Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Efek Jus Buah Naga Super Merah (Hylocereus costaricensis) dan Simvastatin terhadap Kadar Kolesterol Total Darah dan Bobot Badan Tikus Jantan Galur Wistar Hiperkolesterolemia Karimah, Fauziyyah; Achmad, Sadiah; Prawiradilaga, R. Rizky Suganda
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penyakit kardiovaskular terjadi akibat beberapa faktor risiko dan di antaranya kadar kolesterol yang tinggi. Menurut survei WHO pada tahun 2008 sekitar 17,3 juta orang meninggal dunia karena penyakit kardiovaskular. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan efek pemberian jus buah naga super merah (Hylocereus costaricensis) sebagai terapi herbal dengan simvastatin sebagai obat standar yang telah digunakan dalam dunia medis terhadap kadar kolesterol total darah dan bobot badan tikus jantan galur Wistar hiperkolesterolemia.Penelitian dilakukan di Laboratorium Biomedik Universitas Islam Bandung pada bulan April˗Mei 2014 dengan menggunakan metode eksperimental laboratorik pada 20 ekor tikus hiperkolesterolemia dengan memberi diet tinggi lipid dan Propil Tiourasil (PTU) selama 14 hari. Jus buah naga super merah (Hylocereus costaricensis) diberikan secara oral dengan dosis 3,6 g; 7,2 g; dan 10,8 g. Simvastatin sebagai kontrol positif diberikan dengan dosis 0,18 mg. Kontrol negatif dan kontrol normal tanpa pemberian intervensi. Data penelitian dianalisis dengan uji Analysis of Variance (ANOVA) dan dilanjutkan uji Posthoc. Hasil penelitian dengan uji beda terhadap kelompok jus buah naga super merah dosis 3,6 g dan 7,2 g berturut-turut menurunkan kadar kolesterol total sebesar 42,45 mg/dL dan 41,96 mg/dL (p=0,001), sementara dosis 10,8 g cenderung tidak berubah walaupun terjadi kenaikan hanya 1,22 mg/dL (p=0,535). Kelompok kontrol positif menunjukkan penurunan kadar kolesterol total sebesar 21,32 mg/dL (p=0,001). Perubahan bobot badan tikus pada pemberian jus buah naga super merah dosis 3,6 g; 7,2 g; dan 10,8 g dan simvastatin berturut-turut 1,75 g; 22,16 g; 19,5 g; dan 34,75 g yang tidak berbeda secara bermakna (p=0,823). Simpulan, jus buah naga super merah menurunkan kadar kolesterol total lebih tinggi daripada simvastatin, sedangkan bobot badan tikus jantan tidak berbeda.  Kata kunci: Bobot badan tikus, jus buah naga, kolesterol, simvastatin The Effect of Super Red Dragon Fruit Juice (Hylocereus costaricensis) and Simvastatin to TotalBlood Cholesterol and Body Weight of Male Wistar Rats Induced Hypercholesterolemia   Abstract Cardiovascular disease occurs due to several factors including high cholesterol level. According to a survey conducted by WHO in 2008 around 17.3 million people died because of cardiovascular disease. The purpose of this research is to compare the effect of super red dragon fruit juice as herbal therapy and simvastatin as standard drug that have been used in the medical therapy to decrease total blood cholesterol and body weight of male Wistar rats induced hypercholesterolemia. This research was conducted at the Biomedical Laboratory Bandung Islamic University in 2014 April˗Mei used laboratoric experiment methods using 20 rats that was induced hypercholesterolemia with high-fat feeding and Propil Tiourasil (PTU) for 14 days. Super red dragon fruit (Hylocereus costaricensis) juice given orally at doses 3.6 g; 7.2 g; and 10.8 g. Simvastatin as a positive control was given at a dose of 0.18 mg. Negative control and normal control without intervention. Research data were analyzed by Analysis of Variance (ANOVA) test and Post Hoc test. The results of this research with the different test groups of super red dragon fruit juice dose of 3.6 g and 7.2 g respectively lower total cholesterol by 42.45 mg/dL and 41.96 mg/dL (p=0.001), while 10.8 g doses are unlikely to change despite an increase of only 1.22 mg/dL (p=0.535). Positive control group showed a decrease in total cholesterol levels by 21.32 mg/dL (p=0.001). Changes in body weight of rats in the provision of super red dragon fruit juice dose of 3.6  g; 7.2 g; 10.8 g; and simvastatin were 1.75 g; 22.16 g; 19.5 g; and 34.75 g respectively and were not significantly different (p=0.823). Conclusion, super red dragon fruit juice lowers total cholesterol levels higher than simvastatin, while the body weight of male rats did not differ.   Keywords: Body weight, dragon fruit juice, cholesterol, simvastatin 
Perbedaan Efek Infusa Bubuk Kedelai (Glycine max), Jamur Tiram (Pleurotus ostreatus), dan Campuran Keduanya terhadap Kadar Kolesterol LDL, Ekspresi Gen Reseptor LDL Hati, dan Berat Omentum Majus Mencit Model Hiperlipidemia Rizky Suganda Prawiradilaga; M. Nurhalim Shahib; Siti Nur Fatimah
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.122 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v4i1.1735

