Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Pendidikan dalam Keluarga Berbasis Etika Buddha Sapardi, Sapardi
INFERENSI: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : State Institute of Islamic Studies (IAIN) Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/infsl3.v14i1.141-158

Abstract

This study aims to find out familial education on the basis of Buddhist ethics and the relationship of Buddhist teachings in building a happy, prosperous family life. The foregoing rests upon the identification of texts from the Tipitaka / Tripitaka Scriptures related to Education in the Family and moral ethics (Sila), and the texts are subsequently analyzed and dissected using the theory of structural functionalism and hermeneutics. Based on the analysis of the aforesaid text data, it can be seen the role of moral ethics that must be put forward and become a guide in shaping a happy and prosperous family life. Education in the Family is a pattern or method that must be done by a Buddhist household. Based on ethics in managing hittasukkhaya life, it becomes the basis and guide in creating happy and prosperous home life (hitta sukkhaya). Moral ethics (Sila) is the basis and foundation and guide for householders in creating a happy and prosperous life in the face of various changes that occur in the current modern era.
Buddha's Ethic Role in Developing Human Civilization Sapardi Sapardi
Vijjacariya: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Buddhis Vol 6, No 2 (2019): December 2019
Publisher : STABN Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di era modern ini, dunia membutuhkan peran etika dalam setiap aspek kehidupan manusia. Etika/moralitas dalam situasi globalisasi saat ini merupakan kunci bagi setiap manusia dalam berperilaku, yang pada saat yang sama merupakan kondisi internalisasi diri dan menjaga dengan ketat kebajikan serta tidak menyakiti orang lain. Etika adalah dasar untuk menciptakan peradaban manusia dalam menghadapi berbagai kondisi perubahan di era global oleh masyarakat dunia. Kekacauan dunia saat ini adalah awal dari keruntuhan dan awal dari kehancuran. Oleh karena itu, dalam membangun peradaban manusia, etika merupakan salah satu dasar atau fondasi paling penting. Dalam menganalisis dan mengupas peran etika dalam data teks Tipitaka dengan menggunakan teori hermeneutika, dan paticcasamuppada, diharapkan dapat memperoleh pemahaman yang jelas untuk mengungkap peran etika Buddha dalam membangun peradaban manusia. Berdasarkan analisis data dari teks yang dimaksud, bahwa peran etika Buddha dalam membangun peradaban manusia ada kondisi-kondisi yang saling terkait satu sama lain. Etika Buddha adalah dasar dan panduan dalam menciptakan peradaban yang berbasis Buddha. Peradaban manusia akan diciptakan dengan benar dan tepat berdasarkan perilaku setiap individu di dalamnya yang dipandu oleh etika Buddha. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana peran etika Buddha dalam membangun peradaban manusia? Ini juga terkait dengan menemukan hubungan dan keterkaitan antara tema-tema Buddhis dalam menciptakan peradaban manusia dan pada saat yang sama aplikasinya. Data penelitian diperoleh dari identifikasi teks dari Kitab Tipitaka / Tripitaka yang terkait dengan peran etika.
Kesejahteraan Masyaralcat Sebagai Keniscayaan Dalam Tinjauan "Mahasudassana Sutta dan Dasa Raja Dhamma" Sapardi Sapardi
Vijjacariya: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Buddhis Vol 4, No 1 (2017): June 2017
Publisher : STABN Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

esejahteraan masyarakat dapat tercipta ketika seorang pemimpin memiliki moral yang baik, sehingga menjadi teladan bagi warganya. Kesejahteraan bukan hanya keinginan, tetapi juga keharusan yang sangat penting bagi setiap orang. Parsons mengasumsikan bahwa dalam suatu sistem, terdapat fungsi-fungsi yang saling berhubungan dan bekerja sama. Apabila salah satu fungsi terganggu atau tidak berfungsi, hal ini akan mempengaruhi sistem lainnya. Kepemimpinan yang ideal adalah kepemimpinan yang didasarkan pada sepuluh kewajiban raja (Dasa Raja Dhamma) yang harus dilaksanakan dengan baik. Sepuluh hal tersebut meliputi: 1) Dana (bermurah hati); 2) Sila (bermoral); 3) Pariccaga (berkorban); 4) Ajjava (tulus hati dan bersih); 5) Maddava (ramah tamah dan sopan santun); 6) Tapa (sederhana); 7) Akkodha (tidak berniat jahat, bermusuhan, dan membenci); 8) Avihimsa (tanpa kekerasan); 9) Khanti (sabar dan rendah hati); 10) Avirodhana (tidak menimbulkan atau mencari pertentangan). Dalam membangun kesejahteraan bangsa dan negara, penting untuk mengaktualisasikan simbol dari tujuh pusaka permata sebagaimana terdapat dalam Maluzsudassana Sutta. Pemimpin harus bermoral (Cakka Ratana), memiliki kekuatan (Hatthi Matta), mampu membangun infrastruktur yang baik (Assa Ratana), menyiapkan devisa/cadangan (Mani Ratana), didukung oleh para wanita yang baik (Itthi Ratana), memiliki bendahara untuk mengatur rumah tangga negara dengan bijaksana (Gahapati Ratana), dan didampingi oleh penasihat yang bijaksana (Parinayaka Ratana).
