Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

PERENCANAAN OTOMOTIF CENTER DI PURWOKERTO DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR MODERN Yohanes Wahyu Dwi Yudono; Dwi Istiningsih; Gesang Gesang
Teodolita: Media Komunkasi Ilmiah di Bidang Teknik Vol 23, No 1 (2022): Teodolita : Media Komunikasi Ilmiah Di Bidang Teknik
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53810/jt.v23i1.440

Abstract

Abstrak Kendaraan merupakan salah satu kebutuhan penting dalam dunia transportasi. Dengan menggunakan kendaraan baik roda dua maupun roda empat manusia dapat bepergian dari satu tempat ke tempat lain dalam waktu yang relatif lebih singkat dibandingkan dengan berjalan kaki. Mobil dan motor sebagai salah satu kendaraan yang menjadi favorit alat berkendaraan. Purwokerto adalah ibu kota Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Kota ini memiliki potensi yang besar dalam bidang pariwisata dan masyarakat yang memiliki antusias yang tinggi terhadap dunia otomotif, terbukti dengan banyaknya komunitas pecinta otomotif dan seringnya diadakan event yang bertema otomotif di Purwokerto Penerapan arsitektur modern tersebut akan ditekankan pada aspek visual bangunan modern yang cenderung lebih memlih sesuatu yang praktis dan ekomonis. Bangunan tersebut diharapkan dapat mewadahi kebutuhan aktifitas dan mampu menerapkan berbagai hal seperti efisiensi biaya, efisiensi waktu dan aspek free maintenance baik pada bangunan maupun isi dari otomotif center tersebut. Kata Kunci: Otomotif Center, Purwokerto, Arsitektur Modern.
PERENCANAAN DAN PERANCANGAN CLUSTER RUMAH SANGAT SEDERHANA UNTUK MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH Dwi Istiningsih; Adang Tsauri Iskandar; Nur Laeli Fitriyani
Teodolita: Media Komunkasi Ilmiah di Bidang Teknik Vol 23, No 2 (2022): Teodolita : Media Komunikasi Ilmiah Di Bidang Teknik
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53810/jt.v23i2.460

Abstract

Fungsi rumah yang sangat penting adalah sebagai tempat berlindung dari segala cuaca. Selain itu, rumah juga menjadi tempat untuk hidup dan berkembang bagi sebuah keluarga. Sehingga rumah adalah kebutuhan pokok yang harus terpenuhi. Meskipun banyak sekali proyek perumahan dibangun, masih banyak saudara kita yang belum bisa memiliki rumah. Masyarakat Berpenghasilan Rendah yang selanjutnya disingkat MBR adalah masyarakat yang mempunyai keterbatasan daya beli sehingga perlu mendapat dukungan pemerintah untuk memperoleh rumah. Maka penulis merencanakan dan merancang cluster rumah sangat sederhana yang mungkin tak pernah diminati oleh para pengembang perumahan. Dari hasil pembahasan diperoleh harga bangunan Rp.1.587.000,- per m2, adalah harga minimal yang telah diperhitungkan dengan sangat hemat tetapi layak. Harga tanah setelah diperhitungkan dengan biaya biaya lain menjadi Rp.953.000 per m2, harga tersebut adalah harga jadi lahan, sehingga harga jadi rumah Sangat Sederhana adalah Rp.122.072.000 per unit dengan luas bangunan 34 m2 dan luas tanah 70 m2. Penulis berharap pemerhati dan para dermawan membaca tulisan ini dan bersedia mewujudnyatakan impian saudara kita yang belum bisa memiliki rumah dengan melaksanakan pembangunan rumah sangat sederhana bagi saudara yang membutuhkan. Kata Kunci : masyarakat miskin, kebutuhan rumah, rumah sederhana
Arsitektur Vernakular Tatar Pasundan dalam Perancangan Pasar Induk Basuki; Eghi Dwi Yulianto; Dwi Istiningsih
Retii 2022: Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-17
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan suatu wilayah dapat dilihat dari berbagai sektor, salah satunya adalah sektor perdagangan, dalam halini pasar menjadi point penting bagi wilayah karena terjadi pertukaran barang dan jasa. Bagi masyarakat pasar sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari hari bukan hanya sebagai sarana perdagagan namun juga sebagai sarana interaksi sosial antar golongan masyarakat. Banjar Patroman merupakan salah satu kota yang ada di provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kota Banjar merupakan kota agraris dimana dua pertiga wilayahnya merupakan pedesaan dengan lahan pertanian dan perkebunan cukup luas, sehingga sektor pertanian dan perkebunan memiliki peran dalam pertumbuhan ekonomi Kota Banjar. Kondisi tersebut tidak berbanding dengan perkembangan sarana perdagangan yang ada. Sehingga pasar induk muncul sebagai solusi untuk mewadahi kegiatan perekonomian yang terus berkembang terutama di sektor perdagangan dan pertanian/perkebunan.Konsep arsitektur vernakular dipilih pada perancangan Pasar Induk bertujuan untuk melestarikan kembali unsur-unsur atau ciri khas arsitektur lokal, terutama pada arsitektur sunda yang dimana mengedepankan hubungan antara manusia dan alam/lingkungan.
PENGARUH VARIASI TEMPERATUR PEMADATAN PADA CAMPURAN LAPIS ASPAL BETON AC-WC MENGGUNAKAN UJI MARSHALL Ferdinandes Eddy Poerwodihardjo; Dwi Istiningsih; Alya Qothrun Nada
Teodolita: Media Komunkasi Ilmiah di Bidang Teknik Vol 24, No 1 (2023): Teodolita : Media Komunikasi Ilmiah Di Bidang Teknik
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53810/jt.v24i1.478

