM. The higher the physical activity, the better the quality of sleep obtained. Keywords: DM type 2; physical activity; sleep quality
Hubungan Derajat Stres dengan Kejadian Sindrom Dispepsia Fungsional pada Mahasiswa FK UNISBA ingrid nurimani ansari; Siti Annisa Devi Trusda; Eva Rianti Indrasari
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6092

Abstract

Abstract. A biological reaction due to internal and external stimuli as well as changes in the body's homeostasis is referred to as stress. One of the digestive disorders related to stress is dyspepsia. This study aims to analyze relationship stress to the occurrence of functional dyspepsia syndrome in UNISBA medical faculty students grades 1 and 3. This study involved 100 subjects who were selected by simple random selection. The Medical Student Stress Questionnaire (MSSQ) was used to collect stress data and Rome IV criteria for dyspepsia data. Data were analyzed using computerized univariate and bivariate methods using chi-square. The results showed that majority experienced mild stress (84%) only a small proportion experienced moderate stress (16%). Majority experienced functional dyspepsia than those who did not (52%), and there was a significant relationship between the level of distress and the occurrence of functional dyspepsia syndrome, with a P-value of 0.045 (<0.05). In conclusion, the level of stress in first and third students can trigger dyspepsia syndrome. Keywords: Syndrome Dyspepsia, Stress, Students Abstrak. Stres merupakan suatu stimulus instrinsik dan ekstrinsik yang dapat membangkitkan respon biologis dan dapat menyebabkan perubahan homeostasis sehingga terjadi gangguan ke beberapa organ tubuh. Dispepsia merupakan salah satu gangguan saluran pencernaan terkait dengan stres. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis hubungan stres dengan kejadian sindrom dispepsia antara mahasiswa FK Unisba tingkat 1 dan 3 tahun akademik 2021/2022. Subjek pada penelitian ini berjumlah 100 orang yang dipilih dengan simple random sampling. Data diambil melalui kuesioner stres Medical Student Stress Questionnaire (MSSQ) dan Kriteria Roma IV untuk dispepsia. Pengolahan data penelitian dilakukan secara komputerisasi meliputi analisis univariat dan bivariat dengan menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan secara keseluruhan, sebagian besar subjek penelitian mengalami stres ringan (84%). Jumlah mahasiswa yang mengalami dispepsia fungsional lebih banyak dibanding yang tidak dispepsia, yaitu sebesar 52%. Terdapat hubungan yang bermakna antara derajat stres dengan kejadian sindrom dispepsia fungsional dengan P-value 0,045 (<0,05). Simpulan, derajat stres pada mahasiswa tingkat 1 dan 3 dapat memicu terjadinya sindrom dispepsia. Kata kunci : Mahasiswa, Sindrom Dispepsia, Stres
Studi Literatur: Aktivitas Fisik Jalan Kaki Sebagai Pengendalian Berat Badan Indriani Sekar Arum; Fajar Awalia Yulianto; Eva Rianti Indrasari
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6304

Abstract

Abstract. Obesity is ranked the fifth leading cause of death globally and has many other adverse health effects. The risk of obesity can be prevented by physical activity, and walking is the most common physical activity. In young adults, it is recommended to walk> 10,000 steps/day to avoid obesity. The purpose of this study was to find evidence of the relationship between the number of daily steps and the waist-to-hip ratio from previous studies. This study uses the method of literature study. The results showed that the number of daily steps >10,000 steps/day could reduce weight gain, and there is a relationship between the number of daily actions and the incidence of obesity. Keywords: Obesity, Daily Steps. Abstrak. Obesitas berada diperingkat kelima sebagai penyebab kematian secara global dan memiliki banyak dampak buruk kesehatan lainnya. Risiko obesitas dapat dicegah dengan melakukan aktivitas fisik, aktivitas fisik yang paling sering dilakukan adalah berjalan kaki. Pada orang dewasa muda dianjurkan untuk berjalan kaki >10.000 langkah/hari untuk mencegah terjadinya obesitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari bukti hubungan jumlah langkah harian dengan rasio lingkar pingang pinggul dari penelitian-penelitian terdahulu. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah langkah harian >10.000 langkah/hari dapat mengurangi kenaikan berat badan dan terdapat hubungan antara jumlah langkah harian dengan kejadian obesitas. Kata Kunci: Obesitas, langkah harian.
Gambaran Konsumsi Kalium dengan Derajat Depresi Marvella Arsan Santhias; Mirasari Putri; Eva Rianti Indrasari
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10687

