Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Pemanfaatan UAV dengan Sensor Kamera dan Lidar untuk Pemetaan Situs Cagar Budaya Kawasan Candi Prambanan Arrofiqoh, Erlyna Nour; Muryamto, Rochmad; Afiyanti, Dhiha; Azizah, Siti Chikal; Kresnawan, Dicky Satria; Fabiola, Amelinda Nuron
GEOID Vol. 17 No. 2 (2022)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v17i2.1737

Abstract

Kawasan Candi Prambanan merupakan situs warisan cagar budaya yang harus dirawat dan dilindungi keberadaannya. Wilayah yang dilintasi patahan tektonik aktif yaitu sesar Opak, membuat wilayah ini memiliki kerentanan yang tinggi terhadap kerusakan karena gempa bumi. Untuk mendukung pelestarian kawasan cagar budaya, diperlukan pendokumentasian kawasan cagar budaya yang dapat merekam kondisi objek dengan baik untuk kepentingan inventarisasi. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah memotret kawasan candi Prambanan dengan menggunakan teknologi UAV (Unmanned Aerial Vehicles). Semakin berkembangnya teknologi, UAV tidak hanya dapat membawa sensor kamera tetapi juga dapat membawa sensor LIDAR (Light Detection and Ranging). Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui pemanfaatan teknologi UAV yang membawa sensor kamera dan LIDAR untuk pemetaan situs cagar budaya di kawasan Candi Prambanan dan mengetahui potensi hasil point cloud pengolahan data dari kamera dan LIDAR untuk pemodelan 3D. Hasil kajian menunjukkan bahwa pemotretan kawasan Candi Prambanan menghasilkan foto udara dengan tingkat ketelitian yang tinggi. Resolusi yang dihasilkan dari proses pemotretan udara kawasan Candi Prambanan adalah 8 mm. Foto udara tersebut dapat dimanfaatkan untuk pemetaan skala detail yaitu 1:1000 dengan ketelitian horizontal dan vertikal masuk ke dalam kelas 2. Hasil point cloud dari LIDAR dapat memberikan tampilan geometri 3 dimensi. Bagian atas candi yang tinggi menjulang dapat terekam dengan cukup baik, dimana point cloud dari hasil pengolahan foto udara kurang dapat terekam dengan baik. Point cloud dari LIDAR dan foto udara berpotensi untuk dapat membuat model 3 dimensi dengan teliti.
Pembuatan Model 3D dengan Memanfaatkan Teknologi Drone Lidar Untuk Pemetaan Situs Cagar Budaya Candi Garuda Arrofiqoh, Erlyna Nour; Muryamto, Rochmad
Angkasa: Jurnal Ilmiah Bidang Teknologi Vol 15, No 2 (2023): November
Publisher : Institut Teknologi Dirgantara Adisutjipto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28989/angkasa.v15i2.1674

Abstract

Candi Garuda merupakan salah satu candi yang terletak di kompleks candi Prambanan. Candi Garuda merupakan candi Hindu di Indonesia dan dicatat menjadi salah satu warisan dunia oleh UNESCO. Letak candi berada di dekat zona sesar Opak sehingga rawan terjadi kerusakan ketika terjadi gempa bumi. Kegiatan pelestarian warisan cagar budaya perlu didukung oleh pemantauan secara berkala dan pendokumentasian. Salah satu metode untuk pemantauan dan pemutakhiran kondisi cagar budaya adalah dengan menggunakan wahana pesawat nir awak atau drone. Semakin berkembangnya teknologi, drone tidak hanya dapat membawa sensor kamera tetapi juga dapat membawa sensor LiDAR. Penelitian ini menggunakan teknologi drone pembawa sensor LiDAR untuk memperoleh model 3D dari kawasan cagar budaya Candi Prambanan. Tujuan dari kegiatan penelitian ini adalah pembuatan model 3D dengan kombinasi data yang berasal penggabungan sensor LiDAR dan sensor kamera yang diolah dengan menggunakan teknik SfM (Structure from Motion). Hasil kajian menunjukkan bahwa hasil pointclouds dari kedua data tersebut memiliki karakter yang berbeda. Kedua data tersebut memiliki masing-masing kelebihan dan kekurangannya. Kombinasi dari kedua data tersebut dapat meningkatkan hasil rekonstruksi model 3D candi yang memiliki karakter arsitektur bangunan tinggi, meruncing dan banyak detil.
Evaluasi Perubahan dan Kesesuaian Penggunaan Lahan Tahun 2019 Terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) di Kabupaten Bekasi Rochman, Dhimas Aulia; Muryamto, Rochmad
Journal of Geospatial Science and Technology Vol 1 No 1 (2023): Journal of Geospatial Science and Technology
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgst.v1i1.5901