Brahma Vihara Dan Rasa Ketakutan Pada Era Modern Sapardi Sapardi
Vijjacariya: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Buddhis Vol 4, No 2 (2017): December 2017
Publisher : STABN Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peperangan yang terjadi di dunia ini adalah bentuk kebencian, kekejaman, lcekerasan untuk memaksa orang lain tunduk. Hal ini mengesampingkan nilai-nilai cinta kasih dan kasih sayang. Sang Buddha dengan tegas menolak peperangan tersebut, walaupun pada suatu ketika Buddha sendiri pergi ke medan perang dan menjadi orang penengah untuk menghindari terjadinya peperangan antara suku Sakya dan suku Koliya. Kedua suku tersebut saling berhadapan dan sudah bersiap-siap untuk melakukan peperangan terkait dengan perebutan perihal air sungai Rohini. Pada akhimya setelah diberikan pemahaman yang benar kemudian tidak terjadi peperangan. Sang Buddha selalu mengembangkan nilai-nilai cinta kasih kepada siswanya. Brahma vihara atau kediaman luhur, yang terdiri alas Melia (Cinta kasih), Karuna (Belas kasihan), Mudita (Simpati) dan Upekkha (Keseimbangan batin) adalah sebagai nilai estetika internal manusia. Nilai-nilai universal estetis inilah yang seharusnya dikembangkan kepada seluruh umat manusia di dunia tanpa melihat perbedaan suku, agama, negara dan lain sebagainya. Oleh karena itu bahwa persoalan tawuran, peperan saling menghancurkan satu sama lain tidak akan pemah terselesaikan jika satu dengan yang lain selling membalasnya. Adanya peperangan menyebabkan rasa ketakutan, memiliki perasaan curiga mencurigai saw sama lain, dan menimbulkan ketegangan. Sang Buddha bersabda: '"Tidak pemah kebencian dapat dihilangkan dengan membalas membenci; tetapi kebencian akan hilang dengan cinta kasih. ini merupakan Kebenaran Abadi" (Dhammapada 5 atau Majjhimanikaya 128).
Etika dan Sistem Perekonomian Mikro Manurut Ajaran Sang Buddha (Suatu Telaah Hermeneutika) Sapardi Sapardi
Vijjacariya: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Buddhis Vol 3, No 1 (2016): June 2016
Publisher : STABN Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Akhir-akhir ini, kita menyaksikan fenomena kejahatan yang sangat mengerikan, seperti penjambretan, penodongan, penipuan, pembunuhan, serta permasalahan dalam dunia politik, dan sebagainya. Salah satu faktor yang berperan dalam fenomena ini adalah permasalahan di dalam keluarga. Bahkan masalah-masalah kecil dapat menjadi sumber masalah yang lebih besar, dan ini bisa mengorbankan nilai-nilai yang luhur yang telah lama kita anut.Secara umum, fenomena ini sering kali terkait dengan hasrat manusia untuk mencari kenikmatan atau hedonisme, yang sering kali berfokus pada pengumpulan materi. Hal ini sebagian besar dipengaruhi oleh kemajuan teknologi yang pesat, yang seringkali tidak diimbangi oleh perkembangan moral yang seimbang. Mengapa hal-hal seperti ini terjadi? Ini adalah keprihatinan bersama yang perlu diatasi dalam kehidupan masyarakat.Ajaran Sang Buddha mengajarkan tentang tata kehidupan yang harmonis, baik kepada para pertapa maupun kepada orang-orang yang hidup dalam pernikahan. Bagi para pemah tangga, ajaran-ajaran ini adalah pedoman dalam menjalani kehidupan, dan telah diuraikan dalam berbagai teks Kitab Suci Tipitaka. Terkait dengan hal ini, teks-teks yang dapat kita temui mungkin hanya sebagian kecil, dan belum tentu selalu sesuai dengan perkembangan zaman modern saat ini.Moralitas dalam ajaran Buddha menjadi dasar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk sistem perekonomian, dan menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan yang benar. Ajaran Delapan Jalan menjadi panduan bagi seseorang untuk memahami cara hidup yang benar, menjalankan tugas dan kewajibannya dalam keluarga dan masyarakat, mengembangkan kasih dan kasih sayang, dan sebagainya. Semua ini membentuk suatu kesatuan yang utuh dalam ajaran Buddha.   
