Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

HUNIAN-KERJA INTERAKTIF UNTUK PARA START-UP DI LATUMETEN Annica, Chryssie; Yuono, Doddy
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10830

Abstract

Humans from the time they were created until now have undergone various kinds of adaptations and evolutions, and in carrying out this process humans are always moving. Humans have always been moving from time to time, moving from one point to another to achieve a change in their life. However, in carrying out their movements, humans must stop for some moment to evaluate and actualize themselves. This process can be referred to the dwelling process. To fulfill their needs, humans need to do some work as their job, work has become an important thing in the dwelling process. Humans with all their movements will always be innovating to create their own shelter to get their home that is both physically and psychologically comfortable. Human life, which has now become easier by technology, has unconsciously changed the way they perceive their home. The concept of One-Stop Living is offered by developers to reduce their movements for going out of their home. One-Stop Living is a residential concept wherein an area various facilities can accommodate its residents. Nowadays many jobs are no longer need a specific place to do their works, also many young entrepreneurs start to running start-up businesses. Therefore, there is a need for innovations to containing the works.  Keywords:  Dwelling, One Stop Living, Start-Up AbstrakManusia sejak pertama kali diciptakan hingga saat ini telah mengalami berbagai macam adaptasi serta evolusi dan dalam melakukan proses tersebut manusia selalu melakukan pergerakan. Manusia sejak dahulu terus bergerak dari waktu ke waktu, berpindah pindah dari satu titik ke titik lainnya untuk mencapai suatu perubahan dalam hidupnya. Namun dalam melakukan pergerakannya manusia harus berhenti sejenak untuk melakukan evaluasi dan aktualisasi. Proses perhentian ini dapat disebut sebagai proses berhuni atau dwelling. Dalam memenuhi kebutuhannya manusia butuh bekerja, sehingga bekerja telah menjadi unsur penting dalam ber-dwelling. Manusia dengan segala pergerakannya akan selalu berinovasi dalam menciptakan tempat perhentian sejenaknya yaitu huniannya untuk mencapai suatu kenyamanan baik dalam segi fisik maupun psikologis. Kehidupan manusia yang kini telah dipermudah oleh teknologi tersebut tanpa sadar mengubah cara pandangnya terhadap hunian mereka. Konsep One Stop Living pun hadir ditawarkan oleh pengembang – pengembang dalam usahanya mempermudah pola pergerakan manusia tersebut. One Stop Living merupakan suatu konsep hunian dimana di dalam suatu kawasan terdapat berbagai fasilitas yang mampu mengakomodir penghuninya. Pada masa sekarang banyak bermunculan pekerjaan – pekerjaan yang sudah tidak membutuhkan ruang – ruang khusus untuk bekerja, banyak pula entrepreneur muda yang menjalani bisnis start-up. Oleh sebab itu, perlu adanya inovasi baru dalam mewadahi pekerjaan – pekerjaan tersebut.
PENERAPAN METODE ARSITEKTUR KESEHARIAN DALAM PERANCANGAN DESAIN MEETING POINT DI GUNUNG SAHARI, JAKARTA PUSAT Meylina, Scholastica Violetha; Yuono, Doddy
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30882