Abstract

Abstract. This literature study gathered various previous studies to show the relationship between potassium consumption and depression levels. The results of this study showed a relationship between potassium consumption and depression levels. Depression is a feeling or mood disorder characterized by psychological symptoms in the form of sadness, hopelessness and biological disorders in the form of sleep disorders, loss of pleasure, loss of appetite. There are several factors that can affect the level of depression. Based on previous studies, it is explained that potassium is one of the precursors that play an important role in mood regulation related to depressive symptoms. Low consumption of potassium can cause decreased neurotransmitter function for pain regulation, motivation, memory, and can trigger depressive events. Abstrak. Studi literatur ini mengumpulkan berbagai studi sebelumnya untuk menunjukan mengenai hubungan antara konsumsi kalium dengan tingkat depresi. Hasil studi ini menunjukkan terdapat hubungan antara konsumsi kalium tingkat depresi. Depresi merupakan gangguan perasaan atau mood yang ditandai dengan gejala psikologis berupa kesedihan, putus asa dan gangguan biologis berupa gangguan tidur, kehilangan kesenangan, kehilangan nafsu makan. Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tingkat depresi. Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya dijelaskan bahwa kalium merupakan salah satu preskursor yang berperan penting dalam regulasi mood yang berkaitan dengan gejala-gejala depresi. Rendahnya konsumsi kalium dapat menyebabkan menurunnya fungsi neurotransmitter untuk pengaturan nyeri, motivasi, memori, dan dapat memicu kejadian depresi.
Hubungan Antara Konsumsi Protein dengan Tingkat Depresi Alvito Ananta Nugraha; Mirasari Putri; Eva Rianti Indrasari
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.12374

Abstract

Abstract. This literature study gathered various previous studies to show the relationship between protein consumption and depression levels. The results of this study showed a relationship between protein consumption and depression levels. The results of this study showed a relationship between protein consumption and depression levels. Depression is a feeling or mood disorder characterized by psychological symptoms in the form of sadness, hopelessness and biological disorders in the form of sleep disorders, loss of pleasure, loss of appetite. There are several factors that can affect the level of depression. Based on previous studies, it is explained that protein is one of the precursors that play an important role in mood regulation related to depressive symptoms. Low consumption of protein can cause decreased neurotransmitter function for pain regulation, motivation, memory, and can trigger depressive events. Abstrak. Studi literatur ini mengumpulkan berbagai studi sebelumnya untuk menunjukan mengenai hubungan antara konsumsi protein dengan tingkat depresi. hasil studi ini menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi protein dengan tingkat depresi. Hasil studi ini menunjukkan terdapat hubungan antara konsumsi protein tingkat depresi. Depresi merupakan gangguan perasaan atau mood yang ditandai dengan gejala psikologis berupa kesedihan, putus asa dan gangguan biologis berupa gangguan tidur, kehilangan kesenangan, kehilangan nafsu makan. Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tingkat depresi. Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya dijelaskan bahwa protein merupakan salah satu preskursor yang berperan penting dalam regulasi mood yang berkaitan dengan gejala-gejala depresi. Rendahnya konsumsi protein dapat menyebabkan menurunnya fungsi neurotransmitter untuk pengaturan nyeri, motivasi, memori, dan dapat memicu kejadian depresi.