Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Identifikasi Tindak Tutur Ilokusi Homekotoba dalam Animasi Kobayashi San Chi no Maid Dragon Ainie, Isnin; Leksana, Garnis Pramudyta
Ayumi : Jurnal Budaya, Bahasa, dan Sastra Vol 7 No 1 (2020): AYUMI : Jurnal Budaya, Bahasa dan Sastra
Publisher : Faculty of Letters, Dr. Soetomo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.348 KB) | DOI: 10.25139/ayumi.v7i1.2809

Abstract

Pujian (homekotoba) merupakan ungkapan tanda senang, rasa hormat, dan rasa takjub penutur dengan menggunakan istilah-istilah atau penamaan tertentu yang menyenangkan hati mitra tutur. Berdasarkan objek yang dipuji, homekotoba dibagi menjadi dua jenis yakni homekotoba langsung dan homekotoba tak langsung. Homekotoba langsung merupakan pujian terhadap sesuatu yang berhubungan langsung dengan diri petutur. Objek dari homekotoba langsung antara lain penampilan petutur, kemampuan petutur, dan kepribadian petutur. Sedangkan homekotoba tak langsung merupakan pujian yang secara tidak langsung berhubungan dengan diri petutur. Objek dari homekotoba tak langsung antara lain benda yang dimiliki petutur, dan kerabat petutur. Selain sebagai pengungkap sebuah ekspresi hati seorang penutur, homekotoba memiliki ilokusi lain yang ingin diungkapkan oleh penutur. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan ilokusi pada homekotoba tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan sumber data animasi Kobayashi San Chi no Maid Dragon karya Cool Kyoujinsha. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa homekotoba memiliki ilokusi asertif, yakni untuk mengungkapkan suatu kebenaran dengan makna mengakui, membual, mengeluh dan memprediksi.Kata kunci: homekotoba; ilokusi; tindak tutur
Identifikasi Tindak Tutur Ilokusi Homekotoba dalam Animasi Kobayashi San Chi no Maid Dragon Ainie, Isnin; Leksana, Garnis Pramudyta
Ayumi : Jurnal Budaya, Bahasa, dan Sastra Vol 7 No 1 (2020): AYUMI : Jurnal Budaya, Bahasa dan Sastra
Publisher : Faculty of Letters, Dr. Soetomo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.348 KB) | DOI: 10.25139/ayumi.v7i1.2809

Abstract

Pujian (homekotoba) merupakan ungkapan tanda senang, rasa hormat, dan rasa takjub penutur dengan menggunakan istilah-istilah atau penamaan tertentu yang menyenangkan hati mitra tutur. Berdasarkan objek yang dipuji, homekotoba dibagi menjadi dua jenis yakni homekotoba langsung dan homekotoba tak langsung. Homekotoba langsung merupakan pujian terhadap sesuatu yang berhubungan langsung dengan diri petutur. Objek dari homekotoba langsung antara lain penampilan petutur, kemampuan petutur, dan kepribadian petutur. Sedangkan homekotoba tak langsung merupakan pujian yang secara tidak langsung berhubungan dengan diri petutur. Objek dari homekotoba tak langsung antara lain benda yang dimiliki petutur, dan kerabat petutur. Selain sebagai pengungkap sebuah ekspresi hati seorang penutur, homekotoba memiliki ilokusi lain yang ingin diungkapkan oleh penutur. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan ilokusi pada homekotoba tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan sumber data animasi Kobayashi San Chi no Maid Dragon karya Cool Kyoujinsha. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa homekotoba memiliki ilokusi asertif, yakni untuk mengungkapkan suatu kebenaran dengan makna mengakui, membual, mengeluh dan memprediksi.Kata kunci: homekotoba; ilokusi; tindak tutur
Strategi Penguasaan Makna Leksikon Meishi Kategori Gutaitekina Mono oleh Tokoh Yotsuba Ainie, Isnin; Ingrida, Rizka Nadia
Ayumi : Jurnal Budaya, Bahasa, dan Sastra Vol 8 No 2 (2021): AYUMI: Jurnal Budaya, Bahasa dan Sastra
Publisher : Faculty of Letters, Dr. Soetomo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (811.159 KB) | DOI: 10.25139/ayumi.v8i2.4068

Abstract

In General, meishi or noun is by far the most mastered lexicon for children especially those in the pre-operational stage (2-7 years old) where several strategies are used to increase the retention of vocabulary significantly. This study aims to identify the strategies used by Yotsuba, a 5-year-old protagonist of Yotsubato! in his journey to acquire the meaning of meishi, specifically, gutaitekina mono (concrete noun). This descriptive qualitative study used data from volume 1-10 of Yotsubato!. 30 data related to gutaitekina mono were extracted and further analysed using the framework by Gollinkof (in Dardjowidjojo, 2008:262-263). The finding shows that Yotsuba used 6 strategies to acquire the meaning of gutaitekina mono: novel nameless strategy (11 data) reference (10 data), extendibility (4 data), conventionality (2 data), object scope (2 data), and categorical scope (1 data). Novel name-nameless category is found to be the most used strategy while categorical scope was the least used. Keywords: gutaitekina mono; lexicon; meishi; strategies.
Pergeseran Tradisi Nanakusa-Gayu bagi Masyarakat Jepang Dewasa Ini Ainie, Isnin; Irmayanti, Desy; Lesmana, Dika Bhakti
AYUMI : Jurnal Budaya, Bahasa dan Sastra Vol 10 No 1 (2023): AYUMI: Jurnal Budaya, Bahasa dan Sastra
Publisher : Japanese Literature Study Program, Faculty of Letters, Dr. Soetomo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25139/ayumi.v10i1.6565