Abstract

Angka kejadian dislipidemia di Indonesia semakin meningkat. Dislipidemia dan obesitas abdominal merupakan faktor risiko penyakit kardiovaskular. Diperlukan solusi yang efektif dengan bahan alami seperti kedelai dan jamur tiram. Tujuan penelitian ini melihat efektivitas infusa bubuk kedelai, jamur tiram, dan campuran keduanya terhadap kadar kolesterol LDL, ekspresi gen LDLR hati, dan berat omentum majus mencit percobaan. Penelitian eksperimental di Laboratorium Farmakologi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung tahun 2010 memakai rancangan postes kelompok kontrol. Mencit jantan sebanyak 20 ekor dibagi 5 kelompok perlakuan, yaitu A) pakan standar, B) induksi kolesterol, C) infusa kedelai dengan induksi kolesterol, D) infusa jamur tiram dengan induksi kolesterol, dan E) infusa campuran dengan induksi kolesterol. Pada akhir penelitian mencit dikorbankan lalu dibedah untuk diambil darah jantung, juga sedikit bagian hati dan omentum majus. Kolesterol LDL darah kelompok E (12±5,48 mg/dL) sama dengan kelompok D (12±6,06 mg/dL), tetapi lebih rendah daripada kelompok C (15±5,35 mg/dL) dan kelompok B (13,5±5,45 mg/dL), namun tidak signifikan. Didapatkan ekspresi gen LDLR yang sedang pada kelompok A dan C, ekspresi gen LDLR yang lemah pada kelompok B, dan tidak terekspresi pada kelompok D dan E. Berat basah omentum majus kelompok E (0,40±0,07 g) lebih rendah bermakna dibanding kelompok A (0,55±0,07 g), B (0,8±0,49 g), C (1,28±0,28 g), D (0,74±0,11 g) (p<0,05). Berat kering omentum majus kelompok E (0,16±0,03 g) lebih rendah bermakna daripada kelompok B (0,27±0,25 g), C (0,39±0,06 g), dan D (0,31±0,07 g) (p=0,025). Simpulan, infusa kedelai 100 mg/hari meningkatkan kadar kolesterol LDL darah dan berat omentum majus, tetapi jamur tiram 75 mg/hari sebaliknya, menurunkan kadar kolesterol LDL darah dan berat omentum majus mencit. DIFFERENCES IN GIVING EFFECT OF SOYBEAN POWDER INFUSION (GLYCINE MAX), OYSTER MUSHROOM (PLEUROTUS OSTREATUS), AND MIXED OF BOTH ON LDL-C LEVELS, LDL-R GENE EXPRESSION, AND GREATER OMENTUM WEIGHT OF HYPERLIPIDEMIA MODEL MICEThe incidence of hypercholesterolemia in Indonesia are increase. Hyperlipidemia and abdominal obesity is a risk factor for cardiovascular disease. Needed an effective solution with natural substance like soy and oyster mushrooms. The purpose of this study was to see the effectiveness of the soybean powder infusion, oyster mushrooms, and a mixture of both on LDL cholesterol levels, liver LDLR gene expression, and the weight of the experimental mice greater omentum. This experimental study conducted in the Laboratory of Pharmacology Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung in 2010, using a posttest only. Twenty male mice were divided in five treatment groups, namely A) standard diet, B) induction of cholesterol, C) soybean infuse with cholesterol induction, D) oyster mushrooms infuse with induction of cholesterol, and E) mixed infuse with cholesterol induction. At the end of the study mice were dissected for blood drawn from the heart, taken little part of his liver, and the greater omentum were taken. The results of blood LDL cholesterol measurement group E (12±5.48 mg/dL) similar to group D (12±6.06 mg/dL) but lower than group C (15±5.35 mg/dL) and group B (13.5±5.45 mg/dL) but they were not significant. Medium LDLR gene expression was found in group A and group C, a weak LDLR gene expression in group B, and no expression LDLR gene in group D and group E. Measurement results of greater omentum wet weight group E (0.40±0.07 g) was lower than in group A (0.55±0.07 g), B (0.8±0.49 g), C (1,28±0.28 g), D (0.74±0.11 g), with significance level significant (p<0.05). Measurement results of greater omentum dry weight group E (0.16±0.03 g) was lower than in group B (0.27±0.25 g), C (0.39±0.06 g), D (0,31±0.07 g), and they were significant (p=0.025). In conclusion, soy infuse at 100 mg/day increase blood LDL cholesterol levels and increase the weight of greater omentum, whereas the opposite oyster mushrooms at 75mg/day lower blood LDL cholesterol levels and reduce the weight of greater omentum.
Efek Jus Buah Naga Super Merah (Hylocereus costaricensis) dan Simvastatin terhadap Kadar Kolesterol Total Darah dan Bobot Badan Tikus Jantan Galur Wistar Hiperkolesterolemia Fauziyyah Karimah; Sadiah Achmad; Rizky Suganda Prawiradilaga
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2896.789 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v2i2.1535

