Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

The TikTok Application: A Virtual Portal for Manifesting the Collective Aspirations of the Masses Azni, Ulfa Sevia
Journal of Sumatera Sociological Indicators Vol. 3 No. 01 (2024): May
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/jssi.v3i01.16247

Abstract

Social media, as a virtual platform for social contact, has undoubtedly brought about significant social changes over time, thanks to the ever-advancing technology of today. As society progresses, the way individuals behave can vary between their actions in the physical world and their actions in the online realm. The omnipresent TikTok application has enthralled a wide array of populations, encompassing both the privileged and the labouring class, across various age brackets. Social change refers to a fundamental shift in the structure and functioning of social relationships, encompassing aspects such as power dynamics, decision-making processes, social influence, family connections, and population patterns. In this instance, the author will examine how the TikTok application might effectively redirect individuals' desires towards an institution or the public in the virtual realm. This research employs a qualitative approach through a literature review, wherein prior studies are analysed and synthesized to create a new body of literature.
Kontaminasi Residu Pestisida pada Pangan di Kawasan Produksi Pertanian di Perdesaan Sumatera Barat: Studi pada Bunga Kol, Daun Bawang, dan Stroberi Azni, Siti Sekarhayati; Dendi, Rahmad; Azni, Ulfa Sevia; Wahyono, Eko
Agroteknika Vol 8 No 3 (2025): September 2025
Publisher : Green Engineering Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55043/agroteknika.v8i3.551

Abstract

Penggunaan pestisida secara intensif pada komoditas pertanian utama seperti bunga kol, bawang daun, dan stroberi di Sumatera Barat menimbulkan potensi risiko residu pestisida dalam produk pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis pestisida yang digunakan oleh petani serta mengukur kadar residu pestisida pada komoditas tersebut. Sampel diambil dari dua nagari di Kabupaten Solok, yaitu Nagari Alahan Panjang dan Nagari Batang Barus, yang dikenal sebagai daerah penghasil stroberi, bunga kol, dan bawang daun. Analisis residu pestisida dilakukan dengan menggunakan Gas Kromatografi (GC) yang dilengkapi dengan detektor ECD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pestisida golongan piretroid, yaitu sipermetrin pada stroberi dan deltametrin pada bunga kol serta bawang daun, mendominasi penggunaannya. Sebagian besar sampel berada dalam batas maksimum residu (BMR) yang ditetapkan, namun kadar residu deltametrin pada bunga kol dari petani A dan B melebihi BMR yang ditetapkan. Persepsi petani terhadap penggunaan pestisida lebih difokuskan pada pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) dan peningkatan hasil panen, dengan sedikit perhatian terhadap dampak residu terhadap kesehatan dan lingkungan. Temuan ini mencerminkan kesenjangan pengetahuan yang signifikan di kalangan petani mengenai risiko kesehatan jangka panjang yang ditimbulkan oleh paparan pestisida. Oleh karena itu, penelitian ini menekankan pentingnya kebijakan pengawasan yang lebih ketat terhadap penggunaan pestisida dan perlunya pendidikan serta pelatihan berkelanjutan bagi petani mengenai praktik pertanian yang aman dan ramah lingkungan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam perumusan kebijakan pertanian yang lebih berkelanjutan dan mendukung kesehatan masyarakat.
Gender Transformation and Social Mobility of The Malind Women: Tradition, Affirmative Action, and Meritocracy in Papua’s Bureaucracy Makasau, Rosmayasinta; Azni, Ulfa Sevia; Embu, Alfons No; Bala, Karolus B.; Pellizzoni, Luigi; Wahyono, Eko
Journal of Government and Civil Society Vol 9, No 2 (2025): Journal of Government and Civil Society (October)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/jgcs.v9i2.14826