Abstract

Golden Truly Mall is a place for recreation, a place to eat, a gathering place for various groups of people both from the surrounding area and outside because of its strategic location, in the city center, and close to TransJakarta transportation. Based on the results of a qualitative survey of the surrounding community, there are still many who feel they have missed the "Golden Truly Mall". In creating a new meeting point, it is necessary to collect data using qualitative methods to study the needs of the local community. So using everyday architectural methods, this project focuses on people's needs and habits in using public spaces. Apart from considering their various needs, we also consider several aspects of the simple modern economy that can support people's businesses in the field of online commerce, as well as increase their productivity as students and workers. Because the surrounding community consists of various age groups, this meeting point also has various points and spatial functions that have been considered for their needs based on their age. In this way, it is hoped that this place can become a shared home, especially for the local community. Where all their needs can be fulfilled in this place. Keywords: Architecture; Everydayness architecture; Placeless place; Transit hub Abstrak Golden Truly Mall merupakan sebuah tempat rekreasi, tempat makan, tempat berkumpulnya berbagai kalangan masyarakat baik dari daerah sekitar maupun dari luar karena lokasinya yang strategis, berada di pusat kota, dan dekat dengan transportasi TransJakarta. Berdasarkan hasil survey kualitatif terhadap masyarakat sekitar, masih banyak yang merasa kehilangan “Mall Golden Truly”. Dalam menciptakan sebuah titik pertemuan yang baru, maka perlu dilakukan pengumpulan data dengan metode kualitatif untuk mempelajari kebutuhan masyarakat daerah tersebut. Sehingga dengan metode arsitektur keseharian, proyek ini berfokus pada kebutuhan dan kebiasaan masyarakat dalam menggunakan ruang publik. Selain mempertimbangkan berbagai macam kebutuhan mereka, juga mempertimbangkan beberapa aspek perekonomian modern sederhana yang bisa mendukung usaha masyarakat dalam bidang perdagangan secara daring, serta meningkatkan produktifitas mereka sebagai pelajar dan pekerja. Karena masyarakat sekitar terdiri dari berbagai kelompok usia, maka titik temu ini juga memiliki berbagai titik dan fungsi ruang yang sudah dipertimbangkan untuk kebutuhan mereka berdasarkan usianya.  Dengan demikian, diharapkan tempat ini bisa menjadi rumah bersama, terutama bagi masyarakat sekitar. Dimana segala kebutuhan mereka dapat terpenuhi di tempat ini.
PENATAAN KEMBALI KAWASAN PASAR MINGGU DENGAN PENERAPAN KONSEP TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT Cunnoris, Fernando; Yuono, Doddy
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30885

Abstract

The Pasar Minggu, which has long been known as an important trade and transportation center in Jakarta, is now facing significant degradation due to chaotic and disorganized conditions. This chaos not only causes a decline in the environmental quality and efficiency of the area, but also eliminates the element of integration that previously characterized Pasar Minggu. To overcome this problem, this research explores the potential for re-developing the Pasar Minggu area into a Transit-Oriented Development (TOD) area. The TOD approach aims to maximize regional potential by integrating public transportation modes, increasing connectivity, and optimizing land use. Through design that pays attention to transportation integration, it is hoped that this area can become more orderly, comfortable and sustainable. This research also emphasizes the importance of follow-up studies to ensure comprehensive planning and effective implementation. In this way, the transformation of the Pasar Minggu area can be achieved optimally, restoring its social and economic functions, and making it an example of successful TOD implementation in urban Indonesia. To overcome this problem, this research explores the potential for re-developing the Pasar Minggu area into a Transit-Oriented Development (TOD) area. The TOD approach aims to maximize regional potential by integrating public transportation modes, increasing connectivity, and optimizing land use. Through design that pays attention to transportation integration, it is hoped that this area can become more orderly, comfortable and sustainable. This research also emphasizes the importance of further studies to ensure comprehensive planning and effective implementation, so that the transformation of the Pasar Minggu area can be achieved optimally, restoring its social and economic function, and making it an example of successful TOD implementation in urban Indonesia. Keywords: Chaos; Mixed-used; Transit Abstrak Kawasan Pasar Minggu, yang selama ini dikenal sebagai pusat perdagangan dan transportasi penting di Jakarta, kini menghadapi degradasi signifikan akibat kondisi yang semrawut dan tidak teratur. Kesemrawutan ini tidak hanya menyebabkan penurunan kualitas lingkungan dan efisiensi kawasan, tetapi juga menghilangkan unsur pembauran yang sebelumnya menjadi ciri khas Pasar Minggu. Untuk mengatasi masalah ini, penelitian ini mengeksplorasi potensi pengembangan ulang kawasan Pasar Minggu menjadi kawasan Transit-Oriented Development (TOD). Pendekatan TOD bertujuan untuk memaksimalkan potensi kawasan dengan mengintegrasikan moda transportasi umum, meningkatkan konektivitas, serta mengoptimalkan penggunaan lahan. Melalui desain yang memperhatikan integrasi transportasi, diharapkan kawasan ini dapat menjadi lebih teratur, nyaman, dan berkelanjutan. Penelitian ini juga menekankan pentingnya studi lanjutan untuk memastikan perencanaan yang komprehensif dan implementasi yang efektif. Dengan demikian, transformasi kawasan Pasar Minggu dapat tercapai secara optimal, mengembalikan fungsi sosial dan ekonominya, serta menjadikannya contoh penerapan TOD yang berhasil di perkotaan Indonesia. Untuk mengatasi masalah ini, penelitian ini mengeksplorasi potensi pengembangan ulang kawasan Pasar Minggu menjadi kawasan Transit-Oriented Development (TOD). Pendekatan TOD bertujuan untuk memaksimalkan potensi kawasan dengan mengintegrasikan moda transportasi umum, meningkatkan konektivitas, serta mengoptimalkan penggunaan lahan. Melalui desain yang memperhatikan integrasi transportasi, diharapkan kawasan ini dapat menjadi lebih teratur, nyaman, dan berkelanjutan. Penelitian ini juga menekankan pentingnya studi lanjutan untuk memastikan perencanaan yang komprehensif dan implementasi yang efektif, sehingga transformasi kawasan Pasar Minggu dapat tercapai secara optimal, mengembalikan fungsi sosial dan ekonominya, serta menjadikannya contoh penerapan TOD yang berhasil di perkotaan Indonesia.
RUANG BUDAYA SEBAGAI REPRESENTASI PERKEMBANGAN MASYARAKAT BATAK DI KAWASAN CAWANG DAN CILILITAN Nababan, Christian Agung Jaya; Yuono, Doddy
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30886