Abstract

Penyakit kardiovaskular terjadi akibat beberapa faktor risiko dan di antaranya kadar kolesterol yang tinggi. Menurut survei WHO pada tahun 2008 sekitar 17,3 juta orang meninggal dunia karena penyakit kardiovaskular. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan efek pemberian jus buah naga super merah (Hylocereus costaricensis) sebagai terapi herbal dengan simvastatin sebagai obat standar yang telah digunakan dalam dunia medis terhadap kadar kolesterol total darah dan bobot badan tikus jantan galur Wistar hiperkolesterolemia. Penelitian dilakukan di Laboratorium Biomedik Universitas Islam Bandung pada bulan April–Mei 2014 dengan menggunakan metode eksperimental laboratorik pada 20 ekor tikus hiperkolesterolemia dengan memberi diet tinggi lipid dan propil tiourasil (PTU) selama 14 hari. Jus buah naga super merah (Hylocereus costaricensis) diberikan secara oral dengan dosis 3,6 g; 7,2 g; dan 10,8 g. Simvastatin sebagai kontrol positif diberikan dengan dosis 0,18 mg. Kontrol negatif dan kontrol normal tanpa pemberian intervensi. Data penelitian dianalisis dengan uji analysis of variance (ANOVA) dan dilanjutkan uji posthoc. Hasil penelitian dengan uji beda terhadap kelompok jus buah naga super merah dosis 3,6 g dan 7,2 g berturut-turut menurunkan kadar kolesterol total sebesar 42,45 mg/dL dan 41,96 mg/dL (p=0,001), sementara dosis 10,8 g cenderung tidak berubah walaupun terjadi kenaikan hanya 1,22 mg/dL (p=0,535). Kelompok kontrol positif menunjukkan penurunan kadar kolesterol total sebesar 21,32 mg/dL (p=0,001). Perubahan bobot badan tikus pada pemberian jus buah naga super merah dosis 3,6 g; 7,2 g; dan 10,8 g dan simvastatin berturut-turut 1,75 g; 22,16 g; 19,5 g; dan 34,75 g yang tidak berbeda secara bermakna (p=0,823). Simpulan, jus buah naga super merah menurunkan kadar kolesterol total lebih tinggi daripada simvastatin, sedangkan bobot badan tikus jantan tidak berbeda. THE EFFECT OF SUPER RED DRAGON FRUIT JUICE (HYLOCEREUS COSTARICENSIS) AND SIMVASTATIN TO TOTAL BLOOD CHOLESTEROL AND BODY WEIGHT OF MALE WISTAR RATS INDUCED HYPERCHOLESTEROLEMIACardiovascular disease occurs due to several factors including high cholesterol level. According to a survey conducted by WHO in 2008 around 17.3 million people died because of cardiovascular disease. The purpose of this research is to compare the effect of super red dragon fruit juice as herbal therapy and simvastatin as standard drug that have been used in the medical therapy to decrease total blood cholesterol and body weight of male Wistar rats induced hypercholesterolemia. This research was conducted at the Biomedical Laboratory Bandung Islamic University in 2014 Apri–Mei used laboratoric experiment methods using 20 rats that was induced hypercholesterolemia with high-fat feeding and propil tiourasil (PTU) for 14 days. Super red dragon fruit (Hylocereus costaricensis) juice given orally at doses 3.6 g; 7.2 g; and 10.8 g. Simvastatin as a positive control was given at a dose of 0.18 mg. Negative control and normal control without intervention. Research data were analyzed by analysis of variance (ANOVA) test and post hoc test. The results of this research with the different test groups of super red dragon fruit juice dose of 3.6 g and 7.2 g respectively lower total cholesterol by 42.45 mg/dL and 41.96 mg/dL (p=0.001), while 10.8 g doses are unlikely to change despite an increase of only 1.22 mg/dL (p=0.535). Positive control group showed a decrease in total cholesterol levels by 21.32 mg/dL (p=0.001). Changes in body weight of rats in the provision of super red dragon fruit juice dose of 3.6  g; 7.2 g; 10.8 g; and simvastatin were 1.75 g; 22.16 g; 19.5 g; and 34.75 g respectively and were not significantly different (p=0.823). Conclusion, super red dragon fruit juice lowers total cholesterol levels higher than simvastatin, while the body weight of male rats did not differ.
