Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Identifikasi Aspek-aspek Desain Interior Sebagai Daya Tarik Odunpazari Modern Art Museum Turki Dilla, Adinda Salsa; Avenzoar, Azkia
Tekstur (Jurnal Arsitektur) Vol 5, No 1 (2024): Tekstur
Publisher : Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31284/j.tekstur.2024.v5i1.5790

Abstract

Museum merupakan lembaga non profit terbuka bagi umum dengan tujuan edukatif maupun rekreatif. Ditengah era modernisasi saat ini museum seni mulai kembali diminati oleh masyarakat. Kian banyak museum seni baru yang bermunculan yang membuktikan bahwa makin tinggi minat dan apresiasi masyarakat terhadap karya seni. Berbeda dengan jenis museum lain yang terkesan kuno, museum seni biasanya mengusung tema modern dan memiliki koleksinya yang unik. Musueum seni juga memiliki ciri khas yang instagramable. Hal ini yang menjadi daya tarik museum seni sehingga ramai dikunjungi. Tidak hanya desain bentuk bangunan museum saja yang dapat menarik pengunjung, justru desain interior menjadi aspek penting pada museum. Maka, ruang dalam pada museum perlu diperhatikan demi mendukung kesuksesan pada museum. Aspek yang perlu diperhatikan yaitu, antara lain dalam hal ruang, sirkulasi, penataan koleksi, material, pencahayaan dan aspek lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi apa saja aspek-aspek desain interior pada Odunpazari Modern Art Museum di Turki sebagai penunjang dan daya tarik museum. Pada penelitian inimenggunakan metode analisis deskriptif. Sedangkan sumber data didapat melalui studi kepustakaan. Hasil analisis menunjukkan bahwa aspek-aspek desain interior pada museum secara optimal dapat memunculkan pengalaman ruang yang lebih menarik dan menjadi daya tarik museum.
SPACE AND CIRCULATION TYPOLOGY STUDY OF PARKS IN THE BANKS OF SURABAYA RIVER Avenzoar, Azkia; Mutia, Fairuz
Border: Jurnal Arsitektur Vol. 2 No. 1 (2020): JUNE 2020
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Architecture and Design, Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/border.v2i1.23

Abstract

Geographically Surabaya is crossed by the Kalimas River which runs from south to north with several branches to the east. Therefore the utilization of this river bank has an important role to increase the ecological and visual value of the city while securing the city space assets. Utilization of river banks as active and attractive city parks has been carried out by the Surabaya City Government. Some of them are Taman Prestasi, Taman Eksresi, and Taman Buah. These three parks are both on the banks of the river which are river border spaces which are not allowed to be made buildings. This study aims to identify the typology of space formed in city parks located on the banks of rivers. Then the findings of the resulting typology of hope can be useful in the development of urban parks on the banks of the river. This study found that the geometry of the park formed is a linear park with a linear circulation path as well. Access to the linear park can be from the middle or the end of the park. So that space to attract visitor activity at the ends of the park so it does not become a dead space that is empty of visitors. The types of spaces created at the end of the park include playgrounds, foot reflexology paths, historical monuments, mini libraries and food courts.
Analisis Estetika Visual Pada Malang Creative Center Sebagai Citra Kota Kreatif Lutfi, Moh; Avenzoar, Azkia
Jurnal Informasi, Sains dan Teknologi Vol. 7 No. 1 (2024): Juni: Jurnal Informasi Sains dan Teknologi
Publisher : Politeknik Negeri FakFak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/isaintek.v7i1.190

Abstract

Kota Malang yang menyandang julukan kota kreatif pada tahun 2021 melalui keputusan yang ditetapkan oleh kemenparekraf tentang penetapan kabupaten dan kota kreatif Indonesia. Keputusan Ini adalah salah satu upaya untuk meningkatkan potensi ekonomi kreatif di Tanah Air, dengan Kota Malang menjadi satu-satunya kota di Jawa Timur yang dipilih sebagai Kota Kreatif 2021. Malang creative center adalah bangunan pusat kegiatan kreatif di Kota Malang yang dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai wadah untuk mengembangkan kemampuan kreatif masyarakat. Sebagai pusat kegiatan kreatif, estetika visual Malang Creative Center harus mencerminkan fungsi bangunan yang mengakomodir kegiatan kreatif yang ada di dalamnya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan melakukan pendekatan kajian literatur, yaitu menggunakan pengumpulan data menggunakan metode manajemen data dan metode analisis, serta melakukan eksplorasi penerapannya pada obyek terbangun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa estetika bangunan Malang Creative Center cukup mencerminkan sebagai bangunan pusat kreatif melalui bentuk dan ornamen pada bangunan.
IMPLEMENTASI POLA ARSITEKTUR BIOFILIK PADA PUSAT PERBELANJAAN DI IKLIM TROPIS: LAGOON AVENUE MALL SUNGKONO SURABAYA WIJAYA, RAVINDA ARGA; AVENZOAR, AZKIA
Jurnal Arsitektur Kolaborasi Vol 5 No 2 (2025): Jurnal Arsitektur Kolaborasi
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54325/kolaborasi.v5i2.101

