Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

HUBUNGAN SITUS GEDE ING SURO DAN KEKUASAAN JAWA DI PALEMBANG PADA MASA PASCA-SRIWIJAYA Alnoza, Muhamad
Siddhayatra Vol 25, No 1 (2020): JURNAL ARKEOLOGI SIDDHAYATRA
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1592.464 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v25i1.159

Abstract

Kota Palembang merupakan kota tertua di Indonesia sebagaimana tercatat dalam Prasasti Kedukan Bukit yang berangka tahun 604 Saka/682 Masehi. Kedudukan Palembang sebagai kota pelabuhan internasional membuat kota ini berkembang di bawah kuasa Sriwijaya. Menjelang abad ke-11, Sriwijaya runtuh karena serangan Kerajaan Cola dan Malayu. Setelah kejatuhan Sriwijaya, Palembang berada di bawah kekuasaan kerajaan-kerajaan di Jawa, utamanya Majapahit. Tulisan ini membahas kepenguasaan Jawa di Palembang berdasarkan tinggalan arkeologis, terutama tinggalan di Situs Gede Ing Suro. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode arkeologi. Situs Gede Ing Suro merupakan multicomponent site yang di dalamnya terkandung beberapa tinggalan arkeologis dari pelbagai zaman, mulai dari candi, arca, keramik maupun makam Islam. Mengenai data sejarah Palembang pada masa ini dapat ditemukan dalam kitab Nagarakrtagama dan kronik Ying Yai Sheng Lan. Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa Situs Gede Ing Suro merupakan monumen kekuasaan Jawa di Palembang sebagaimana sebelumnya merupakan monumen kekuasaan Sriwijaya
PERTIMBANGAN PENGGUNAAN TIMAH SEBAGAI MEDIA PENULISAN PRASASTI DI SUMATERA Alnoza, Muhamad
Siddhayatra Vol 26, No 1 (2021): JURNAL ARKEOLOGI SIDDHAYATRA
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/siddhayatra.v26i1.206

Abstract

Prasasti merupakan suatu benda yang dipermukaannya digoreskan tulisan, yang isi tulisannya dapat berupa dokumen yang menyuratkan informasi tertentu. Bahan yang digunakan dalam penulisan prasasti memiliki beberapa variasi, antara lain batu, perunggu atau tembaga, emas, daun lontar dan lain sebagainya. Penelitian yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Sumatera Selatan di tahun 2018 menunjukkan bahwa telah ditemukan beberapa prasasti yang media penulisannya adalah timah. Fenomena ini menjadi suatu fakta baru dalam dunia arkeologi Indonesia, karena belum ditemukan prasasti yang media penulisannya berupa timah. Kajian ini berusaha menjawab permasalahan mengenai alasan atau latar belakang dari penggunaan timah sebagai media tulis prasasti. Metode yang digunakan antara lain pengumpulan data, analisis dan interpretasi. Kajian ini menghasilkan pemahaman bahwa pemilihan timah sebagai media tulis berkaitan dengan aspek fungsional (kaitan prasasti dengan kegunaannya di masyarakat) dan aksesibilitas (kaitan prasasti dengan pilihan bahan yang tersedia sebagai medium penulisan).
HUBUNGAN SITUS GEDE ING SURO DAN KEKUASAAN JAWA DI PALEMBANG PADA MASA PASCA-SRIWIJAYA Alnoza, Muhamad
Siddhayatra Vol 25, No 1 (2020): JURNAL ARKEOLOGI SIDDHAYATRA
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/siddhayatra.v25i1.159

