Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH, LINGKAR PINGGANG DAN RASIO LINGKAR PINGGANG TINGGI BADAN DENGAN KADAR GULA DARAH PENGEMUDI BUS ANTAR KOTA Santoso, Alexander Halim; Karjadidjaja, Idawati; Santoso, Frisca; Lontoh, Susy Olivia
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v4i2.7864

Abstract

Diabetes mellitus (DM) is a metabolic disease characterized by elevated blood sugar levels (hyperglycaemia) due to insufficient production of insulin or the condition where the body cannot use insulin effectively. The condition of chronic hyperglycaemia relates to the damage, dysfunction and failure of organs such as the eyes, kidneys, nerves, heart and blood vessels. Diabetes Mellitus and its complications can affect the ability to drive. The prevalence of hyperglycaemia among bus drivers is 52,1%. Body mass Index (BMI), waist circumference (WC) and the ratio of waist circumference to height are often associated with the occurrence of type 2 Diabetes, but the results are still heavily influenced by many factors such as ethnicity and gender. This research aims to observe the association of BMI, waist circumference and waist circumference to height ratio to diabetes mellitus among inter-city bus drivers. This is an analytical research with cross-sectional design involving 176 subjects. Fifty four percent subjects were obese, 53.4% of subjects have a waist circumference above 90 cm, 71.6% of subjects with a waist-to-height ratio of over 0.5. The association between BMI and fasting blood sugar was significant (p = 0,035), and also between the waist circumference and fasting blood sugar (p = 0,009). There is no statistically significant association between the ratio of waist circumference to height and fasting blood sugar level (P = 0,274). As Conclusion, The BMI and waist circumference can be used as indicators to the risk of diabetes among bus drivers. Keywords diabetes mellitus, body mass index, waist circumference, waist circumference to height ration, bus driver ABSTRAKDiabetes mellitus (DM) merupakan suatu penyakit metabolik yang ditandai oleh peningkatan kadar gula darah (hiperglikemia) akibat produksi insulin yang tidak mencukupi atau keadaan dimana tubuh tidak dapat menggunakan insulin dengan efektif. Kondisi hiperglikemia kronik berhubungan dengan kerusakan, disfungsi, dan kegagalan dari organ-organ seperti mata, ginjal, saraf, jantung dan pembuluh darah. Diabetes melitus dan komplikasinya dapat mempengaruhi kemampuan mengemudi. Prevalensi hiperglikemia di kalangan pengendara bus sebesar 52,1%. Indeks Massa Tubuh (IMT), lingkar pinggang (LP) dan Rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan sering dihubungkan dengan kejadian Diabetes tipe 2, namun hasilnya masih banyak dipengaruhi oleh banyak faktor seperti etnis dan jenis kelamin. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana hubungan IMT, lingkar pinggang dan rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan dengan diabetes melitus pada pengemudi bus antar kota. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain potong lintang yang melibatkan 176 subjek. Didapatkan 54% subjek dengan status gizi obese, 53,4% subjek dengan lingkar pinggang di atas 90 cm, 71,6% subjek dengan rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan di atas 0,5. Didapatkan hubungan yang bermakna secara statistik antara indeks massa tubuh dengan kadar gula darah puasa (p=0,035), antara lingkar pinggang dengan kadar gula darah puasa (p=0,009). Tidak didapatkan hubungan bermakna secara statistik antara rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan dengan kadar gula darah puasa (p=0,274). Sebagai kesimpulan, IMT dan Lingkar pinggang dapat digunakan sebagai parameter terhadap risiko timbulnya diabetes pada pengemudi.
PREVALENSI OBESITAS SENTRAL BERDASARKAN LINGKAR PINGGANG PADA PENGEMUDI BUS ANTAR KOTA Frisca, Frisca; Karjadidjaja, Idawati; Santoso, Alexander Halim
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v3i2.3911