Abstract

Pola penggunaan lahan di kawasan perkotaan yang umum terjadi adalah penyusutan dari sektor pertanian, yang beralih menjadi lahan terbangun. Hal serupa terjadi di Kabupaten Bekasi, dikutip dari data LAPAN (2017), bahwa telah terjadi penurunan lahan sawah sebesar 0.59% yang beriringan dengan pertambahan kawasan industri mencapai 0,15%per tahun. Berbagai perubahan penggunaan lahan yang terjadi akan memberikan pengaruh terhadap struktur tata ruang wilayah secara keseluruhan. Jika hal tersebut terus-menerus dilakukan, dikhawatirkan akan terjadi perubahan yang tidak proporsional pada setiap klasifikasi penggunaan lahan. Kegiatan aplikatif ini dilaksanakan untuk mengetahui perubahan penggunaan lahan tahun 2014–2019 serta mengevaluasi kesesuaian penggunaan lahan tahun 2019 terhadap RTRW di wilayah Kabupaten Bekasi. Kegiatan aplikatif ini diawali dengan melakukan penentuan klasifikasi tata ruang dengan mengacu PERDA No.12 Tahun 2011 tentang RTRW pada citra Spot 6 wilayah Kabupaten Bekasi tahun 2014. Kemudian dilakukan digitasion screen pada citra Spot 6 wilayah Kabupaten Bekasi untuk mendapatkan data penggunaan lahan tahun 2014 dengan format shapefile. Selanjutnya dilaksanakan uji ketelitian hasil interpretasi dengan membandingkan hasil klasifikasi citra Spot 6 dengan citra acuan melalui Google Earth Pro melalui menu historical image. Data lainnya yang digunakan yaitu data RTRW dan data penggunaan lahan tahun 2019 wilayah Kabupaten Bekasi. Data tersebut dianalisis dengan menu overlay. Luas perubahan paling besar terjadi pada jenis perubahan pertanian menjadi industri seluas 78.1 ha. Untuk kesesuaian penggunaan lahan tahun 2019 terhadap RTRW menunjukkan bahwa Kecamatan Pebayuran merupakan kecamatan dengan luas klasifikasi sesuai paling besar yaitu 7196.38 ha. The common pattern of land use in urban areas is agricultural land shrinkage due to conversions to built-up land. Similar things happened in the Bekasi Regency, quoted from LAPAN data (2017), there has been a decline in rice fields by 0.59%whichgoes hand in hand with the increase of industrial land by 0.15% per year. Several conversions in land use that happened will influence the overall spatial structure of the region. If this phenomenon happens continuously, there will be disproportionate changes for each land use classification. This applicative activity aims to find out land use conversions in 2014-2019 and evaluate the land use compatibility in 2019 based on RTRW in the Bekasi Regency. The activity began by ensuring spatial classification by referring to PERDA No.12 of 2011 concerning RTRW, to the Spot 6 image of Bekasi Regency in 2014. Then, on-screen digitization is carried out to the Spot 6 image of Bekasi Regency to obtain2014land use data in shapefile format. Furthermore, an accuracy test is done using a confusion matrix to determine the value of accuracy by comparing the result of Spot 6 classification with reference on google earth’s pro historical image. Other data used are RTRW data and 2019 land use data in the Bekasi Regency area. The data is analyzed using the overlay menu. The largest land conversions occurred in the agricultural to industrial land conversion type, accounting for 78.1 ha. For the land use compatibility in 2019 to the RTRW, Pebayuran District has the largest compatibility inland use classification, accounting for 7196.38 ha
A Development of A Flood Vulnerability Level Map Using Scoring and Weighting Methods in Bogowonto Sub Watershed Ayudya, Prita; Muryamto, Rochmad
Journal of Geospatial Science and Technology Vol 2 No 1 (2024): Journal of Geospatial Science and Technology
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgst.v2i1.6113