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Stunted di Kecamatan Ciomas dan Pabuaran Kabupaten Serang Fitra Salam; Rizky Suganda Prawiradilaga; Mirasari Putri
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 3, No 1 (2021): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v3i1.7315

Abstract

Stunted (pendek) merupakan kondisi ketika perbandingan tinggi atau panjang badan dengan usia menunjukkan hasil <-2 standar deviasi berdasar atas WHO Child Growth Standards. Tahun 2018 proporsi anak stunted di Indonesia termasuk kategori prevalensi tinggi dan di Kabupaten Serang untuk tahun 2020 menjadi lokus penurunan permasalahan ini. Banyak faktor yang menjadi faktor risiko stunted, beberapa di antaranya adalah usia ibu saat melahirkan, jenis kelamin anak, usia kelahiran, berat badan lahir, dan penyakit kronis. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunted. Penelitian dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Ciomas dan Pabuaran, Kabupaten Serang, Provinsi Banten periode tahun 2020. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional. Jumlah subjek penelitian sebanyak 77 orang yang ditentukan dengan metode purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan hubungan signifikan dengan korelasi rendah pada faktor usia ibu saat melahirkan (p=0,049; r=0,2), sedangkan pada faktor jenis kelamin anak (p=0,990), usia kelahiran (p=0,997), berat badan lahir (p=0,549), dan riwayat penyakit kronis (p=0,648) tidak memiliki hubungan signifikan dengan kejadian stunted. Faktor risiko stunted terbagi menjadi beberapa kelompok, yaitu kelompok karakterisitik anak, anggota keluarga, rumah tangga, layanan perawatan kesehatan, dan lingkungan. Usia ibu saat melahirkan merupakan salah satu faktor risiko dari kelompok karakteristik anggota keluarga. Factors Associated with Stunted in Ciomas and Pabuaran Districts Serang RegencyStunted (short) is when the ratio of height or length to age shows a result <-2 standard deviation based on the WHO Child Growth Standards. In 2018 the proportion of stunted children in Indonesia was in the high prevalence category, and Serang Regency for 2020 is the locus for reducing this problem. Many factors are risk factors for stunted, some of which are the mother's age at birth, the sex of the child, the age at birth, birth weight, and chronic disease. This study aimed to determine the relationship between maternal age at delivery and the incidence of stunted. The research was conducted in Puskesmas Ciomas and Pabuaran, Serang Regency, Banten Province, in period 2020. This study was an observational analytic study with a cross-sectional design. The number of research subjects was 77 people who were determined by the purposive sampling method. The results showed that there was a significant relationship with a low correlation between maternal age at childbirth (p=0.049, r=0.2), while for child sex (p=0.990), birth age (p=0.997), birth weight (p=0549), and a history of chronic disease (p=0.648) had no significant association with the incidence of stunted. Stunted risk factors are divided into several groups, namely groups of characteristics of children, family members, households, health care services, and the environment. Maternal age at delivery is one of the risk factors for the characteristic group of family members.
Scoping Review: Perbandingan antara Intermittent Fasting dengan Ketogenic Diet terhadap Penurunan Berat Badan pada Orang Dewasa dengan Obesitas Safira Pinandita Kusumah; Yoyoh Yusroh; R. Rizky Suganda Prawiradilaga
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.309