Abstract

Cawang and Cililitan are areas located in Kramat Jati subdistrict, East Jakarta. This region is known for its predominantly Batak population and high crime rates. Historically, Cawang and Cililitan were associated with criminality, including ethnic conflicts between Bataks and Ambonese, UKI student unrest, and involvement with drugs and petty crime. However, despite these dark pasts, the areas have transformed into a popular cultural destination for Bataks from North Sumatra. The region has a long history and strong Batak culture, with Batak residents often involved in criminal activities such as ethnic conflicts, student unrest, drug involvement, and petty crime. Despite being shrouded by negative stories of criminality, Cawang and Cililitan have risen with the progressive thinking of its residents. As time has progressed, the community, including the Batak population, has become more developed in their thinking, leading to improved conditions in the area.To enhance the area's image and promote Batak culture, a Cultural Center was built. This center serves as a symbol of progress and a platform to elevate Batak perspectives and essence. The architectural design combines traditional Batak elements like gorga and ulos with modern and sustainable touches. The integration of green buildings and solar panels results in energy-efficient and environmentally friendly structures. The Cultural Center in Cawang and Cililitan is a testament to the harmonization of culture and modernization, guiding the area towards a brighter future. Keywords: Batak Ethnic; Cawang and Cililitan; Cultural Center; Neo Vernacular Abstrak Cawang dan Cililitan merupakan wilayah yang terletak di Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur. Daerah ini cukup dikenal dengan masyarakatnya yang didominasi oleh Suku Batak dan juga tingkat kriminalitasnya yang tinggi. Cawang dan Cililitan, dua wilayah di Jakarta Timur ini dulunya identik dengan kriminalitas, kini bertransformasi menjadi tujuan wisata budaya Batak yang ramai. Dikenal sebagai tempat perantauan orang Batak dari Sumatera Utara, wilayah ini memiliki sejarah panjang dan budaya Batak yang kental. Orang Batak yang tinggal di Cawang dan Cililitan dulunya seringkali terlibat tindak kriminalitas seperti kerusuhan antara orang Batak dan orang ambon (antar suku), kerusuhan mahasiswa UKI (antar fakultas), keterlibatan masyarakat dengan narkoba serta marakanya premanisme dan pencurian di kawasan tersebut. Meskipun sempat diselimuti cerita kelam kriminalitas, Cawang dan Cililitan bangkit dengan pemikiran maju masyarakatnya. Seiring berkembangnya zaman pada kawasan tersebut membuat masyarakat di wilayah tersebut termasuk masyarakat Batak lebih berkembang dalam segi pemikiran yang mana hal tersebut menyebabkan peningkatan kondusifitas pada wilayah tersebut. Upaya untuk meningkatkan citra kawasan dan memajukan budaya Batak melahirkan solusi yaitu dengan membangunnya sebuah Cultural Center. Cultural Center ini bukan hanya simbol kemajuan, tetapi juga wadah untuk mengangkat pandangan dan esensi orang Batak. Mengusung konsep arsitektur neo-vernakular, desainnya memadukan unsur tradisional Batak seperti gorga dan ulos dengan sentuhan modern dan berkelanjutan. Penggabungan bangunan hijau dan solar panel menghasilkan struktur yang hemat energi dan ramah lingkungan. Cultural Center Cawang dan Cililitan menjadi bukti nyata harmonisasi budaya dan kemajuan zaman, mengantarkan wilayah ini menuju masa depan yang lebih cerah.
DORMITORY MAHASISWA DENGAN KONSEP SUSTAINABLE ARCHITECTURE Dyandra, Dheka; Yuono, Doddy
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35589