Abstract

Abstrak Jalan merupakan prasarana infrastruktur dasar yang dibutuhkan manusia untuk dapat melakukan pergerakan dari suatu tempat ke tempat lainnya. Namun pada umumnya jalan mengalami kerusakan sebelum mencapai umur rencana. Kerusakan jalan dapat terjadi salah satunya akibat proses pemadatan campuran aspal yang dilakukan dilapangan tidak pada temperatur yang tepat karena terjadinya perubahan suhu. Hal ini kerap terjadi pada saat proses pengangkutan campuran (hotmix) ke lokasi penghamparan dan juga faktor cuaca. Pada penelitian ini yang ditinjau adalah pengaruh variasi temperatur saat proses pemadatan pada campuran aspal beton terhadap karakteristik Marshall yang meliputi stabilitas, flow, Void in Mineral Agregat (VMA), Void in The Mix (VIM), Void Filled with Asphalt (VFA), dan Marshall Quotient (MQ), dengan variasi temperatur pemadatan yaitu 95°C, 105°C, 115°C,125°C, san 135°C. Variasi kadar aspal yang digunakan untuk mendapatkan nilai kadar aspal optimum yaitu 5%, 5,5%, 6%, 6,5%, dan 7%. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa variasi temperatur pemadatan pada aspal beton berpengaruh terhadap kekuatan benda uji yang telah diuji dengan Marshall test. Bisa terlihat jelas pada grafik stabilitas, VMA, VIM, dan MQ yang nilainya cenderung turun serta pada grafik kelelehan (flow) dan VFA yang cenderung naik. Suhu ideal pada proses pemadatan aspal beton didapat pada suhu 125°C dan 135°C. Kata kunci: AC-WC, Temperatur Pemadatan, Marshall
Perencanaan Pusat Kesenian Tradisonal Dengan Pendekatan Arsitektur Neo Vernakular di Kabupaten Banyumas Putri, Elin Dea; Ning, Dwi Jati Lestariningsih; Istiningsih, Dwi
KURVATEK Vol 10 No 1 (2025): Energy Management and Sustainable Environment
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33579/krvtk.v10i1.5533