Abstract

Abstract. In the worldwide, obesity cases have increased drastically in the last 10 years, so it is a nutritional problem that needs considerable attention. In recent years there are several diet programs that are carried out by many people in the world, including the intermittent fasting (IF) and ketogenic diet (KD). The aim of this study was to compare IF with KD to weight loss in obese adults. This study adopts the method of scoping review, and the samples used are international scientific articles that have passed the screening and feasibility testing stages. The results in this study were taken from 3 different databases, Pubmed, Ovid, and Proquest according to the inclusion and exclusion criteria taken from 2011–2021. Among the 36.799 articles in the preliminary search, 4 articles were obtained for qualitative analysis. The results showed that the percentage of weight loss from the 2 IF studies had a range of 2.9-8.5%, while the 2 KD studies had a range of 3.9-10%. From this, the percentage of KD weight loss is higher than that of IF. This may be due to the lower daily calories and more time on the KD diet compared to the IF diet. Abstrak. Di seluruh dunia, obesitas mengalami peningkatan kasus secara drastis dalam 10 tahun terakhir, sehingga termasuk ke dalam masalah gizi yang perlu mendapatkan perhatian secara serius. Beberapa tahun terakhir terdapat beberapa program diet yang banyak dilakukan oleh masyarakat, diantaranya intermittent fasting (IF) dan ketogenic diet (KD). Tujuan penelitian ini untuk membandingkan IF dengan KD terhadap penurunan berat badan pada orang dewasa dengan obesitas. Penelitian ini menggunakan metode scoping review dan sampel yang digunakan merupakan artikel ilmiah internasional yang sudah melewati fase skrining dan uji kelayakan. Hasil dari penelitian ini diambil dari 3 database yang berbeda, yaitu Pubmed, Ovid, dan Proquest sesuai kriteria inklusi dan eksklusi yang diambil dari tahun 2011–2021. Dari 36.799 artikel yang diperoleh pada pencarian awal, didapatkan 4 artikel yang dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa persentase penurunan berat badan dari 2 penelitian IF yaitu 2,9-8,5%, sedangkan 2 penelitian KD 3,9-10%. Berdasarkan data tersebut terlihat bahwa persentase penurunan berat badan KD lebih tinggi dibandingkan dengan IF. Hal tersebut mungkin disebabkan karena rendahnya asupan kalori harian pada diet KD dan waktu yang dibutuhkan pada diet KD lebih lama dibandingkan diet IF.
Scoping Riview: Efektivitas Diet Mediterania dalam Menurunkan Tekanan Darah pada Lansia Hipertensi Robby Nurdiansyah; R.Rizky Suganda
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.333