Peran Etika Buddha Dalam Menjaga Sistem Kehidupan Perumah Tangga Dalam Kajian Fungsionalisme Struktural Sapardi Sapardi
Vijjacariya: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Buddhis Vol 5, No 2 (2018): December 2018
Publisher : STABN Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sila merupakan dasar utama dalam pelaksanaan ajaran agama Buddha. Sila mencakup semua perilaku dan sifat baik yang termasuk dalam ajaran moral dan etika agama Buddha. Pancasila Buddhis yang diajarkan Buddha kepada siswa-siswa-Nya dalam hal ini yang disebut sebagai upasaka dan upasika adalah suatu sikkhapada (peraturan-pelatihan). Pembahasan dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Metode ini digunakan untuk mendeskriptifkan Etika Sebagai Pedoman Hidup Perumah Tangga dan Peran Etika Dalam menjaga Sistem Struktur Sosial. Dalam teorinya, Parson mengandaikan bahwa struktur fungsi akan berperan apabila fungsi dari bagiannya masing-masing bekerja dengan baik. Bila salah satu fungsi terganggu, maka akan mempengaruhi operasional tindakan yang lain. Parson mengandaikan bahwa struktur dan fungsi bagaikan tubuh badan jasmanai yang tidak dapat terpisahkan, yang terdiri atas berbagai struktur yang memiliki fungsi dan menjalankan fungsinya masing-masing dengan baik. Sturktur dan fungsi dari anggota badan berjalan dengan baik, maka dalam fisik atau badan manusia tidak terdapat masalah. Namun jika terdapat satu saja bagian tubuh mengalami gangguan maka akan mengganggu bagian yang lain. secara keseluruhan dan yang paling mendasar juga dapat ditemukan pada lima latihan moral (pañcasīla buddhis). Etika yang terkandung dalam lima latihan moral ini utamanya mengarah pada perbaikan diri pribadi seseorang. Lima disiplin moral ini menjadi sebuah pilihan atau kepatuhan umat Buddha perumah tangga dalam kehidupan sehari-hari untuk mencapai kebahagiaan, baik dalam kehidupan berumah tangga maupun bersama-sama di masyarakat. Etika berperan untuk menjaga sistem stuktur sosial dalam kehidupan perumah tangga. Hal ini sejalan dengan pemikiran Parsons. Asumsinya bahwa setiap anggota keluarga memiliki fungsi masing-masing dan bekerja sesuai dengan fungsinya sebagai sebuah sistem.
IMPLEMENTASI NILAI NILAI MORAL SEBAGAI BENTENG DALAM KEHIDUPAN SOSIAL BERMASYARAKAT PADA ERA MODERN: Tinjauan Moralitas Buddhis Sapardi *
Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol. 23 No. 2 (2023): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/ds.v23i2.4892

Abstract

Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) berkembang sangat pesat pada era modern sekarang ini. Pemanfaatan IPTEK bagaikan pisau bermata dua dan menjadi tantangan dalam kehidupan masyarakat di era modern. Bagaimanakah peran benteng nilai-nilai moral Buddhis pada era modern dalam kehidupan masyarakat? Implementasi benteng nilai-nilai moral buddhis bertujuan agar masyarakat memiliki kesiapan mental dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan di masyarakat dalam pengendalian diri, membangun harmonisasi dan sebagainya. Pendekatan yang dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pendekatan deskriptif mengumpulkan data-data berupa teks, kata-kata, simbol, gambar, walaupun demikan juga dapat dimungkinkan data-data bersifat kuantitatif. Hasil kajian ini adalah bahwa jika masyarakat dapat menerapkan nilai-nilai moral buddhis dalam kehidupan sosial masyarakat maka akan berdampak positif. Atau sebaliknya jika tidak mampu menerapkan justru akan membawa kehancuran. Pada satu sisi IPTEK memberikan kemudahan-kemudahan yang dapat dirasakan dan dinikmati oleh manusia di seluruh dunia. Namun pada sisi dapat menjadi sebab kehancuran.