Abstract

Shortly after the New Year celebration (oshogatsu) in Japan, there is a hereditary tradition of serving nanakusa-gayu dishes. Nanakusa-gayu is rice porridge especially served by mixing seven kinds of leaves that are considered sacred by the Japanese. The seven types of leaves include seri, nazuna, hakobera, suzuna, suzushiro, hotokenoza, and gogyou leaves. This research discusses the tradition of eating nanakusa-gayu dishes for Japanese society in this modern era. The method used in this study is descriptive qualitative with data in the form of tweets from social media twitter on January 7, 2023. The results of the research show that there are still many Japanese people who carry out the tradition of eating nanakusa porridge. However, there have been several shifts in tradition, such as the ingredients, when to eat, how to get the ingredients, to the members of the family who participate in eating the nanakusa porridge. In addition, it is also known that there is correlation between the implementation of the nanakusa-gayu tradition with the hope of avoiding various kinds of diseases. This correlation cannot be separated from the activity of picking baby vegetables which is the basic core of the nanakusa-gayu tradition. This activity requires a person to keep moving along the streets while looking for baby vegetables. By doing so, the Japanese will have a healthy body, so they are immune from disease. Keywords: nanakusa-gayu; oseichi ryouri; oshougatsu, tweet.
Estetika Wabi Sabi dalam Dongen Kasa Jizou Mareta, Syifa Aulia; Ainie, Isnin
Mezurashii: Journal of Japanese Studies Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Japanese Department Faculty of Cultural Science Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/mezurashii.v6i2.10917

Abstract

Penelitian ini peneliti bertujuan membahas estetika konsep wabi sabi dalam dongeng Jepang Kasa Jizou. Sebuah dongeng yang penuh makna bercerita tentang sepasang kakek dan nenek yang hidup dalam keadaan miskin, yang ingin merayakan tahun baru tetapi tidak memiliki uang. Dongeng ini sangat menarik diteliti karena terdapat nilai estetika wabi sabi di dalamnya. Wabi sabi (yang dapat ditulis 侘寂 atau 侘び寂び) berasal dari dua kata yang terpisah, keduanya syarat nilai estetika, berakar pada sastra, budaya, dan agama. Wabi adalah tentang menemukan keindahan dalam kesederhanaan, dan kekayaan spiritual dan ketenangan dalam melepaskan diri dari dunia material. Sabi lebih peduli dengan berlalunya waktu, dengan cara segala sesuatu tumbuh dan membusuk dan bagaimana penuaan mengubah sifat visual dari hal-hal itu. Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Sumber data yang digunakan yaitu dongeng Kasa Jizou. Data yang digunakan berupa kalimat dan cuplikan gambar. Hasil yang diperoleh yaitu di dalam dongeng Kasa Jizou ditemukan keindahan pemikiran wabi sabi. Konsep wabi yang ditemukan ada 3 macam yaitu wabi (kemiskinan, kekurangan), wabishii (kemalangan dan kesepian), dan wabiru (kecemasan). Sementara konsep sabi terdapat 3 macam yaitu sabi (kesederhanaan), sabishii (kesendirian dan kesepian), dan sabiru (tanda tua). Kata kunci: Dongeng; estetika; Kasa Jizou; wabi sabi
Japanese Teacher’s Perception of The Book Nihongo Dekiru Budianto, Suhartawan; Ainie, Isnin; Irmayanti, Desy
Mezurashii: Journal of Japanese Studies Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Japanese Department Faculty of Cultural Science Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/mezurashii.v6i1.11023

Abstract

Textbooks are one of the factors that support the success of a learning process. With textbooks, students can understand the material being studied. On the other hand, textbooks can motivate teachers to increase their creativity in making teaching materials, so that the learning process becomes more meaningful. This research aims to determine Japanese language teachers' perceptions of the completeness of the Nihongo Dekiru book material. The Nihongo Dekiru book is a Japanese language textbook used by Muhammadiyah 3 Wage Elementary School students. This book consists of five volumes which are integrated with the previous volumes. The method used is descriptive qualitative using interview and observation techniques. The results were 1) no book instructions and evaluations were found in each book volume, 2) there were almost no learning outcomes in each book volume, and 3) supporting information, exercises, and work instructions were found in each book (teacher interviews were included in the discussion). Keywords: Japanese Student Book, Nihongo Dekiru, Teacher’s Perception