Abstract

Indonesia merupakan negara dengan populasi terbesar di Asia Tenggara, yang memiliki keberagaman sumber daya manusia dan budaya. Keragaman bahasa, budaya, dan etnis tersebut telah melahirkan berbagai warisan budaya baik benda maupun non benda yang menjadikan ciri khas serta identitas bangsa Indonesia. Kabupaten Banyumas memiliki beragam kesenian tradisional yang potensial. Terjadinya perubahan secara terus menerus di bidang sosial budaya, yang dipengaruhi oleh pembaharuan di bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan terbukanya informasi serta kemudahan dalam mengakses berbagai sumber, bisa menjadi ancaman dan tantangan tersendiri dalam mempertahankan budaya Banyumas tersebut. Untuk itu perlu adanya wadah, sebagai sarana untuk melestarikan dan mengembangkan kesenian tardisional dalam bentuk pusat kesenian tradisional Banyumas. Penerapan konsep Arsitektur neo vernacular menjadi pilihan dalam perancangan, bertujuan untuk memadukan unsur-unsur tradisional lokal dengan langgam modern. Hal ini mencerminkan bahwa budaya local/tradisional setempat mampu menyelesaikan masalah sosial budaya melalui pendekatan arsitektural.
Perencanaan Pusat Pelatihan dan Pengembangan UMKM dengan Konsep Arsitektur Ekologis di Kabupaten Banyumas Sofiya, Jita; Yohanes Wahyu Dwi Yudono; C. Dwi Istiningsih
Retii 2024: Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-19 (Edisi Penelitian)
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

MSMEs play an important role in the Indonesian economy, contributing 60.34% to the national GDP and absorbing 97% of the workforce. Banyumas Regency, which has 8,561 MSMEs, ranks fifth in Central Java. However, the unemployment rate in Banyumas is still high, reaching 6.35% in 2023. The main causes of unemployment are limited job opportunities, lack of capital, and human resource skills that are not in line with market needs. This research aims to design an MSME Training and Development Center in Banyumas as a strategic solution in improving the skills of the workforce, expanding the marketing of MSME products, and reducing unemployment. A qualitative approach is used to describe the site conditions, while quantitative methods are used to calculate the number of users and space. The results of this research are expected to encourage sustainable local economic growth, optimize the potential of MSMEs, and create new jobs in Banyumas.
PERSEPSI MAHASISWA DAN KARYAWAN TERHADAP PRIORITAS KEBUTUHAN FASILITAS PADA RUMAH KOS DI PURWOKERTO Dwi Istiningsih; Eddy Poerwodihardjo
Teodolita: Media Komunkasi Ilmiah di Bidang Teknik Vol 26, No 2 (2025): Teodolita: Media Komunkasi Ilmiah di Bidang Teknik
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53810/jt.v26i2.719

