Galeswangi, Rakai Hino
Universitas Islam Internasional Darullughah Wadda'wah Pasuruan

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

The meaning and function of the ox-shaped stone tub at Batu Banteng Site, Situbondo, East Java : Arti dan fungsi bejana batu berbentuk lembu di Situs Batu Banteng, Situbondo, Jawa Timur Galeswangi, Rakai Hino
Berkala Arkeologi Vol. 42 No. 1 (2022)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v42i1.884

Abstract

Bejana batu berbentuk lembu yang terdapat di Situs Batu Banteng, Selobanteng, Banyuglugur, Sitobondo, Jawa Timur memiliki ciri khas berupa prasasti berangka tahun 1325 Śaka (1403 M). Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan arti dan fungsi bejana batu tersebut melalui metode penelitian kualitatif yang meliputi studi pustaka, transliterasi, dan penerjemahan prasasti. Bejana batu di Situs Batu Banteng menunjukkan adanya indikasi pergeseran dari konsep tambragomukha dalam ajaran Buddha Mahayana menjadi sarana penyucian dosa sebelum seseorang memasuki mandala kadewaguruan.
INSTRUCTIONAL MEDIA IN THE XV CENTURY (A CASE STUDY OF WIDODAREN, GERBA, AND PASRUJAMBE INSCRIPTIONS): MEDIA PEMBELAJARAN PADA ABAD XV M (STUDI KASUS PRASASTI WIDODAREN, GERBA, DAN PASRUJAMBE) Galeswangi, Rakai Hino
Berkala Arkeologi Vol. 40 No. 1 (2020)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v40i1.499

Abstract

Abstract This study was aimed at analyzing and interpreting the instructional media existing in the classical period of the Hindu - Buddhist kingdoms. The object of the study was inscriptions found on the Semeru Slope, inclduing Widodaren, Pasrujambe, and Gerba. This study employed a qualitative method with an archeological-historical framework. The data was collected through a literature review and in-situ research of the inscriptions. The collected data was analyzed using a structural analysis in the forms of transliteration of the contents and meaning written at the inscriptions. The study found that there is evidence of the use of instructional media in teaching process. This finding is also supported by the NÄgaraká¹›tâgama and Bujaņga Manik manuscripts which narrate educational and moral values as one of the characteristics of instructional media. In addition, the instructional media serve as a tool support the teaching and learning process at that time. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menginterpretasikan temuan baru pada masa kerajaan Hindu - Buddha di Nusantara (masa klasik). Objek dari kajian penelitian ini adalah prasasti- prasasti dari Lereng Semeru yakni; Prasasti Widodaren, Pasrujambe, dan Gerba. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan kajian studi arkeologi-sejarah. Pengumpulan data dilaksanakan dengan studi kepustakaan dengan tinjauan data primer. Selanjutnya menggunakan analisis struktural berupa transliterasi terhadap isi dan makna yang tertulis pada ketiga prasasti tersebut. Hasil analisis menemukan adanya bukti-bukti penggunaan media pembelajaran dalam proses pembelajaran di Lereng Semeru yang didukung oleh sumber naskah yakni NÄgaraká¹›tâgama dan Bujaņga Manik. Ketiga prasasti yang menjadi objek kajian terbukti sebagai media pembelajaran tradisional yang berbahan dasar batu. Media pembelajaran sendiri adalah alat bantu dalam belajar mengajar. Lebih lanjut, ketiga batu prasasti tersebut berisikan pesan-pesan moral interaktif yang merupakan salah satu sifat dari media pembelajaran.
Jejak “Candi Wareng”: Kajian Ikonologis Yoni 206 dan Indikasi Wanua Agraris “Poros” Wareng-Kawangsan pada Abad ke-10 di Kota Malang Aditya Nirwana; Rakai Hino Galeswangi
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 11 No 1 (2026): Sajaratun: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v11i1.7961