Abstract

Abstract. Hypertension is one of the non-communicable diseases and is often found in the community, besides that it is a major risk of premature death. and changing one risk factor for hypertension is one that can be used as an effort to prevent hypertension, especially changing diet, one of which is by using the Mediterranean diet method. Based on this phenomenon, the problems in this study are: 1) Is the mediterranean diet effective in lowering blood pressure in elderly patients with hypertension? The research was conducted using the scoping review method and the sample used was an international scientific article that met the criteria (appropriate). The results of this study came from 4 databases, namely Springer Link, Science Direct, OVID, and Pubmed with 8,610 search results and 5 articles that matched (qualified) articles. The results of this scoping review show that the Mediterranean diet can reduce blood pressure in the elderly, which is characterized by the effect of the Mediterranean diet on the expression of genes associated with hypertension. So it can be concluded from this study that there is an effect of the Mediterranean diet on reducing blood pressure in the elderly. Abstrak. Hipertensi merupakan salah satu dari penyakit yang tidak menular dan sering ditemukan di masyarakat, selain itu merupakan risiko utama terjadi kematian dini. Menghindari dan mengubah faktor risiko hipertensi adalah salah satu cara yang dapat digunakan sebagai upaya preventif pada hipertensi, terutama mengubah pola makan, salah satunya dengan menggunakan metode diet mediterania. Berdasarkan fenomena tersebut maka permasalahan dalam penelitian ini adalah: 1) Apakah diet mediterania efektif dalam menurunkan tekanan darah pada pasien lansia penderita hipertensi? Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode scoping review dan sampel yang digunakan merupakan artikel ilmiah internasional yang memenuhi kriteria kelayakan (eligible). Hasil penelitian ini berasal dari 4 database, yaitu Springer Link, Science Direct, OVID, dan Pubmed dengan didapatkan hasil pencarian awal terdapat 8.610 dan artikel yang memenuhi kelayakan (eligible) ada 5 artikel. Hasil scoping review ini menunjukkan bahwa diet mediterania dapat menurunkan tekanan darah pada lansia, yang ditandai dengan efek diet mediterania terhadap ekspresi gen yang berhubungan dengan hipertensi. Sehingga dapat ditarik simpulan penelitian ini bahwa terdapat pengaruh diet mediterania terhadap penurunan tekanan darah pada lansia.
Hubungan Kebiasaan Mengonsumsi Makanan Pedas dengan Indeks Massa Tubuh pada Wanita Dewasa di Kota Tasikmalaya pada Tahun 2021 Aulia Nurfajriani Suseno; Rizky Suganda Prawiradilaga Suseno; Panca Bagja Mohamad
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.540