Abstract

Abstrak Penelitian ” Persepsi Mahasiswa Dan Karyawan Terhadap Prioritas Kebutuhan Fasilitas Pada Rumah Kos Di Purwokerto bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis prioritas kebutuhan fasilitas hunian bagi mahasiswa dan karyawan sebagai dasar pengembangan dalam merencanakan hunian atau rumah kos yang sesuai dengan kebutuhan pengguna. Metode penelitian yang digunakan adalah survei kuantitatif dengan pengumpulan data melalui kuesioner terhadap sejumlah responden. Prioritas utama adalah jaringan WiFi, ruang parkir, dan kamar mandi dalam. Fasilitas selain itu, dapur dan ruang bersama menempati prioritas paling rendah. Pola ini konsisten pada hampir semua kategori respresponden yang terdiri dari mahasiswa, karyawan, pria, dan wanita. Data dianalisis dengan pendekatan analisis prioritas untuk menentukan urutan kebutuhan berdasarkan tingkat kepentingannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum, tiga fasilitas yang paling diprioritaskan oleh responden, menandakan bahwa penghuni masa kini lebih mengutamakan kenyamanan pribadi, privasi, dan konektivitas digital dibandingkan aktivitas sosial bersama. Temuan ini diharapkan memberikan masukan penting bagi pengusaha kos dan perancang arsitektur hunian, yaitu perlunya penyediaan fasilitas yang mendukung gaya hidup modern seperti akses internet yang cepat, kamar mandi privat, serta area parkir yang memadai. Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam pengambilan keputusan desain dan pengelolaan rumas kos yang responsif Kata kunci: prioritas fasilitas, mahasiswa, karyawan, rumah kos terhadap kebutuhan aktual pengguna. Kata Kunci: Faslilitas Prioritas, Pelajar, Karyawan, Rumah kos. Abstract The study "Students' and Employees' Perceptions of Priority Facility Needs in Boarding Houses in Purwokerto" aims to identify and analyze the priority needs of residential facilities for students and employees as a basis for developing housing or boarding house plans that suit user needs. The research method used is a quantitative survey with data collection through questionnaires from a number of respondents consisting of students, employees, men, and women. Data were analyzed using a priority analysis approach to determine the order of needs based on their level of importance. The research results show that, in general, the three facilities most prioritized by respondents were WiFi, parking, and private bathrooms. Other facilities, such as kitchens and shared spaces, were the lowest priority. This pattern was consistent across nearly all respondent categories, indicating that today's residents prioritize personal comfort, privacy, and digital connectivity over shared social activities. These findings are expected to provide important insights for boarding house owners and residential architectural designers, specifically the need to provide facilities that support a modern lifestyle, such as fast internet access, private bathrooms, and adequate parking. Therefore, the results of this study are expected to serve as a reference in making design and management decisions for boarding houses that are responsive to the actual needs of users. Keywords: facility priorities, students, employees, boarding houses
PERSEPSI MAHASISWA DAN KARYAWAN TERHADAP PENGARUH BENTUK RUANG SIRKULASI TERHADAP KENYAMANAN PADA KAMAR KOS Dwi Istiningsih; Eddy Poerwodihardjo
Teodolita: Media Komunkasi Ilmiah di Bidang Teknik Vol 27, No 1 (2026): Teodolita: Media Komunkasi Ilmiah di Bidang Teknik
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53810/jt.v27i1.771