Abstract

Daerah Aliran Sungai (DAS) Bogowonto termasuk salah satu DAS di Kabupaten Purworejo yang rutin terjadi bencana banjir. Berdasarkan data rekap bencana banjir tahun 2019, tercatat 23 bencana banjir terjadi di Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo. Dalam rangka membantu Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan pemerintah daerah Kabupaten Purworejo untuk melakukan tindakan mitigasi bencana, langkah awalnya adalah melakukan kajian risiko bencana mengenai potensi rawan terdampak banjir di Sub DAS Bogowonto. Untuk keperluan tersebut, belum tersedia peta tingkat kerawanan banjir di Sub DAS Bogowonto yang mengacu pada SNI 8197 tahun 2015 dan Perka BNPB Nomor 2 tahun 2012. Berdasarkan hal itu, perlu dilakukan pembuatan peta tingkat kerawanan bencana banjir di Sub DAS Bogowonto tepatnya Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo. Pembuatan peta tingkat kerawanan banjir di Sub DAS Bogowonto mengacu pada SNI 8197 tahun 2015 dan Perka BNPB Nomor 2 tahun 2012 menggunakan beberapa parameter, antara lain yaitu penggunaan lahan, curah hujan, kelerengan, elevasi, dan jenis tanah. Berdasarkan hasil pengolahan data, diperoleh peta dengan tiga kelas tingkat rawan banjir yaitu kelas rendah, sedang, dan tinggi. Pada kelas rendah nilai rentangnya sebesar 0,1 s.d. 0,817, kelas sedang sebesar 0,817 s.d. 1,534, dan untuk kelas rawan banjir tinggi sebesar 1,534 s.d. 2,25. Pada kelas rendah, nilai luasan area rawan banjir sebesar 164,019 ha, kelas sedang sebesar 119,107 ha, dan untuk kelas tinggi sebesar 3742,205 ha. Evaluasi daerah rawan banjir menunjukkan bahwa dari total 30 desa, 26 desa (86,67%) yang termasuk klasifikasi daerah rawan banjir terbukti mengalami bencana banjir berdasarkan catatan kejadian banjir tahun 2019 dan 2020 dari Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak. The Bogowonto Watershed (DAS) is one of the watersheds in Purworejo Regency which regularly experiences floods. Based on data from the 2019 flood disaster recap, 23 flood disasters occurred in Purwodadi District, Purworejo Regency. To assist the National Disaster Management Agency (BNPB) and the local government of Purworejo Regency to carry out disaster mitigation actions, the first step is to conduct a disaster risk study regarding the potential for flood-prone areas in the Bogowonto sub-watershed. For this purpose, there is no map of the level of flood vulnerability in the Bogowonto sub-watershed which refers to SNI 8197 of 2015 and Perka BNPB No. 2 of 2012. Based on this, it is necessary to development a map of the level of flood hazard in the Bogowonto sub-watershed, precisely in Purwodadi District, Kabupaten Bogowonto. Purworejo. Development a map of the level of flood vulnerability in the Bogowonto sub-watershed refers to SNI 8197 of 2015 and Perka BNPB No. 2 of 2012 using several parameters, including land use, rainfall, slope, elevation, and soil type. Based on the results of data processing, a map was obtained with three classes of flood vulnerable levels, namely low, medium, and high classes. In the low class, the range value is 0.1 to d. 0.817, medium class of 0.817 s.d. 1.534, and for the high flood vulnerable class of 1.534 s.d. 2.25. In the low class, the value of the flood vulnerable area is 164,019 ha, the medium class is 119,107 ha, and for the high class, it is 3742.205 ha. The evaluation of flood vulnerable areas showing that out of a total of 30 villages, 26 villages (86.67%) which are classified as flood vulnerable areas, have been proven to have experienced floods based on flood event records in 2019 and 2020 from the Serayu Opak River Region Center.
Pemetaan Jalur Evakuasi Tsunami Di Pesisir Pantai Kabupaten Kulon Progo Menggunakan Metode Closest Facility Masyithoh, Eka Sekar; Muryamto, Rochmad
Journal of Geospatial Science and Technology Vol 3 No 2 (2025): Journal of Geospatial Science and Technology
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgst.v4i2.25064