Abstract

This study examines gender constructions and women’s leadership in traditional Malind society and analyses the social mobility mechanisms through which Malind women attain strategic posts in the Merauke Regency bureaucracy. Using a qualitative descriptive approach, data were generated through in-depth interviews, participant observation and document analysis. Findings indicate that, although traditional Malind culture organises gender and leadership along clearly patriarchal lines, recent shifts in social paradigms have widened access to education and public leadership for women. Malind women navigate bureaucratic structures by combining educational attainment, support from family and community, strong social and professional networks, and opportunities created by Papua’s Special Autonomy framework. This framework affords affirmative recognition to Indigenous Papuans, including women, to hold government posts, while the civil service’s merit system continues to require high standards of competence and performance. The analysis shows that the interaction of cultural identity, affirmative action and meritocracy has enabled the rise of capable and respected female leaders in local government. These leaders demonstrate a transformative style that balances professionalism with empathy and collaboration, contributing to a more inclusive and equitable public administration in Papua.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konstruksi gender dan kepemimpinan perempuan dalam masyarakat tradisional Malind, serta menganalisis mekanisme mobilitas sosial yang memungkinkan perempuan Malind mencapai posisi strategis dalam birokrasi Pemerintah Kabupaten Merauke. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen. Temuan menunjukkan bahwa meskipun budaya tradisional Malind menganut sistem patriarkal dengan pemisahan peran dan kepemimpinan berbasis gender yang tegas, perubahan paradigma sosial belakangan ini telah membuka akses yang lebih luas bagi perempuan untuk terlibat dalam pendidikan dan kepemimpinan publik. Perempuan Malind berhasil menavigasi struktur birokrasi dengan menggabungkan akses pendidikan, dukungan keluarga dan komunitas, jaringan sosial dan profesional, serta peluang yang diberikan oleh Undang-Undang Otonomi Khusus Papua. Undang-undang ini memberikan afirmasi bagi Orang Asli Papua (termasuk perempuan) untuk menduduki jabatan pemerintahan, meskipun sistem merit ASN tetap menuntut standar kompetensi dan kinerja yang tinggi. Studi ini menemukan bahwa sinergi antara identitas budaya, afirmasi, dan meritokrasi telah melahirkan pemimpin-pemimpin perempuan yang kompeten dan dihormati. Mereka menunjukkan gaya kepemimpinan transformatif yang menggabungkan profesionalisme, empati, dan kolaborasi, serta berkontribusi terhadap tata kelola pemerintahan yang lebih inklusif dan adil di Papua.
Gender Transformation and Social Mobility of The Malind Women: Tradition, Affirmative Action, and Meritocracy in Papua Bureaucracy Makasau, Rosmayasinta; Azni, Ulfa Sevia; Embu, Alfons No; Bala, Karolus B.; Pellizzoni, Luigi; Wahyono, Eko
Journal of Government and Civil Society Vol. 9 No. 2 (2025): Journal of Government and Civil Society (October)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/jgcs.v9i2.14826

Abstract

This study examines gender constructions and women’s leadership in traditional Malind society and analyses the social mobility mechanisms through which Malind women attain strategic posts in the Merauke Regency bureaucracy. Using a qualitative descriptive approach, data were generated through in-depth interviews, participant observation and document analysis. Findings indicate that, although traditional Malind culture organises gender and leadership along clearly patriarchal lines, recent shifts in social paradigms have widened access to education and public leadership for women. Malind women navigate bureaucratic structures by combining educational attainment, support from family and community, strong social and professional networks, and opportunities created by Papua’s Special Autonomy framework. This framework affords affirmative recognition to Indigenous Papuans, including women, to hold government posts, while the civil service’s merit system continues to require high standards of competence and performance. The analysis shows that the interaction of cultural identity, affirmative action and meritocracy has enabled the rise of capable and respected female leaders in local government. These leaders demonstrate a transformative style that balances professionalism with empathy and collaboration, contributing to a more inclusive and equitable public administration in Papua. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konstruksi gender dan kepemimpinan perempuan dalam masyarakat tradisional Malind, serta menganalisis mekanisme mobilitas sosial yang memungkinkan perempuan Malind mencapai posisi strategis dalam birokrasi Pemerintah Kabupaten Merauke. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen. Temuan menunjukkan bahwa meskipun budaya tradisional Malind menganut sistem patriarkal dengan pemisahan peran dan kepemimpinan berbasis gender yang tegas, perubahan paradigma sosial belakangan ini telah membuka akses yang lebih luas bagi perempuan untuk terlibat dalam pendidikan dan kepemimpinan publik. Perempuan Malind berhasil menavigasi struktur birokrasi dengan menggabungkan akses pendidikan, dukungan keluarga dan komunitas, jaringan sosial dan profesional, serta peluang yang diberikan oleh Undang-Undang Otonomi Khusus Papua. Undang-undang ini memberikan afirmasi bagi Orang Asli Papua (termasuk perempuan) untuk menduduki jabatan pemerintahan, meskipun sistem merit ASN tetap menuntut standar kompetensi dan kinerja yang tinggi. Studi ini menemukan bahwa sinergi antara identitas budaya, afirmasi, dan meritokrasi telah melahirkan pemimpin-pemimpin perempuan yang kompeten dan dihormati. Mereka menunjukkan gaya kepemimpinan transformatif yang menggabungkan profesionalisme, empati, dan kolaborasi, serta berkontribusi terhadap tata kelola pemerintahan yang lebih inklusif dan adil di Papua.