Abstract

Abstrak The circulation system in boarding houses plays an important role in creating occupant comfort, particularly in tropical climates where natural ventilation and daylight significantly influence indoor environmental quality. This study aims to examine the effect of circulation space design on the comfort level of boarding house occupants in Purwokerto, Indonesia. A mixed-method approach was employed by combining quantitative and qualitative methods. Quantitative data were collected through questionnaires distributed to 30 boarding house occupants and analyzed using validity and reliability tests, descriptive statistics, normality tests, and simple linear regression. Qualitative data were obtained through field observations and semi-structured interviews to strengthen the interpretation of the quantitative findings. The results indicate that the research instrument is valid and reliable, with a Cronbach's Alpha value of 0.891. The Shapiro–Wilk normality test confirmed that the data were normally distributed (Sig. = 0.605). Simple linear regression analysis produced the equation Y = 9.356 + 0.262X, indicating that circulation quality has a positive effect on occupant comfort. Hypothesis testing showed a statistically significant influence of circulation quality on comfort (Sig. = 0.010 < 0.05). Furthermore, 56.67% of respondents preferred open circulation systems over closed circulation, primarily due to better natural ventilation, daylight access, and thermal comfort. Ventilation was identified as the most influential factor affecting occupants' comfort, followed by privacy and natural lighting. The findings suggest that circulation design should be considered a key element in boarding house planning. Incorporating open circulation, cross ventilation, adequate natural lighting, and balanced privacy can significantly improve occupant comfort and support healthier, more sustainable residential environments. Kata kunci: boarding house, circulation design, occupant comfort, thermal comfort Abstract Sistem sirkulasi pada rumah kos memegang peranan penting dalam menciptakan kenyamanan penghuni, terutama di daerah beriklim tropis yang sangat dipengaruhi oleh ventilasi alami dan pencahayaan alami terhadap kualitas lingkungan dalam ruang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh desain ruang sirkulasi terhadap tingkat kenyamanan penghuni rumah kos di Purwokerto, Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan metode campuran (mixed methods) dengan mengombinasikan metode kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada 30 penghuni rumah kos, kemudian dianalisis menggunakan uji validitas dan reliabilitas, statistik deskriptif, uji normalitas, serta analisis regresi linear sederhana. Sementara itu, data kualitatif diperoleh melalui observasi lapangan dan wawancara semi-terstruktur untuk memperkuat interpretasi terhadap hasil analisis kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa instrumen penelitian memiliki tingkat validitas dan reliabilitas yang baik, dengan nilai Cronbach's Alpha sebesar 0,891. Uji normalitas Shapiro–Wilk menunjukkan bahwa data berdistribusi normal (Sig. = 0,605). Hasil analisis regresi linear sederhana menghasilkan persamaan Y = 9,356 + 0,262X, yang menunjukkan bahwa kualitas sirkulasi berpengaruh positif terhadap kenyamanan penghuni. Pengujian hipotesis menunjukkan bahwa kualitas sirkulasi berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat kenyamanan penghuni (Sig. = 0,010 < 0,05). Selain itu, sebanyak 56,67% responden menyatakan lebih menyukai sistem sirkulasi terbuka dibandingkan sistem sirkulasi tertutup, terutama karena mampu memberikan ventilasi alami, akses pencahayaan alami, dan kenyamanan termal yang lebih baik. Ventilasi alami diidentifikasi sebagai faktor yang paling berpengaruh terhadap kenyamanan penghuni, diikuti oleh aspek privasi dan pencahayaan alami. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa desain sirkulasi perlu menjadi salah satu aspek utama dalam perencanaan rumah kos. Penerapan sistem sirkulasi terbuka, ventilasi silang (cross ventilation), pencahayaan alami yang memadai, serta keseimbangan antara kenyamanan dan privasi dapat secara signifikan meningkatkan kenyamanan penghuni sekaligus mendukung terciptanya lingkungan hunian yang lebih sehat dan berkelanjutan. Keywords: Rumah Kos, Desain Sirkulasi, Kenyamanan penguin, Kenyamanan termal.
THE EARTHQUAKE-RESISTANT BUILDING ASSISTANCE IN JATISARI VILLAGE KEDUNGREJA DISTRICT CILACAP REGENCY: PENDAMPINGAN BANGUNAN TAHAN GEMPA DI DESA JATISARI KECAMATAN KEDUNGREJA KABUPATEN CILACAP Ferdinandes Eddy Poerwodihardjo; Dwi Istiningsih; Dadi Triawan Selalatu
WIKUACITYA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2026): WIKUACITYA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63859/wikuacitya.v5i1.516

Abstract

A house is a basic human need that functions not only as a shelter but also as a space for physical and mental growth and development. In Indonesia, the risk of earthquakes is very high due to its location at the convergence of three major tectonic plates: the Indo-Australian Plate, the Eurasian Plate, and the Pacific Plate. This condition highlights the importance of understanding and applying earthquake-resistant building principles to minimize structural damage and casualties. This community service program aimed to enhance residents’ knowledge and skills in planning and constructing simple earthquake-resistant houses. The activities were carried out in Jatisari Village, Kedungreja District, Cilacap Regency, through educational workshops and direct assistance in building a model house. The materials presented included fundamental principles of earthquake-resistant construction, appropriate material selection, simple and symmetrical floor plan design, structural integration of foundations, tie beams, columns, and ring beams, as well as proper construction techniques. The program was implemented in three stages: preparation (site survey, planning, and cost estimation), construction carried out collaboratively through community participation, and final reporting. The results indicated an improvement in community understanding of earthquake-resistant construction techniques, appropriate material selection, and the importance of proper structural connections between building components. In addition to providing technical skills, the program strengthened social cohesion among residents. With correct construction techniques and relatively minimal additional costs, simple earthquake-resistant houses can be developed to create safer, more resilient, and sustainable living environments in disaster-prone areas