STABN Sriwijaya dalam Budaya Sapardi Sapardi
Vijjacariya: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Buddhis Vol 1, No 1 (2014): December 2014
Publisher : STABN Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan keselarasan antara budaya dan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni di lingkungan Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Sriwijaya Tangerang, Banten. Pendidikan budaya di Indonesia didasarkan pada prinsip-prinsip humanisme. Salah satu bentuk pendidikan humanisme dapat dipelajari melalui filsafat dan seni. Pergeseran perilaku mahasiswa menjadi catatan penting, sehingga pembelajaran nilai-nilai budaya harus ditanamkan. Budaya Indonesia memiliki nilai-nilai luhur yang dapat dijadikan sebagai media untuk pembentukan karakter mahasiswa.
HUMANIORA DALAM ERA SAINS Sapardi Sapardi
Jurnal Pelita Dharma Vol. 1 No. 1 Edisi Desember 2014
Publisher : STABN Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kearifan itu tidak akan pernah datang dari langit, kearifan juga bukan parcel kirimanmahluk ajaib tertentu yang kita bayangkan. Kearifan demi kearifan itu datang darihasil yang kita pikirkan, kita ucapkan dan kita laksanakan. Kearifan itu menjadiindikator keharmonisan dalam berbagai bidang kemanusiaan. Kearifan itudiperlukan oleh semua pemimpin dalam berbagai level. Kearifan sempurnamendegradasi kecongkakan, egoisme, emosional, kemarahan, kebencian danbanyak perilaku buruk lainnya. Dengan kearifan kita dapat merajut keharmonisandalam kehidupan masyarakat.
Misi dan Tujuan Hidup Manusia Berdasarkan Analisis Teks Tipitaka Sapardi Sapardi
Jurnal Pelita Dharma Vol. 6 No. 1 Edisi Desember 2019
Publisher : STABN Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research was conducted to find out why the Mission and Purpose of Human Life is important? What is the Mission and Purpose of Human Life according to Buddhism? And what are the benefits of Human Life's Mission and Purpose according to Buddhism? Research data were collected by identifying texts from the Tipitaka/Tripitaka scriptures that deal with the subject matter.All collected data was analyzed and dissected using hermeneutic theory and the theory of causal relations (paticcasamuppada). These theories are used to compile the Struggle and Mission of Human Life according to Buddhism.The Mission and Purpose of Human Life is important because it is a guide in running the lives of every individual human being. The implementation begins with hiri and ottapa (shame to do evil and fear of the consequences of the crime committed), increasing to a higher level, namely the implementation of the Pancasila Buddhist for ordinary households/community, increasing to the implementation of ten precepts (Dasa Sila) for the samanera/samaneri (prospective monks/nuns), then the highest is the precepts for the monks/ nuns (Patimokkha Sila). The benefits are to provide guidance on living in the development of human character, the development of tolerance and culture, as a motivation for doing good, the development of a spirit of openness, and building social independence and the highest is leading to perfection. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui mengapa misi dan tujuan hidup manusia itu penting. Rumusan masalah yang diajukan adalah: (a) bagaimanakah misi dan tujuan hidup manusia menurut ajaran Buddha? dan (b) apakah manfaat misi dan tujuan hidup manusia menurut ajaran Buddha? Data penelitian dikumpulkan dengan mengidentifikasi teks-teks dari kitab suci Tipitaka/Tripitaka yang berhubungan dengan pokok permasalahan. Seluruh data yang terkumpul dianalisis dan dibedah dengan menggunakan teori hermeneutic dan teori hubungan sebab akibat (paticcasamuppada). Teori-teori tersebut digunakan untuk mengompilasi perjuangan dan misi kehidupan manusia menurut ajaran Buddha. Misi dan tujuan hidup manusia menjadi penting karena sebagai panduan dalam menjalankan kehidupan setiap individu manusia. Pelaksanaannya diawali dengan hiri dan ottapa (rasa malu untuk berbuat jahat dan rasa takut akan akibat dari kejahatan yang dilakukan), meningkat ke tingkat lebih tinggi yaitu pelaksanaan Pañcasīla Buddhis untuk perumah tangga/masyarakat biasa, meningkat ke pelaksanaan sepuluh sīla (dasa sīla) bagi para samanera/samaneri (calon bhikkhu/ bhikkhuni), kemudian yang tertinggi yaitu sīla untuk para bhikkhu/bhikkhuni (patimokkha sīla). Adapun manfaatnya adalah memberikan arah pedoman hidup dalam pembangunan karakter manusia, pengembangan toleransi dan budaya, sebagai motivasi berbuat baik, pembangunan spirit keterbukaan, dan membangun kemandirian sosial serta mengarah pada kesempurnaan.