Abstract

The surge in the number of students, particularly at Tarumanegara University, has not been matched by the availability of affordable, comfortable, and academically supportive housing. The boarding houses available around the campus tend to be generic, poorly integrated with the specific needs of students, and face issues of cost, comfort, and accessibility. This study aims to design a sustainable student dormitory integrated with UNTAR 2 campus, incorporating sustainable and biophilic architectural concepts. Research methods include on-site observations, literature reviews, and macro, meso, and micro spatial analyses to understand the context of the Grogol Petamburan area. The design results show that the Neighborhood Connect concept applied is capable of creating an inclusive, healthy, and learning-supportive living environment. The facilities provided include private and communal spaces, study areas, and integration of green open spaces. The building is designed with principles of spatial flexibility, natural lighting, good air circulation, and efficient water and waste management systems. In conclusion, this dormitory is not only a place to live but also a healthy and environmentally friendly learning and socialization environment. Implications: This housing model could serve as a prototype for developing similar facilities at other universities, with sustainability and resident well-being as top priorities. Keywords: biophilic; educational housing; student dormitory; sustainable architecture Abstrak Lonjakan jumlah mahasiswa khususnya di Universitas Tarumanegara nyatanya belum diimbangi dengan ketersediaan hunian yang terjangkau, nyaman, dan mendukung proses akademik. Kos-kosan yang tersedia di sekitar kampus cenderung bersifat umum, kurang terintegrasi dengan kebutuhan khas mahasiswa, serta menghadapi isu biaya, kenyamanan, dan aksesibilitas. Studi ini bertujuan untuk merancang asrama mahasiswa berkelanjutan yang terintegrasi dengan kampus UNTAR 2, dengan mengusung konsep arsitektur berkelanjutan dan biofilik. Metode penelitian meliputi observasi langsung di lokasi, studi literatur, dan analisis spasial makro, meso, dan mikro untuk memahami konteks kawasan Grogol Petamburan. Hasil desain menunjukkan bahwa konsep Neighborhood Connect yang diterapkan mampu menciptakan lingkungan tinggal yang inklusif, sehat, dan mendukung produktivitas belajar. Fasilitas yang disediakan mencakup ruang privat dan komunal, area belajar, serta integrasi ruang terbuka hijau. Bangunan dirancang dengan prinsip fleksibilitas ruang, pencahayaan alami, sirkulasi udara baik, serta sistem pengelolaan air dan limbah yang efisien. Kesimpulannya, asrama ini tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga lingkungan belajar dan sosialisasi yang sehat dan ramah lingkungan. Implikasinya, model hunian ini dapat menjadi prototipe untuk pengembangan fasilitas serupa di perguruan tinggi lain, dengan orientasi keberlanjutan dan kesejahteraan penghuni sebagai prioritas utama.
ARSITEKTUR REGENERATIF DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA PERANCANGAN PRODUKSI PELET IKAN DI MUARA ANGKE Patricia, Mischa; Yuono, Doddy
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35590

