Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KAJIAN PENATAAN LAHAN PADA KEGIATAN REKLAMASI PT. ANTAM (PERSERO) TBK UNIT BISNIS PERTAMBANGAN BAUKSIT TAYAN KECAMATAN TAYAN HILIR KABUPATEN SANGGAU PROVINSI KALIMANTAN BARAT Hanis, Redha Nagara; Adityaputra, Pramudanu; Bargawa, Waterman Sulistyana
Prosiding Seminar Teknologi Kebumian dan Kelautan Vol 1, No 1 (2019)
Publisher : Prosiding Seminar Teknologi Kebumian dan Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (952.117 KB)

Abstract

Sumber daya alam merupakan salah satu modal dasar dalam pembangunan nasional, oleh karena itu harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat dengan memperhatikan kelestarian lingkungan hidup sekitarnya. Kegiatan reklamasi yang dilakukan pada Bukit 7 Pit B masih belum dilakukan dengan benar, sehingga perlu dilakukan kajian agar pada kegiatan reklamasi selanjutnya dapat dilakukan dengan benar. Luas lahan pada Bukit 7 Pit B adalah 11,01 Ha dengan menggunakan metode lubang tanam / pot pada sistem penataan tanah pucuk, sehingga dibutuhkan sebanyak 9.024,75 m3, tetapi penataan tanah pucuk tidak merata hanya sebatas pada pot saja yang menyebabkan daerah sekitar lubang tanam / pot kering. Hal itu menyebabkan proses kegiatan reklamasi tidak berjalan dengan baik. Berdasarkan hasil penelitian dan dari uraian yang telah dilakukan, maka untuk area bekas penambangan di Bukit 7 Pit B seluas 11,01 Ha digunakan sistem penataan lahan tanah penutup (over burden) dengan metode perataan tanah, kebutuhan material tanah penutup sebesar 468.104 LCM dan sistem penataan tanah pucuk pada lahan pascatambang di Bukit 7 Pit dengan metode perataan tanah dan metode sistem pot/lubang tanam, kebutuhan material tanah penutup sebesar 22.020 LCM untuk metode perataan tanah dan 9.024,75 LCM untuk metode sistem lubang tanam. Natural resources is one of the basic capital in national development, therefore, must be exploited in the interest of the people by taking into account the surrounding environment conservation. Reclamation activities conducted at the Mount 7 Pit B still has not been done properly, so it needs to be done in order to study the reclamation activity which can be done properly. The land area at the Mount 7 Pit B is 11.01 Ha using planting hole / pot on top soil structuring system, so that it takes as much as 9024.75 m3, but the arrangement of the uneven topsoil was limited to the pot that causes the area around the planting hole / pot dry. It makes the process of reclamation activities are not going well. Based on the results of research and from the description that has been done, then to the former mining area in Bukit 7 Pit B area of 11.01 Ha land arrangement system used overburden (over-burden) by the method of land leveling, soil cover material needs of 468 104 LCM and structuring system topsoil on post-mining land in Bukit 7 pit with ground leveling method and system methods pots / planting hole, the material needs of the soil cover of 22 020 LCM for land leveling method and system methods 9024.75 LCM to the planting hole. 
AKTIVITAS WASHING PLANT DI PT. BUMI KHATULISTIWA BAUKSIT, KEC. MELIAU, KAB. SANGGAU, PROVINSI KALIMANTAN BARAT Hanis, Redha Nagara; Iqbal, Muhammad Fadil; Zaky, Fikri Naufal
JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang Vol 12, No 4 (2025): JeLAST Edisi Desember 2025
Publisher : JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jelast.v12i4.104645

Abstract

Jurnal ini membahas pengolahan bijih bauksit di PT. Bumi Khatulistiwa Bauksit melalui washing plant yang berfungsi membersihkan bijih dari pengotor seperti tanah liat, pasir, dan oksida besi guna meningkatkan kadar alumina (Al2O3). Proses utama meliputi ore feeding, pencucian dengan water jet, pemisahan menggunakan trommol grizzly (lubang saringan 15 cm) dan trommol primer, penirisan menggunakan alat berat, hingga loading dan hauling ke stockyard. Washed Bauxite (WBx) yang dihasilkan memiliki kualitas lebih baik untuk tahap berikutnya. Komponen utama washing plant terdiri dari hopper, water jet monitors, trommol screens, belt conveyor, pompa air, dan kolam pengendapan. Kolam pengendapan berfungsi menampung air limbah pencucian yang mengandung Total Suspended Solids (TSS) melebihi baku mutu air lingkungan berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 34 Tahun 2009. Dalam jurnal juga dilakukan perhitungan curah hujan rencana menggunakan metode Distribusi Gumbel dengan data 10 tahun (2013-2022), menghasilkan curah hujan harian maksimum sebesar 169,26 mm/hari dengan standar deviasi 30,69 mm/hari. Intensitas curah hujan dihitung dengan metode Mononobe untuk lima kolam dengan hasil intensitas berkisar antara 4,12 hingga 16,31 mm/jam, dan waktu konsentrasi dari 6,82 jam hingga 53,71 jam. Debit air limpasan dihitung menggunakan persamaan rasional yang menggabungkan koefisien limpasan, intensitas hujan, dan luas daerah tangkapan (catchment area). Debit air tanah juga diukur untuk kolam pengendapan. Debit total yang ditampung di masing-masing kolam bervariasi, misalnya Kolam 1 sekitar 19.821,36 m³/hari dan Kolam 2 sekitar 7.044,62 m³/hari. Sistem pengelolaan air ini penting untuk menjaga kualitas air limbah yang dibuang agar sesuai dengan standar lingkungan dan mencegah pendangkalan sungai akibat sedimentasi.