Abstract

Abstract. Many people enjoy spicy food that consumed comes from chili. Chili contains capsaicin which is considered give a pleasant or euphoric taste when consumed. Indonesian people usually eat sambal as spicy food. However, consuming spicy foods with calories some people seem consume large amounts and add complementary foods to reduce the spiciness (rice, juice, sweet drinks, etc.). The addition of calorie intake is risk of increasing body weight. The purpose of this study was to determine association between the spicy food consuming habit and body mass index (BMI) in adult women in Tasikmalaya City in 2021. This type of research is analytic observational study with cross-sectional. The number of samples is 96 adult women aged 20-45 years and the sampling technique used is random sampling. All participants were given spicy dietary habit questionnaire to obtain the primary data. The Kruskal-Wallis H test was used to analyze. The results showed that the pattern of interest spicy food was moderately interested category, interested/very interested, and not interested/very not interested respectively, namely 52.1%, 34.4%, and 13.5%. The frequency of the habit of eating spicy food was 43.8% for often (>4x/week), 42.7% for rarely/never (<4x/week), and 13.5% for very often (≥1x/day). The frequency of eating spicy snacks, 65.6% for rarely/never (<4x/week), 29.2% for frequent (>4x/week), and 5.2% for very often (≥1x/day). The preference for spicy food in category interested/very interested is obtained who have obesity. There were no significant relationship between the interested/very interested in spicy food (p=0.313), the habit of consuming spicy food (p=0.323), and the habit of consuming spicy snacks (p=0.724) with BMI. Abstrak. Banyak orang menikmati makanan pedas yang dikonsumsi berasal dari cabai. Cabai mengandung capsaicin yang dianggap memberi rasa menyenangkan atau euphoric saat dikonsumsi. Masyarakat Indonesia biasa mengonsumsi sambal sebagai makanan pedas. Akan tetapi, dalam mengonsumsi makanan pedas yang berkalori, sebagian orang terlihat mengonsumsi dalam jumlah yang banyak dan menambah makanan pendamping lain untuk mengurangi kepedasannya (nasi, jus, minuman manis, dsb.). Penambahan asupan kalori ini berisiko terhadap peningkatan berat badan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan kebiasaan mengonsumsi makanan pedas dengan indeks massa tubuh (IMT) pada wanita dewasa di Kota Tasikmalaya pada Tahun 2021. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah sampel adalah 96 wanita dewasa dengan usia 20-45 tahun dan teknik pengambilan sampel menggunakan random sampling. Data yang didapatkan adalah data primer menggunakan instrumen kuesioner. Uji analisis yang digunakan adalah Uji Kruskal-Wallis H. Hasil penelitian didapatkan pola kesukaan terhadap makanan pedas dengan kategori sedang-sedang saja, suka/sangat suka, dan tidak/kurang suka secara berurutan yaitu 52.1%, 34.4%, dan 13.5%. Frekuensi pola kebiasaan makan makanan pedas adalah 43.8% untuk kategori sering (>4x/minggu), 42.7% untuk jarang/tidak pernah (<4x/minggu), dan 13.5% untuk sering sekali (≥1x/hari). Untuk frekuensi kebiasaan makan cemilan pedas, 65.6% untuk kategori jarang/tidak pernah (<4x/minggu), 29.2% untuk sering (>4x/minggu) dan 5.2% untuk sering sekali (≥1x/hari). Kesukaan terhadap makanan pedas dengan kategori suka/ sangat suka didapat yang memiliki status gizi obesitas. Tidak ada hubungan signifikan antara kesukaan/keminatan makanan pedas (p=0.313), kebiasaan mengonsumsi makanan pedas (p=0.323), dan kebiasaan mengonsumsi cemilan pedas (p=0.724) dengan IMT.
Hubungan antara Aktivitas Fisik dengan Indeks Massa Tubuh pada Pegawai Bank saat Pandemi Covid-19 di Kota Bandung Arlin Rian Nadira; Rizky Suganda Prawiradilaga; Nurul Annisa Abdullah
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.1816

Abstract

Abstract. Low physical activity prompt unused energy to be stored as fat, thus it can affect a person's nutritional status as measured by Body Mass Index (BMI). Jobs with low physical activity for instance are bank workers, moreover, the current COVID-19 outbreak has limited a person’s daily activities. This study aims to see the relationship between physical activity and BMI of BCA Bank employee during the COVID-19 pandemic in Bandung city. Analysis of the relationship using the chi-square test with a cross-sectional approach. Self-report data collection using the Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ) to study physical activity patterns. The research subjects were 130 administrative employees of the BCA Bank employee during the COVID-19 pandemic in Bandung city, men and women aged 20 – 64 years old. The results showed that most of the employees (59.2%) has a low level of physical activity. The majority of BMI status of the employee is classified as in the normal category (61.5%). The results of the analysis show that there is no significant relationship (p=0,120) between physical activity and BMI of BCA Bank employee during the COVID-19 pandemic in Bandung city. Based on these results, there is no significant relationship between physical activity and BMI can be caused by the influence of other factors that affect BMI other than physical activity. Abstrak. Aktivitas fisik yang rendah menyebabkan energi yang tidak digunakan disimpan sebagai lemak, sehingga mampu memengaruhi status gizi seseorang yang diukur dengan Indeks Massa Tubuh (IMT). Pekerjaan dengan aktivitas fisik rendah salah satunya adalah pekerja bank, terlebih lagi, adanya wabah COVID-19 saat ini semakin membatasi aktivitas sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara aktivitas fisik dengan IMT pegawai Bank BCA Kota Bandung saat pandemi COVID-19 di Kota Bandung. Pengambilan data secara self-report menggunakan Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ) untuk mempelajari pola aktivitas fisik. Subjek penelitian merupakan pegawai administratif bank BCA Kota Bandung berjumlah 130 orang, pria maupun wanita berusia 20 – 64 tahun. Analisis hubungan menggunakan uji chi-square dengan pendekatan cross-sectional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar (59,2%) pegawai bank memiliki aktivitas fisik rendah. Mayoritas status IMT pegawai bank tergolong dalam kategori normal (61,5%). Hasil analisis menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna (p=0.120) antara aktivitas fisik dengan IMT pada pegawai bank saat pandemi COVID-19 di Kota Bandung. Berdasarkan hasil tersebut, tidak adanya hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan IMT dapat disebabkan oleh adanya pengaruh dari faktor lain yang mampu mempengaruhi IMT selain aktivitas fisik.
Hubungan Antara Obesitas dengan Penghargaan Diri (Self-Esteem) pada Orang Dewasa Annisa Salsabila Nurramadhani; Gemah Nuripah; Rizky Suganda Prawiradilaga
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.2255