Abstract

Wilayah pesisir Kabupaten Kulon Progo, yang meliputi Kapanewon Temon, Wates, Panjatan, dan Galur, berpotensi terdampak tsunami dengan ketinggian hingga 20 meter. Tsunami tersebut dipicu oleh gempa megathrust dengan magnitudo > 8 di zona subduksi selatan Pulau Jawa. Ancaman tingginya korban jiwa memerlukan upaya mitigasi, khususnya melalui penyusunan jalur evakuasi yang tepat. Ketidaktepatan jalur serta minimnya informasi estimasi waktu tempuh berpotensi menimbulkan keterlambatan evakuasi. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi jalur evakuasi tercepat menuju lokasi evakuasi terdekat dan mengestimasi waktu tempuh dari setiap jalur evakuasi. Metode diawali dengan konversi hasil pemodelan inundasi tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi data vektor untuk mengidentifikasi wilayah terinundasi dan tempat evakuasi yang aman. Wilayah permukiman dan objek wisata pantai digunakan sebagai titik awal evakuasi, sementara tempat evakuasi yang aman sebagai titik akhir. Penentuan jalur evakuasi dilakukan menggunakan metode Closest Facility pada Network Analyst dengan skenario kecepatan berjalan kaki, berlari, dan menggunakan sepeda motor. Hasil identifikasi menunjukkan adanya tiga objek wisata pantai dan 185 wilayah permukiman terinundasi dengan total luas 1.101,354 ha. Penentuan jalur menghasilkan total enam jalur dari objek wisata pantai dan 370 jalur dari permukiman. Rata-rata waktu tempuh evakuasi dengan berjalan kaki, berlari, dan menggunakan sepeda motor berturut-turut adalah 60,34 menit, 21,87 menit, dan 8,01 menit.
PEMANFAATAN TEKNOLOGI TERRESTRIAL LASER SCANNER DALAM UPAYA KONSERVASI BANGUNAN CAGAR BUDAYA Ulya Agustin; Rochmad Muryamto; Hanif Ilmawan
Pangripta Sembada : Jurnal Perencanaan Pembangunan Vol 1 No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Sleman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bangunan cagar budaya adalah bangunan yang memiliki nilai sejarah penting sehingga perlu dijaga keaslian arsitekturnya. Salah satu bangunan cagar budaya yang ada di Yogyakarta adalah Gedung Iso Reksohadiprodjo. Gedung tersebut merupakan bagian dari Kompleks Pantja Dharma yang kini digunakan oleh Sekolah Vokasi UGM sebagai fasilitas perkuliahan. Untuk menjaga keaslian atau konservasi bangunan perlu dilakukan pendokumentasian yang nantinya berguna apabila ingin dilakukan restorasi bangunan. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mendokumentasikan gedung ini adalah dengan menggunakan alat Terrestrial Laser Scanner (TLS). Penggunaan TLS ini menghasilkan data point clouds dengan akurasi tinggi dengan dibuktikan dengan perhitungan ketelitian point clouds. Akuisisi data pada eksterior gedung menggunakan metode registrasi cloud to cloud dan diolah dengan perangkat lunak Autodesk Recap Pro. Ketelitian data point clouds diuji dengan membandingkan 30 sampel jarak yang diukur menggunakan alat distometer dan alat TLS, kemudian pengujian menggunakan RMSE. Selain itu, ketelitian posisi horizontal dan vertikal dianalisis menggunakan sembilan sampel untuk menghitung perbedaan koordinat antara point clouds dan koordinat lapangan. Hasil akhir dari penelitian ini berupa dokumentasi eksterior Gedung Iso Reksohadiprodjo dalam bentuk point clouds dengan ketelitian point clouds sebesar 0,003 m, ketelitian posisi horizontal sebesar 0,054 m, dan ketelitian posisi vertikal sebesar 0,131 m. Dengan akurasi tersebut, upaya restorasi atau konservasi dapat dilakukan berdasarkan model 3D point clouds yang sangat mendekati kondisi asli bangunan. Hal ini dapat dijadikan acuan untuk analisis perubahan bangunan dari waktu ke waktu.