Abstract

Central obesity has become a public health problem which is currently rapidly increasing throughout the world, including in developing countries like Indonesia. The World Health Organization states that central obesity is a major risk factor for various cardiometabolic diseases, such as diabetes and hypertension. Inter-city bus drivers are high-risk occupations of cardiometabolic disease, this is due to unhealthy lifestyles and work patterns such as high consumption of fatty foods, smoking habits, lack of physical activity, long driving times and irregular sleep patterns. This study aims to determine the prevalence of central obesity based on waist circumference in inter-city bus drivers. This research is a descriptive cross sectional study. Data obtained from measurements of body weight, height and waist circumference, as well as calculation of body mass index (BMI) on 176 subjects obtained through consecutive sampling method. Obesity is said if BMI ≥25 according to WHO criteria for Asia-Pacific and central obesity if waist circumference> 90 cm for men and> 80 cm for women. In this study all subjects were men with an average age of 42.45  10.50 years. Based on the calculation of BMI there are 54.3% of subjects obese. Through measurement of waist circumference there are 50.6% of subjects with central obesity. Providing education is very important so that subjects can make lifestyle changes for the better so as to prevent cardiometabolic disease in inter-city bus drivers. AbstrakObesitas sentral telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang saat ini sangat meningkat pesat di seluruh dunia, termasuk di negara berkembang seperti Indonesia. World Health Organization menyatakan bahwa obesitas sentral merupakan faktor risiko utama terjadinya berbagai penyakit kardiometabolik, seperti diabetes dan hipertensi. Pengemudi bus antar kota merupakan pekerjaan dengan risiko tinggi terkena penyakit kardiometabolik tersebut, hal ini disebabkan karena gaya hidup dan pola kerja yang tidak sehat seperti tingginya konsumsi makanan berlemak, kebiasaan merokok, kurangnya aktivitas fisik, durasi menyetir yang lama dan pola tidur yang tidak teratur. Penelitian ini bertujuan  untuk mengetahui prevalensi obesitas sentral berdasarkan lingkar pinggang pada pengemudi bus antar kota. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain potong lintang. Data diperoleh dari pengukuran berat badan, tinggi badan dan lingkar pinggang, serta  perhitungan indeks massa tubuh (IMT) pada 176 subjek yang diperoleh melalui metode consecutive sampling. Dikatakan Obesitas jika  IMT ≥25 menurut kriteria WHO untuk Asia-Pasifik dan obesitas sentral jika lingkar pinggang >90 cm untuk laki-laki dan >80 cm untuk perempuan. Pada penelitian ini semua subjek adalah laki-laki dengan usia rata-rata 42.45 ± 10.50 tahun. Berdasarkan perhitungan IMT terdapat 54.3% subjek mengalami obesitas. Melalui pengukuran lingkar pinggang terdapat 50.6% subjek dengan obesitas sentral. Pemberian edukasi sangat penting agar subjek dapat melakukan perubahan gaya hidup menjadi lebih baik sehingga dapat mencegah terjadinya penyakit kardiometabolik pada pengemudi bus antar kota.
Gambaran hipertensi dan obesitas pada lansia di RW 05 Palmerah Jakarta Barat Deu, Patrisia; Karjadidjaja, Idawati
Tarumanagara Medical Journal Vol. 6 No. 2 (2024): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v6i2.31460

Abstract

Peningkatan penduduk usia lanjut (lansia) dari tahun ke tahun menuntut perhatian khusus dari berbagai kalangan. Kondisi tersebut memengaruhi berbagai aspek kehidupan pada lansia seperti penurunan fungsi kognitif dan fisiologis, serta status gizi. Banyak lansia yang mengalami masalah pemenuhan gizi yaitu malnutrisi, yang mempengaruhi kesehatan serta kualitas hidup lansia. Masalah gizi yang menjadi salah satu perhatian khusus ialah status gizi pada lansia dengan obesitas, karena obesitas menjadi faktor risiko berbagai penyakit. Selain itu, secara khusus lansia dengan gizi lebih/obesitas umumnya juga memiliki hipertensi akibat obesitasnya, sehingga hipertensi juga perlu diperhatikan. Studi ini dilakukan untuk mengetahui gambaran hipertensi dan obesitas pada lansia di RW 05 Palmerah Jakarta Barat sehingga dapat memberikan pelayanan khusus pada lansia yang rentan dan mencegah komplikasi yang terjadi akibat penyakit-penyakit tersebut. Jenis studi yang digunakan ialah deskriptif. Pengambilan sampel dengan teknik total sampling sebanyak 52 orang dan pengumpulan data dilakukan dengan penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, pengukuran lingkar perut dan pengukuran tekanan darah. Hasil studi ini menunjukkan lansia dengan hipertensi sebanyak 31 (59,6%) lansia, lansia dengan status gizi overweight sebanyak 15 (28,8%) lansia, dan obesitas sebanyak 21 (40,4%) lansia. Rerata lingkar perut lansia sebesar 89,29 cm dengan lansia yang memiliki obesitas sentral sebanyak 40 (76,9%) lansia. Mayoritas lansia di RW 05 Palmerah Jakarta Barat memiliki hipertensi dan obesitas, serta tergolong ke dalam obesitas sentral.
Gambaran asupan buah dan sayur pada lansia di RW 05 Palmerah Jakarta Barat Daima, Fransiska Elania; Karjadidjaja, Idawati
Tarumanagara Medical Journal Vol. 7 No. 1 (2025): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v7i1.34102

Abstract

Kesehatan lanjut usia (lansia) merupakan salah satu isu penting dalam upaya peningkatan kualitas hidup di usia lanjut. Asupan gizi yang seimbang, termasuk konsumsi buah dan sayur, berperan penting dalam mempertahankan kesehatan dan mencegah berbagai penyakit kronis pada lansia. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi kecukupan asupan buah dan sayur pada lansia di posbindu RW 05 Kecamatan Palmerah, Jakarta Barat. Metode studi yang digunakan ialah survei cross-sectional dengan metode total sampling. Studi ini dilakukan pada bulan Maret 2024, data dikumpulkan melalui kuesioner dan wawancara terstruktur mengenai frekuensi dan jumlah asupan buah dan sayur. Sebanyak 21 (40,4%) responden memiliki asupan buah yang kurang, 20 orang (38,4%) dengan asupan cukup, dan 11 orang (21,2%) memiliki asupan yang baik. Sementara itu, untuk asupan sayur, 29 orang (55,7%) tergolong kurang, 12 orang (23,1%) cukup, dan 11 orang (21,2%) baik. Secara umum, gambaran asupan buah dan sayur pada lansia di RW 05 Kecamatan Palmerah masih tergolong kurang dibandingkan dengan anjuran dalam pedoman gizi seimbang Kementerian Kesehatan. Keadaan tersebut memerlukan perhatian lebih untuk meningkatkan kesadaran dan aksesibilitas terhadap konsumsi sayur yang cukup sehingga kualitas kesehatan lansia terjaga.