Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perbandingan Penggunaan Majas Anthropomorphisme Dalam Al-Qur’an dan Bibel Sebagai Indikasi Kertelibatan Manusia Dalam Wahyu Amanda, Ruri
El-Wasathy: Journal of Islamic Studies Vol 3 No 1 (2025): El-Wasathy: Journal of Islamic Studies
Publisher : Lembaga Swadaya Masyarakat Asosiasi Masyarakat Madani Indonesia (AMMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61693/elwasathy.vol31.2025.114-135

Abstract

Penelitian tentang penggunaan majas anthropomorphisme dalam kitab suci merupakan salah satu variasi studi yang terdapat pada ruang lingkup kajian Hermeneutika. Adapun yang dimaksud dengan anthropomorphisme adalah salah satu turunan dari majas personifikasi dimana adanya pelekatan sifat-sifat manusiawi pada objek-objek non-kemanusiaan, misalnya melekatkan sifat kemanusiaan pada hewan, tumbuhan atau bebatuan yang umumnya banyak terdapat dalam cerita-cerita dongeng berjenis fabel. Namun dalam konteks keagamaan penggunaan anthropomorphisme juga biasa digunakan dalam ayat-ayat kitab suci dimana entitas Tuhan diserupakan memiliki sifat-sifat yang lazim dimiliki oleh manusia seperti amarah, benci, penyesalan, dendam dan sifat lazim lainnya. Secara idealis, seharusnya Tuhan Yang Maha Sempurna adalah entitas non-kemanusiaan  yang tidak patut memiliki sifat-sifat manusia yang penuh dengan kelemahan, namun penggunaan anthropomorphisme sering digunakan sebagai salah satu strategi untuk menjelaskan tentang keberadaan sosok Tuhan kepada manusia agar profil Tuhan dapat dipahami secara gamblang oleh manusia itu sendiri. Penelitian ini mencoba memperbandingkan secara sederhana tentang penggunaan anthropomorphisme dalam Alquran dan Bible yang kemudian bisa dijadikan indikasi tentang keterlibatan manusia dalam penyusunan/transmisi wahyu dari Tuhan kepada Manusia. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian Library Research. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa secara anthropomorphisme Bible memiliki indikasi kuat tentang keterlibatan manusia dalam penyusunannya walaupun para teolog Kristen memiliki alasan logis dalam menjelaskannya dan sedangkan Alquran menunjukkan indikasi kenetralannya dari pengaruh manusia dalam penyusunannya sesuai dengan konsep teologis umat Muslim yang diyakini selama ini Kata Kunci: Anthropomorphisme; Sifat Manusia; Alquran; Bible     ABSTRACT Research on the use of anthropomorphism in sacred scriptures is one of the many study variations within the scope of Hermeneutics. Anthropomorphism refers to a subtype of personification, in which human characteristics are attributed to non-human entities, such as animals, plants, or inanimate objects, a device commonly found in fables and folklore. However, in religious contexts, anthropomorphism is also frequently employed in scriptural verses where God is described as possessing traits typically associated with humans, such as anger, hatred, regret, vengeance, and other common human emotions. Ideally, a Perfect and Supreme God should be considered a non-human entity, free from the weaknesses inherent to human nature. Yet, the use of anthropomorphism is often adopted as a narrative strategy to help human beings comprehend the divine by portraying God in more relatable, human-like terms. This research offers a simple comparative analysis of the use of anthropomorphism in the Qur’an and the Bible. It aims to explore whether such portrayals can serve as indicators of human involvement in the composition or transmission of divine revelation. The study employs a Library Research methodology. The findings reveal that, in terms of anthropomorphism, the Bible shows strong indications of human involvement in its composition, despite the logical theological explanations offered by Christian scholars. In contrast, the Qur’an appears to maintain a neutral stance, showing no clear signs of human influence in its formulation aligning with the theological concept long upheld by the Muslim community. Keyword: Anthropomorphisme; Human Attributes; The Quran, The Bible
Perlakuan Manusiawi Terhadap Budak dalam Konsep Agama Islam Amanda, Ruri
Mubeza Vol. 11 No. 2 (2021): September 2021
Publisher : IAIN Takengon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54604/mbz.v11i2.65

Abstract

Perbudakan merupakan salah satu warisan peradaban kuno yang masa kini sudah ditolak dan tidak diakui lagi sebagai bagian dari sistem kehidupan manusia. Namun pada masanya perbudakan pernah menjadi suatu sistem yang sangat vital dalam kehidupan manusia, terutamanya pernah dipraktekkan secara luas oleh peradaban lama Yunani, India, Persia, Romawi ataupun China. Ketika agama Islam muncul praktek perbudakan ini masih sangat umum dipraktekkan, pada masa Pra-Islam di kawasan Arab budak digunakan secara multifungsi mulai sebagai pembantu rumah tangga, pekerja kasar, tenaga militer bahkan hingga sebagai pekerja seks komersial. Pada masa itu terutamanya di kawasan Arab perbudakan juga menjadi simbol prestise dari kekayaan seseorang, semakin banyak budak yang dimilikinya maka semakin terpandang pula ia di tengah masyarakat. Oleh karena ketika itu sistem perbudakan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat maka Islam hadir dengan memperkenalkan syariat yang tidak secara tegas menghapus perbudakan dengan pertimbangan untuk menghindari konflik sosial ekonomi yang cukup tajam jika Islam dengan frontalnya menghapus perbudakan. Tujuan kajian ini untuk mengangkat serta mengingatkan kembali konsep-konsep Islam tentang bagaimana agama ini memperlakukan budak secara manusiawi dan bagaimana pula strategi persuasif yang dimiliki Islam dalam menghapus perbudakan sehingga kajian ini dapat dengan sederhana membantah pandangan miring sebagian pihak tentang syariat Islam mengenai perbudakan. Kajian ini merupakan penelitian deskriptif analitis dengan menggunakan pendekatan penelitian kepustakaan (Library Research).