Abstract

Abstract. Obese people have a stigma that they are lazy and cannot control themselves which in turn can affect how they judge themselves and form their self-concept or also known as self-esteem. This study aims to analyze the relationship between obesity and self-esteem in the city of Bandung. This research design uses an observational analytic method with a cross-sectional approach. Obtained 63 adult respondents selected by purposive sampling method. Data were collected using the Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) questionnaire which has 10 likert items with opposite ratings based on four categories of answers. Body mass index (BMI) in subjects was calculated by researchers using the WHO's BMI calculator. Bivariate analysis with Chi-Square test using IBM SPSS version 26. The results showed that the percentage of normal-high self-esteem category in individuals with a normal BMI was 74.3% and in individuals who had a BMI Obesity 60.7%. The results of the analysis showed that there was no significant difference (p-value = 0.250) between normal BMI and obesity in terms of self-esteem. Self-esteem is influenced by many things such as the environment, friends, family, and even globalization from foreign cultures. The conclusion obtained from this research is that there is no relationship between obesity and self-esteem in adults in the city of Bandung. Abstrak. Penderita obesitas memiliki stigma bahwa mereka adalah orang malas dan tidak bisa mengontrol diri yang berikutnya dapat berpengaruh pada bagaimana mereka menilai dirinya sendiri dan membentuk konsep dirinya atau disebut juga sebagai penghargaan diri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara obesitas dengan penghargaan diri di Kota Bandung. Rancangan penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Didapatkan 63 responden orang dewasa terpilih dengan metode purposive sampling. Data diambil dengan menggunakan kuesioner Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) yang memiliki 10 item likert dengan penilaian yang berkebalikan berdasarkan empat kategori jawaban. Indeks massa tubuh (IMT) pada subjek dihitung oleh peneliti menggunakan kalkulator IMT dari WHO. Analisis bivariat dengan uji Chi-Square menggunakan IBM SPSS versi 26. Hasil penelitian didapatkan persentase kategori penghargaan diri normal-tinggi pada individu yang memiliki IMT normal 74,3% dan pada individu yang memiliki IMT Obesitas 60,7%. Hasil analisis menunjukkan tidak terdapatperbedaan yang signifikan (p-value = 0,250) antara IMT normal dengan obesitas dalam hal penghargaan diri. Penghargaan diri dipengaruhi dari banyak hal seperti lingkungan, teman, keluarga, bahkan globalisasi dari budaya asing. Simpulan yang didapatkan dari penilitian ini adalah tidak terdapat hubungan antara obesitas dengan penghargaan diri pada orang dewasa di Kota Bandung.
Promoting Intermittent Fasting in Community through Religion based Approach to Improve Metabolic Health Hilmi Sulaiman Rathomi; Rizky Suganda Prawiradilaga; Mia Kusmiyati; Rizki Perdana; Sofa Rahmannia
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 4, No 2 (2022): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v4i2.10187

Abstract