Sistem tenaga listrik merupakan sistem pembangkit tenaga listrik sistem transmisi dan sistem distribusi. Sistem distribusi terbagi menjadi dua jenis yaitu, distribusi tegangan menengah (distribusi Primer) yang kapasitasnya 20 kV dan distribusi tegangan rendah (distribusi sekunder) yang kapasitasnya 220/380 V. Sistem distribusi berperan sebagai penyaluran dan pendistribusian tenaga listrik pada masing-masing beban atau konsumen sesuai kebutuhannya. Sistem distribusi merupakan bagian terakhir dari seluruh sistem tenaga listrik. Salah satu gangguan yang terjadi pada saluran distribusi adalah jatuh tegangan atau sering disebut drop tegangan. Jatuh tegangan adalah besarnya tegangan yang hilang pada suatu konduktor. Gangguan tersebut diakibatkan oleh panjangnya suatu penghantar pada saluran distribusi tegangan menengah, hal ini sangat menarik untuk di analisa dan dipahami karena pengaruh dari gangguan tersebut mengakibatkan pelayanan yang buruk bagi konsumen. Hasil studi aliran daya (load flow) dengan penggunaan penghantar 25 mm2 menunjukan regulasi tegangan (voltage regulation/VR) diatas 4 % terjadi pada beban atau node A13 s/d A31 dan B1 s/d B21, hal ini dikarenakan pada bus tersebut terjadi jatuh tegangan (voltage drop) sebesar 8,9 s/d 11,3 V atau tegangan pada bus tersebut sebesar 208,7 s/d 211,1 V. Penyebab terjadinya jatuh tegangan disebabkan adanya rugi tegangan akibat hambatan (R) dan reaktansi (X) yang cukup besar pada penghantar tersebut.Hasil studi aliran daya (load flow) dengan penggunaan penghantar 35 mm2 menunjukan regulasi tegangan (voltage regulation/VR) dibawah 4 %, disebabkan hambatan (R) dan reaktansi (X) tidak sebesar pada penghantar 25 mm2.