Abstract

Penerapan pola arsitektur biofilik dalam ruang komersial seperti mall, khususnya di kawasan beriklim tropis, masih jarang dikaji secara mendalam. Padahal, pendekatan desain ini menawarkan potensi besar dalam mengintegrasikan elemen alam ke dalam lingkungan binaan guna meningkatkan kesejahteraan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola arsitektur biofilik pada Lagoon Avenue Mall Sungkono Surabaya, sebuah pusat perbelanjaan semi-outdoor di Surabaya. Studi dilakukan dengan metode deskriptif-kualitatif melalui observasi lapangan, dokumentasi fotografis, serta pemetaan pola biofilik berdasarkan kategori Nature in the Space, Natural Analogues, dan Nature of the Space dalam 14 pola desain biofilik. Data yang diperoleh dianalisis dengan mengidentifikasi jenis, distribusi, dan proporsi pola arsitektur biofilik yang tampak dalam ruang publik mall. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa Lagoon Avenue Mall Sungkono Surabaya menampilkan pola biofilik yang cukup beragam, namun belum sepenuhnya terintegrasi secara konsisten di seluruh area sirkulasi utama. Hasil studi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap praktik perancangan ruang komersial tropis yang lebih berkelanjutan, sekaligus memperkaya literatur mengenai representasi pola biofilik dalam konteks urban.
Analisis Elemen Fasad Bangunan dalam Membentuk Sense of Place: Studi Kasus Kawasan Bosbow Madiun Nurahma, Tarisa; Avenzoar, Azkia
JAUR (JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM RESEARCH) Vol. 9 No. 2 (2026): April (IN Press)
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/jaur.v9i2.14759

Abstract

Sense of place is the concept of emotional, social, and cultural attachments formed between individuals and a place. The formation of sense of place is influenced by three factors, namely physical form, image, and activities. Historical buildings, especially cultural heritage, have a high sense of place, especially in their physical form. This research aims to analyze the influence of the physical form of colonial building facades in the Bosbow cultural heritage area of Madiun City in forming a sense of place. The research method used is qualitative-descriptive with the approach of field observation and literature study. The results of this study show that the physical elements of buildings such as roofs, gevels, columns, walls, doors, windows, and other decorations have a role in shaping a sense of place in the form of visual impressions, place identity, and physical comfort. These elements not only represent a beautiful colonial character but also serve as a link between historical values and present-day spatial experiences. So the preservation of physical elements in buildings that have a sense of place value such as historic buildings is very important to strengthen the identity of an area.
EVALUASI PENERAPAN HEALING ARCHITECTURE PADA DESAIN RESORT (STUDI KASUS: TAMAN DAYU RESORT & GOLF) Rozan Hanifah, Salma Nuha; Avenzoar, Azkia
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 15, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2025.v15i3.005

Abstract

Padatnya aktivitas, gaya hidup serba instan, dan keterbatasan ruang hijau membuat masyarakat perkotaan rentan terhadap stres dan kejenuhan mental. Akibatnya, kebutuhan akan ruang yang mampu mendukung pemulihan psikologis (healing space) meningkat. Resort dengan pendekatan healing architecture dapat menjadi pilihan alternatif karena memberikan pengalaman yang menyembuhkan secara fisik, emosional, dan spiritual. Salah satu resort yang memiliki potensi untuk dioptimalkan sebagai ruang penyembuhan pengguna adalah Taman Dayu Resort & Golf. Sebagian besar penelitian healing architecture masih berfokus pada fasilitas kesehatan, dan belum banyak penelitian empiris tentang aplikasinya pada resort tropis. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sejauh mana prinsip-prinsip healing architecture pada desain Taman Dayu Resort dengan meninjau aspek alam, indera manusia, dan kenyamanan psikologis diwujudkan dengan 9 prinsip healing architecture oleh Nousiainen (2011). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif induktif dengan studi kasus, melalui studi literatur, observasi lapangan, dan analisis ulasan pengunjung untuk memperoleh data sekunder mengenai pengalaman spasial pengguna. Hasil evaluasi berdasarkan triangulasi data menunjukkan bahwa meskipun beberapa elemen seperti lanskap terbuka, orientasi visual ke alam, dan material alami telah mendukung relaksasi, aspek inderawi dan psikologis seperti stimulasi sensorik yang beragam, penataan furnitur, pencahayaan lorong, dan aksesibilitas belum optimal. Perbaikan pada elemen-elemen tersebut diperlukan untuk meningkatkan kenyamanan, orientasi ruang, dan pengalaman penyembuhan secara menyeluruh. Temuan ini memperkuat teori Nousiainen (2011) tentang pentingnya integrasi aspek alam, inderawi, dan psikologis dalam healing architecture, sekaligus menekankan perlunya adaptasi desain agar prinsip-prinsip tersebut dapat berfungsi maksimal di konteks resort tropis.