Abstract

Kajian ini dilakukan untuk mengungkap makna visual yoni 206 di situs makam (semu) Mbah Wareng, Kedungkandang, Malang, yang selama ini minim data historis maupun artefaktual. Penelitian berfokus pada tiga aspek: (1) identifikasi elemen faktual, (2) interpretasi simbol dan alegori, serta (3) pengungkapan makna filosofis dan weltanschauung yang melingkupi artefak tersebut. Pendekatan ikonografi–ikonologi Erwin Panofsky digunakan dalam kerangka penelitian kualitatif–naratif sejarah seni, dengan penekanan pada perbandingan gaya dan telaah literatur arkeologis kawasan Malang Raya. Hasil kajian menunjukkan bahwa yoni 206 memiliki karakter gaya garap yang sebanding dengan temuan abad ke-10, terutama dari situs Srigading dan lingga–yoni periode Mataram Kuno/Medang–Pu Sindok. Hiasan padm?sana dalam relung kantha dipandang sebagai “penyimpangan ikonografis” sekaligus penanda sakral yang mengaitkan yoni ini dengan pemujaan Vishnu–Lakm?/Shri dalam konteks kesuburan, mata air, dan aktivitas pertanian. Temuan ini mengarah pada dugaan keberadaan sebuah kuil kecil, sementara disebut “Candi Wareng”, serta kemungkinan bahwa kawasan Wareng–Kawangsan merupakan wanua agraris dalam jaringan watak Kanuruhan. Kesimpulan kajian ini terletak pada analisis ikonografis mendalam yang dikaitkan dengan rekonstruksi geo-historis. Adapun keterbatasan terutama muncul dari hilangnya pranala, kurangnya konteks stratigrafis, serta ketiadaan sumber tekstual lokal. Penelitian lanjutan diperlukan untuk memverifikasi hipotesis ini.
DINAMIKA PENDIDIKAN ISLAM DI PONDOK PESANTREN MODERN AR RISALAH KOTA LUBUKLINGGAU SUMATERA SELATAN 1994-2018 M Peni Nurs; Mizuar; Rakai Hino Galeswangi
Batuthah: Jurnal Sejarah Padaban Islam Vol. 2 No. 1 (2023): March
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam Institut Agama Islam Darullughah Wadda'wah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38073/batuthah.v2i1.1064

Abstract

Pesantren dikenal sebagai pusat pendidikan tradisional yang tetap eksis hingga saat ini. Meski begitu dalam diskursusnya pesantren, mengalami dinamika dalam sistem kurikulumnya, seperti halnya Pesantren Modern Ar Risalah ini. Tujuan dari siset ini untuk mengetahui sejarah berdirinya, dsistem kurikulum pendidikan, serta respon dari dikamika dalam pendidikan di Pesantren Ar Risalah. Riset artikel ini merupakan kajian lapangan, yang dalam metodenya menggunakan metode sejarah dengan adanya empat tahap yakni, heuristic, kritik, interprestasi, dan historiografi. Hasilnya dikatakan bahwa Pondok Pesantren Modern Ar Risalah didirikan oleh seorang tokoh yang bernama K. H. Syaiful Hadi pada tahun 1994 M. atas saran dari gurunya untuk berdakwah di daerah Sumatera Selatan, dikawasan Lubuklinggau menggingat daerah tersebut dulunya merupakan, kawasan perjudian, minum-minuman, maling. Mulanya hanya mengadakan pengajian majelis taklim di musholla, surau. Kemudian mendapat dukungan para jamaah untuk mendirikan pondok pesantren guna mendidik agama Islam bagi anak-anak. Masa awal berdirinya 1994, Pesantren Modern Ar Risalah sistem kurikulumnya sebatas menyelenggarakan program khusus, yakni pengajaran kitab-kitab fiqih, akhlak, hadits, tajwid, tauhid, serta ilmu keislaman. 1998, sistem kurikulumnya terdapat perubahan tambahan pendidikan formal yang menkombinasikan pendidikan pesantren dan nasional. 2007, terjadi perubahan sistem kurikulum dengan menambahkan ekstrakurikuler. Sistem kurikulum pendidikan Pesantren Modern Ar Risalah terdapat beberapa metode pengajar yakni, metode ceramah, metode keteladanan, metode diskusi, metode demontrasi, metode sorogan, serta metode bandongan dan wetonan. Dinamika sistem pendidikan yang ada di Pesantren Modern Ar Risalah dipicu oleh beberapa faktor yakni, pertama pemimpin. Kedua ilmu pengetahuan dan tekhnologi (IPTEK). Dan Ketiga globalisasi.