Abstract

Indonesia is an archipelago, so it has great potential in the fisheries sector, which is one of the main livelihoods of coastal communities. Muara Angke, located in North Jakarta, is a center for fish sales. The high level of fish sales in this area means that it produces a considerable amount of fish waste every day. However, the fish waste produced is not properly processed, leading to negative impacts such as environmental pollution, including ocean contamination. Therefore, a solution is needed in the form of a fish waste processing center in Muara Angke. The objective of this study is to formulate how to apply a contextual approach to the design of a fish waste processing facility in Muara Angke to support the regenerative process of the surrounding environment/ecosystem. The method used in this study is a qualitative approach with two methods, namely literature study and environmental observation as the basis for analysis and design concepts. Literature study is used to examine contextual approach methods and principles. Environmental observation was conducted to understand the characteristics of the site and its surroundings, community activity patterns, and design elements that shape the identity of the Muara Angke area. The results of this study indicate that the application of regenerative architecture based on a contextual approach can produce an effective, environmentally friendly design for fish waste processing industrial buildings that aligns with the needs of the local community. Keywords:  contextual architecture; industrial; regenerative architecture Abstrak Indonesia merupakan negara kepulauan sehingga memiliki potensi besar dalam sektor perikanan yang menjadi salah satu mata pencaharian utama masyarakat pesisir. Muara Angke yang terletak di Jakarta Utara menjadikannya sebagai pusat aktivitas penjualan ikan. Aktivitas penjualan ikan yang tinggi di kawasan ini menjadikannya sebagai kawasan yang menghasilkan limbah ikan yang cukup banyak setiap harinya. Namun limbah-limbah ikan yang dihasilkan tidak diolah dengan benar sehingga memberikan dampak negatif, yaitu tercemarnya lingkungan sekitar, juga termasuk mencemari laut, sehingga solusi dibutuhkan  adalah pusat pengolahan limbah ikan di Muara Angke. Tujuan dari penelitian ini adalah merumuskan bagaimana penerapan pendekatan kontekstual pada bangunan industri pengolahan limbah ikan di Muara Angke sehingga dapat mendukung proses regeneratif lingkungan/ekosistem sekitar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan pendekatan kualitatif yaitu dengan dua metode, studi literatur dan observasi lingkungan sebagai landasan analisis dan konsep desain. Studi literatur digunakan untuk mengkaji tentang metode pendekatan kontekstual dan prinsip-prinsipnya. Sedangkan observasi lingkungan dilakukan dengan tujuan untuk memahami bagaimana karakteristik tapak dan lingkungan sekitarnya, pola aktivitas masyarakat, serta elemen-elemen desain yang membentuk identitas kawasan Muara Angke. Hasil dari penelitian ini adalah menunjukan bahwa penerapan arsitektur regeneratif berbasis pendekatan kontekstual dapat menghasilkan desain bangunan industri pengolahan limbah ikan yang efektif, ramah lingkungan, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.
PENERAPAN KONSEP REGENERATIF PADA PERANCANGAN TEMPAT PRODUKSI BATU BATA KERANG HIJAU DI CILINCING, JAKARTA UTARA Tanesa, Wenni; Yuono, Doddy
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35591

Abstract

Cilincing is an area in North Jakarta that borders directly on the sea. Despite having great potential for marine wealth, especially in the green mussel peeling industry, Cilincing is now a dense and slum area. The waters in the Cilincing area are relatively fertile due to the high population of phytoplankton, which is the main food source for green mussels. Local fishermen harvest green mussels, then process and sell the meat to markets or other areas. However, the remaining mussel shell waste is often dumped carelessly around residential areas or directly into the sea. This disposal has the potential to damage the marine ecosystem and pollute the waters. Therefore, solutions are needed, one of them is through the application of the concept of regenerative architecture. To explore more deeply the application of this concept, a qualitative descriptive approach was carried out that examined how the principles of regenerative architecture can be applied to production centre that aim to solve these environmental problems. The brick production centre from mussel shell waste was designed by prioritizing system integration, an ecological approach, and spatial experience, so that it not only solves the problem of waste accumulation, but also makes a positive contribution back to nature. Keywords: brick production centre; green mussel processing; regenerative architecture Abstrak Cilincing merupakan kawasan di Jakarta Utara yang langsung berbatasan dengan laut. Meskipun memiliki potensi kekayaan laut yang besar, terutama dalam industri pengupasan kerang hijau, Cilincing kini justru menjadi area permukiman yang padat dan kumuh. Perairan di wilayah Cilincing tergolong subur karena tingginya populasi fitoplankton, yang menjadi sumber makanan utama bagi kerang hijau. Para nelayan setempat memanen kerang hijau, kemudian mengolah dan menjual dagingnya ke pasar atau daerah lain. Namun, limbah cangkang kerang yang tersisa sering kali dibuang secara sembarangan di sekitar permukiman atau langsung ke laut. Pembuangan ini berpotensi merusak ekosistem laut dan mencemari perairan. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya penanggulangan yang tepat, salah satunya melalui penerapan konsep arsitektur regeneratif. Untuk menggali lebih dalam mengenai penerapan konsep ini, dilakukan pendekatan deskriptif kualitatif yang meneliti bagaimana prinsip-prinsip arsitektur regeneratif dapat diterapkan pada tempat produksi yang bertujuan memecahkan permasalahan lingkungan tersebut. Fasilitas produksi bata dari limbah cangkang kerang dirancang dengan mengedepankan integrasi sistem, pendekatan ekologi, dan pengalaman ruang, sehingga tidak hanya menyelesaikan masalah penumpukan limbah, tetapi juga memberikan kontribusi positif kembali kepada alam.