Abstract

Kota Palembang merupakan kota tertua di Indonesia sebagaimana tercatat dalam Prasasti Kedukan Bukit yang berangka tahun 604 Saka/682 Masehi. Kedudukan Palembang sebagai kota pelabuhan internasional membuat kota ini berkembang di bawah kuasa Sriwijaya. Menjelang abad ke-11, Sriwijaya runtuh karena serangan Kerajaan Cola dan Malayu. Setelah kejatuhan Sriwijaya, Palembang berada di bawah kekuasaan kerajaan-kerajaan di Jawa, utamanya Majapahit. Tulisan ini membahas kepenguasaan Jawa di Palembang berdasarkan tinggalan arkeologis, terutama tinggalan di Situs Gede Ing Suro. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode arkeologi. Situs Gede Ing Suro merupakan multicomponent site yang di dalamnya terkandung beberapa tinggalan arkeologis dari pelbagai zaman, mulai dari candi, arca, keramik maupun makam Islam. Mengenai data sejarah Palembang pada masa ini dapat ditemukan dalam kitab Nagarakrtagama dan kronik Ying Yai Sheng Lan. Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa Situs Gede Ing Suro merupakan monumen kekuasaan Jawa di Palembang sebagaimana sebelumnya merupakan monumen kekuasaan Sriwijaya
Upaya Pemberian Makna pada Prasasti Berbentuk Stambha dari Jawa Tengah (Abad IX–X Masehi) Alnoza, Muhamad; Munandar, Agus Aris
Paradigma: Jurnal Kajian Budaya Vol. 11, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Stone stele is made in a particular form based on a particular concept. The concept behind the making of the inscription is called meaning. Archaeologists need to interpret this in uncovering the meaning behind the inscription form by studying semiotics in the overall form and contents of the inscription. This paper studies the meaning of the stambha inscriptions from the 9th-10th century AD. The study is aimed at reconstructing the concept behind the making of the stambha inscriptions in ancient Java. The method used in this study consists of data collection, data analysis, and interpretation. Based on this series of studies, it can be seen that the stambha inscription has a hierarchical sacred meaning.
PRASASTI-PRASASTI MANTRA PADA LINGGA DARI KERAJAAN MATARAM KUNO (ABAD KE-8-10 M) Alnoza, Muhamad
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 16, No 2 (2022): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v16i22022p399-414

Abstract

Previous research has provided knowledge about the existence of mantras carved on the phallus in central Java. Based on the paleographic analysis, it can be seen that the inscriptions date back to the Ancient Mataram Kingdom (8th-10th century AD). This study was made with the aim of deepening the understanding of the functional relationship of the phallus with the spells carved on the surface of the object. The formulation of the problem proposed to support the purpose of this research is about the function of the spells on the phallus for the people of the Ancient Mataram Kingdom. In this study, the implementation of qualitative research methods, the process of collecting data using the literature study method. Through this method, this study found that the mantra inscriptions on the phallus have elements of Saivites Hinduism, Mahayana Buddhism, and Vajrayana Buddhism. The phallus at that time was used as a symbol of the mythological and philosophical background of the inscribed spells.Penelitian sebelumnya telah menghasilkan pengetahuan akan adanya mantra-mantra yang dipahatkan pada lingga-lingga di Jawa bagian tengah. Berdasarkan analisis paleografinya, dapat diketahui bahwa prasasti-prasasti tersebut berasal dari masa Kerajaan Mataram Kuno (abad ke-8-10 M). Kajian ini dibuat dengan tujuan memperdalam pemahaman soal keterkaitan fungsional lingga dengan mantra-mantra yang dipahat dipermukaan objek tersebut. Rumusan masalah yang diajukan untuk menunjang  tujuan penelitian ini adalah mengenai fungsi mantra-mantra pada lingga bagi masyarakat Kerajaan Mataram Kuno. Penelitian ini pada pelaksanaannya menggunakan metode penelitian kualitatif, yang proses pengumpulan datanya menggunakan metode studi kepustakaan. Melalui metode tersebut, penelitian ini menemukan bahwa prasasti-prasasti mantra pada lingga memiliki anasir Hindu Saiwa, Buddha Mahayana, dan Buddha Vajrayana.Lingga ketika itu dijadikan sebagai media simbolisasi dari latarbelakang mitologis dan filosofis dari mantra yang diguratkan.
Piyagêm Pagadén-Pamanukan (1808 M): Tradisi Mataram Islam dan keberlanjutannya di wilayah Priangan Alnoza, Muhamad; Nely, Rusmia
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 25 No. 2 (2024)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.523

Abstract

Piyagêm Pagadén-Pamanukan berisikan perintah menjalankan syariat agama Islam yang di keluarkan pada tahun 1808 oleh Adipati Sumedang pada masa itu, Suriyanagara II (1791-1828). Artikel ini meneliti motivasi dan sebab yang melatarbelakangi penerbitan piyagêm tersebut lewat penelusuran peristiwa sejarah dan keadaan politik yang kontekstual. Tujuan lainnya adalah untuk mengetahui bentuk pola penulisan prasasti yang dikeluarkan oleh golongan ménak, dengan meninjau hal-hal apa saja yang sekiranya masih dipertahankan dalam penulisan prasasti sejak zaman Mataram Islam dan hal apa saja yang sekiranya diadaptasi oleh Adipati Suriyanagara II. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif sejarah dan epigrafi. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa motivasi penerbitan Piyagêm Pagadén-Pamanukan adalah bentuk eksploitasi kapital politis Suriyanagara II sebagai Bupati Sumedang di masa itu. Di sisi lain, Suriyanagara II juga melestarikan tradisi penulisan Piyagêm Mataram dalam semangat memperkuat legitimasinya. Dengan mengeluarkan piyagêm berbahasa Jawa, Suriyanagara II mengidentikkan diri dengan kekuasaan Mataram di sebelah timur.  
<i>PIYAGĔM CIKĔRUH</i> (1631 M): SIMBOL RELASI KUASA KERAJAAN MATARAM ISLAM DI PRIANGAN Alnoza, Muhamad
Paradigma: Jurnal Kajian Budaya Vol. 15, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

After the collapse of the Sunda Kingdom in the 16th century, most of its territory was controlled by the Islamic Mataram Kingdom. The occupation of Islamic Mataram in the ethnic Sundanese area in fact left behind several metal inscriptions known as piyagĕm. This study specifically examines the oldest piyagĕm found in the Priangan area, namely Piyagĕm Cikĕruh from Garut Regency. Based on the assumption that every inscription that is king is a symbol of power, this study focuses on science which is a symbol of power relations in Piyagĕm Cikĕruh. This study was conducted with the aim of finding the meaning of the symbols of the power relations. The results of this study are then downloaded that Piyagĕm Cikĕruh uses Islamic religious elements and Javanese-Sundanese cultural identity as symbols of power relations. These symbols are related to the meaning of the cultural hegemony of the Islamic Mataram Kingdom towards its rule in Priangan
PIYAGĔM SUKAPURA (1641 M): GEOPOLITIK KERAJAAN MATARAM ISLAM DI PRIANGAN Alnoza, Muhamad
AMERTA Vol. 40 No. 2 (2022)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/amt.2022.119

Abstract

Abstract, Piyagem Sukapura (1641 Ad): Geopolitics of Islamic Mataram Kingdom in Priangan, Piyagem is epigraphic evidence of the hegemony establishment of the Islamic Mataram Kingdom in the Priangan area. The period of the Islamic Mataram Kingdom’s power began with the suwer of the King of Sumedang, Raden Suriadiwangsa, to Sultan Agung in 1620. One of the piyagem issued by Sultan Agung while reigning in Priangan was Piyagem Sukapura. This metal inscription with the New Javanese script outlines the information on the three regencies’ establishment in Priangan in 1641 AD. This research further seeks to answer the problem regarding the relationship between the establishment of the three regencies in Priangan and geopolitical phenomena in the Islamic Mataram Kingdom. The research steps taken included data collection and analysis, in which the primary data source of this study was the transliteration of Piyagem Sukapura, while the secondary sources used as comparisons included the Sajarah Sukapura and Sajarah Cikundul manuscripts. In the end, this research concludes that Piyagem Sukapura is closely related to Sultan Agung’s geopolitical strategy after the rebellion of Dipati Ukur and the failure of the conquest of Batavia. Keyword: Geopolitic, Piyagem Sukapura; Priangan; Sultan Agung   Abstrak, Piyagem merupakan bukti epigrafis dari berdirinya hegemoni kuasa Kerajaan Mataram Islam di daerah Priangan, Rentang waktu kekuasaan Kerajaan Mataram Islam dimulai sejak menyerahnya Raja Sumedang, Raden Suriadiwangsa, kepada Sultan Agung di tahun 1620. Salah satu piyagem yang dikeluarkan Sultan Agung selama memerintah di Priangan adalah Piyagem Sukapura. Prasasti logam beraksara dan berbahasa Jawa Baru ini, menguraikan keterangan pendirian tiga kabupaten di Priangan pada tahun 1641 M. Penelitian ini lebih lanjut berusaha untuk menjawab permasalahan soal kaitan antara pendirian tiga kabupaten di Priangan tersebut dan fenomena geopolitik di Kerajaan Mataram Islam. Adapun langkah-langkah penelitian yang diambil meliputi pengumpulan data dan analisis. Sumber data primer penelitian ini adalah transliterasi Piyagem Sukapura, sedangkan sumber sekunder yang dijadikan pembanding di antaranya manuskrip Sajarah Sukapura dan Sajarah Cikundul. Penelitian ini di akhir menghasilkan simpulan bahwa Piyagem Sukapura berkaitan erat dengan strategi geopolitik Sultan Agung pasca pemberontakan Dipati Ukur dan kegagalan penaklukan Batavia. Kata Kunci: Geopolitik; Piyagem Sukapura; Priangan; Sultan Agung.
Political approach of Sultan Abu Al-Mahasin and Sultan Mahmud Badaruddin II towards the Lampungnese in XVII and XIX century CE: Pendekatan politik Sultan Abu Al-Mahasin dan Sultan Mahmud Badaruddin II di Lampung pada abad XVII dan XIX M Alnoza, Muhamad
Berkala Arkeologi Vol. 41 No. 2 (2021)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v41i2.732

Abstract

This study specifically aims to examine the power relations of the Sultan of Palembang (Sultan Mahmud Badaruddin II) in XIX century CE and the Sultan of Banten (Sultan Abu Al-Mahasin) in XVII century CE Lampung region based on piyagĕm Natayuda and dalung Bojong inscriptions. This study describes the form of political messages of Sultan Mahmud Badaruddin II and Sultan Abu Al-Mahasin in relation to the approach taken by the two kingdoms to the people of Lampung. Based on the analysis results of the inscriptions, it can be seen that the Sultanate of Palembang was more oriented towards a hard power approach, while the Sultanate of Banten was oriented to a combination of hard power and soft power.
SERPENT SCULPTURE ON TELAGA BATU INSCRIPTION: AN INTERPRETATION BASED ON PEIRCE'S SEMIOTIC APPROACH: FIGUR ULAR PADA PRASASTI TELAGA BATU: UPAYA PEMAKNAAN BERDASARKAN PENDEKATAN SEMIOTIKA PEIRCE Alnoza, Muhamad
Berkala Arkeologi Vol. 40 No. 2 (2020)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v40i2.591

Abstract

Abstract Sriwijaya is a kingdom that developed between the 7th and 11th centuries AD. The inscriptions become archaeological remains as well as written sources that can reconstruct Sriwijaya's cultural history. The Telaga Batu inscription as one of Sriwijaya inscriptions is different from other inscriptions because it has the only ornament in living creature shape and it is the longest inscription among the others. The ornaments found on the Telaga Batu Inscription are in the form of a seven-headed snake. This study attempts to answer the meaning of the seven-headed snake figure with Peirce's triadic semiotic method. In answering these questions, a series of stages of archaeological research are used, including data collection, data analysis and interpretation. The snake figure in the Telaga Batu inscription can eventually be interpreted as a manifestation of the Datu's protector and the form of the Datu as a Buddha. Abstrak Sriwijaya adalah kerajaan yang berkembang antara abad ke-7 sampai dengan 11 M. Prasasti menjadi tinggalan arkeologis sekaligus sumber tertulis yang dapat merekonstruksikan sejarah kebudayaan Sriwijaya. Prasasti Telaga Batu menjadi berbeda dengan prasasti lainnya, karena satu-satunya yang memiliki ornamen berbentuk mahluk hidup dan isinya yang paling panjang di antara yang lain. Ornamen yang terdapat pada Prasasti Telaga Batu adalah berbentuk ular berkepala tujuh. Kajian ini berusaha untuk menjawab makna figur ular berkepala tujuh tersebut dengan metode semiotika triadik Peirce. Makna tersebut dapat merekontruksi konsep dibalik pembuatan figur ular berkepala tujuh beserta alasan mengapa perlu dibuat figur tersebut digambarkan pada Prasasti Telaga Batu. Dalam menjawab pertanyaan tersebut digunakan rangkaian tahapan penelitian arkeologi, meliputi pengumpulan data, analisis data dan interpretasi. Figur ular pada Prasasti Telaga Batu pada akhirnya dapat dimaknai sebagai perwujudan pelindung Datu dan juga wujud sang Datu sebagai Buddha.